Arsitektur tradisional Bali merupakan perwujudan dari keterikatan yang kuat antara manusia, alam, dan nilai spiritual. Ciri khas utama dari arsitektur ini terletak pada penggunaan material alami seperti kayu, batu, dan jerami, serta pada prinsip-prinsip desain yang berakar dari ajaran Hindu Bali. Setiap elemen arsitektur tidak hanya memiliki fungsi fisik, tetapi juga sarat akan makna simbolik dan spiritual.
Salah satu konsep utama yang mendasari arsitektur tradisional Bali adalah Tri Hita Karana, yaitu tiga sumber keharmonisan hidup: hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan sesama (Pawongan), dan manusia dengan alam (Palemahan). Konsep ini menjadi dasar dalam perencanaan dan pembangunan rumah adat maupun bangunan suci di Bali. Dalam konteks tata ruang rumah adat Bali, filosofi ruang disebut Asta Kosala Kosali. Ini merupakan pedoman penataan ruang yang mengatur posisi, ukuran, dan fungsi bangunan berdasarkan orientasi kosmologis dan spiritual. Rumah adat Bali biasanya terdiri dari beberapa bangunan yang terpisah, seperti bale daja (tempat tidur kepala keluarga), bale dauh (tempat tidur anak laki-laki atau tamu), bale gede (tempat upacara), serta pamerajan (tempat suci atau pura keluarga), semuanya tersusun mengikuti arah mata angin, status sosial, serta prinsip suci-nista (utama-madya-nista).
Penempatan ruang tidak bersifat sembarangan, melainkan mengikuti hierarki kesucian: area paling suci (utama) menghadap gunung (kaja), area madya sebagai ruang aktivitas, dan area paling profan (nista) menghadap laut (kelod). Dengan demikian, rumah adat Bali bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga cerminan dari keseimbangan kosmos, tatanan sosial, dan penghormatan terhadap leluhur serta alam sekitar.
Site Plan Tugas Arsitektur Bali 2
Lay Out Tugas Arsitektur Bali 2