Tarian di Sulawesi mencakup ekspresi keberanian, kelembutan, hingga ritual sakral:
Tari Kipas Pakarena (Sulawesi Selatan): Tarian khas Gowa yang menggunakan kipas dengan gerakan sangat lambat, melambangkan kesantunan dan siklus hidup manusia.
Tari Kabasaran (Sulawesi Utara): Tari perang masyarakat Minahasa dengan busana merah membara, penari membawa pedang atau tombak untuk menunjukkan keberanian.
Tari Paduppa (Sulawesi Selatan): Tari selamat datang suku Bugis-Makassar yang melibatkan penyebaran beras sebagai simbol penghormatan.
Tari Ma'gellu (Toraja): Tarian sukacita dari Toraja yang dibawakan dengan pakaian berhias manik-manik emas.
Tari Pattuqduq (Sulawesi Barat): Tarian anggun dari suku Mandar yang digunakan untuk penyambutan raja atau dalam upacara pernikahan.
Tari Lumense (Sulawesi Tenggara): Tarian ritual untuk mengusir wabah atau menyambut tamu agung.
Pertunjukkan Tari Kipas Pakarena
Pertunjukkan Tari Kabasaran
Bia (Sulawesi Utara): Alat musik tiup unik yang terbuat dari kulit kerang besar (kerang triton). Dahulu berfungsi sebagai alat komunikasi atau tanda bahaya di daerah pesisir.
Kolintang (Sulawesi Utara): Alat musik pukul dari bilah kayu yang disusun berjajar di atas bak kayu.
Kecapi (Sulawesi Selatan & Barat): Alat musik petik yang memiliki bentuk khas menyerupai perahu.
Pelle (Sulawesi Tengah): Alat musik tiup sejenis seruling yang terbuat dari bambu kecil, sering dimainkan petani di sawah.
Gesok-Gesok (Sulawesi Selatan): Alat musik gesek dua dawai yang biasanya mengiringi penutur cerita rakyat.
Sinrilik (Sulawesi Selatan): Seni mendongeng atau sastra lisan khas Makassar yang diiringi alat musik gesek, biasanya menceritakan sejarah atau kepahlawanan.
Dikili (Gorontalo): Seni zikir tradisional yang dilantunkan secara berirama dalam upacara keagamaan.
Suku Toraja dikenal memiliki sejumlah kekayaan alam dan aneka ragam budaya, termasuk karya seni rupa ukir yang indah.
Ragam jenis ukiran ini biasanya ditemui pada dinding rumah adat Toraja. Selain itu, ukiran Toraja juga digunakan pada bagian luar alang, erong, atau peti jenazah.
Warna-warna yang digunakan dalam ukiran Toraja ada empat macam yakni, putih, kuning, merah, dan hitam. Masing-masing memiliki makna spritual tersendiri.
Makna setiap warna ukiran Toraja:
Putih menandakan arah mata angin utara, sebagai simbol kebesaran dan tempat bertakhta Puang Matua (Tuhan Allah).
Kuning menandakan warna matahari terbit sehingga menandakan arah mata angin timur, sebagai simbol kematangan, kehidupan, dan penghormatan kepada dewa-dewa (khusus dalam kepercayaan agama asli orang Toraja).
Merah menandakan warna matahari saat tenggelam sehingga menandakan arah mata angin barat, sebagai simbol keberanian, dan sebagai simbol kematian.
Hitam menandakan arah mata angin selatan, sebagai simbol kembali ke awal sebelum terang diciptakan, dan bersemayamnya arwah orang mati.