“Forum Anak Desa memberikan saya peluang untuk menyampaikan pendapat tentang kehidupan saya dan anak-anak lainnya. Saya bersyukur bisa mengikuti musrenbang dan menyampaikan suara anak-anak agar didengarkan oleh para pengambil kebijakan.”
...sepulang sekolah saya melanjutkan kegiatan bekerja di oven tembakau. Apa yang saya kerjakan ini merupakan kebiasaan yang dilakukan anak-anak di desa. Sejak usia 8 tahun saya telah terbiasa membantu orang tua saat musim panen tiba. Bagi saya, bekerja ini jalan membantu orang tua danmeringankan beban mereka.
Hai, saya Moh Hadissibyan, saat ini memasuki kelas 1 SMA di Ponpes Hidayatussibyan Nahdlatul Wathan Sengkerang. Saya senang bisa tetap sekolah walaupun di saat pandemi. Saya ingin menceritakan pengalaman bergabung di dalam Forum Anak Desa Gema Cipta Sengkerang.
Awal cerita, saya diminta oleh Pak Hasbullah sebagai ketua RT di untuk mewakili dusunku saat ada pembentukan FAD pada 7 Maret 2020. Saya berangkat saja, tetapi belum tahu sebenarnya apa yang akan dilsayakan dalam kegiatan tersebut. Saya sebenarnya penasaran akan FAD ini karena senang berorganisasi sejak kelas 5 SD. Saya merasa deg-degan karena FAD ini berarti organisasi yang cukup
besar karena meliputi wilayah desa. Di desa saya ada 20 dusun, nah, terbayang kan betapa luasnya! Alhamdulillah, saat pembentukan forum anak di desa, saya termasuk dalam 9 kandidat ketua. Proses pemilihan dilakukan dengan menghitung suara setiap peserta. Dihadiri sekitar 60 anak, akhirnya saya mendapatkan kepercayaan mereka untuk menjadi ketua. Perasaan pada saat terpilih menjadi ketua FAD itu senengnya minta ampun! Namun, dibalik rasa senang itu ada rasa haru karena saya tidak pernah membayangkan mendapat tugas menjadi ketua forum anak di desa.
Sejak bergabung dalam FAD kegiatanku makin banyak dan bermanfaat! Ada pelatihan yang dilakukan baik secara
offline maupun online selama ini. Ada pelatihan kepemimpinan, kegiatan hari anak nasional, terlibat dalam forum anak kabupaten, mengikuti webinar dan hadir dalam pelaksanaan Musrenbang, dan masih banyak lagi. Semua ini tidak mungkin saya alami kalau saja waktu lalu tidak mau ikut dalam pembentukan FAD. Sungguh, kegembiraan tersendiri saya bisa aktif berkegiatan yang lebih kreatif dan menyenangkan, tidak seperti kehidupanku yang dulu, sebelum mengenal FAD. Ingin tahu?
Saya adalah pekerja anak, seperti banyak anak lainnya di dessaya yang melakukan pekerjaan di sektor tembakau. Sebelum mengenal FAD dan PKM, saya banyak menggunakan waktu untuk bekerja saat musim tembakau. Saya mulai bekerja setelah pulang sekolah. Bekerja di oven tembakau biasa saya lakukan bersama teman-teman. Sekitar jam 14.30 sampai larut malam kami bekerja dengan dua tahapan, yaitu memasukkan/menyusun tembakau dan menurunkan/ mengeluarkan tembakau yang sudah disusun ke dalam oven. Saya sudah biasa melakukan pekerjaan ini sampai jam setengah 2 pagi.
Sejak adanya FAD, kegiatan bekerja mulai berkurang, tidak berhenti sama sekali. Hal ini tetap saya lakukan karena masih ingin membantu kebutuhan belanja keluarga dan memberi uang kepada ibu.
“Kalau saya tidak bekerja, ndak enak minta uang ke orang tua, kecuali minta uang untuk keperluan sekolah dan mengaji karena di lingkungan saya itu rata-rata kalo sudah usia 13 tahun ke atas udah ndak enak minta uang ke orang tua. Mereka minta, kecuali sangat kepepet atau dikasih tanpa meminta.”
Keberadaan FAD sangat menolong kami, para pekerja anak. Kini kami punya kegiatan selain sekolah dan bekerja. Kegiatan di FAD dan PKM menjadi alasan kami bertemu dan menyalurkan kreativitas anak-anak, sesuatu yang dulu tidak kami miliki.
Salah satu kegiatan yang kurasakan paling berharga adalah keikutsertaanku dalam musrenbang. Bagiku, musrenbang adalah kesempatan berharga bagi kami untuk menyuarakan kebutuhan anak-anak di forum anak/ desa kepada aparat desa.
Kini tugasku dan pengurus FAD-lah untuk memperkenalkan FAD Gema Cipta* ke anak anak di desa supaya forum ini makin dikenal dan bermanfaat untuk mereka. Karena hampir sebagian teman-teman sudah mempunyai media sosial, saya pun mencoba memperkenalkan FAD melalui media ini.
Selebihnya, untuk mereka yang tidak mempunyai telepon genggam dan media sosial, mensosialisasikan secara langsung ke lapangan menjadi pilihan. Cara ini efektif sekali untuk sasaran yang lebih luas, tidak hanya untuk anak tapi untuk seluruh masyarakat yang ada di desa. “Sosialisasi itu secara menyeluruh dampaknya ke masyarakat mulai dari anak anak orang dewasa, bisa juga sampai para tokoh-tokoh di dusun maupun di desa,” ungkap Sibyan dengan semangat.
Walaupun baru satu tahun ada FAD, saya sudah merasakan apa yang disebut hak anak. Saya bisa merasakan masa anak-anak yang lebih baik dan punya kesempatan mengembangkan diri. Hal ini tentu berkat dukungan para kader yang selalu mendampingi dan mensosialisasikan tentang perlindungan anak kepada orang tua dan masyarakat secara luas. Harapanku, di masa depan anak-anak di desa bisa mendapatkan haknya dan berkurang permasalahan anak di desa, termasuk persoalan pekerja anak.
Pengalaman selama ini mendorongku untuk mewujudkan cita-cita menjadi pengacara. Saya ingin sekali membantu anak anak yang belum mendapatkan haknya bersuara untuk kepentingan mereka. Doakan ya.
*Nama Gema Cipta ini merupakan nama organisasi-organisasi yang bernaung di desa seperti Karang taruna, forum perempuan desa dan lain lain. Itulah sebabnya FAD juga diberi nama Gema Cipta.