Wih! Akhirnya hari yang aku tunggu-tunggu sudah tiba saatnya suara anak-anak Lombok Tengah didengarkan oleh Pemerintah Kabupaten. Aku bangga sekali sebagai masyarakat Lombok Tengah.
Tik tok … tik tok ... suara jam mejaku terdengar dan seperti melambat sekali, entah karena saya terlalu bersemangat atau karena baterainya sudah mau habis. Oh ya, sebenarnya acara akan dimulai jam 08.30, tetapi karena ada kendala sedikit saya berangkat jam 08.11 bersama temanku, Sibyan.
Perjalanan ke tempat acara biasanya 30 menitan, tapi entah kenapa jam 08.30 kami berdua sudah sampai di tempat acara. Kami bertemu dengan Pak Sultonik dan temannya Sibyan, sorry ya aku lupa namanya karena saya enggak sempat untuk berkenalan.
Kami melakukan registrasi dan langsung duduk. Saya kira jam 09.00 acaranya sudah mulai tapi memang hal yang paling aku enggak suka sama itu kebiasaan orang yang ngaret-nya minta ampun deh. Akhirnya acara mulai kurang lebih jam 10.00. Acara ini dihadiri oleh Bapak Bupati langsung dan pejabat-pejabat besar lainnya.
Seperti biasa Bapak Bupati memberikan sambutan dan motivasi yang luar biasa kepada kami, motivasi yang bisa yang saya tangkap adalah "Siapa pun bisa menjadi apa pun." Kenapa saya bilang begitu karena Bapak Bupati menceritakan bahwa beliau adalah anak seorang petani dan dari keluarga kurang mampu, tapi beliau tetap bisa menjadi Bupati Lombok Tengah. Beliau memberikan tiga tip untuk menjadi Bupati, yang pertama adalah memuliakan orang tua, guru, dan para penghapal Al - Qur'an. Menurutku inilah peran seorang Bupati yang harus mendorong masyarakatnya untuk terus berkembang dan untuk membangun SDM di Lombok Tengah.
Oke deh, saya ceritakan inti kegiatan hari ini ya.
Setiap kecamatan diberikan kuota 3 orang sebagai perwakilan dan dibagi menjadi tiga kelompok. Di setiap kelompok memiliki satu perwakilan dari setiap kecamatan. Saya ditempatkan di kelompok 1 dan ada 2 fasilitator, satu psikolog anak, Dr. Savitri Suryandari, M. Psi. dan ada Putri Mandalika 2022 Baiq Anggia Azzahra Halba. Dia cantik banget dan smart, kuliah di Fakultas Kedokteran Unram dan sedang menjalani koas.
Sesi pertama adalah sesi perkenalan dan sesi bercerita tentang apa saja di permasalahan di setiap kecamatan. Nah, saya adalah orang pertama yang bercerita tentang permasalahan di desa dan akar masalah yang dialami oleh penerus bangsa, terutama anak-anak di Lombok Tengah. Setelah itu presentasi dilanjutkan teman-teman yang lain.
Setelah bercerita apa masalah yang dialami anak-anak di desa, kami diminta memberikan tanggapan apa sih solusi yang cocok untuk permasalahan-permasalahan itu. Kelompok 1 mencetuskan 9 poin yang sekiranya akan menyelamatkan penerus bangsa. Kelompok 2 ada 8 poin dan kelompok 3 ada 15 poin. (ini ada PPTnya kan? Nanti aku bantu kutip)
Saya banyak sekali berbincang dengan Putri Mandalika dan psikolog anak. Saya bercerita tentang permasalahan yang dialami masyarakat di desaku, yang pertama saya ceritakan dan meminta solusi ke psikolog tentang anak yang menikah di bawah umur. Jika anak itu hamil di luar nikah dan memaksakan untuk dinikahkan. Jika anak ini dinikahkan maka kita sudah melanggar norma agama dan Undang-Undang, tetapi jika tidak dinikahkan apa yang harus kita lakukan. Nah, solusinya adalah jika si anak ini bersedia dibina di rumah aman, maka lembaga di sana akan mengurus si anak ini sampai melahirkan dan anak dari si anak yang hamil akan dibantu untuk pembuatan akta kelahirannya, dirawat, dan disekolahkan. Jika si ibu ingin bersekolah kembali maka, lembaga ini akan membantu untuk menyambungkan sekolahnya, tapi biasanya akan disekolahkan di sekolah swasta. Dan jika si ibu berkenan untuk mengambil kembali anaknya, maka akan diberikan. Jikalau ibunya tidak ingin mengambilnya maka akan ada yang mengadopsinya. Proses adopsi anak diseleksi secara ketat.
Selain kasus pernikahan anak, saya juga mengkonsultasikan tentang anak yang ditinggal merantau oleh ibunya, tinggal bersama neneknya yang (mohon maaf sekali) kurang normal. Nah, anak ini gizinya tidak terpantau. Menurut Ibu psikolog, saya diminta melamporkan atau konsultasi langsung ke beliau. Dengan begitu beliau dan rekan-rekan yang lain akan meninjaunya dan biasanya akan ditangani.
Saya juga berbincang-bincang dengan Putri Mandalika tentang bagaimana caranya menyelaraskan kebudayaan, Undang -Undang dan agama, dan tentang pernikahan di bawah umur. Ya, kita berusaha mencari titik tengahnya tapi kami belum menemukannya, sayang sekali ya. Besok-besok pengen lagi deh berbincang-bincang sama Putri Mandalika. Kami mengobrol sampai waktu makan siang dan akhirnya banyak orang yang ikut bergabung dengan kelompok kami.
Pada sesi kedua, kami mempresentasikan hasil dari diskusi solusi yang kami pikirkan untuk anak-anak di Lombok Tengah. Sebenarnya bukan saya yang akan menyampaikan presentasi, tetapi ada teman lain. Entah kenapa saya yang dipilih, jadi saya dan rekan laki laki saya yang presentasi tentang apa saja solusi untuk permaslahan anak di Lombok Tengah.
Sebenarnya saya pengen banget berkenalan sama partner saya itu tapi saya malu hehe, bukan malu tapi gengsi hehehe. Menurutku dia cerdas dari gestur dia ngomong saja berbeda dengan teman-teman yang lain dan kami sempat berdebat tentang permasalahan pekerja anak. Dia menanyakan mengapa saya mempermasalahkan pekerja anak. Dengan senang hati saya menjelaskan mempermasalahkan pekerja anak di desa. Saya bilang, pekerja anak ini terkait dengan faktor pendidikan, kesehatan, dan keselamatan. Akhirnya dia menerima alasan saya, dan dia menganggukan kepala dan mybe tersenyum, saya tidak bisa melihat dengan jelas karena diaenggunakan masker. Yang kode yang dia beri saya anggap dia menerima alasan saya.
Harapanku untuk anak - anak Kabupaten Lombok Tengah, dengan 12 poin yang kami usulkan semoga bisa menyelamatkan kami dari berbagai masalah yang selama ini menghantui anak-anak. Saya juga berharap pemerintah tetap semangat untuk membangun sumber daya manusia dan konsisten dalam menjalani semua kegiatan yang bisa mensejahterakan rakyat di semua kalangan.
Tetap semangat untuk teman-teman yang memperjuangkan hak - hak anak, karena semua itu hanya di tangan kita. Jangan menyerah menghadapi semua rintangan di depan kita. Tanamkan di diri kita bahwa “Siapa pun bisa menjadi apapun.”