Penerimaan SANTRI BARU tahun 2021 silahkan sebelum kehabisan kuota
JANGAN MELAKNAT ORANG YANG BERBUAT DOSA
JANGAN MELAKNAT ORANG YANG BERBUAT DOSA
Oleh: Ust. MA. Solihun
(Bidang Pendidikan dan Pesantren, PW IKADI DIY)
اَلْحَمْدُ للهِ الْهَادِى إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيم، اَلْآمِرِ بِالسُّلُوْكِ بِكُلِّ خُلُقٍ قَوِيْم، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَى فَضْلِهِ الْعَمِيْم.
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْـحَلِيْمُ الْعَلِيم، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المَبْعُوثَ بِالشَّرْعِ الْحَكِيْم، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرُسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ذِيْ خُلُقٍ عَظِيم، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَبْعَدَ النَّاسِ عَنْ كُلِّ خُلُقٍ ذَمِيْم، وَأَقْرَبَهُم اِلَى كُلِّ خُلُقٍ كَرِيْم.
أَمَّا بَعْد؛
فَياَ عِبَادَ الله، اِتَّقُوْا اللهَ وَأَطِيْعُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُون، قَالَ تَعَالَى: ((يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ))
Hadirin rahimakumullah,
Alhamdulillah, kita haturkan pujian kepada Allah Swt. Nikmat terbesar setelah iman, Islam, dan istikamah adalah kesehatan badan kita. Nikmat kesehatan pada seluruh panca indra dan kesehatan pada ruas-ruas tulang kita sehingga dapat melakukan aktivitas dengan baik; bekerja untuk kebahagiaan duniawi dan beramal untuk kebahagiaan ukhrawi merupakan nikmat yang besar.
Ucapan Alhamdulillah mesti diiringi dengan memperkuat kedekatan kepada Allah Swt. dan ketakwaan kepada-Nya. Kita paham bahwa di antara cara bersyukur yang benar adalah dengan mengoptimalkan ibadah kepada Allah Swt.
Hadirin rahimakumullah,
Pada kesempatan kali ini, izinkan saya menyampaikan satu buah hadis Nabi saw., yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Imam Abu Dawud dalam Sunannya. Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata. Aku mendengar Rasulullah saw. bercerita.
Dahulu, ada dua orang Bani Israil saling bersaudara. Satunya seringkali melakukan dosa dan satunya lagi ahli ibadah.
Seseorang yang ahli ibadah, seringkali melihat saudaranya itu melakukan dosa. Pada saudaranya ia katakan, “Hentikan (perbuatan dosamu).” Suatu hari, ia melihat saudaranya kembali melakukan suatu dosa. Dia berkata, “Hentikan!” Saudaranya itu menjawab, “Biarkanlah aku bersama Tuhanku; apakah kamu diutus untuk mengawasiku?” Dia menajwab, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu -atau- Dia (Allah) tidak akan memasukkan kamu ke Surga.”
Setelah itu, Allah mengambil ruh keduanya, hingga mereka berkumpul di sisi Rabb alam semesta. Kemudian Allah Swt. bertanya kepada yang ahli beribadah, "Apakah kamu mengetahui tentang Aku? Ataukah kamu berkuasa atas apa yang ada pada kedua tangan-Ku?” Allah juga berkata kepada seseorang yang berdosa, “Masuklah kamu ke surga karena rahmat-Ku.” Dan Dia berkata kepada yang satunya, (Wahai para Malaikat), “Bawalah ia masuk ke neraka.”
Abu Hurairah berkomentar, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh ia berkata dengan satu kalimat yang menghancurkan dunia dan akhiratnya.”
Hadirin rahimakumullah,
Dari cerita Nabi saw. tersebut, terdapat beberapa pelajaran, di antaranya sebagai berikut.
Pertama, setiap orang mempunyai potensi untuk berbuat dosa, maksiat, dan kesalahan-kesalahan lainnya, baik disengaja mupun tidak, besar maupun kecil, nampak maupun tersembunyi.
Dalam menyikapi orang yang berbuat dosa, manusia berbeda-beda: ada yang keras, ada yang lembut, ada pula yang acuh. Ada yang mendukung, ada yang menolak, dan ada pula yang mengabaikan.
Satu hal yang harus diingat! Janganlah mencela seseorang yang berbuat dosa. Jangan membenci orangnya. Cela dan bencilah perbuatannya. Jangan sampai berani menjatuhkan vonis pasti masuk neraka. Sebab, Allah Swt. berkenan memaafkan siapa saja yang dikehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki.
Bisa jadi, seseorang yang nampak sebagai ahli surga, dia masuk neraka. Demikian pula, seseorang yang nampaknya ahli neraka, bisa jadi dia ahli surga.
Allah Swt. berkenan untuk membimbing dan memberi petunjuk kepada hamba yang dipilihnya untuk bertaubat, beristighfar, dan memperbaiki diri. Demikian halnya, Allah Swt. berkenan untuk menyesatkan siapa yang Dia kehendaki.
Hadirin rahimakumullah,
Oleh karena itu, hal yang harus dilakukan oleh seseorang ketika melihat saudaranya berbuat Dosa adalah:
1. Ingatkan dengan cara yang baik -dengan tangan atau lisan- sekiranya berani dan mampu melakukannya.
2. Kalau tidak mampu, cukup dengan hati. Yakni, mengingkari kemungkaran yang dilakukan oleh orang tersebut dan mengambil ibrah; betapa buruknya berlaku dosa dan maksiat.
3. Tidak mencacinya, tidak pula menceritakan aibnya kepada orang lain. Jangan sampai menyebarkan keburukannya kepada khalayak ramai. Allah Swt. berfirman, yang artinya, “Allah tidak menyukai perkataan buruk, (yang diucapkan) secara terang-terangan, kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Q.s. An Nisa’: 148).
4. Doakan orang yang berbuat dosa, agar Allah Swt. memberikannya hidayah sehingga ia bertaubat dan beristighfar kepada Allah Swt. Berdoalah pula untuk diri sendiri dan keluarga, agar Allah Swt. menyelamatkan dari dosa-dosa.
Ibnu Mas'ud mengingatkan,
إِذَا رَأَيْتُمْ أَخَاكُمْ قَارَفَ ذَنْبًا، فَلَا تَكُوْنُوْا أَعْوَانًا لِلشَّيْطَانِ عَلَيْه، تَقُوْلُوْا: اَللَّهُمَّ اخْزِهِ، اَللَّهُمَّ الْعَنْهُ. وَلَكِنْ سَلُوْا اللهَ الْعَافِيَةَ، فَإِنَّا أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ كُنَّا لَا نَقُوْلُ فِي أَحَدٍ شَيْئًا، حَتَّى نَعْلَمَ عَلَى مَا يَمُوْتُ. فَإِنْ خُتِمَ لَهُ بِخَيْرٍ، عَلِمْنَا أَنَّهُ قَدْ أَصَابَ خَيْرًا، وَإِنْ خُتِمَ لَهُ بِشَرٍّ، خِفْنَا عَلَيْهِ عَمَلَهُ
“Jika kalian melihat saudaramu berbuat dosa, janganlah menjadi penolong setan terhadapnya, dengan mengatakan, ‘Ya Allah hinakan dia, ya Allah laknatilah dia!’ Tetapi, mohonlah kepada Allah berupa keselamatan. Sungguh, kami para sahabat Muhammad saw. tidak pernah mengatakan sesuatu tentang seseorang, hingga kami mengetahui atas perkara apa dia meninggal. Jika ia ditutup (usianya) dengan kebajikan, maka kami mengetahui bahwa ia telah meraih kebajikan dan jika ditutup usianya dengan keburukan, maka kami mengkhawatirkan amalnya atasnya.”
(H.r. Abdurrazzaq dalam Mushannafnya)
Masih dalam Riwayat Abdurrazzaq, dari Abu Darda'. Suatu kali dia melewati seseorang yang berbuat dosa. Orang - orang yang (melihatnya) memakinya. Kemudian Abu Darda' bertanya, “Apa pendapat kalian, sekiranya kalian mendapatinya masuk ke dalam sumur, bukankah kalian akan mengeluarkannya?” Mereka menjawab, “Benar.” Abu Darda' berkata, “Karena itu, janganlah kalian memaki saudara kalian, dan pujilah Allah yang telah menyelamatkan kalian.” Mereka bertanya, “Apakah Anda tidak membencinya?” Abu Darda' menjawab, “Aku hanya membenci amal perbuatannya. Jika ia meninggalkannya, maka ia adalah saudaraku.” Abu Darda' berkata, “Berdoalah kepada Allah pada saat kamu bergembira, semoga Dia mengabulkanmu pada saat kamu menderita.”
Tentu, ini bukan berarti membiarkan orang yang berbuat dosa dengan meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar. Akan tetapi, semuanya harus dilakukan dengan baik, penuh hikmah, beradab, dan menjaga sunnah Nabi saw. dalam melakukannya.
Hadirin rahimakumullah,
Kedua, Allah Swt. Dzat Yang Maha Pengampun, dan Dia-lah yang berhak untuk mengampuni siapa saja yang dikehendaki, atau memberikan siksa kepada siapa yang Dia kehendaki. Manusia tidak punya hak itu menjatuhkan vonis kepada para pendosa. Tak layak kita mengatakan, “Allah tidak akan mengampunimu!”
Jundub bin Abdillah berkata, bahwa Rasulullah saw. bercerita,
أَنَّ رَجُلاً قَالَ: وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلاَنٍ. وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ ذَا الَّذِى يَتَأَلَّى عَلَىَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلاَنٍ؟ فَإِنِّى قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ.
“Ada seseorang berkata: Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan’. Kemudian Allah berfirman, ‘Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku, bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni dosanya dan Aku telah menghapuskan amalmu. (H.r. Muslim).
Di antara tindakan yang melampaui batas adalah ketika seseorang melihat saudaranya berbuat dosa, dia mencaci, mencela, dan memvonis sebagai ahli neraka.
Hadirin rahimakumullah,
Kita ini tidak diutus oleh Allah Swt. untuk menjatuhkan vonis kepada para pelaku dosa. Namun, setiap kita ditugaskan Allah Swt untuk saling mengingatkan dan saling menasihati satu dengan yang lainnya. Sekali lagi, tentu dengan cara yang baik dan memperhatikan sunnah Rasulullah saw. dalam memberikan nasihat.
Karenanya, dakwah diwajibkan oleh Allah Swt. kepada setiap hamba-Nya yang beriman. Kita berkewajiban melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar dengan niat beribadah kepada Allah Swt. Kita juga berkewajiban mengajarkan kebaikan dan mendekatkan orang lain agar melakukan kebaikan dan menjauh dari keburukan. Itu tugas yang mesti kita tunaikan dengan cara terbaik.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ
أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَات، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَات، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْوَفَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه.
أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْن، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمْ.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْم، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْم، فَقَالَ: ((إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا)).
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد، وَعَلَى آلِ مُحَمَّد، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْم، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْم، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّد، وَعَلَى آلِ مُحَمَّد، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْم، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْم، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاء، وَالْغَلَاء، وَالْوَبَاء، وَالْفَحْشَاء، وَالْمُنْكَر، وَالْبَغْي، وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَة، وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَن، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَن، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّة، وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْألُكَ الهُدَى، وَالتُّقَى، وَالعَفَافَ، وَالغِنَى.
اَللَّهُمَّ إِناَّ نَسْأَلُكَ عِلْمًا ناَفِعًا، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً.
اللَّهمَّ إِنَّا نَسْألُكَ الهُدَى والسَّدَاد.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَل، والبُخْلِ والهَرَم، وَعَذابِ القَبْر.
اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَناَ تَقْوَاهَا، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَع، وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَع، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَع، وَمِنْ دَعْوَةٍ لا يُسْتَجابُ لَهَا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ البَلاَء، وَدَرَكِ الشَّقَاء، وَسُوءِ القَضَاء، وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاء.
اللَّهُمَّ أصْلِحْ لَناَ دِيْنَناَ الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أمْرِناَ، وأصْلِحْ لَناَ دُنْيَاناَ الَّتي فِيهَا مَعَاشُناَ، وأصْلِحْ لَناَ آخِرَتِناَ الَّتي فِيهَا مَعَادُناَ، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَناَ في كُلِّ خَيْر، وَاجْعَلِ الْمَوتَ رَاحَةً لَناَ مِنْ كُلِّ شَرّ.
اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّار.
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَان، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر.
أَقِيْمُوا الصَّلاَة
MENELADANI KESUKSESAN
NABI IBRAHIM ‘ALAIHISSALAM
Oleh: Ust. Mohamad Mufid, M. Pd.I.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ لِتَحْصِيْلِ الْأُجُوْر، يَسْتَكْثِرُوْنَ مِنَ الْخَيْرِ وَيَرْجُوْنَ تِجَارَةً لَنْ تَبُوْر.
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه، بَاسِطُ رَحَمَاتِهِ عَلَى عِبَادِه، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيِّنَا وَسَيِّدِنَا مَحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيَ إِلَى رِضْوَانِه، وَالْمُسْتَكْثِرَ مِنْ طاَعَتِهِ وَتُقَاتِه، فَصَلِّ اللهم وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْه، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِه، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقَهُمْ إِلَي يَوْمِ لِقَائِه.
أَمَّا بَعْد؛
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْن، اِتَّقُوا الله؛ فَإِنَّ تَقْوَاهُ أَفْضَلُ مُكْتَسَب، وَطاَعَتُهُ أَعْلَى نَسَب
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾.
Hadirin kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Tiga hari yang lalu, tepat pada Selasa, 10 Dzulhijjah 1442 H/20 Juli 2021 M, kita telah bersama-sama merayakan Iduladha dan melaksanakan penyembelihan hewan kurban. Satu hal yang harus kita pahami bahwa perayaan Iduladha bukan sekedar rutinitas tahunan saja.
Kaum muslimin harus mampu memetik dan meneladani hikmah yang terkandung di dalamnya. Harapannya, setiap muslim semakin tergugah, termotivasi, dan bangkit kembali untuk meneladani semangat pengorbanan dan perjuangan Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam.
Kisah kehidupan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan kisah-kisah lainnya bukanlah cerita kosong. Kisah-kisah tersebut memang benar-benar nyata, sebagaimana dijelaskan dalam Al Quran surat Yusuf [12]: 111.
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُوْلِي الأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثاً يُفْتَرٰى وَلٰـكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ.
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi kaum yang beriman.”
Di dalam Al Quran, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mendapatkan beberapa predikat istimewa sesuai dengan prestasi yang pernah diukirnya di atas pentas sejarah. Allah memberinya gelar ummah. Ia bermakna ‘imam’ yang selalu dijadikan panutan. Beliau juga disebut hanif, yang berarti selalu taat dan condong kepada tauhid serta kebaikan. Beliau juga dijuluki khalilur rahman yang berarti kekasih Allah yang Maha Pengasih. Sementara itu, para ulama menyebutnya sebagai abul anbiya' lantaran banyak nabi dan orang salih lahir dari keturunannya, sebagaimana diterangkan Al Quran dalam surat Al ‘Ankabut ayat 27.
وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ وَآتَيْنَاهُ أَجْرَهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ.
“Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishaq, dan Ya`qub, dan Kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya.”
Di antara keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ialah Ismail dan Ishaq. Dari jalur keturunan Nabi Ismail terlahir Muhammad saw. Sementara itu, dari jalur Nabi Ishaq terlahir Nabi Ya'qub - dan dari Nabi Ya'qub inilah terlahir semua nabi yang berasal dari Bani Israil.
Kaum muslimin rahimakumullah!
Pertanyaannya sekarang, apa saja pelajaran berharga yang dapat kita petik dari sosok mulia Nabi Ibrahim ‘alahissalam sehingga Allah ta’ala anugerahkan keturunan-keturunan yang mulia itu? Keteladanan apa yang dapat kita ambil dari Nabi Ibrahim a.s.
Pada kesempatan ini, khatib akan menyampaikan tiga keteladanan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang patut kita jadikan rujukan.
Pertama, pendekatan diri demi meraih cinta Allah Swt.
Kurban secara bahasa diambil dari bahasa Arab, yaitu qaruba, yaqrubu, qurban, wa qurbanan, yang artinya dekat. Kata ‘kurban’ juga berarti hewan sembelihan atau semakna dengan udlhiyah. Dalam konteks Iduladha, untuk mendapatkan cinta Allah Swt., seorang hamba harus rela mengorbankan sebagian hartanya dengan cara menyembelih hewan kurban. Nah, bagi yang belum mampu berkurban, tetap harus berjuang dan berkorban untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. sesuai dengan tingkat kemampuannya masing-masing.
Prinsip kedekatan diri kepada Allah Swt. merupakan satu hal pokok yang harus ditanamkan ke dalam jiwa setiap muslim, sebagaimana kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tersebut. Apalagi di masa pandemi Covid-19 yang dampaknya sangat luar biasa ini. Oleh karena itu, kita harus selalu optimis karena sejatinya pandemi Covid-19 adalah ujian dari Allah ta’ala. Ia dihadirkan untuk mengukur seberapa tangguh keimanan seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya. Sama dengan ujian yang Allah berikan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan nabi-nabi lainnya, termasuk kita sebagai umat Nabi Muhammad Saw.
Yakinlah, bahwa dengan kesabaran, ketabahan, dan keimanan yang kuat membaja, Allah Swt. akan semakin mencintai dan memberikan pertolongan kepada kita, baik di dunia maupun di akhirat. Sama seperti ujian Allah kepada Nabi Muhammad Saw. dan sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq saat dikejar Quraisy. Saat itu, tampak tidak ada harapan dan pertolongan. Akan tetapi, Rasulullah Saw. dengan kekuatan akidah yang tertanam dalam hati, dengan sangat yakin mengatakan kepada Abu Bakar, "Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita," sebagaimana Allah tuturkan kisahnya dalam surah at-Taubah ayat 40.
Ma’asyiral muslimiina rahimakumullah!
Pelajaran kedua adalah pentingnya musyawarah di dalam keluarga.
Ketika keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Hajar, dan Ismail kembali diberikan ujian yang sangat berat berupa perintah Allah untuk menyembelih putera tercintanya, yakni Ismail, mereka bertiga bermusyawarah dengan baik.
Dari sini kita dapat memahami bahwa Nabi Ibrahim dan istrinya adalah potret orang tua yang tidak egois. Mereka mengutamakan prinsip musyawarah dalam keluarga. Hal ini dibuktikan dengan adanya dialog antara Nabi Ibrahim dan Ismail, sebagaimana diabadikan dalam Q.s. Ash-Shaffat ayat 102.
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Jika dibandingkan dengan kondisi keluarga modern saat ini, etika bermusyawarah dalam hal keagamaan semakin terkikis. Seorang anak banyak kehilangan hak untuk mendapatkan bimbingan dan rasa kasih sayang orang tuanya. Saat ini anak cenderung lebih nyaman curhat dengan teman dekat atau bahkan malah mengunggah persoalan dirinya di media sosial daripada mengadukan permasalahannya kepada orang tua.
Inilah prinsip musyawarah di dalam keluarga yang harus kita perlihara bersama untuk keberlangsungan keluarga yang harmonis di bawah perlindungan Allah Swt.
Ma'asyiral muslimiina rahimakumullah…
Pelajaran ketiga, pentingnya pendidikan Keluarga.
Pendidikan keluarga dicontohkan langsung oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Sebagai kepala keluarga, beliau mewanti-wanti anak-anaknya agar tetap berpegang teguh pada prinsip agama Islam. Allah ta’ala berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 132.
وَوَصّٰى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ
إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ.
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam."
Wasiat Nabi Ibrahim tersebut benar-benar dilaksanakan oleh anak-anaknya. Detik-detik ketika Nabi Ya'qub akan meninggal dunia, Ya’qub bertanya kepada anak-anaknya, “Maa ta’buduuna min ba'di (apa yang kamu sembah sepeninggalku)”? Anak-anaknya menjawab:
قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ.
“Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”
(Q.s. al Baqarah: 133).
Ayat ini membuktikan betapa besarnya perhatian Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pada pendidikan anak-anaknya. Beliau tidak rela kalau anaknya bodoh atau berada pada jalur pendidikan yang salah, seperti tradisi menyembah berhala yang pada umumya dilakukan penduduk saat itu.
Ketahuilah, pendidikan yang pertama dan utama adalah pendidikan akidah dan akhlak. Ia merupakan pondasi yang kokoh. Terpuruknya bangsa ini bukan karena sumberdaya manusianya yang kurang cerdas. Akan tetapi, karena adanya krisis moral dan akhlak. Mereka yang tidak dilandasi akhlak, dengan ilmunya akan melakukan korupsi dan penyalahgunaan jabatan. Tanpa iman dan akhlak mereka yang diberi kekayaan akan melakukan segala cara demi meraih kekuasaan dan kepuasan nafsu.
Kita menyadari bahwa banyaknya kasus kenakalan remaja, seperti pergaulan bebas, narkoba, dan tawuran, sesungguhnya terjadi akibat kurangnya perhatian, bimbingan, kasih sayang, dan pengawasan orang tua terhadap akhlak remaja kita.
Oleh karena itu, pada bulan Dzulhijjah ini, marilah kita merenung, sudahkah kita menjadi orang tua yang salih?
Sekali lagi, marilah kita berikhtiar menjadi orang tua yang baik, orang tua yang salih, yang rela berkorban harta demi pendidikan anak-anak kita. Marilah kita berkorban waktu demi mengawasi pergaulan anak-anak kita, dan membimbing mereka agar selalu dibawah lindungan Allah Swt.
Yakinlah bahwa pengorbanan kita, tidak akan pernah sia-sia. Allah berjanji akan mempertemukan kita kembali dengan anak-anak kita di akhirat apabila mereka tetap beriman pada Allah dan menjalankan syariat Islam secara baik.
Aamiin yaa Rabbal’alamiin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أنْ لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
((يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ)).
((يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا)).
اَلْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَـمِيْن، حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّناَ لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِك.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ، سَيِّدِ اْلأَوَّلِيْنَ وَاْلأَخِرِيْنَ، وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْن.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعاً مَرْحُوْماً، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقاً مَعْصُوْماً، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْماً.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِـمِيْن، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعَبادِكَ الْـمُؤْمِنِيْن.
اللهم أَبْرِمْ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ أَمْرًا رَشِيْدًا، يُعَزُّ فِيْهِ أَهْلُ طَاعَتِك، وَيُذَلُّ فِيْهِ أَهْلُ مَعْصِيَتِك، وَيُؤْمَرُ فِيْهِ بِالْمَعْرُوْف، وَيُنْهَى فِيْهِ عَنِ الْمُنْكَر.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار.