Jejak Langkah Menuju UTAMA
Setiap kali melewati gerbang SMP Negeri 1 Gending, mata BRIYANTO selalu tertuju pada spanduk besar bertuliskan "UTAMA : Unggul, Terampil, Agamis, Mandiri, dan Anti Narkoba." Bagi siswa kelas 8 ini, kata "UTAMA" dulu hanyalah pajangan hiasan dinding. Briyan yang dulu adalah remaja mencari perhatian—sering terlambat, nilai pas-pasan, dan mudah terpengaruh pergaulan jalanan yang tak jelas.
Namun, segalanya mulai berubah sejak Bu Nunuk menjadi wali kelasnya di semester ini. Bu Nunuk bukan tipe guru yang suka memarahi murid di depan umum. Suatu sore, saat Briyan tertangkap sedang berkumpul dengan alumni berniat mencoba rokok di luar sekolah, Bu Nunuk memanggilnya. Bukan dengan amarah, melainkan secangkir teh hangat di ruang guru.
"Briyan, kamu itu cerdas," ujar Bu Nunuk lembut. "Jangan biarkan bisikan salah dan barang terlarang menghancurkan masa depanmu. Sekolah ini punya visi UTAMA, dan Ibu yakin kamu sanggup menjadi anak yang UTAMA."
Kalimat itu sederhana, tapi menancap dalam di dada Briyan. Ia sadar, kehidupan kelam yang ber berisiko mengarah ke narkoba dan kenakalan remaja hanya akan menghancurkan impian ibunya di rumah. Briyan memutuskan untuk berubah.
Perjuangannya dimulai dari hal terkecil. Untuk mengejar nilai yang Unggul, Briyan memberanikan diri bertanya saat pelajaran IPA dan mulai rajin membaca di perpustakaan. Tak hanya itu, ia mengasah dirinya agar Terampil dengan bergabung di ekstrakurikuler Pramuka dan Keterampilan Komputer. Jari-jarinya yang dulu sering menjalan kerusuhan kini mahir mengoperasikan perangkat lunak presentasi.
Sisi Agamis juga mulai tumbuh. Briyan tak pernah lagi membuntuti di barisan belakang saat sholat Dzuhur berjamaah di musholla sekolah; ia bahkan belajar menjadi muadzin. Kemandiriannya menyala saat ia memilih merawat sepeda tuanya sendiri dan mengunggah hasil karya desain grafisnya secara Mandiri untuk menghasilkan uang saku tambahan, alih-alih meminta pada orang tua.
Puncaknya terjadi ketika mantan teman-temannya kembali mengajak Briyan nongkrong di tempat rawan. Dengan tegas dan penuh rasa percaya diri sebagai agen Anti Narkoba, Briyan menolak ajakan tersebut dan justru mengedukasi mereka tentang bahaya zat adiktif.
"Briyan, Ibu bangga sekali melihat perubahanmu," puji Bu Nunuk suatu hari sambil menyerahkan rapor sisipan dengan senyum hangat khasnya.
Briyan tersenyum lebar. Di bawah naungan SMP Negeri 1 Gending, ia membuktikan bahwa masa lalu tak menentukan masa depan. BRIYANTO kini bukan lagi anak yang tertinggal, melainkan sosok siswa yang benar-benar UTAMA.