Jika manusia diperintahkan dalam Islam untuk berpikir dan merenungkan ciptaan Allah, bagaimana peran sistem saraf dalam menjalankan perintah tersebut, dan apa akibatnya jika manusia tidak menggunakan akalnya dengan baik?
Sumber: https://www.genmuslim.id/
Ibnu Sina (Abu Ali al-Husain ibn Abdullah ibn Sina) merupakan seorang ilmuwan Muslim yang ahli di bidang anatomi dan kedokteran. Di dunia Barat ia dikenal dengan nama Avicenna dan sering disebut sebagai Bapak Kedokteran Modern dari Zaman Keemasan Islam. Ia juga dianggap sebagai salah satu filsuf paling berpengaruh pada era pra-modern.
Beberapa pemikiran Ibnu Sina tentang sistem saraf, di antaranya:
"Sensasi dan gerakan dapat disalurkan ke anggota tubuh melalui satu atau beberapa saraf."
"Saraf merupakan sumber kekuatan yang berasal dari otak dan sumsum tulang belakang."
"Saraf berwarna putih, lembut, lentur, dan sulit robek."
اِقْرَأْ بِا سْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ خَلَقَ الْاِ نْسَا نَ مِنْ عَلَقٍ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَ كْرَمُ الَّذِيْ عَلَّمَ بِا لْقَلَمِ عَلَّمَ الْاِ نْسَا نَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Artinya:
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."
(QS. Al-'Alaq 96: Ayat 1-5)
Sumber: https://rri.co.id/
Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 merupakan wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang berisi perintah untuk membaca (iqra’). Perintah membaca dengan menyebut nama Tuhan menunjukkan bahwa aktivitas mencari ilmu harus dilandasi kesadaran akan kebesaran Allah sebagai Sang Pencipta. Ayat ini juga menyebutkan bahwa Allah mengajarkan manusia dengan pena dan mengajarkan apa yang sebelumnya tidak diketahui manusia, yang menegaskan pentingnya proses belajar dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Dalam perspektif ilmu pengetahuan modern, proses membaca, belajar, dan memahami pengetahuan melibatkan kerja otak sebagai pusat pengendali sistem saraf manusia. Otak memproses informasi yang diterima melalui indera, kemudian mengolahnya menjadi pemahaman dan pengetahuan baru.
Dalam pandangan Islam, kemampuan berpikir tersebut berkaitan dengan akal yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Akal menjadi sarana bagi manusia untuk memahami kebenaran, membedakan antara yang baik dan yang buruk, serta mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Dengan demikian, kajian tentang otak dalam ilmu biologi dapat membantu manusia memahami bagaimana potensi akal bekerja sebagai salah satu karunia Allah SWT.
Sistem saraf merupakan sistem organ yang paling rumit, yang tersusun atas berjuta-juta sel saraf yang berbentuk serabut dan saling terhubung.
Unit terkecil dalam sistem saraf disebut neuron (sel saraf). Serabut saraf memiliki kemampuan eksitabilitas (dapat dirangsang), konduktivitas (menghantarkan rangsang), dan memberikan respon atas rangsangan tersebut.
Sistem saraf berperan dalam koordinasi kegiatan dan fungsi tubuh, terutama dalam menanggapi rangsang baik dari dalam maupun dari luar tubuh, yang meliputi persepsi sensor, aktivitas motor (sadar maupun tidak sadar), homeostatis proses fisiologi tubuh, serta perkembangan pikiran dan ingatan.
(Campbell, 2011)
Sumber: https://www.neurobion.com/
Shalat merupakan rukun Islam kedua yang menjadi ibadah wajib bagi setiap muslim. Shalat diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Selain memiliki nilai spiritual, gerakan shalat juga bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
Rangkaian gerakan dalam shalat melibatkan aktivitas fisik ringan yang dapat membantu melancarkan peredaran darah dan metabolisme tubuh. Gerakan sujud dalam shalat yaitu ketika posisi kepala berada lebih rendah dari jantung. Posisi ini secara fisiologis dapat membantu memperlancar aliran darah menuju otak. Aliran darah yang baik berperan penting dalam menjaga fungsi sel saraf sehingga dapat mendukung kemampuan berpikir, memori, dan konsentrasi. Selain itu,
Jika dilakukan dengan khusyu', shalat berpotensi membantu mencegah dan mengatasi hipertensi. Selain itu, shalat juga dapat memberikan efek relaksasi yang baik bagi kesehatan mental serta berpotensi membantu menjaga fungsi kognitif, terutama pada usia lanjut.
(Utama dkk, 2022)
Shalat tahajud merupakan ibadah sunnah yang dilaksanakan pada malam hari setelah bangun tidur. Ibadah ini memiliki nilai spiritual yang tinggi karena dilakukan pada waktu ketika sebagian besar manusia sedang beristirahat. Allah SWT menganjurkan umat Islam untuk melaksanakan shalat malam sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Isra ayat 79.
Pelaksanaan shalat tahajud pada suasana malam yang tenang dapat memberikan dampak positif bagi kondisi psikologis manusia. Dalam kajian ilmu saraf, keadaan tenang dan fokus saat beribadah dapat membuat aktivitas otak berada pada kondisi relaks yang sering dikaitkan dengan gelombang alfa. Kondisi ini menunjukkan keadaan pikiran yang lebih tenang sehingga membantu meningkatkan konsentrasi, kejernihan berpikir, dan kemampuan memproses informasi.
Selain itu, keheningan malam saat melaksanakan shalat tahajud juga dapat memberikan efek menenangkan bagi tubuh dan pikiran. Kondisi tersebut berpotensi membantu mengurangi stres dan kecemasan serta meningkatkan ketentraman batin. Dengan demikian, ibadah tahajud tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga memberikan manfaat bagi kesehatan mental dan fungsi kognitif manusia.
(Maghriza dkk, 2025)
Sumber: https://kalam.sindonews.com/
Sel saraf (neuron) merupakan sel fungsional pada sistem saraf yang bekerja dengan cara menghasilkan potensial aksi dan menghantarkan impuls dari satu sel ke sel berikutnya.
Komponen utama sel saraf (neuron) terdiri dari dendrit, badan sel, dan akson.
Dendrit
Densrit merupakan juluran sitoplasma berukuran relatif pendek dan bercabang yang berasal dari badan sel. Dendrit berfungsi menerima rangsang dari reseptor atau neuron lain menuju badan sel saraf.
Badan Sel
Badan Sel merupakan bagian sel yang terdapat inti sel (nukleus), badan Nissl (retikulum endoplasma dan ribosom), serta organel lain pada badan sel seperti badan golgi, mitokondria, dan neurofibril. Badan sel berfungsi menerima rangsang dari dendrit, memberikan energi bagi sel saraf dalam membawa rangsang, serta mengendalikan metabolisme seluruh neuron.
Akson
Akson merupakan juluran sitoplasma yang panjang yang berbentuk silindris dengan ujung bercabang-cabang seperti ranting. Akson diselubungi oleh selubung mielin, yang ditutupi oleh sel-sel schwann. Bagian yang tidak diselubungi disebut nodus ranvier (mempercepat jalannya impuls). Akson berfungsi menghantarkan impuls saraf dari badan sel menuju neuron lain.
(Isnaeni, 2019)
Struktur Sel Saraf (Neuron)
Sumber: https://roboguru.ruangguru.com/
Sumber: https://steamcommunity.com/
Berdasarkan fungsinya sel saraf (neuron) dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:
Neuron sensorik (aferen), berfungsi meneruskan rangsang dari indera (reseptor) menuju saraf pusat (otak atau sumsum tulang belakang).
Neuron motorik (eferen), berfungsi meneruskan rangsang dari saraf pusat menujumenuju efektor (otot atau kelenjar).
Neuron asosiasi, berfungsi menghubungkan neuron sensorik dan neuron motorik di saraf pusat.
Berdasarkan srukturnya sel saraf (neuron) dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:
Neuron multipolar, memiliki satu juluran akson dan dua atau lebih juluran dendrit.
Neuron bipolar, memiliki dua juluran berupa dendrit dan akson.
Neuron unipolar (pseudounipolar), neuron bipolar yang tampak hanya memiliki satu juluran dari badan sel karena akson dan dendritnya berfusi.
Puasa merupakan rukun Islam keempat yang menjadi ibadah wajib bagi muslim. Ibadah ini dilakukan dengan menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Selain memiliki nilai spiritual, puasa juga memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan tubuh.
Saat berpuasa, tubuh akan menggunakan cadangan energi seperti glikogen dan asam lemak yang tersimpan di hati. Proses metabolisme ini dapat memicu berbagai mekanisme biologis yang berperan dalam pemeliharaan dan regenerasi sel, termasuk sel-sel saraf di otak. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa puasa dapat memengaruhi produksi faktor pertumbuhan saraf yang berperan dalam menjaga fungsi kognitif, seperti kemampuan belajar, daya ingat, motivasi, serta pengaturan aktivitas sensorik dan motorik.
Pola puasa yang dilakukan secara teratur diduga dapat membantu menjaga kesehatan otak dan berpotensi mengurangi risiko beberapa penyakit neurodegeneratif, seperti Alzheimer dan Parkinson.
(Natashssa & Nurfitri, 2022)
Sel glia merupakan sel yang berkaitan erat dengan sel saraf (neuron), yang berfungsi sebagai pendukung struktur dan fungsi sel saraf (neuron), namun tidak terlibat dalam fungsi penghantaran impuls. Sel glia merupakan lem/perekat antar sel saraf (neuron).
Jenis sel glia:
Astrosit, berbentuk bintang dan berfungsi sebagai lem yang menyatukan sel saraf (neuron).
Oligodendrosit, berbentuk menyerupai astrosit, tetapi memiliki badan sel yang lebih kecil serta membentuk lapisan mielin untuk melapisi akson.
Mikroglia, berukuran paling kecil dan bersifat fagosit, berfungsi untuk pertahanan.
Sel ependima, merupakan membran epitelium yang melapisi rongga serebral dan medula spinalis (sumsum tulang belakang).
(Isnaeni, 2019)
Sel Glia (Neuroglia)
Sumber: Smith, 2022
Membaca Al-Qur’an merupakan kegiatan melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan benar sesuai kaidah tajwid serta berusaha memahami makna yang terkandung di dalamnya. Kegiatan ini termasuk aktivitas kognitif yang melibatkan berbagai fungsi otak, seperti konsentrasi, memori, serta kemampuan memahami makna bacaan.
Aktivitas membaca Al-Qur’an yang dilakukan secara teratur dapat membantu melatih kemampuan otak dalam memfokuskan perhatian dan meningkatkan konsentrasi. Selain itu, membaca dan mendengarkan Al-Qur’an juga dapat memberikan ketenangan batin dan rasa kebahagiaan. Kondisi tersebut dapat membantu meningkatkan emosi positif serta memperbaiki suasana hati seseorang.
Dzikir merupakan upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan mengucapkan nama Allah, mensucikan, dan menjaga dalam ingatan.
Saat berzikir, kalimat zikir yang diucapkan akan berjalan di sistem saraf, termasuk ke otak. Karena diucapkan dengan nada rendah, karbondioksida keluar dari mulut dan hidung menarik oksigen lebih banyak. Hal ini membuat aliran darah ke otak menjadi lebih dahsyat dan membawa oksigen. Selain itu, zikir berkontribusi positif terhadap pengelolaan stres, peningkatan empati, serta pembentukan ketahanan mental.
(Mohammad dkk, 2025)
Penghantaran impuls saraf melibatkan 4 proses yaitu penerimaan (reseptor), transmisi, integrasi, dan aksi (efektor). Terdapat dua mekanisme pemhantaran impuls sebagai berikut (Solomon, 2011) :
Sumber: Campbell, 2011
Impuls yang dihantarkan melalui sel saraf (neuron) berupa sinyal listrik. Penghantaran impuls terjadi karena adanya perbedaan muatan listrik antara bagian dalam dan luar membran, yang melibatkan peran pompa Na+ dan K+.
Polarisasi (Potensial Istirahat)
Sel saraf (neuron) tidak menghantarkan impuls. Saluran Na+ dan K+ tertutup. Bagian luar membran bermuatan positif (+), sedangkan bagian dalam membran bermuatan negatif (-). .
Depolarisasi (Potensial Aksi)
Ketika sel saraf (neuron) mendapatkan rangsangan, maka saluran Na+ akan terbuka dan saluran K+ tetap tertutup, sehingga terjadi perubahan muatan listrik dan terjadi potensial aksi. Bagian luar membran bermuatan negatif (-), sedangkan bagian dalam membran bermuatan positif (+) .
Repolarisasi (Kembali ke Potensial Istirahat)
Saluran Na+ tertutup dan tidak aktif dan saluran K+ terbuka, sehingga terjadi perubahan muatan listrik dan kembali ke potensial istirahat. Bagian luar membran bermuatan positif (+), sedangkan bagian dalam membran bermuatan negatif (-) .
Sumber : https://mcgovern.mit.edu/
Sumber: Campbell, 2011
Impuls yang dihantarkan melalui sinapsis berupa sinyal kimiawi. Penghantaran impuls melibatkan celah antar sel saraf (neuron).
Setiap akson akan berakhir pada ujung akson yang disebut terminal sinapsis. Permukaan terminal sinapsis (prasinapsis) yang berfungsi untuk melakukan transmisi rangsangan. Permukaan dendrit (pascasinapsis) yang menerima transmisi rangsangan. Di antara membran prasinapsis dan pascasinapsis terdapat celah sinapsis.
Sitoplasma dari terminal sinapsis (prasinapsis) mengandung gelembung neurotransmitter yang dapat menanggapi impuls elektrik pada neuron dan menghantarkannya ke sel saraf (neuron) berikutnya (pascasisnapsis).
Sumber : https://tenor.com/
Sumber: https://indonesiainside.id/
Aqidah dan akhlak merupakan bagian penting dalam pendidikan Islam yang membahas tentang dasar-dasar keimanan, nilai-nilai tauhid, serta perilaku dalam kehidupan manusia.
Aqidah merupakan ilmu yang mempelajari dasar-dasar kepercayaan dan keyakinan dalam Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Pemahaman aqidah yang kuat dapat memberikan ketenangan dan kekuatan batin sehingga seseorang lebih mampu menghadapi rasa takut, kecemasan, dan berbagai tantangan kehidupan.
Akhlak merupakan sikap dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari yang dilandasi oleh nilai-nilai aqidah. Akhlak yang baik akan tumbuh dari aqidah yang kuat dan benar, karena keyakinan yang benar akan mendorong seseorang untuk berperilaku sesuai dengan ajaran Islam.
Meskipun aqidah dan akhlak merupakan konsep spiritual dan moral, keduanya berkaitan dengan proses mental seperti berpikir, mengambil keputusan, dan mengendalikan perilaku. Dalam kajian ilmu saraf, proses tersebut melibatkan kerja otak sebagai pusat pengendali pikiran, emosi, dan tindakan manusia. Oleh karena itu, aqidah dan akhlak memiliki peran penting dalam pembentukan karakter dan perilaku manusia.
Sistem Saraf Pusat terdiri dari otak yang dilindungi tengkorak dan sumsum tulang belakang yang dilindungi ruas tulang belakang.
Terdapat lapisan pelindung (meninges) yang menutupi dan melindungi otak dan sumsum tulang belakang. Meninges terdiri dari 3 lapisan (Duan, 2022) .
Pia mater, lapisan terdalam yang halus dan tipis, mengandung banyak pembuluh darah, dan melekat pada otak atau sumsum tulang belakang.
Arachnoid, lapisan tengah yang mengandung sedikit pembuluh darah, serta terdapat ruang subarachnoid yang berisi cairan serebrospinalis.
Dura mater, lapisan terluar yang tebal dan kuat, terdiri dari 2 lapisan, serta melekat pada permukaan dalan cranium.
Sumber: https://en.wikipedia.org/
Sumber: https://loonylabs.org/
Otak manusia tersusun dari 100 miliar sel saraf (neuron) yang terhubung oleh sinapsis membentuk anyaman tubuh.
Otak berfungsi sebagai pusat koordinasi tubuh, meliputi kemampuan berpikir, mengingat, pusat emosi, rangsangan (sensorik), gerakan (motorik), dan keseimbangan.
Otak terdiri dari tiga wilayah utama yaitu: otak depan (telensefalon & diensefalon), otak tengah (mesensefalon), dan otak belakang (metensefalon & myelensefalon).
Bagian utama otak terdiri dari: otak besar (cerebrum), otak kecil (cerebellum), dan batang otak.
Struktur otak:
Sumber: https://www.simplypsychology.org/
Sumber: https://www.alodokter.com/
Sumber: https://commons.wikimedia.org/
Mesensefalon
Sumber: https://commons.wikimedia.org/
Sumber: https://commons.wikimedia.org/
Sumber: https://commons.wikimedia.org/
Otak besar terdiri sari 4 lobus, yaitu lobus frontal, lobus parietal, lobus temporal, dan lobus oksipital. Otak besar terdiri dari 2 hemisfer (kanan dan kiri).
Otak besar mengendalikan fungsi kognitif tinggi seperti berpikir, memori, emosi, bahasa, dan gerakan sadar.
Sumber: https://commons.wikimedia.org/
Otak kecil terletak di bawah otak besar. Otak besar terdiri dari 2 hemisfer (kanan dan kiri).
Otak kecil mengendalikan keseimbangan, postur tubuh, koordinasi gerakan, dan pembelajaran motorik.
Sumber: https://commons.wikimedia.org/
Batang otak terdiri dari otak tengah, pons varoli, dan sumsum lanjutan (medula oblongata).
Batang otak menghubungkan otak besar ke sumsum tulang belakang dan mengontrol fungsi otomatis tubuh.
Lobus Frontal
Sumber : https://commons.wikimedia.org/
Allah SWT berfirman:
إِنِّي تَوَكَّلۡتُ عَلَى ٱللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذُۢ بِنَاصِيَتِهَآ ۚ إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسۡتَقِيمٍ
Artinya:
"Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya). Sungguh, Tuhanku di jalan yang lurus (adil)."
(QS. Hud 11: Ayat 56)
Ayat ini menunjukkan bahwa seluruh makhluk berada dalam kekuasaan Allah SWT. Ungkapan “memegang ubun-ubunnya” menggambarkan bahwa Allah memiliki kendali penuh atas setiap makhluk hidup.
Dalam ilmu anatomi, bagian ubun-ubun terletak di bagian depan kepala yang berdekatan dengan lobus frontal pada otak. Lobus frontal merupakan bagian otak yang berperan penting dalam fungsi kognitif tingkat tinggi, seperti pengambilan keputusan, logika, pengendalian perilaku, serta proses berpikir dan memori. Dengan demikian, ayat ini dapat menjadi pengingat bahwa kemampuan berpikir dan mengendalikan perilaku yang dimiliki manusia merupakan bagian dari karunia Allah SWT.
(Siregar dkk, 2021)
Lobus Temporal
Sumber : https://commons.wikimedia.org/
Allah SWT berfirman:
وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَيۡئًا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡئِدَةَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ
Artinya:
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur."
(QS. An-Nahl 16: Ayat 78)
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT menganugerahkan berbagai indera kepada manusia sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan dan memahami lingkungan sekitarnya. Manusia dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui apa pun, kemudian secara bertahap belajar melalui kemampuan mendengar dan melihat.
Allah juga menciptakan berbagai nikmat di alam yang dapat dirasakan oleh indera manusia, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
وَٱلۡحَبُّ ذُو ٱلۡعَصۡفِ وَٱلرَّيۡحَانُ
Artinya:
"Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya."
(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 12)
Dalam kajian ilmu saraf, proses pendengaran diolah oleh bagian otak yang berada di lobus temporal, yaitu area yang berperan dalam memproses informasi suara yang diterima oleh telinga. Lobus temporal juga berkaitan dengan pengolahan beberapa rangsangan sensorik lainnya serta berperan dalam memori dan pengenalan berbagai rangsangan dari lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan manusia untuk mendengar dan mencium bau merupakan bagian dari karunia Allah SWT yang patut disyukuri.
(Siregar dkk, 2021)
Lobus Parietal
Sumber : https://commons.wikimedia.org/
Allah SWT berfirman:
هَٰذَا فَلۡيَذُوقُوهُ حَمِيمٞ وَغَسَّاقٞ
Artinya:
"Inilah (azab neraka), maka biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka) air yang sangat panas dan air yang sangat dingin."
(QS. Sad 38: Ayat 57)
Ayat ini menggambarkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk merasakan berbagai sensasi, termasuk panas dan dingin. Dalam ilmu saraf, kemampuan merasakan suhu merupakan bagian dari fungsi indera peraba. Rangsangan suhu yang diterima oleh kulit akan diteruskan melalui sistem saraf menuju otak dan diproses pada lobus parietal, yaitu bagian otak yang berperan dalam mengolah informasi sensorik dari tubuh.
(Siregar dkk, 2021)
وَٱحۡلُلۡ عُقۡدَةً مِّن لِّسَانِي
Artinya:
"Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,"
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 27)
Lidah merupakan alat indera yang berfungsi untuk merasakan berbagai rasa serta membantu manusia dalam berbicara. Dalam kajian ilmu saraf, rangsangan rasa yang diterima oleh lidah akan diteruskan melalui saraf menuju otak dan diproses pada beberapa bagian otak, terutama korteks insular yang berperan dalam pengolahan sensasi rasa. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan merasakan dan berbicara merupakan bagian dari nikmat yang Allah berikan kepada manusia.
(Siregar dkk, 2021)
Lobus Oksipital
Sumber : https://commons.wikimedia.org/
Allah SWT berfirman:
وَٱللَّهُ أَخۡرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ شَيۡئًا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡئِدَةَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ
Artinya:
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur."
(QS. An-Nahl 16: Ayat 78)
Ayat ini menjelaskan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui apa pun, kemudian Allah SWT menganugerahkan berbagai indera seperti pendengaran, penglihatan, dan hati sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan serta memahami lingkungan sekitar.
Dalam ilmu saraf, kemampuan melihat melibatkan kerja indera penglihatan dan otak. Informasi visual yang diterima oleh mata akan diteruskan melalui saraf optik menuju otak dan diproses pada lobus oksipital, yaitu bagian otak yang berperan dalam mengolah informasi penglihatan. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan manusia untuk melihat dan memahami berbagai objek di sekitarnya merupakan salah satu nikmat Allah SWT yang patut disyukuri.
(Siregar dkk, 2021)
Sumber : https://pixabay.com/id/
Sumsum tulang belakang (medula oblongata) merupakan lanjutan dari otak hingga ruas ke-2 tulang pinggang. Sumsum tulang belakang memiliki panjang sekitar 45 cm dengan diameter 2 cm.
Sumsum tulang belakang memiliki 2 fungsi utama yaitu: 1) Pusat gerak refleks; 2) Sarana komunikasi antara otak dan sumsum tulang belakang.
Sumsum tulang belakang terdiri dari servical (leher), torachal (dada), lumbar (punggung bawah), sacral, dan koksigeal.
(Mader, 2004)
Struktur sumsum tulang belakang:
Sumber : https://roboguru.ruangguru.com/
Sumber : https://commons.wikimedia.org/
8 ruas tulang leher
Berada di area leher, mengontrol bahu, lengan, tangan, leher, dan diafragma.
Sumber : https://commons.wikimedia.org/
12 ruas tulang dada
Berada di area dada, mengontrol dada, perut, dan punggung.
Sumber : https://commons.wikimedia.org/
5 ruas tulang pinggang
Berada di area pinggang, mengontrol paha, lutut, betis, dan kaki.
Sumber : https://commons.wikimedia.org/
5 ruas tulang panggul
Berada di area sakrum, mengontrol panggul, bokong, dan bagian bawah kaki.
Sumber : https://commons.wikimedia.org/
3-5 tulang ekor yang menyatu
Berada di area tulang ekor.
Sumber : https://www.kompasiana.com/
يَّخْرُجُ مِنْۢ بَيْنِ الصُّلْبِ وَا لتَّرَآئِبِ
Artinya:
"yang keluar dari antara tulang punggung (sulbi) dan tulang dada."
(QS. At-Tariq 86: Ayat 7)
Dalam ayat ini disebutkan istilah ṣulbi yang merujuk pada bagian tulang punggung dan tarā’ib yang dipahami sebagai bagian tulang dada atau area di sekitar dada bagian depan. Ayat ini menggambarkan asal-usul penciptaan manusia yang menunjukkan kekuasaan Allah SWT dalam menciptakan kehidupan.
Dalam kajian ilmu embriologi, perkembangan tubuh manusia berlangsung melalui berbagai tahapan pembentukan organ sejak masa embrio. Sistem saraf, termasuk otak dan saraf tulang belakang, berkembang dari struktur yang disebut tabung saraf (neural tube) yang terbentuk pada bagian punggung embrio. Proses perkembangan ini menunjukkan betapa kompleks dan teraturnya penciptaan manusia sebagai salah satu tanda kebesaran Allah SWT.
Sistem Saraf Tepi merupakan saraf yang bercabang dari otak dan sumsum tulang belakang yang meluas ke seluruh tubuh.
Sistem saraf tepi terdiri dari saraf kranial dan saraf spinal.
Sumber : https://www.orami.co.id/
Saraf kranial merupakan saraf tepi yang berasal dari otak.
Fungsi saraf kranial:
Menjalankan fungsi pancaindra, seperti penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan perasa
Mengontrol otot wajah dan kelenjar tubuh tertentu
Mengirimkan sinyal listrik dari otak ke berbagai bagian leher, kepala, dan dada
Saraf kranial terdiri dari 12 pasang saraf, yaitu:
Olfaktori; selaput lendir hidung (sensorik)
Optik; retina mata (sensorik)
Okulomotor; 4 otot bola mata (motorik)
Troklear; 1 otot bola mata (sensorik-motorik)
Trigeminal; gigi dan kulit wajah (motorik)
Abdusen; 4 otot bola mata (motorik)
Fasial; wajah dan lidah bagian dalam (sensorik-motorik)
Vestibulokoklear; telinga dalam (sensorik)
Glosofaringeal; lidah bagian belakang dan faring (sensorik-motorik)
Vagus; jantung, lambung, paru-paru (sensorik-motorik)
Aksesori spinal; otot tulang belikat (motorik)
Hipoglosal; otot lidah (motorik)
Sumber : https://boneandspine.com/
Saraf spinal merupakan saraf tepi yang berasal dari sumsum tulang belakang.
Fungsi saraf spinal:
Menghantarkan impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat
Meneruskan impuls dari sistem saraf pusat ke otot rangka tubuh
Membawa informasi sensorik dari tubuh ke sumsum tulang belakang
Mengirimkan sinyal motorik dari sumsum tulang belakang ke otot-otot tubuh
Saraf spinal terdiri dari 31 pasang saraf, yaitu:
8 pasang saraf servical (leher)
12 pasang saraf torachal (dada)
5 pasang saraf lumbal (pinggang)
5 pasang saraf sacral (pinggul)
1 pasang pasang koksigeal (ekor).
Pada saraf motorik (eferen) dibagi menjadi dua jenis yang memiliki sifat bertentangan, yaitu saraf parasimpatik (bekerja pada aktivitas tenang) dan saraf simpatik (bekerja pada aktivitas berat).
Sumber : https://billhankins.medium.com/
Mekanisme gerak merupakan proses terjadinya gerakan pada tubuh manusia yang melibatkan kerja sama antara otot dan rangka. Terdapat 2 mekanisme gerak, yaitu:
Sumber : https://klinikkeluarga.com/
Rangsang → reseptor → neuron sensorik → otak → neuron motorik → efektor
Sumber : https://www.alodokter.com/
Rangsang → reseptor → neuron sensorik → otak/sumsum tulang belakang → neuron motorik → efektor
Sumber : https://id.pngtree.com/
نَّحۡنُ خَلَقۡنَٰهُمۡ وَشَدَدۡنَآ أَسۡرَهُمۡ ۖ وَإِذَا شِئۡنَا بَدَّلۡنَآ أَمۡثَٰلَهُمۡ تَبۡدِيلًا
"Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka. Tetapi, jika Kami menghendaki, Kami dapat mengganti dengan yang serupa mereka."
(QS. Al-Insan 76: Ayat 28)
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT menciptakan manusia dengan struktur tubuh yang kuat dan tersusun secara sempurna. Salah satu bagian penting dari struktur tubuh tersebut adalah sendi, yaitu bagian tempat bertemunya dua tulang atau lebih yang berfungsi menghubungkan tulang serta memungkinkan terjadinya berbagai gerakan tubuh. Dalam melakukan aktivitas motorik, sendi bekerja sama dengan tulang dan otot untuk menghasilkan berbagai gerakan tubuh. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan tubuh manusia untuk bergerak merupakan bagian dari kesempurnaan ciptaan Allah SWT.