Program KB Pascapersalinan (KBPP) di bawah Direktorat Bina Kesehatan Reproduksi (Ditkespro) pada tahun 2026 merupakan pilar utama dalam menekan angka unmet need (kebutuhan KB yang tidak terpenuhi) dan percepatan penurunan stunting.
Fokus utamanya adalah memastikan capaian KBPP mendekati 100% bagi ibu yang bersalin di fasilitas pelayanan kesehatan (Puskesmas, RS, dan TPMB).
Target: Ibu tidak diperbolehkan keluar dari fasilitas kesehatan sebelum mendapatkan konseling dan memilih metode kontrasepsi.
Prioritas: Penggunaan MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) seperti IUD Pasca-Plasenta dan Implan 1 Batang.
Kesehatan Ibu : Penurunan risiko komplikasi akibat kehamilan yang terlalu dekat (4 Terlalu).
Kesehatan Anak : Penurunan risiko BBLR dan stunting karena ASI eksklusif terjamin tanpa gangguan kehamilan baru.
Ekonomi Keluarga : Perencanaan keluarga yang lebih baik memungkinkan alokasi dana pendidikan dan gizi lebih optimal.
Akselerasi Keluarga Berkualitas: Pelayanan KB Serentak Nasional Tandai Peringatan HUT ke-75 Ikatan Bidan Indonesia
Dalam upaya nyata mewujudkan pertumbuhan penduduk yang seimbang dan membentuk keluarga berkualitas di Indonesia, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN menginisiasi pergelaran Pelayanan KB Serentak di seluruh wilayah Indonesia. Momentum berskala nasional ini diselenggarakan bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ke-75 dan Hari Bidan Internasional Tahun 2026 yang mengusung tema global "One Million More Midwives".
Sebagai arah kebijakan pembangunan berkelanjutan, BKKBN berfokus pada Peta Jalan Pembangunan Kependudukan (PJPK) yang memiliki 5 indikator strategis, yaitu:
Total Fertility Rate (TFR),
Angka Kematian Ibu (AKI),
Angka Kematian Bayi (AKB),
Demand Satisfied (pemenuhan kebutuhan ber-KB), dan
Cakupan kesertaan KB.
Saat ini, tingginya angka unmet need (kebutuhan KB yang belum terpenuhi) serta disparitas akses antarwilayah masih menjadi tantangan besar. Melalui perencanaan kehamilan dan penjarangan kelahiran yang ideal, risiko kematian ibu dan bayi dapat ditekan secara signifikan.
Di sinilah bidan memegang peran krusial sebagai garda terdepan. Tidak hanya mendampingi persalinan, bidan menjadi kunci dalam memberikan konseling, pelayanan kontrasepsi bermutu, serta edukasi kesehatan reproduksi kepada masyarakat luas.
Pelaksanaan Pelayanan KB Serentak ini bertujuan utama meningkatkan aksesibilitas dan mutu layanan KB demi mendukung kesehatan ibu dan anak melalui penguatan kapasitas bidan.
Secara khusus, kegiatan ini ditargetkan untuk:
Meningkatkan jumlah peserta KB baru maupun aktif di tingkat nasional.
Mempercepat capaian KB Pascapersalinan (KBPP) dan cakupan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP).
Menurunkan angka unmet need dan mendukung TFR menuju angka ideal.
Mempererat kolaborasi strategis antara Kemendukbangga/BKKBN dengan organisasi profesi IBI.
Penandaan dimulainya (pencanangan) program Pelayanan KB Serentak ini diintegrasikan ke dalam rangkaian kegiatan Saba Budaya di Provinsi Banten pada tanggal 29 April 2026.
Acara peresmian ditandai dengan pemukulan gong secara resmi oleh Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd., bersama Ketua Umum PP IBI, Dr. Ade Jubaedah, S.SIT, MM, MKM.
Rangkaian acara di Banten berlangsung sangat padat dan menyentuh berbagai lapisan masyarakat, meliputi:
Kunjungan Lapangan & Peninjauan KRS: Mendukbangga meninjau langsung Keluarga Berisiko Stunting (KRS) untuk pemberian bantuan nutrisi dan bedah rumah.
Program Sosial & Pendidikan: Penyerahan bantuan simbolis program "IBI Mengasuh KRS" serta pembagian bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) bagi anak usia sekolah oleh Anggota Komisi X DPR RI, Dr. Hj. Adde Rosi Khoerunnisa.
Pentas Budaya KIE: Sosialisasi Program Bangga Kencana yang dikemas kreatif melalui kearifan lokal berupa kesenian Debus Banten.
Pelayanan KB hingga ke Pedalaman: Rombongan bertolak menggunakan motor PLKB menuju SPPG Leuwidamar untuk meninjau pemeriksaan lansia, hingga menembus wilayah pedalaman guna memantau langsung Pelayanan MKJP dan Non-MKJP bagi akseptor di daerah terpencil sebelum melanjutkan perjalanan ke Baduy Dalam.
Kegiatan Berbagi Praktik Baik "ASIK KBPP" (Apresiasi Penguatan Pencapaian KB Pascapersalinan) oleh Kemendukbangga/BKKBN bertujuan meningkatkan layanan KB pasca persalinan. Acara ini memberi penghargaan kepada bidan dan tenaga kesehatan atas inovasi dalam pelayanan KBPP, terutama dalam kurun waktu 42 hari setelah melahirkan.
Apresiasi yang Menggerakkan: ASIK KBPP untuk Layanan Pasca Persalinan yang Lebih Kuat
Pelayanan KB pascapersalinan tidak bisa berjalan sendiri, dibutuhkan sinergi, inovasi, dan komitmen dari semua lini.
Itulah semangat utama dari kegiatan ASIK KBPP (Apresiasi terhadap Sinergi, Inovasi, dan Komitmen KB Pascapersalinan). Kegiatan ini menjadi ajang apresiasi dan penguatan motivasi bagi seluruh elemen mulai dari BKKBN provinsi, fasyankes, provider, hingga mitra kerja untuk meningkatkan kualitas dan cakupan layanan KB pascapersalinan di seluruh wilayah.
Fokus utama kegiatan:
1. Penguatan tata kelola pelayanan KBPP berbasis data dan bukti: dari pemetaan, perencanaan, pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi.
2. Pengembangan inovasi dan praktik baik yang bisa direplikasi dalam upaya peningkatan cakupan pelayanan.
Hasil kegiatan:
✅ Hadirnya Dashboard Pemantauan KBPP yang menampilkan capaian layanan KBPP hingga level fasyankes dan akan di update setiap dua minggu.
✅ Tersusunnya Profil KBPP sebagai dokumen tata kelola dan inovasi di tiap provinsi, termasuk gambaran praktik baik yang telah diterapkan.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Tim Kerja KB-KR Perwakilan BKKBN Provinsi NTB yang turut menyampaikan sejumlah saran, masukan, dan catatan strategis selama sesi diskusi.
Dengan sinergi yang solid, data yang transparan, dan komitmen bersama, pelayanan KB pascapersalinan bisa menjadi lebih tepat sasaran dan berdampak nyata.