"DIA"
Dia,
bukan langit yang kupandang tiap senja,
tapi hadirnya tenang seperti jingga—
tak bising, tak gegap gempita,
namun selalu ada.
Dia,
bukan lagu yang sering kudengar,
tapi detaknya serupa irama,
mengisi sunyi tanpa suara,
menenangkan luka yang tak terlihat mata.
Dia,
tak pernah meminta dikenang,
namun bayangnya lekat dalam diam.
Setiap tawa, setiap tatap,
seakan menulis puisi dalam jantung yang tak sempat bicara.
Dan aku,
selalu menunggu meski tak tahu
apakah dia akan kembali,
atau hanya tinggal sebagai rindu
yang tak pernah mau pergi.