Setiap sore, Dara duduk di bangku taman dekat Lapangan Merdeka, menatap lalu lintas yang tak pernah tidur. Kota Medan baginya seperti keributan yang akrab, penuh suara klakson, obrolan Batak, dan aroma sate kerang yang mengepul dari gerobak pinggir jalan.
Dara bukan turis, bukan pula pendatang. Ia lahir di Jalan Brigjen Katamso, besar di antara tumpukan buku bekas milik almarhum ayahnya yang dulu penjaga toko fotokopi. Namun, Medan yang ia kenal kini perlahan berubah.
"Ndak sama lagi, bang," katanya pada Bang Amri, penjual es tebu langganannya. "Dulu orang ngobrol di warung kopi, sekarang sibuk sendiri dengan HP."
Bang Amri tertawa, "Zaman berubah, Dar. Tapi es tebuku tetap segar, kan?"
Dara tersenyum. Hari-harinya sebagai penulis lepas tak selalu manis. Ia menulis cerita dari sudut-sudut kota yang terlupakan: kisah becak motor yang kalah oleh ojek online, pemuda kampung yang merantau ke luar negeri, atau ibu-ibu pengajian di Masjid Raya yang diam-diam hafal puisi Chairil Anwar.
Satu sore, ia duduk di pinggir jalan Ahmad Yani, tepat di depan bangunan tua Tjong A Fie Mansion. Sambil menulis, ia mendengar sekelompok turis bertanya tentang sejarah bangunan itu. Dara, dengan antusias, menjelaskan semuanya—tentang dermawan Tionghoa yang membangun rumah itu untuk perdamaian antar etnis.
"Medan bukan cuma kota besar," katanya lirih pada dirinya sendiri, "tapi kumpulan kenangan, luka, dan semangat hidup yang keras kepala."
Di malam hari, ia berjalan pulang lewat Kesawan. Lampu neon toko-toko tua masih menyala redup. Ia menatap jalanan basah usai hujan, menghirup aroma tanah bercampur asap motor. Mungkin, pikirnya, cerita terbaik dari Medan belum selesai ditulis.
Dan di bawah langit Lapangan Merdeka, Dara tahu—ia akan tetap menulis. Tentang Medan, tentang hidup, tentang orang-orang yang diam-diam menolak dilupakan.