Pendekatan Gestalt merupakan suatu pendekatan yang menekankan kesadaran di sini dan sekarang. Fokus utamanya adalah pada apa dan bagaimana tingkah laku dan pada peran urusan yang tidak selesai dari masa lampau yang menghambat kemampuan individu untuk bisa berfungsi secara efektif. Konsep utamanya mencakup penerimaan tanggung jawab pribadi, hidup pada saat sekarang, pengalaman langsung yang merupakan kebalikkan dari membicarakan pengalaman-pengalaman secara abstrak, penghindaran diri, unfinished business. Tujuan utama konseling Gestalt adalah meningkatkan proses pertumbuhan konseli dan membantu konseli mengembangkan potensi yang dimilikinya. Fokus utama dalam konseling Gestalt adalah membantu individu melalui transisinya dari keadaan yang selalu dibantu oleh lingkungan ke keadaan mandiri (self-support). Konsep utama pendekatan Gestalt adalah here and now and unfinished business yang tercakup di dalamnya adalah emosi-emosi, peristiwa-peristiwa, ingatan-ingatan (memories), yang terhambat dinyatakan oleh individu yang bersangkutan.
Terapi Gestalt menggunakan banyak Teknik atau strategi yang lebih dari sekumpulan teknik atau permainan-permainan. Apabila interaksi pribadi antara terapis dengan konseli merupakan inti dari proses terapeutik, Teknik-teknik bisa berguna sebagai alat membantu konseli memperoleh kesadaran yang penuh dan teknik-teknik dalam terapi gestalt digunakan sesuai dengan gaya pribadi terapis. Levitsky dan Perls (Abdullah,2017) menyajikan suatu uraian ringkas tentang sejumlah permainan yang bisa digunakan dalam terapi gestalt, diantaranya;
Salah satu tujuan terapi gestalt adalah mengusahakan fungsi yang terpadu dan penerimaan atas aspek-aspek kepribadian yang dicoba dibuang atau diingkari. Terapi gestalt menaruh perhatian yang besar pada pemisahan antara “top dog” dan “underdog”. Topdog disini merupakan suatu perasaan amarah bila sesuatu tidak sesuai dengan nilai dan norma moral, autoritarian dan mengetahui yang terbaik. Topdog merupakan orang yang menggunakan kekuatannya untuk menekan dan menakuti orang lain dan bekerja dengan kata “kamu harus” dan “kamu tidak boleh”. Sedangkan underdog lebih ke manipulatif dengan menjadi defensif, menggambarkan peran lemah, merengek dan menangis seperti layaknya tidak mempunyai daya upaya. Underdog lebih menekankan pada peran “saya mau” atau “saya sudah bekerja dengan keras). Teknik ini menggunakan dua kursi kosong untuk membantu konseli dalam penyelesaian konflik antara peran “yang saya inginkan” dan “saya seharusnya”. Satu kursi menjadi topdog (yang seharusnya) dan satunya merupakan underdog (yang saya inginkan). Pada teknik ini konseli diminta berargumen sampai mencapai titik permasalahan yang sebenarnya.