Konsep kecemasan merupakan konstruksi psikologisdan fenomena umum yang dikenal pada abad ke-20dan terus menerus berkembang (Cambre & Cook, 1985). Kecemasan digambarkan oleh Epstein (1972) sebagai suatu keadaan dimana seseorang merasa terancam karena ketakutan terhadap sesuatu hal yang dianggap olehnya belum dapat terselesaikan. Ini merupakan respon alam bawah sadar manusia untuk merespons situasi yang tidak dikenal atau tidak terkendali sebagai ancaman potensial dalam berbagai setting kehidupan. Kecemasan juga terjadi di sekolah, yaitu munculnya perasaan takut dan tidak nyaman saat berinteraksi dengan lingkungan sekolah. Ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti prestasi akademik, hubungan sosial, atau masalah pribadiyang dialami oleh individu yang beraktifitas di sekolah.
Percaya atau tidak bahwa kecemasan, khususnya kecemasan akademik pada dasarnya dibutuhkan bagi siswa karena mengacu pada adanya tekanan psikologis yang dapat dikelola; dan memotivasi siswa untuk tampil lebih baik secara akademik. Penting untuk digarisbawahi bahwa selama kecemasan akademik itu tetap dapat dikendalikand an tidak menjadi berlebihan atau berkepanjangan maka itu baik bagi siswa. Kecemasan akademik ini dapat membantu siswa dalam memprioritaskan tugas, memenuhi tenggat waktu (deadline), dan mencapai tujuan belajar merekadi sekolah. Selain itu, kecemasan akademik yang terkendali juga dapat meningkatkan pembelajaran dan kekuatan memori (O'Connor, 2007).
Namun, pada bagian ini akan dijelaskan konsep kecemasan akademik yang tidak dapat dikendalikan dan berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental siswa. Kecemasan akademik adalah keadaan mental dimana seseorang merasa gelisah dan kesusahan terhadap keadaan sekolah atau perguruan tinggi (Mahato & Jangir, 2012). Pendapat lain dari Kaur, Grewal, and Saini (2021) menjelaskan bahwa kecemasan akademik adalah keadaan khawatir dan merasa terancam seseorang atas aktifitas akademik disekolah karena guru, tugas-tugas dan/atau mata pelajaran spesifik.
Selain itu, alasan mengapa seseorang bisa merasakan kecemasan terhadap tugas-tugas di sekolah, di antaranya: (1) tekanan untuk mencapai hasil yang baik, yang mana anyak siswa merasa tertekan untuk memperoleh nilai yang baik dan mencapai standar tinggi yang ditentukan oleh orang tua, guru, dan masyarakat, dan; (2) kekhawatiran akan hasil akhir, yang mana siswa mungkin khawatir tentang bagaimana hasil dari tugas atau ujian akan mempengaruhi masa depan mereka. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kecemasan akademik adalah perasaan tertekandan khawatir berlebihan yang muncul pada diri siswa sehubungan dengan tugas-tugas akademik, tes/ujian sekolah, atau situasi akademis lainnya. Kecemasan akademik dapat mempengaruhi konsentrasi, prestasi, dan kenyamanan siswa dalam situasi sekolah, dan dapat mengurangi kualitas hidup siswa. Kecemasan akademik juga sering diperburuk oleh tekanan untuk berprestasi, ketakutan akan kegagalan, atau komparasi dengan teman-teman.
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KECEMASAN AKADEMIK
Siswa dapat mengalami kecemasan akademik karena berbagai faktor determinan, antara lain: (1) tekanan berprestasi, dimanasiswa merasa tertekan untuk memenuhi harapanatau ekspektasiorang tua, guru, atau masyarakat (Luthar & Becker, 2002); (2) takut gagal, yaitu siswa merasa takut untuk tidak lulus atau gagal dalam suatu tes atau tugas akademik(Banks & Smyth, 2015); (3) komparasisosial, yaitu siswa membandingkan diri dengan teman-teman di sekolahnya dan merasa tidak cukup baik/ cerdas secara akademik (Dijkstra, Kuyper, Van der Werf, Buunk, & van der Zee, 2008); (4) kemampuan akademik, dimana siswa merasa tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk mengatasi tugas dan materi yang diberikanoleh guru(Young, 1991), dan(5) kemampuan mengatasi stres (coping stress), yaitu siswa sulit untuk mengatasi stres akademis dan mempertahankan keseimbangan antara belajar dan kegiatan lainyang dijalaninya (Zeidner, 1995).
CIRI-CIRI DAN TINGKATAN KECEMASAN AKADEMIK
Beberapa ciri dari tingkat kecemasan akademik yang tinggi adalah: (1) merasa tertekan dan tidak yakin dalam mengerjakan tugas dan ujian; (2) takut mengecewakan orang tua dan guru; (3) merasa cemas dan gugup saat menghadapi ujian; (4) sering merasa tertekan dan khawatir terus menerus; (5) kurang tidur dan tidak mampu memanfaatkan waktu beristirahat dengan baik; (6) sering merasa sedih yang berkepanjangan dan mudah putus asa, dan (7) konsentrasi dan daya ingat yang buruk. Sementara itu, beberapa ciri dari tingkat kecemasan akademik yang sedang adalah: (1) rasa cemas dan tegang saat menghadapi tugas dan ujian tertentu; (2) kurang percaya diri; (3) mudah gugup; (4) sering memikirkan hasil ujian dan tugas; (5) ada perasaan tertekan yang menghampiri; (6) masih dapat tidur atau beristirahat dengan baik; (7) konsentrasi dan daya ingat yang masih baik, dan (8) masih dapat menikmati aktivitas dan hobi yang dimilikinya.Terakhir, ciri-ciri dari tingkat kecemasan akademik yang rendah, antara lain: (1) memiliki perasaan tenang dan damai saat menghadapi tugas atau ujian; (2) memiliki rasa percaya diri dan keyakinan dalam mengerjakan tugas atau ujian; (3) tidak merasa tertekan atau cemas saat menghadapi ujian; (4) dapat beristirahat dengan baik dan memiliki kualitas tidur yang baik; (5) memiliki rutinitas dan aktivitas keseharian yang seimbang; (6) dapat menikmati aktivitas dan hobi lain dengan baik; (7) memiliki konsentrasi dan daya ingat yang baik
Sumber:
Prasetyaningtyas, W. E., Rangka, I. B., Folastri, S., & Sofyan, A. (2023). Kecemasan Akademik Siswa di Sekolah: Suatu Tinjauan Singkat. Journal of Learning and Instructional Studies, 2(3), 107–114.