Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi
2.1.a.3. Mulai dari Diri - Refleksi Individu - Modul 2.1
Saya mengajar di SMK, Saya mengajar dengan berbagai macam karakteristik peserta didik, ada yang Auditori, Visual, dan Kinestetik.
Untuk peserta didik yang mempunyai kriteria Auditori dan Visual saya menyiapkan beberapa Video Pembelajaran agar dia mudah mempelajari materi pelajaran, Sedangkan anak yang Kinestetik saya menggunakan beberapa metode pembelajaran biasanya praktik langsung atau ekperiment yang membuat anak kinestetik senang mempelajari materi saya.
Agar proses pembelajaran baik yang saya lakukan adalah dengan membuat perencanaan dan periapan yang baik dalam pembelajaran. Persiapan dari Modul Ajar, Periapan dari Metode Ajar, Persiapan dari Materi Ajar, Persiapan dari Alat, Bahan, Media ajar, Persiapan dari Refleksi pembelajaran.
Setiap peserta didik saya mengakomodir apa saja yang memang harus saya persiapkan dengan karakteristik siswa yang berbeda-beda. Perlakuan saya kepada setiap peserta didik tentu sama tidak pilih kasih, tetapi penanganan saya kepada setiap perserta didik jelas akan berbeda sesuai dengan karakteristik yang dia miliki.
Tantangan yang saya hadapi saat menghadapi peserta didik yang beragam atau mempinyai karakteristik yang berbeda-beda adalah persiapan Media ajar yang cukup banyak, karena harus menyiapkan materi sesuai dengan karakter peserta didik masing-,masing.
Dikemukakan oleh Gerlach dan Ely (Sanjaya, 2006:161) menyatakan: “A medium, conceived is any person, material or event that establishs condition which enable the learner to acquire knowledge, skill, and attitude.” Media pembelajaran adalah salah satu komponen proses belajar mengajar yang memiliki peranan sangat penting dalam menunjang keberhasilan proses belajar mengajar. Pada hendaknya media dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar atau dibaca.
Media ajar merupakan bagian dari komponen metodologi pengajaran yang berfungsi sebagai sumber dan membantu metode pengajaran yang sedang dilakukan. Jadi dengan Media Ajar yang beragam ini menjadi salah satu tantangan yang saya bisa atasi dengan perbedaan karakteristik yang berbeda-beda pada peserta didik.
Untuk menjawab tantangan dengan perbedaan karakteristik siswa, setiap pembelajaran itu harus dirancang dan dipersiakan dari Modul Ajar atau RPP yang dibuat guru, merancang Metode Ajar yang sesuai dengan berbagai macam karakteristik siswa, Media ajar yang digunakan juga dibuat dengan beberapa tipe, Pelaksaanan pembelajaran alangkah lebih baik dimonitoring oleh rekan sejawat agar kekurangan yang kita miliki bisa kita evaluasi, dan hasil pemeblajaran yang sudah kita laksanankan jangan lupa dievaluasi dengan hasil refleksi yang kita dapatkan dari rekan sejawat atau peserta didik.
Semoga kita selalu menjadi guru yang bisa terus memperlakukan peserta didik secara adil sesuai dengan karakteristik peserta didik kita.
Daftar Pustaka : Sanjaya, Wina (2006). Strategi Pembelajaran. Jakarta : Kencana.
Informasi yang saya dapatkan dari Video dan Artikel adalah
Tiga Aspek Kesiapan Belajar atau Kebutuhan Belajar yaitu : 1. Kesiapan Belajar, 2. Minat Belajar, dan 3. Profil Belajar.
Tiga Strategi Diferensiasi yaitu : 1. Diferensiasi Konten, 2. Diferensiasi Proses, dan 3. Diferensiasi Produk.
Penilaian dalam Tiga Perspektif yaitu :
1. Assessment for learning (dilakukan selama berlangsungnya proses pembelajaran), 2. Assessment of learning (dilaksanakan setelah proses pembelajaran selesai), dan 3. Assessment as learning (melibatkan murid-murid secara aktif dalam kegiatan penilaian tersebut).
Gagasan baru apa yang Anda dapatkan dari video dan artikel adalah
Penilaian Formatif dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan setiap hari, misalnya lewat mengamati, menanya, merefleksi, berdiskusi. Berikut ini adalah beberapa contoh strategi penilaian formatif, selain yang mungkin telah sering dilakukan guru dalam bentuk tes tertulis:
1. Tiket Keluar yaitu guru memberikan pertanyaan yang diajukan kepada semua murid sebelum kelas berakhir, 2. Tiket Masuk yaitu guru juga bisa memberikan sebuah pertanyaan kepada semua murid sebelum pelajaran dimulai, 3. Berbagi 30 Detik yaitu dengan strategi ini, murid secara bergiliran berbagi apa yang telah ia pelajari dalam pelajaran selama 30 detik, 4. Nama dalam toples yaitu guru bisa meminta murid menulis nama mereka di selembar potongan kertas & kemudian memasukkannya dalam toples yaitu guru kemudian bisa mengajukan sebuah pertanyaan tentang konsep kunci yang sedang dipelajari, 5. 3-2-1 yaitu di akhir pembelajaran yaitu strategi ini memberikan murid cara untuk merangkum atau bahkan mempertanyakan apa yang baru saja mereka pelajari, 6. Refleksi yaitu apapun bentuk refleksi yang dilakukan, refleksi dapat menjadi alat penilaian formatif yang sangat berguna bagi guru untuk mengetahui sejauh mana pemahaman murid dan apa yang masih menjadi kebingungan mereka, 7. Pojok pemahaman yaitu meminta murid pergi ke pojok-pojok kelas sesuai dengan pemahaman mereka, dan 8. Strategi 5 jari yaitu meminta murid mendeskripsikan pemahaman mereka terkait topik yang diajarkan dengan menggunakan 5 jari. 5 jika mereka sudah paham sekali, 1 jika mereka tidak paham sama sekali
Apakah yang menurut Anda akan sulit diimplementasikan? Mengapa?
Cukup menyita waktu karena membutuhkan persiapan yang cukup banyak, baik persiapan dari pembuatan RPP atau Modul Ajar juga pembuatan, Materi dan Media Ajar. Menganalisis siswa satu persatu dan mengelompokan siswa. Mencari informasi dari Wali Kelas tentang latar belakang siswa atau mencari informasi dari Guru BK yang mempunyai data tentang Gaya belajar setiap siswa.
Pertanyaan apakah yang masih Anda miliki atau klarifikasi apakah yang masih Anda perlukan terkait dengan isi video dan artikel tersebut?
Bagaimana mengamati siswa secara mendetail satu persatu siswa apabila kita mempunyai beban dan tugas mengajar dengan kelas atau rombongan belajar yang begitu banyak?
Jurnal : Pembelajaran Berdiferensiasi (Modul 2.1)
Pembelajaran Diferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid.
Bagaimana pembelajaran diferensiasi dilakuakan di dalam kelas
Mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek, yaitu :
Kesiapan belajar (readiness) murid
Minat murid
Profil belajar murid
Kesiapan belajar (readiness) murid
Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi, konsep, atau keterampilan baru. Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona nyaman mereka dan memberikan mereka tantangan, namun dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat menguasai materi atau keterampilan baru tersebut
Minat murid
Tomlinson (2001: 53), mengatakan bahwa tujuan melakukan pembelajaran yang berbasis minat, diantaranya adalah sebagai berikut:
membantu murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan kecintaan mereka sendiri untuk belajar;
mendemonstrasikan keterhubungan antar semua pembelajaran;
menggunakan keterampilan atau ide yang dikenal murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan yang kurang dikenal atau baru bagi mereka, dan;
meningkatkan motivasi murid untuk belajar.
Profil belajar murid
Profil belajar murid terkait dengan banyak faktor. Berikut ini adalah beberapa diantaranya:
Preferensi terhadap lingkungan belajar, misalnya terkait dengan suhu ruangan, tingkat kebisingan, jumlah cahaya, apakah lingkungan belajarnya terstruktur/tidak terstruktur, dsb.
Contohnya: mungkin ada anak yang tidak dapat belajar di ruangan yang terlalu dingin, terlalu bising, terlalu terang, dsb.
Pengaruh Budaya: santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal - impersonal.
Preferensi gaya belajar.
Gaya Belajar
Gaya belajar adalah bagaimana murid memilih, memperoleh, memproses, dan mengingat informasi baru. Secara umum gaya belajar ada tiga, yaitu:
visual: belajar dengan melihat (misalnya melalui materi yang berupa gambar, menampilkan diagram, power point, catatan, peta, graphic organizer );
auditori: belajar dengan mendengar (misalnya mendengarkan penjelasan guru, membaca dengan keras, mendengarkan pendapat saat berdiskusi, mendengarkan musik);
kinestetik: belajar sambil melakukan (misalnya bergerak dan meregangkan tubuh, kegiatan hands on, dsb).
Pemebelajaran diferensisasi
Diferensiasi Konten
Deferensiasi Proses
Diferensiasi Produk
“Pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut.”
“Pembelajaran berdiferensiasi ini menjadi salah satu pembelajaran yang harus diaplikasikan sebagai seorang guru penggerak yang bisa memberi contoh untuk rekan sesama atau kemajuan sekolahnya”
Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional
2.2.a.3 Mulai dari Diri - Refleksi Kompetensi Sosial dan Emosional - Modul 2.2
Refleksi Kompetensi Sosial dan Emosional
Selama menjadi pendidik, Anda tentu pernah mengalami sebuah peristiwa yang dirasakan sebagai sebuah kesulitan, kekecewaaan, kemunduran, atau kemalangan, yang akhirnya membantu Anda bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Apa kejadiannya, kapan, di mana, siapa yang terlibat, apa yang membuat Anda memilih merefleksikan peristiwa tersebut, dan bagaimana kejadiannya?
Pada saat mengajar tidak sesuai kompetensinya, saat itu Kurikulum 2013 digulirkan sekitar tahun 2014, Mata Pelajaran TIK dihilangkan, saat itu saya harus mangajar mata pelajaran Prakarya, yang saya rasa saya tidak memiliki keahlian dalam bidangnya. Kebijakan pemerintah menggulirkan bagi guru TIK bisa mengajar TIK dengan pembelajaran seperti Bimbingan TIK, namun Kepala Sekolah saat itu tidak mendukung akan kebijakan yang di berikan. Saat itu saya memilih untuk melanjutkan Sekolah lebih tinggi, agar semakin menambah pengetahuan saya akan pendidikan.
Bagaimana Anda menghadapi krisis tersebut (coping)? Bagaimana Anda dapat bangkit kembali (recovery) dan bertumbuh (growth) dari krisis tersebut?
Saya menghadapi masalah tersebut dengan menjalani tanpa mengeluh dan membuat terobosan-terobosan yang baik untuk pembelajaran. Saya merecovery skill saya yang belum saya miliki. dan saya bertahan dengan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
Gambarkan diri Anda setelah melewati krisis tersebut.
Apa hal terpenting yang telah Anda pelajari dari krisis tersebut?
Saya seperti orang yang merasa akan dirugikan dari kejadian yang saya alami, namun ternyata semuanya asal dihadapi dengan kesabaran akan membuahkan hasil yang baik.
Bagaimana dampak pengelolaan krisis tersebut terhadap diri Anda dalam menjalankan peran sebagai pendidik?
Saya rasa saya menjadi paham bahwa segala tantangan yang di hadapi itu adalah sebuah ujian hidup yang membuat kita semakin kuat dan semakin matang akan menghadapi sebuah masalah yang dihadapi.
Sebagai pendidik, Anda tentu pernah bertemu murid yang memiliki pemahaman diri, ketangguhan, atau kemampuan membangun hubungan yang positif dengan orang lain. Setujukah Anda bahwa faktor-faktor tersebut membantu ia menjalani proses pembelajaran dengan lebih optimal di sekolah? Jelaskan jawaban Anda dengan bukti atau contoh yang mendukung.
Saya setuju dengan pernyataan ini, ternyata dengan suasana positif pembelajaran lebih optimal dan menyenangkan. Siswa yang aktif membuat mood kita mengajar juga lebih menyenangkan. Proses pembelajaran lancar dan tidak terasa walau waktu yang digunakan ternyata lama.
Dari kedua refleksi di atas, apa yang dapat Bapak/Ibu simpulkan tentang hubungan antara kompetensi sosial dan emosional dengan keberhasilan dalam pengelolaan krisis Anda dan pembelajaran murid Anda?
kesimpulannya dengan kompetensi sosial kita membuat sebuah ikatan yang menyenangkan dalam pembelajaran, sedangkan emosi kita yang stabil membuat peserta didik nyaman belajar bersama kita.
Harapan dan Ekspektasi
Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, apa yang Anda harapkan untuk pembelajaran selanjutnya ?
Silahkan kemukakan Harapan bagi diri sendiri ?
Menjadi guru yang menyenangkan, menjadi teladan dan menjadi guru yang dinantikan juga diridukan oleh siswanya.
Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, apa yang Anda harapkan untuk pembelajaran selanjutnya ?
Silahkan kemukakan Harapan bagi murid-murid Anda ?
menghasilkan murid-murid yang memiliki karakter yang baik dan kompetensi yang dapat menunjang kebutuhan kehidupan mereka.
Refleksi D.1a: (Kesadaran Diri)
Sebelumnya saya berpikir bahwa rencana pembelajaran itu bersifat kaku dan tidak fleksible ternyata kita dapat menerapkan pembelajaran sosial dan emosional . 2. Ide pembelajaran baru dan menarik akan saya aplikasikan dengan mencoba menyelipkan pembelajaran KSE pada KBM di kelas setidaknya ada satu pertemuan dalam satu bulan.
Refleksi D.1b: (Manajemen Diri)
Sebelumnya saya berpikir pembelajaran tentang sosial emosional bisa diberikan secara eksplisit, ternyata dapat dibuatkan RPP tentang topik Manajemen Diri disertai Capaian Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran yang ingin didapatkan oleh murid. 2. Ide pembelajaran yang ingin diterapkan adalah melakukan teknik bermain peran yang anak menampilkan situasi yang mendukung reaksi emosional yang kuat. bagi peserta didik.
Refleksi D.1c: (Kesadaran Sosial)
Sebelumnya saya berpikir empati adalah perasaan diharapkan muncul dengan sendirinya, ternyata empati dapat dipelajari dan diasah dengan pembelajaran yang sudah di skenariokan. 2. Ide pembelajaran yang menarik akan ingin saya terapkan adalah melatih teknik bernapas/STOP/praktik kesadaran penuh agar membuat suasana ruangan yang nyaman dan perasaan yang santai.
Refleksi D.1d: (Keterampilan Berelasi)
Sebelumnya saya berpikir bahwa masalah dapat diselesaikan tuntas oleh orang dewasa, ternyata masalah bisa diselesaikan dengan pemecahan konflik dengan teman dan sesama. 2. Ide pembelajaran menarik akan saya terapkan adalah mencoba penerapan pembelajaran Resolusi Konflik I-Message bagaimana dengan teman sebaya dapat menyelesaikan sebuah masalah.
Refleksi D.1e: (Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab)
Sebelumnya saya berpikir pengambilan keputusan diambil secara musyawarah atau voting, ternyata ada strategi yang dapat dipelajari dalam pengambilan sebuah keputusan yaitu metode POOCH. 2. Ide pembelajaran baru atau menarik yang akan saya terapkan adalah saat memberikan waktu yang cukup untuk murid mengungkapan perasaannya dengan menulis apa yang mereka rasakan.
Refleksi D.2 :
Sebelumnya saya berpikir Rencana Pembelajaran bisa sederhana atau satu lembar, ternyata Rencana Pembelajaran dibuat sesuai dengan kebutuhan kita baik lembarannya sedikit atau cukup banyak. 2. Ide pembelajaran baru atau menarik yang saya terapkan adalah melakukan Amati Tiru Modifikasi pada RPP SMK yang akan saya buat.
Refleksi D.3 :
Sebelumnya saya berpikir pendidikan itu kemampuan murid hanya tentang capaian nilai yang mereka dapatkan, ternyata pendidikan meliputi pendidikan sosial emosional. 2. Ide pembelajaran baru atau menarik akan saya terapkan di kelas saya adalah menerapkan PSE secara eksplisit dan terintergrasi. 3. Yang ingin saya perdalam lebih lanjut adalah bagaimana cara implementasi PSE dalam lingkungan sekolah dan komunitas sekolah serta integrasi yang ingin diterapkan dalam kurikulum sekolah saat ini.
Refleksi D.4a :
Bentuk penguatan Kompetesi Sosial dan Emosional pada diri saya adalah Manajemen Diri yaitu mengelola emosi diri, Mengidentifikasi dan menggunakan strategi-strategi pengelolaan stres, menunjukkan disiplin dan motivasi diri, merancang tujuan pribadi dan bersama, menggunakan keterampilan merancang dan mengorganisir, dan memperlihatkan keberanian untuk mengambil inisiatif
Refleksi D.4b :
Bentuk Penguatan Kompetensi Sosial dan Emosional dengan rekan sejawat adalah berkolaborasi, bagaimana saya bisa berkolaborasi dengan teman saya dalam hal pengajaran dan pembelajaran atau dalam sebuah event atau kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama.
Jurnal : Pembelajaran Sosial dan Emosional (Modul 2.2)
Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional agar dapat:
Memahami, menghayati, dan mengelola emosi (kesadaran diri)
Menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri)
Merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial)
Membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan berelasi)
Membuat keputusan yang bertanggung jawab. (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab
Sebagai seorang guru kita harus mempunyai kompetensi sosial dan emosional, agar proses pembelajaran dengan siswa dapat berjalan dengan baik. Pelaksanaan Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) ternyata dapat diterapkan secara Eksplisit ataupun Implisit. Bisa disisipkan dalam pembelajaran ataupun dalam RPP terpisah.
Tugas guru bukan hanya menuntun dan memfasilitasi tapi bisa menerapkan Budaya Positif terhadap peserta didik melalui Pengelolaan Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE). Kompetensi yang dirasa tidak terlihat atau tampak tapi bisa menjadi bekal mereka kelak pada saat menghadapi kehidupan bermasyarakat, lingkungan kerja atau bernegara.
Sebelum mempelajari modul 2.2 tentang Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE), saya berpikir bahwa Pembelajaran Sosial dan Emosial itu hanya diselipkan pada saat proses pembelajaran sehingga saya tidak membuat RPP secara terpisah untuk membuat sebuah proses penerapan KSE.
Setelah mempelajari modul ini, ternyata penerapan KSE bisa secara terpisah dari proses Pembelajaran.
3 hal mendasar dan penting yang saya pelajari adalah:
Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE)
Kesadaran Diri, Manajemen Diri, Kesadaran Sosial, Keterampilan Berelasi, dan Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab
Kerangka kerja CASEL (Collaborative for Academic, Social and Emotional Learning)
Perubahan yang akan saya terapkan di kelas dan sekolah
Bagi Murid : Setiap peserta didik mempunyai kesadaran penuh akan bisa mengontrol Kesadaran Diri, Manajemen Diri, Kesadaran Sosial, Keterampilan Berelasi, dan Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab dalam proses pembelajaran berlangsung bersama saya sebagai seorang Guru yang menjadi penuntun siswa agar lebih berkarakter dan berakhlak mulia.
Perubahan yang akan saya terapkan di kelas dan sekolah!
Bagi Rekan Sejawat : Setiap bulan saya menginkan ada satu program yang diberikan kepada Saya dan Rekan Sejawat untuk melaksanakan program KSE ini secara Kolaboratif baik dengan Guru BK atau guru lainnya, dalam penerapan KSE.
Modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik
2.3.a.3 Mulai dari Diri - Coaching di Konteks Pendidikan - Modul 2.3
Selama menjadi guru, tentunya pembelajaran Anda pernah diobservasi atau disupervisi oleh kepala sekolah Anda. Bagaimana perasaan Anda ketika diobservasi?
Perasaan saya ketika di observasi yang pertama gugup atau cemas, merasa khawatir akan hasil yang didapatkan, dan merasa ada kekurangan dari apa yang dikerjakan selama pembelajaran berlangsung, padahal sudah maksimal untuk menampilkan proses pembelajaran yang lancar.
Ceritakan pengalaman Anda saat observasi dan pasca kegiatan observasi tersebut.
Pengalaman saya cukup puas, dan mendapat masukan-masukan baik untuk perbaikan saya dalam pembelajaran dengan peserta didik pada pertemuan selanjutnya.
Menurut Anda, bagaimanakah proses supervisi akademik yang ideal yang dapat membantu diri Anda berkembang sebagai seorang pendidik?
Supervisi haruslah terjadwal, agar pada saat penilaian tidak terlalu gugup, dan merasa tidak diamati padah mengamati.
Menurut Anda, jika Anda saat ini menjadi seorang kepala sekolah yang perlu melakukan supervisi, dimana posisi Anda sehubungan dengan gambaran ideal di atas dari skala 1 s/d 10? Situasi belum ideal 1 dan situasi ideal 10.
Skala saya saat ini yaitu 9 mendekati ideal tapi perlu perbaikan.
Aspek apa saja yang Anda butuhkan untuk dapat mencapai situasi ideal itu?
Persiapan dan perencanaan yang matang, kemudian adanya komunikasi yang membangan bukan mengkritik, memberi masukan agar proses pembelajaranm ideal bisa terlaksana, selalu membuat umpan balik dari peserta didik untuk perbaikan pembelajaran selanjutnya.
Setelah Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan reflektif, tuliskan harapan Anda terkait modul ini :
Apa saja harapan yang ingin Anda lihat pada diri Anda sebagai seorang pendidik setelah mempelajari modul ini?
Saya ingin menjadi pendidik yang diteladani oleh rekan saya, dan dirindukan oleh peserta didik saya. Saya ingin selalu berkolaborasi dengan rekan saya, untuk selalu mendapatkan masukan positif agar pembelajaran selanjutnya lebih baik dan baik lagi.
Apa saja kegiatan, materi, manfaat yang Anda harapkan ada dalam modul ini?
Mampu berkolaborasi secara aktif dengan rekan sejawat, Pembelajaran dengan peserta didik lebih baik lagi, Pembelajaran dengan peserta didik menyenangkan dan tidak membosankan, siswa aktif dalam proses pembelajaran, dan bisa memaksimalkan pembelajaran yang student center.
Pada supervisi akademik, potensi setiap guru dapat dimaksimalkan sesuai dengan kebutuhan yang nantinya dapat membantu para guru dalam proses peningkatan kompetensi, dengan menerapkan kegiatan pembelajaran baru yang telah dimodifikasi sebelumnya. Dan salah satu strategi yang dapat dilakukan dalam mencapai tujuan perbaikan pembelajaran adalah melalui percakapan coaching dalam keseluruhan rangkaian supervisi akademik.
Umumnya pelaksanaan supervisi akademik berdasar pada kebutuhan dan tujuan sekolah yang dilakukan dalam tiga tahapan, yakni
1. Perencanaan,
2. Pelaksanaan supervisi, dan
3. Tindak lanjut.
Pada tahap perencanaan, Coach merumuskan tujuan, melihat pada kebutuhan pengembangan guru, memilih pendekatan, teknik, dan model, menetapkan jadwal, dan mempersiapkan ragam instrumen.
Pada tahap pelaksanaan diisi dengan kegiatan berdasarkan teknik dan model yang dipersiapkan. Kegiatan bervariasi dari kegiatan individu dan/atau berkelompok. Salah satu bagian dalam tahapan pelaksanaan supervisi akademik adalah observasi pembelajaran di kelas atau yang biasanya kita sebut sebagai supervisi klinis, supervisi klinis yaitu rangkaian kegiatan berpikir dan kegiatan praktik yang dirancang oleh guru dan supervisor dalam rangka meningkatkan performa pembelajaran guru di kelas dengan mengambil data dari peristiwa yang terjadi, menganalisis data yang didapat, merancang strategi untuk meningkatkan hasil belajar murid dengan terlebih dulu meningkatkan performa guru di kelas.
Pada tahap tindak lanjut meliputi refleksi, perencanaan pengembangan diri dan pengembangan proses pembelajaran. Kegiatan tindak lanjut dapat berupa kegiatan langsung atau tidak langsung seperti percakapan coaching, kegiatan kelompok kerja guru di sekolah, fasilitasi dan diskusi, serta kegiatan lainnya dimana para guru belajar dan memiliki ruang pengembangan diri lewat berbagai kegiatan. Semua kegiatan ini dapat dilakukan secara berkala sesuai kebutuhan pengembangan diri untuk meningkatkan kompetensi.
Paradigma berpikir seorang coach akan senantiasa menjadi mitra pengembangan diri para guru dan rekan sejawatnya demi mencapai tujuan pembelajaran yang berpihak pada murid. Percakapan-percakapan antara supervisor dan para guru senantiasa memberdayakan sehingga setiap guru dapat menemukan potensi dan meningkatkan kompetensi yang ada pada setiap individu. Supervisi akademik menjadi bagian dalam perjalanan seorang pendidik menuju tujuan pembelajaran yang berpihak pada murid dan membawa setiap murid mencapai keselamatan dan kebahagiaan.
Jurnal : Coaching Untuk Supervisi Akademik (Modul 2.3)
Kompetensi inti coaching:
Kehadiran Penuh/Presence
Mendengarkan Aktif
Mengajukan Pertanyaan Berbobot
ALUR TIRTA ( Tujuan, Indentifikasi, Rencana, TAnggung jawab)
Tujuan Coaching
Identifikasi Masalah
Rencana aksi atau Solusi yang dipecahkan
TAnggung jawab akan penerapan solusi yang akan dilakukan
Hal yang di hindari saat coaching:
Membuat sebuah asumsi, Asumsi, sudah mempunyai anggapan tertentu tentang suatu situasi yang belum tentu benar.
Melabel/Judgment, memberi label/penilaian pada seseorang dalam situasi tertentu. Memberi label/penilaian bisa terjadi sebelum dan pada saat coaching dilakukan.
Mengasosiasi Coachee, Asosiasi adalah mengaitkan dengan pengalaman pribadi. Pada dasarnya setiap orang mempunyai hal berbeda peristiwa yang dialami.
Saat menjadi coach kita diharapkan dapat menggali potensi yang sebenarnya sudah dimiliki oleh coachee.
Saya berusaha menjadi pendengar aktif bagi coachee saya saat pelaksanaan coaching dilakukan.
Saya masih tidak sabaran saat melakukan coaching terburu-buru memberikan solusi kepada coachee.
Sebelum melakukan Coaching dengan seorang Coachee alangkah lebih baiknya kita menjalain kemitraan yang baik. Agar proses coaching dapat berjalan dengan baik dan memunculkan solusi dari coachee itu sendiri.
"Coaching ini harus dilakukan secara konsisten agar kita dapat terlatih untuk menggali potensi coachee"