MeTaJabAR
Membangun Tanggung Jawab Anak dari Rumah
Membangun Tanggung Jawab Anak dari Rumah
Kondisi pandemi yang belum juga berakhir, sangat berpengaruh pada kondisi mental anak-anak, jika dalam kondisi normal mereka merasa dituntut untuk bangun lebih pagi, mandi, sarapan dengan teratur, masuk sekolah, mengerjakan tugas secara terkontrol di sekolah, maka selama pandemi ini tuntutan itu seperti nyaris hilang. Walaupun anak-anak masih harus belajar secara daring dengan gadget, tapi pendidikan karakter yang ditanamkan seolah pudar. Orangtua yang gagap dengan tugas besar mereka dalam mendidik anak, ikut memberikan andil besar dalam menurunnya rasa tanggung jawab ini.
Selama anak belajar di rumah, tak sedikit orang tua yang merasa kesulitan membuat anaknya bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, mau mengerjakan tugas tanpa harus disuruh berulang-ulang, mampu mengatur waktu dan diri agar semua bisa berjalan dengan tertib, atau hanya sebatas melipat selimut dan mencuci piring bekas makannya sendiri, padahal pola pembiasaan dengan membuatkan jadwal untuk anak sudah mereka lakukan. kebiasaan baik yang sudah rutin dikerjakan oleh anak saat kondisi normal, saat pandemi ini seakan menghilang tak berbekas. alhasil banyak orang tua berkesimpulan bahwa hanya sekolah yang dapat membangun tanggung jawab anak.
Tanggung jawab adalah karakter dasar manusia yang tidak terbentuk secara instan, merupakan keterampilan sepanjang hidup yang harus kita bangun sedini mungkin, dimulai dari hal kecil dan sederhana serta berkaitan dengan proses membangun karakter lain seperti disiplin, kemandirian dan empati.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala kewajiban dan segala sesuatu yang menjadi akibat dari pilihan yang dipilih.
Rumah adalah madrasah utama dan pertama dalam pendidikan, maka tak selayaknya kita sebagai orang tua hanya mengandalkan sekolah untuk menerapkan pendidikan karakter. Jika kita mengingat kembali petuah “Setiap Diri adalah Guru, setiap Rumah adalah Sekolah” dari Gurunda Ki Hadjar Dewantara, seharusnya hal tersebut tidak terjadi.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Takhroji Aji tahun 2020 lalu, menyatakan bahwa 88,2% (157 dari 178 responden) orangtua siswa (TK-SMU) di Jakarta menganggap pendididkan karakter tidak dapat dibangun di rumah dan lingkungan anak tanpa ada peran serta sekolah, dan sebanyak 92,1% menyatakan bahwa orangtua tidak dapat membangun karakter anak dengan maksimal tanpa adanya peran serta guru. Bagaimana dengan orangtua di seluruh penjuru Nusantara?
Gerakan Membangun Tanggung Jawab Anak yang kami inisiasi didasarkan pada keinginan kami untuk menumbuhkan tanggung jawab anak dengan tidak menumpukan semua beban itu kepada pihak sekolah. Anak yang kurang tertib, masih harus diingatkan untuk melaksanakan ibadah, enggan melaksanakan tugas serta abai pada kesepakatan yang sudah dibuat memacu kekawatiran kami akan masa depan mereka kelak.
Sasaran utama gerakan ini adalah melatih konsistensi orangtua, untuk menjalankan kewajibannya membangun tanggung jawab anak dari rumah, sehingga saat usia baligh anak tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan paham akan jatidirinya.