Kelompok umur terbesar: 20–24 (541 jiwa, sekitar 9,7%).
Struktur umur muda–produktif (5–39 tahun) mendominasi:
Usia sekolah dasar–SMA (5–19): 1.413 jiwa (~25,4%).
Usia produktif awal–madya (20–44): 2.460 jiwa (~44,2%).
Lansia (60+): 553 jiwa (~9,9%).
Dusun dengan penduduk terbanyak: Dusun IV (1.881 jiwa, ~33,8%).
Dusun dengan penduduk paling sedikit: Dusun III (992 jiwa, ~17,8%).
Berdasarkan hasil pengolahan data, jumlah PUS di kelurahan pada tahun 2025 mencapai 792 pasangan, dengan 337 pasangan (42,55%) telah menjadi peserta KB dan 455 pasangan (57,45%) belum menjadi peserta KB. Penggunaan metode KB didominasi oleh KB modern (96,44%). Tingkat kesertaan KB tertinggi terdapat di Dusun I, sedangkan yang terendah berada di Dusun III. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan sosialisasi dan pelayanan KB terutama pada wilayah dengan tingkat partisipasi yang masih rendah.
Dusun IV memiliki jumlah unmet need tertinggi secara absolut yaitu 80 pasangan, diikuti Dusun II sebanyak 71 pasangan. Secara proporsional, tingkat unmet need tertinggi terdapat di Dusun III, yaitu 39,19% dari total PUS di wilayah tersebut. Dusun I memiliki tingkat unmet need terendah, yaitu 23,97%.
Jumlah unmet need limiting (147 pasangan) lebih tinggi dibandingkan unmet need spacing (97 pasangan), yang menunjukkan bahwa banyak pasangan yang sudah tidak menginginkan anak lagi tetapi belum menggunakan alat kontrasepsi. Tingginya angka unmet need mengindikasikan masih adanya hambatan dalam akses, informasi, maupun pemanfaatan layanan keluarga berencana oleh masyarakat.
Berdasarkan hasil pengolahan data, terdapat 107 keluarga berisiko stunting (13,46%) dari total 795 keluarga sasaran di Kelurahan Tuntungan II Tahun 2025. Jumlah kasus terbanyak ditemukan di Dusun II, sedangkan yang terendah berada di Dusun IV. Faktor risiko utama yang ditemukan meliputi kondisi sanitasi yang belum memadai, tingginya kasus PUS 4 Terlalu, serta masih adanya pasangan yang belum menjadi peserta KB modern. Oleh karena itu, diperlukan intervensi terpadu melalui peningkatan akses sanitasi, edukasi kesehatan reproduksi, serta penguatan program keluarga berencana untuk menurunkan risiko stunting
Jumlah lansia di kelurahan mencapai 616 jiwa, dengan konsentrasi terbesar berada di Dusun II. Mayoritas lansia berada pada kelompok usia 60–69 tahun (68,02%), menunjukkan bahwa sebagian besar lansia masih berada pada kategori lansia muda. Lansia perempuan (51,62%) lebih banyak dibandingkan lansia laki-laki (48,38%). Kelompok lansia usia 80 tahun ke atas berjumlah 73 jiwa, sehingga perlu mendapat perhatian khusus melalui program kesehatan, pendampingan sosial, dan pelayanan ramah lansia. Data ini dapat menjadi dasar perencanaan kegiatan Sekolah Lansia, Posyandu Lansia, Bina Keluarga Lansia (BKL), serta program pemberdayaan dan perlindungan sosial lansia di tingkat kelurahan.