Secara umum, desa memiliki karakteristik bonus demografi karena didominasi oleh penduduk usia muda dan produktif. Oleh karena itu, prioritas pembangunan dapat diarahkan pada:
Peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan pemuda.
Pengembangan lapangan kerja dan usaha ekonomi produktif.
Penguatan program kesehatan reproduksi remaja dan keluarga.
Peningkatan pelayanan kesehatan dan kesejahteraan lansia.
Pemerataan pembangunan antar dusun dengan perhatian khusus pada kepadatan penduduk di Dusun IV dan kebutuhan pelayanan di Dusun III.
Tingginya jumlah PUS yang belum menjadi peserta KB (57,45%).
Ketimpangan tingkat kesertaan KB antar dusun.
Kemungkinan masih terdapat kendala akses layanan, pemahaman, atau penerimaan masyarakat terhadap program KB di wilayah tertentu.
Meningkatkan kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) tentang manfaat KB kepada PUS yang belum ber-KB.
Memperkuat peran kader, PKK, dan Penyuluh KB dalam pendataan serta pendampingan calon akseptor.
Melaksanakan pelayanan KB terpadu dan jemput bola, khususnya di Dusun III dan wilayah dengan cakupan rendah.
Meningkatkan keterlibatan tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam mendukung program Bangga Kencana.
Melakukan monitoring dan evaluasi rutin untuk mengetahui hambatan yang menyebabkan rendahnya partisipasi KB.
Data menunjukkan bahwa cakupan peserta KB di kelurahan masih relatif rendah karena mayoritas PUS belum menjadi peserta KB. Meskipun penggunaan metode KB modern sudah sangat baik, peningkatan cakupan peserta KB perlu menjadi prioritas melalui sosialisasi, pendampingan, dan peningkatan akses pelayanan, terutama di dusun dengan tingkat partisipasi yang masih rendah.
Analisis faktor risiko menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa permasalahan yang berkontribusi terhadap tingginya risiko stunting, yaitu sanitasi yang belum memadai, tingginya jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) dengan kategori 4 Terlalu (terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat jarak kelahiran, dan terlalu banyak anak), serta masih adanya pasangan yang belum menjadi peserta KB modern. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi kualitas kesehatan ibu dan anak, status gizi keluarga, serta pola pengasuhan yang berpotensi meningkatkan risiko stunting.
Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa risiko stunting di Kelurahan Tuntungan II tidak hanya dipengaruhi oleh faktor gizi, tetapi juga berkaitan dengan kondisi lingkungan, kesehatan reproduksi, dan perencanaan keluarga. Oleh karena itu, diperlukan intervensi yang terintegrasi dan lintas sektor, meliputi peningkatan akses sanitasi layak, edukasi kesehatan reproduksi dan pengasuhan anak, pendampingan keluarga berisiko, serta penguatan program Keluarga Berencana khususnya penggunaan metode kontrasepsi modern. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat menurunkan jumlah keluarga berisiko stunting dan mendukung percepatan penurunan stunting di Kelurahan Tuntungan II.
Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa jumlah lansia di kelurahan cukup signifikan dan cenderung didominasi oleh lansia muda yang masih memiliki potensi untuk diberdayakan. Oleh karena itu, data ini dapat menjadi dasar dalam perencanaan dan pengembangan program Sekolah Lansia, Bina Keluarga Lansia (BKL), Posyandu Lansia, kegiatan olahraga dan rekreasi lansia, serta program perlindungan sosial dan pemberdayaan ekonomi yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup lansia agar tetap sehat, mandiri, aktif, dan bermartabat di usia lanjut.