Gula merupakan komoditas prioritas nasional dengan aspirasi swasembada, namun permintaan hanya dapat dipenuhi impor.
PTPN menghadapi tantangan operasional dalam komoditas gula. Dengan jumlah 43 Pabrik Gula dan areal HGU/TS sekitar 56 ribu ha, aspek operasi yang belum terstandarisasi, skala dan utilisasi pabrik bervariasi dan ketergantungan kepada petani rakyat untuk supply tebu. Hal tersebut menyebabkan kinerja keuangan yang suboptimal, struktur biaya yang lebih tinggi dari benchmark industri, profitabilitas yang lebih rendah dan keterbatasan kapasitas investasi dan modal kerja.
a. Simplifikasi Bisnis Gula, dengan melakukan koordinasi & perencanaan koheren melalui single entity Sugar Co
b. Meningkatkan Kapabilitas dan praktik terbaik di industri gula melalui kemitraan strategis Sugar Co yang berpengalaman
c. Melepas porsi saham Sugar Co untuk mendapatkan tambahan dana sehingga pendanaan dapat memadai dan tepat waktu
Membangun keahlian dengan kemitraan strategis PT Sinergi Gula Nusantara untuk meningkatkan kapabilitas
Menentukan komponen yang akan dialihkan ke PT Sinergi Gula Nusantara, termasuk aktiva dan pasiva yang dialihkan/tidak dialihkan.
Menyusun struktur transaksi dengan mempertimbangkan berbagai aspek termasuk aspek komersil, keuangan, legal, pajak, SDM dan TI.
PTPN Basic Improvement : Luas Lahan 191 ribu ha (TS 84 ribu & TR 107 ribu) termasuk lahan perhutani 9 ribu ha. Produksi Gula sebesar 1,4 juta ton. Estimasi Capex sebesar Rp 9 Triliun.
Sugarco Conservative : Luas Lahan 239 ribu ha (TS 85 ribu & TR 154 ribu) termasuk lahan perhutani 27 ribu ha. Produksi Gula sebesar 2,3 juta ton. Estimasi Capex sebesar Rp 20 Triliun.
Sugar Co Aggressive : Luas Lahan 263 ribu ha (TS 85 ribu & TR 178 ribu) termasuk lahan perhutani 37 ribu ha. Produksi Gula sebesar 2,6 juta ton. Estimasi Capex sebesar Rp 26 Triliun.
PTPN III dan PTPN XI mendirikan Sugarco yang sudah dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 2021.
PTPN Gula mengalihkan bisnis gula offfarm (aktiva dan pasiva) melalui pemisahan tidak murni (spin off) kepada Sugarco (termasuk utang bank) diikuti dengan penerbitan saham Sugarco kepada PTPN Gula secara proporsional sebagian kompensasi spin off dan direncanakan akan dilaksanakan pada Akhir Nopember 2021.
Sugarco akan menerbitkan saham baru dan/atua PTPN melakukan divestasi saham lama dengan opsi buyback. Target kepemilikan investor untuk transaksi ini adalah 49% dan direncanakan akan dilaksanakan pada Akhir Desember 2021.
Know-how: mempunyai pengetahuan, keahlian, dan pengalaman dalam menjalankan bisnis gula secara keseluruhan termasuk sebagai berikut:
On-farm (kealihan dalam meningkatkan produktivitas)
Off-farm (inovasi pabrik kelas dunia)
Akses ke industri gula global
Pengalaman pendukung lain (industri turunan gula)
Pendanaan: Mampu menyediakan modal untuk membiayai revitalisasi dan pembangunan pabrik baru, serta operasional perusahaan
Mendukung agenda nasional pemerintah
PT Sinergi Gula Nusantara akan mengabsorbe karyawan off farm dengan skema penugasan dan Karyawan on farm akan tetap di masing masing PTPN. Apabila ada kelebihan nantinya akan di tempatkan pada komoditas atau PTPN lain. Karyawan terus dikembangkan kapabilitasnya sejalan dengan perubahan dan transformasi Perusahaan.
Holding Perkebunan Nusantara dan PT SGN telah berkomunikasi dengan stakeholders. Secara eksternal dengan Pemerintah, Kementerian BUMN dan terkait, DPR RI, APTR, buyer, vendor dan pihak terkait. Secara internal dengan jajaran manajemen, Serikat Pekerja dan karyawan secara berjenjang. Pada prinsipnya stakeholders mendukung program restrukturisasi bisnis gula PTPN Grup melalui PT Sinergi Gula Nusantara.