Psikolog Klinis di Batam
Sebagai seorang psikolog keluarga Batam yang terkenal dan praktek ramai dikunjungi, saya sering bertemu dengan remaja yang menghadapi masalah dalam hubungan pertemanan mereka. Pertemanan yang tidak sehat atau “toxic friendship” dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan emosional remaja. Namun, ada cara efektif untuk membantu mereka mengatasi masalah ini, yaitu melalui pendekatan praktis yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Siti (nama samaran) sering merasa tidak berharga karena temannya, Lina (nama samaran), selalu merendahkan prestasi akademisnya. Lina sering mengatakan bahwa Siti tidak akan pernah berhasil dalam hidupnya. Hal ini membuat Siti merasa cemas dan tidak percaya diri. Dalam sesi praktek psikolog, kami membantu Siti untuk mengidentifikasi pikiran negatif yang muncul setiap kali Lina merendahkannya. Siti belajar untuk menantang pikiran tersebut dan menggantinya dengan pikiran yang lebih positif, seperti “Saya memiliki kemampuan dan potensi untuk sukses, terlepas dari apa yang dikatakan Lina.”
Budi (nama samaran) memiliki teman yang selalu memanipulasi situasi untuk keuntungannya sendiri. Temannya sering membuat Budi merasa bersalah jika tidak menuruti keinginannya. Dalam sesi terapi di rumah sakit psikologi di Batam, kami membantu Budi untuk mengenali tanda-tanda manipulasi dan mengajarkannya cara untuk menetapkan batasan yang sehat. Budi belajar untuk mengatakan “tidak” tanpa merasa bersalah dan memahami bahwa dia berhak untuk menjaga kesejahteraannya sendiri.
Andi (nama samaran) merasa bahwa temannya tidak pernah mendukungnya dalam hal apapun. Setiap kali Andi berbagi tentang mimpinya, temannya selalu meremehkannya dan mengatakan bahwa mimpinya tidak realistis. Dalam sesi IQ Care, kami membantu Andi untuk memahami bahwa dukungan dari teman adalah penting, tetapi tidak menentukan nilai dirinya. Andi belajar untuk mencari dukungan dari orang-orang yang benar-benar peduli padanya dan mulai mengurangi interaksi dengan teman yang tidak mendukung.
Rina (nama samaran) sering merasa tertekan karena temannya selalu cemburu dengan pencapaiannya. Temannya sering membuat komentar negatif setiap kali Rina mencapai sesuatu yang baik. Dalam sesi praktek psikolog, kami membantu Rina untuk memahami bahwa kecemburuan temannya adalah masalah temannya, bukan masalah Rina. Rina belajar untuk tidak membiarkan komentar negatif tersebut mempengaruhi perasaannya dan tetap fokus pada pencapaiannya sendiri.
Dewi (nama samaran) memiliki teman yang selalu berusaha mengisolasinya dari teman-teman lain. Temannya sering membuat Dewi merasa bahwa dia hanya boleh berteman dengannya saja. Dalam sesi terapi di rumah sakit psikologi di Batam, kami membantu Dewi untuk mengenali bahwa perilaku temannya adalah bentuk kontrol yang tidak sehat. Dewi belajar untuk memperluas lingkaran pertemanannya dan tidak membiarkan satu orang mengontrol hidupnya.
Mengatasi hubungan pertemanan yang tidak sehat adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan mental dan emosional remaja. Dengan pendekatan yang tepat, remaja dapat belajar untuk mengenali tanda-tanda toxic friendship dan mengambil langkah-langkah untuk melindungi diri mereka. Sebagai seorang psikolog keluarga Batam, saya telah melihat bagaimana pendekatan ini dapat membantu remaja menjadi lebih percaya diri dan bahagia. Dengan dukungan dari IQ Care dan layanan di rumah sakit psikologi di Batam, remaja dapat mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan dalam hubungan pertemanan dengan lebih baik.