Psikolog Klinis di Batam
Explore
Sebagai seorang psikoterapis handal yang terkenal dan praktek ramai dikunjungi, saya sering bertemu dengan remaja yang berjuang dengan masalah kepercayaan diri. Mereka sering merasa tidak cukup baik dan sulit menerima diri mereka apa adanya. Namun, ada cara efektif untuk membantu mereka membangun harga diri, yaitu melalui Rational Emotive Behavior Therapy (REBT).
Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah metode terapi yang dikembangkan oleh Albert Ellis pada tahun 1950-an. Terapi ini berfokus pada mengidentifikasi dan mengubah pikiran irasional yang menyebabkan emosi negatif dan perilaku yang tidak sehat. Dengan REBT, remaja dapat belajar untuk berpikir lebih rasional dan menerima diri mereka apa adanya.
Remaja berada pada tahap perkembangan di mana mereka menghadapi banyak tekanan, baik dari sekolah, teman sebaya, maupun keluarga. Tekanan ini sering kali menyebabkan masalah kepercayaan diri, terutama ketika mereka merasa tidak memenuhi ekspektasi yang ada. Tanpa bimbingan yang tepat, masalah ini bisa berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
1. Identifikasi Pikiran Irasional
Langkah pertama dalam REBT adalah mengidentifikasi pikiran irasional yang menyebabkan rendahnya harga diri. Misalnya, seorang remaja mungkin berpikir, “Saya tidak cukup baik karena saya tidak sepopuler teman-teman saya.” Pikiran seperti ini perlu diidentifikasi dan dicatat.
2. Tantang Pikiran Irasional
Setelah mengidentifikasi pikiran irasional, langkah berikutnya adalah menantangnya. Tanyakan pada diri sendiri, “Apakah benar bahwa popularitas menentukan nilai diri saya?” atau “Apakah ada bukti nyata yang mendukung pikiran ini?” Dengan menantang pikiran irasional, kita dapat mulai melihatnya dari perspektif yang lebih rasional.
3. Gantikan dengan Pikiran Rasional
Langkah terakhir adalah menggantikan pikiran irasional dengan pikiran yang lebih rasional dan positif. Misalnya, “Nilai diri saya tidak ditentukan oleh popularitas. Saya memiliki banyak kualitas baik yang membuat saya berharga.” Pikiran rasional ini membantu meningkatkan harga diri dan mendorong tindakan yang lebih positif.
Sebagai psikoterapis di Batam, saya sering menangani kasus rendahnya harga diri pada remaja. Salah satu contoh adalah seorang remaja bernama Rina (nama samaran) yang merasa tidak cukup baik karena dia tidak sepopuler teman-temannya. Rina sering berpikir bahwa dia tidak berharga karena tidak banyak teman yang mengajaknya bergaul. Melalui sesi praktek psikolog menggunakan metode REBT, kami berhasil mengidentifikasi pikiran irasional Rina dan menggantinya dengan pikiran yang lebih rasional. Hasilnya, Rina menjadi lebih percaya diri dan mampu menerima dirinya apa adanya.
Contoh lainnya adalah seorang remaja bernama Andi (nama samaran) yang merasa rendah diri karena prestasi akademisnya tidak sebaik teman-temannya. Andi sering berpikir bahwa dia tidak pintar dan tidak akan pernah berhasil. Dalam sesi terapi, kami menggunakan REBT untuk mengidentifikasi pikiran irasional Andi seperti, “Jika saya tidak mendapatkan nilai bagus, saya tidak akan pernah sukses.” Kami kemudian menantang pikiran ini dengan pertanyaan seperti, “Apakah benar bahwa nilai akademis menentukan kesuksesan hidup saya?” dan “Apakah ada bukti nyata bahwa saya tidak akan pernah sukses?” Setelah beberapa sesi, Andi mulai menggantikan pikiran irasionalnya dengan pikiran yang lebih rasional seperti, “Kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh nilai akademis. Saya memiliki banyak keterampilan dan potensi yang bisa saya kembangkan.” Hasilnya, Andi menjadi lebih percaya diri dan termotivasi untuk terus belajar dan berkembang.
Sebagai bagian dari human resource dalam health services, penting untuk melibatkan berbagai pihak dalam proses edukasi anak. Guru, konselor, dan orang tua dapat bekerja sama untuk memberikan dukungan yang diperlukan bagi remaja dalam membangun harga diri mereka. Misalnya, guru dapat memberikan pujian dan umpan balik positif, sementara konselor dapat membantu remaja mengidentifikasi dan menantang pikiran irasional mereka.
Human resource dalam konteks ini juga mencakup pelatihan dan pengembangan tenaga pendidik dan konselor agar mereka lebih efektif dalam mendukung kesehatan mental remaja. Program pelatihan ini dapat mencakup teknik-teknik REBT, strategi komunikasi yang efektif, dan cara-cara untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung.
Health services memainkan peran penting dalam menyediakan dukungan yang diperlukan bagi remaja yang berjuang dengan masalah kepercayaan diri. Layanan kesehatan mental seperti konseling dan terapi dapat membantu remaja mengatasi pikiran negatif dan membangun harga diri yang sehat. Misalnya, program-program kesehatan mental di sekolah dapat memberikan akses mudah bagi remaja untuk mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.
Organisasi seperti Health Resources and Services Administration (HRSA) di Amerika Serikat menyediakan layanan kesehatan yang adil bagi komunitas yang paling membutuhkan. Program mereka mendukung orang-orang dengan pendapatan rendah, orang dengan HIV, ibu hamil, anak-anak, orang tua, komunitas pedesaan, pasien transplantasi, dan tenaga kesehatan1. Dukungan ini mencakup lebih dari 30,5 juta orang di komunitas yang kurang terlayani, lebih dari 58 juta ibu hamil, bayi, dan anak-anak, serta hampir 22.000 penyedia layanan kesehatan melalui program pembayaran pinjaman dan beasiswa1.
Membangun harga diri adalah proses yang penting bagi remaja untuk menerima diri mereka apa adanya dan mengatasi masalah kepercayaan diri. Dengan pendekatan yang tepat seperti Rational Emotive Behavior Therapy (REBT), remaja dapat belajar untuk berpikir lebih rasional dan menerima diri mereka dengan lebih baik. Sebagai seorang psikoterapis yang berpraktek di Batam, saya telah melihat bagaimana REBT dapat membantu remaja menjadi lebih percaya diri dan menerima diri mereka apa adanya. Dengan dukungan dari human resource dan health services, remaja dapat mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan hidup dengan lebih baik.
1: