Fitur
Fitur
Berita Terkini
Surakarta, 13 Oktober 2026. Kementerian Kehutanan menyosialisasikan hasil Sensus Nasional Saka Wanabakti 2026 sebagai dasar penguatan pembinaan generasi muda di bidang kehutanan. Hasil pendataan ini dibahas bersama pemerintah daerah, jajaran UPT Kementerian Kehutanan, Balai P2SDM, dinas pendidikan, Kantor Wilayah Kementerian Agama, akademisi, pelaku usaha kehutanan, mitra, serta perwakilan generasi muda di Surakarta, Selasa (13/10).
Melalui pertemuan ini, Kemenhut mengajak para pihak di wilayah Jawa untuk menerjemahkan hasil sensus menjadi dukungan nyata bagi Saka Wanabakti, mulai dari penguatan kepengurusan, penyediaan tempat latihan, hingga peningkatan kualitas pendampingan anggota. Saka Wanabakti merupakan wadah bagi Pramuka Penegak dan Pandega untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, serta kepedulian terhadap hutan. Melalui kegiatan praktik, anggota dapat belajar mengenali keanekaragaman hayati, menanam dan merawat pohon, serta memanfaatkan hasil hutan secara lestari.
Sensus Nasional Saka Wanabakti 2026 menghimpun 314 responden unik dari berbagai unsur pemangku kepentingan dengan keterwakilan 38 provinsi. Pendataan tersebut merekam 4.885 anggota aktif serta memetakan kondisi kepengurusan, pangkalan atau tempat pembinaan, dukungan mitra, dan kebutuhan pengembangan Saka Wanabakti.
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan, Luckmi Purwandari, menekankan pentingnya Saka Wanabakti bagi penyiapan generasi penerus kehutanan. "Saka Wanabakti adalah pilar vital dalam pengembangan SDM Kehutanan yang berkarakter, unggul, dan adaptif," ungkap Luckmi.
Hasil sensus memperlihatkan potensi dukungan yang besar dari lembaga kehutanan di daerah. UPT Kementerian Kehutanan, dinas kehutanan, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), serta BUMN kehutanan dapat berperan melalui penyediaan lokasi praktik, tenaga instruktur, dan pendampingan kegiatan.
Namun, sejumlah tantangan masih perlu diatasi bersama. Koordinasi antarlembaga yang belum kuat, kepengurusan yang tidak aktif, keterbatasan pendanaan, serta kebutuhan peningkatan kapasitas pamong dan instruktur menjadi perhatian dalam penguatan pembinaan. Temuan tersebut membantu para pihak menentukan dukungan sesuai kebutuhan di lapangan. Pangkalan yang telah aktif dapat diperkuat agar terus berkembang, sementara wilayah yang pembinaannya belum berjalan memerlukan pendampingan dan koordinasi untuk menggerakkan kembali kegiatan.
Rekomendasi hasil sensus mencakup penguatan tata kelola organisasi dan pangkalan, peningkatan kapasitas pendamping, pengembangan kemitraan, serta pendataan digital yang terintegrasi. Keterlibatan perguruan tinggi dan sekolah juga menjadi peluang untuk memperluas dukungan keahlian dan menghadirkan kegiatan belajar yang semakin menarik.
Materi pembinaan perlu mengikuti perkembangan zaman dan minat generasi muda. Pemetaan digital, pengenalan keanekaragaman hayati berbasis aplikasi, aksi iklim, serta kewirausahaan kehutanan menjadi sejumlah peluang pengembangan yang direkomendasikan dalam laporan. Dengan dukungan tersebut, anggota Saka Wanabakti diharapkan memperoleh keterampilan, pengalaman bekerja sama, dan jiwa kepemimpinan yang bermanfaat bagi masa depan mereka sekaligus bagi kelestarian hutan.
Informasi lebih lanjut:
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan,
Luckmi Purwandari
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Ristianto Pribadi
Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter/X: @kemenhut_ri
Surakarta, 12 Oktober 2026. Kementerian Kehutanan mengajak pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, sekolah, dan komunitas di wilayah Jawa untuk memperkuat kolaborasi dalam membina generasi muda pelestari hutan. Melalui kerja bersama, anak muda diharapkan memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar, mengembangkan gagasan, dan mengambil peran nyata dalam menjaga hutan. Ajakan tersebut mengemuka dalam Rapat Penguatan Kolaborasi Multipihak dalam Membangun Generasi Pelestari Hutan Regional Jawa di Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, pada 12–13 Oktober 2026. Kegiatan ini diinisiasi oleh Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Kementerian Kehutanan.
Dalam arahannya, Plt. Kepala BP2SDM, Indra Exploitasia, yang diwakili oleh Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan, Luckmi Purwandari, menegaskan bahwa keberlanjutan hutan membutuhkan generasi penerus yang peduli dan siap bergerak. Karena itu, pembinaan generasi muda perlu menjadi tanggung jawab bersama lintas sektor.
"Hutan Indonesia tidak akan lestari hanya dengan regulasi, patroli, dan program pemerintah. Hutan akan lestari apabila ada generasi yang peduli, mau belajar, mau bergerak, dan mau meneruskan. Tugas sebesar ini hanya berhasil jika dikerjakan secara gotong royong oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, sekolah, perguruan tinggi, komunitas, dan generasi muda," demikian arahan Indra Exploitasia yang disampaikan oleh Kepala Pusgenri, Luckmi Purwandari, saat membuka kegiatan.
Penguatan tata kelola turut menjadi perhatian dalam pembahasan bersama Inspektur II Kementerian Kehutanan, Nur Sumedi, yang hadir secara daring.
"Semangat kolaborasi perlu dibarengi dengan tata kelola yang baik sejak awal. Tujuan harus jelas, peran masing-masing pihak harus terukur, dan pelaksanaannya dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, kerja bersama ini dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi generasi muda dan kelestarian hutan," ujar Nur Sumedi.
Forum ini mempertemukan unit kerja lingkup BP2SDM, Balai P2SDM, UPT Kementerian Kehutanan Regional Jawa, pemerintah daerah, dinas pendidikan, Kantor Wilayah Kementerian Agama, perguruan tinggi, pelaku usaha kehutanan, mitra, serta generasi muda pelestari hutan. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk menyamakan arah dan menemukan peluang kerja sama yang dapat dijalankan di daerah.
Sebagai unit kerja baru, Pusgenri mengemban mandat untuk menumbuhkan, membina, dan menggerakkan generasi pelestari hutan. Dukungan para pihak diperlukan agar pembinaan dapat menjangkau lebih banyak anak muda dan terus berlanjut, dengan ruang belajar serta pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Dalam laporan penyelenggaraan, Kepala Bidang Pembinaan Perilaku Generasi Peduli Cinta Alam, Ernawati Eko Hartono, mewakili Kepala Pusgenri, menyampaikan bahwa rakor ini juga menjadi sarana untuk membangun pemahaman bersama mengenai tugas, fungsi, dan arah kebijakan Pusgenri.
Agenda hari pertama mencakup pembahasan tata kelola dan akuntabilitas bersama Inspektur II Kementerian Kehutanan serta sosialisasi kategori Penghargaan Wana Lestari. Penguatan tata kelola menjadi bagian penting agar kolaborasi dapat dilaksanakan secara tertib, tepat sasaran, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Rakor ini turut membahas persiapan Penghargaan Wana Lestari 2027. Pusgenri akan berperan melalui lima kategori, yakni Generasi Muda Pelestari Hutan, Pelaku Usaha Penggerak Generasi Muda Pelestari Hutan, Pemerintah Daerah Penggerak Generasi Muda Pelestari Hutan, Sekolah Penggerak Generasi Muda Pelestari Hutan, serta Wirausaha Muda Kreatif Kehutanan. Kelima kategori tersebut memberi ruang apresiasi bagi anak muda sekaligus pihak-pihak yang mendukung tumbuhnya generasi pelestari hutan.
Informasi lebih lanjut:
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan,
Luckmi Purwandari
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Ristianto Pribadi
Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter/X: @kemenhut_ri
Kementerian Kehutanan melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM menggelar Youth Talk Take Action (YTTA) 6 bertema "Grant Your Green Idea: Peluang Genries Mewujudkan Aksi Nyata Lewat Small Grant FOLU Net Sink 2030 Periode Kelima" secara daring melalui Zoom.
Melalui kegiatan ini, Pusgenri bersama Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) menekankan bahwa generasi muda memiliki kemudahan akses untuk melakukan aksi nyata pelestarian hutan melalui Layanan Dana Masyarakat (Small Grant) FOLU Net Sink 2030 yang dikelola BPDLH. Kegiatan ini diikuti lebih dari 600 generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam sambutan kuncinya, Kepala Pusgenri Luckmi Purwandari, menegaskan bahwa target FOLU Net Sink 2030 tidak dapat dicapai hanya lewat kebijakan di atas kertas. Ia mengajak Genries, sebutan bagi Generasi Pelestari Hutan, untuk memahami, merancang, dan segera mengajukan ide hijau mereka.
"Target FOLU Net Sink 2030 akan dicapai oleh jutaan tindakan kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh di banyak tempat. Salah satunya bisa lahir dari ide yang hari ini kalian ciptakan," ujarnya.
Small Grant adalah program Kementerian Kehutanan bersama BPDLH yang menyalurkan hibah bernilai kecil kepada masyarakat, baik individu maupun kelompok, yang berfokus pada isu lingkungan dan kehutanan. Pengajuannya dilakukan sepenuhnya daring melalui laman layanan-dana-masyarakat.bpdlh.id, sehingga pemohon dari daerah mana pun tidak perlu datang ke Jakarta. Periode pengajuan dibuka dua hingga tiga kali setahun, untuk Periode Kelima, dibuka pada tanggal 6–13 Oktober 2026, dilanjutkan verifikasi, validasi, dan penetapan penerima manfaat hingga tanggal 20 November 2026.
Direktur Penyaluran Dana BPDLH, Damayanti Ratunanda, menjelaskan bahwa layanan ini diperuntukkan bagi kelompok yang sudah peduli lingkungan, di antaranya Genries, Pemberdayaan Masyarakat, Sekolah Adiwiyata, dan kelompok tani hutan rakyat.
"Kelompok masyarakat yang sudah memiliki kesadaran terhadap perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan mendapatkan akses untuk melakukan aksi-aksi yang lebih besar dan berkelanjutan," ujarnya.
Genries juga sudah membuktikan bahwa jalur ini terbuka bagi mereka. Pada Periode Keempat, enam Genries binaan Pusgenri, lima dari Forest Youthverse Batch 2 dan satu dari YTTA Seri 1, terpilih sebagai penerima manfaat. Program mereka beragam, mulai dari penanaman mangrove, pengolahan limbah menjadi biochar, sekolah konservasi, hingga pelatihan pengelolaan sampah di sekolah dasar.
Salah satunya Mudassir, Koordinator Tim Adiwiyata SD Negeri 6 Banda Aceh sekaligus Genries Forest Youthverse 2025, yang pada YTTA kali ini berbagi pengalamannya sebagai penerima manfaat. Lewat program FOLU Goes to School, ia dan timnya melatih 50 guru tentang pengelolaan sampah dan pendidikan lingkungan menuju Sekolah Adiwiyata yang dijalankan bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh, DLHK Kota Banda Aceh, dan KamiKITA Community Center, dengan dukungan pendanaan BPDLH. Gagasan itu berangkat dari persoalan nyata: timbulan sampah Kota Banda Aceh mencapai sekitar 250 ton per hari menurut data KLHK 2024, sebagian besar berakhir di TPA tanpa pengolahan.
"Dukungan strategis dari Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan telah mengubah 50 pendidik menjadi katalisator aksi iklim. Ini bukan sekadar pelatihan pengelolaan sampah, melainkan investasi fundamental untuk melahirkan generasi yang menjaga masa depan.", ujar Mudassir.
Bagi Pusgenri, YTTA 6 adalah bagian dari upaya membina generasi muda agar tidak hanya menjadi penonton perubahan. Selama 2025–2026, Pusgenri telah membina lebih dari 9.300 Genries melalui program Bestari Rimba, Youth Talk Take Action, Forest Youthverse, dan Forest Youthpreneurship.
"Jangan hanya menjadi penonton perubahan. Jadilah pelaku perubahan. Ubah ide hijau menjadi aksi nyata," tegas Luckmi.
Sumber:
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan, Badan P2SDM
Luckmi Purwandari
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Ristianto Pribadi
Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter/X: @kemenhut_ri
Medan, 3 Oktober 2026 – Sebanyak 60 generasi muda Sumatera Utara berkumpul di Forest Youthverse Resilience Summit (FYVR) Wilayah Sumatera Utara yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM), berkolaborasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera.
Kegiatan yang bertemakan “Youth for Biodiversity Resilience: Generasi Muda Bergerak, Kekayaan Alam Terjaga” bertujuan untuk melahirkan berbagai gagasan inovatif untuk menjawab persoalan hutan dan keanekaragaman hayati, mulai dari pencegahan kebakaran hutan dan lahan, penyelamatan satwa, edukasi flora, pengelolaan sampah di kawasan konservasi, hingga penguatan ruang terbuka hijau perkotaan.
Sejumlah inovasi yang lahir antara lain SIGAP API yaitu gerakan pemuda berbasis media sosial untuk edukasi dan advokasi digital pencegahan karhutla serta menghubungkan masyarakat dengan kanal pengaduan resmi; Fire Memory yaitu gagasan mendokumentasikan perjalanan kawasan dari kondisi terbakar hingga proses pemulihan agar rehabilitasi dapat dipantau sekaligus menjadi sumber pembelajaran; serta Fire Wind Tracker yaitu sistem pemantauan angin mikro portabel untuk mendukung keselamatan patroli dan pengambilan keputusan saat menghadapi kebakaran.
Pada isu konservasi, Genries menggagas Rimba Explorer yaitu digitalisasi informasi flora melalui smart tagging sehingga pengunjung dapat mengenali jenis tumbuhan saat menjelajah kawasan; Sibolangit Wildlife Rescue Track yaitu sistem informasi untuk mengikuti perjalanan satwa sejak diselamatkan, direhabilitasi hingga kembali ke habitat; serta Elephas Goes to School yaitu pendekatan edukasi konservasi satwa dan hutan kepada generasi muda melalui materi, simulasi, dan permainan edukatif.
Persoalan sampah dan lingkungan perkotaan juga menjadi perhatian. Melalui TWA FlowGuard maka peserta menawarkan perangkap sampah sederhana pada jalur aliran air untuk mencegah sampah masuk lebih jauh ke kawasan TWA Sibolangit. Sementara gagasan Hutan Kota & RTH Medan mendorong pemetaan ruang terbuka hijau, penanaman pohon peneduh, adopsi pohon oleh masyarakat, clean up, serta edukasi hutan kota.
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan, Luckmi Purwandari mengatakan ruang inovasi penting untuk mendorong generasi muda mengambil peran nyata dalam menjaga alam.
“Generasi muda punya cara pandang baru dan keberanian untuk mencoba. Kegiatan seperti ini penting karena memberi ruang bagi mereka untuk belajar langsung, lalu mengubah pengalaman itu menjadi gagasan dan aksi nyata. Inovasi dari anak muda akan menjadi bagian penting dalam menjaga keanekaragaman hayati kita dari berbagai potensi bencana dan kebakaran hutan dan lahan,” ujar Luckmi
Dukungan juga datang dari dunia akademik.
Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), Arida Susilowati, menyampaikan bahwa kampus siap menjadi ruang bertumbuh bagi generasi muda.
“Kami menyambut hangat kolaborasi dengan Pusgenri. Kampus siap menjadi ruang bertumbuh bagi generasi muda. Kami berharap kegiatan ini mendorong lahirnya generasi pelestari hutan di Sumatera Utara yang peduli, berpengetahuan, dan siap bertindak,” ujar Arida.
Forest Youthverse Resilience tidak berhenti pada lahirnya ide. Gagasan yang dikembangkan para Genries diharapkan dapat terus disempurnakan, diuji, dan dikolaborasikan dengan pemerintah, perguruan tinggi, UPT Kementerian Kehutanan, komunitas, serta mitra pembangunan agar dapat berkembang menjadi aksi nyata.
Informasi lebih lanjut:
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan, Badan P2SDM
Luckmi Purwandari
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Ristianto Pribadi
Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter/X: @kemenhut_ri
Kemenhut Dorong Generasi Muda Kembangkan Wisata Edukasi Berbasis Hutan di Sumatera Barat
Padang Pariaman, 2 Oktober 2026 — Kementerian Kehutanan mendorong generasi muda di Sumatera Barat mengembangkan potensi hutan dan jasa lingkungan menjadi rintisan wisata edukasi yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung pelestarian lingkungan. Upaya ini dilakukan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Kewirausahaan Kreatif Kehutanan: Pengembangan dan Digitalisasi Pemasaran Pemanfaatan Jasa Lingkungan Edu-Ekowisata yang diikuti 70 Generasi Muda Pelestari Hutan (GenRies).
Kegiatan yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) pada 29 September hingga 1 Oktober 2026 di Posko Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) Salibutan, Nagari Salibutan, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, ini menjadi bagian dari upaya mendorong keterlibatan generasi muda dalam pemulihan lingkungan pascabencana melalui pengembangan ekonomi kreatif berbasis konservasi.
Sebanyak 70 peserta berusia 18–35 tahun berasal dari Kota Medan, Kabupaten Solok, Kabupaten Agam, dan Kabupaten Padang Pariaman. Mereka merupakan generasi muda yang memiliki minat dan/atau telah aktif dalam pemanfaatan jasa lingkungan serta pemulihan lingkungan pascabencana. Melalui kegiatan ini, peserta didorong mengidentifikasi potensi lokal dan mengembangkannya menjadi rintisan edu-ekowisata di wilayah masing-masing.
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Luckmi Purwandari, menyampaikan bahwa pemulihan lingkungan membutuhkan pendekatan yang adaptif dan berkelanjutan dengan melibatkan generasi muda sebagai penggerak kewirausahaan kehutanan atau forest youthpreneurship.
“Kami ingin generasi muda tidak hanya menjadi bagian dari upaya menjaga dan memulihkan lingkungan, tetapi juga mampu melihat peluang ekonomi dari potensi alam di sekitarnya. Melalui pengembangan wisata edukasi, anak muda dapat menghadirkan pengalaman belajar tentang hutan sekaligus membuka peluang usaha yang memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar Luckmi.
Dalam Bimtek ini, peserta mendapatkan pembekalan mengenai pengembangan edu-ekowisata, pemetaan potensi lokal, analisis SWOT, kebijakan pengelolaan kawasan hutan, serta strategi pemasaran digital. Pada akhir kegiatan, peserta diarahkan menyusun Rencana Aksi (Action Plan) sebagai langkah awal pengembangan rintisan edu-ekowisata di nagari masing-masing.
Untuk mendukung implementasi rencana tersebut, Pusgenri juga menyiapkan Stimulan Program berupa bantuan alat rintisan aksi dan dukungan promosi digital. Perlengkapan operasional meliputi trekking pole, tenda, lampu tenaga surya, perangkat komunikasi handie-talkie (HT), dan peralatan pendukung lainnya. Sementara itu, dukungan pemasaran digital mencakup pendampingan pembuatan website mandiri, atribut branding, serta mikrofon nirkabel dan gimbal untuk produksi konten kreatif.
Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat, Dinas Pariwisata, instansi terkait di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, UPT Kementerian Kehutanan, praktisi pengelola desa wisata, serta akademisi. Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat ekosistem kewirausahaan kehutanan sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi lokal secara berkelanjutan.
Informasi lebih lanjut:
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan
Ir. Luckmi Purwandari, M.Si.
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Ristianto Pribadi
Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter/X: @kemenhut_ri
Kemenhut Perkuat Saka Wanabakti Jambi sebagai Basis Pembinaan Generasi Muda Kehutanan
Jambi, 22 September 2026 - Kementerian Kehutanan melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) BP2SDM bersama Pimpinan Saka Wanabakti Tingkat Nasional (Pinsakanas) mendorong Provinsi Jambi menjadi salah satu basis kuat pengembangan Saka Wanabakti di luar Pulau Jawa. Sebagaimana diketahui, Saka Wanbakti diharapkan menjadi perpanjangan tangan untuk membangun generasi muda dalam mendukung pelestarian kehutanan di Indonesia.
Kepala Pusgenri, Luckmi Purwandari, menilai Jambi memiliki modal kuat untuk menjadi salah satu model pengembangan Saka Wanabakti di luar Jawa. Potensi tersebut ditopang kelembagaan yang telah terbentuk, dukungan pemerintah daerah dan UPT Kementerian Kehutanan, serta rekam jejak kegiatan Saka Wanabakti Jambi di tingkat regional maupun nasional. Kekuatan kelembagaan tersebut juga perlu diikuti dengan pembinaan yang konsisten, regenerasi anggota, penguatan kompetensi Pamong dan Instruktur, serta kegiatan yang relevan dengan kebutuhan generasi muda.
“Jambi punya sejarah, jejaring, kelembagaan, dan semangat yang kuat. Modal ini jangan berhenti pada struktur organisasi. Kita ingin pangkalan hidup, anggota bertambah, Pamong dan Instruktur semakin kompeten, dan empat Krida benar-benar menjadi ruang belajar serta aksi nyata generasi muda di bidang kehutanan,” kata Luckmi dalam Rapat Koordinasi Pimpinan Saka Wanabakti Tingkat Nasional (Pinsakanas), Majelis Pembimbing Saka Wanabakti Tingkat Daerah (Mabisakada), dan Pimpinan Saka Wanabakti Tingkat Daerah (Pinsakada) di Jambi Tahun 2026.
Potensi tersebut ditopang kelembagaan yang telah terbentuk, dukungan pemerintah daerah dan UPT Kementerian Kehutanan, serta rekam jejak kegiatan Saka Wanabakti Jambi di tingkat regional maupun nasional.
Rakor tersebut mendorong beberapa tindak lanjut, terutama penataan dan penguatan kelembagaan hingga tingkat cabang dan pangkalan; peningkatan kapasitas Pamong, Instruktur, dan pengurus; penyusunan kegiatan yang lebih adaptif terhadap kalender pendidikan; serta integrasi kegiatan Saka Wanabakti dengan program teknis kehutanan yang dilaksanakan Dinas Kehutanan, KPH, maupun UPT Kementerian Kehutanan.
Kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jambi untuk memperkuat sinergi pembinaan generasi muda. Dalam pertemuan tersebut, Ketua Kwarda Jambi, Sudirman memperkenalkan program SIMPATIK, sebagai pendekatan pembentukan karakter generasi muda melalui Gerakan Pramuka.
“Di Jambi, pembangunan generasi muda melalui Pramuka kami dorong melalui SIMPATIK: Santun, Ber-Iman, Mandiri, Peduli, Ber-Akhlak, Terampil, Ber-Integritas, dan Ber-Kualitas. Nilai-nilai ini yang ingin kita tanamkan kepada generasi muda, dan Saka Wanabakti menjadi salah satu ruang yang sangat relevan untuk mewujudkannya,” ujar Sudirman.
Pertemuan tersebut sekaligus membuka ruang untuk mengintegrasikan semangat SIMPATIK dengan pembinaan Saka Wanabakti, terutama melalui kegiatan empat Krida yang memberikan pengalaman langsung kepada generasi muda dalam menjaga hutan dan lingkungan..
Melalui penguatan tersebut, Jambi diharapkan tidak hanya memiliki Saka Wanabakti yang aktif secara kelembagaan, tetapi berkembang menjadi basis pembinaan generasi muda kehutanan yang kuat di luar Pulau Jawa dan menjadi contoh pengembangan Saka Wanabakti berbasis kolaborasi daerah.
Informasi lebih lanjut:
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan selaku Sekretaris Pimpinan Saka Wanabakti Nasional, Luckmi Purwandari
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Ristianto Pribadi
Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter/X: @kemenhut_ri
Artikel
Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan
🏢Gd. Manggala Wanabakti Blok VII / Lt.8 Jl. Garot Subroto Senayan, Jakarta Pusat 10270
☎ (021) – 5730131