Fitur
Fitur
Berita Terkini
SIARAN PERS
Nomor: SP.387/HUMAS/PP/HMS.3/12/2025
Gerakan Pramuka Satuan Karya Pramuka Wanabakti memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-42 melalui Upacara Peringatan yang diselenggarakan di Gedung Manggala Wanabakti, Kementerian Kehutanan Jakarta. Peringatan tahun ini mengusung tema “Bakti Lestari untuk Hutan Indonesia”, sebagai peneguhan komitmen Saka Wanabakti dalam membina generasi muda pelestari hutan.
Upacara diikuti oleh jajaran Pimpinan Saka Wanabakti Tingkat Nasional, perwakilan Saka Wanabakti cabang wilayah Jabodetabek, unsur Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, serta Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kehutanan. Peringatan HUT ke-42 juga dilaksanakan secara serentak di berbagai daerah sebagai bagian dari rangkaian Bulan Bakti Saka Wanabakti Tahun 2025.
Dalam sambutannya, Ketua Pimpinan Saka Pramuka Wanabakti Tingkat Nasional, Drh. Indra Exploitasia, M.Si, menyampaikan bahwa “Saka Wanabakti yang lahir pada 19 Desember 1983 di Desa Pidpid, Kabupaten Karangasem, Bali, telah menempuh perjalanan panjang sebagai wadah pembinaan karakter, pendidikan lapangan, dan pengabdian generasi muda di bidang kehutanan. Selama 42 tahun, Saka Wanabakti konsisten menanamkan nilai kepanduan, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap hutan Indonesia”.
Lebih lanjut disampaikan bahwa di tengah perubahan zaman dan dinamika global, revitalisasi Gerakan Pramuka menjadi kebutuhan mutlak. Dengan jumlah generasi muda Indonesia yang mencapai lebih dari 64 juta jiwa, Saka Wanabakti diharapkan semakin adaptif dan relevan dalam membina generasi muda agar tumbuh sebagai manusia Pancasila yang tangguh, berintegritas, dan berdaya saing, sekaligus memiliki kepedulian dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan hutan.
Tema “Bakti Lestari untuk Hutan Indonesia” menegaskan bahwa pengabdian Saka Wanabakti bukanlah kegiatan sesaat, melainkan komitmen berkelanjutan yang diwujudkan melalui latihan krida, kegiatan lapangan, aksi bakti, serta penguatan karakter generasi muda. Rangkaian Bulan Bakti Saka Wanabakti dilaksanakan secara terkoordinasi di seluruh Indonesia melalui aksi bakti serentak, sosialisasi krida, dan pembinaan pangkalan.
Dalam pelaksanaannya, Saka Wanabakti juga mengedepankan aspek keselamatan, khususnya di wilayah yang berpotensi terdampak bencana hidrometeorologi. Kegiatan disesuaikan dengan kondisi daerah dan dikoordinasikan dengan pemerintah setempat serta Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kehutanan.
Peringatan HUT ke-42 ini diharapkan menjadi titik penguatan kelembagaan Saka Wanabakti, mulai dari tingkat pusat, regional, daerah, cabang, hingga pangkalan, sehingga pembinaan generasi pelestari hutan dapat berjalan lebih terstruktur, konsisten, dan berkelanjutan.
Melalui momentum ini, Saka Wanabakti meneguhkan komitmen untuk terus berbakti bagi bangsa dan negara melalui peran aktif dalam menjaga dan melestarikan hutan Indonesia, demi keberlanjutan kehidupan generasi masa kini dan yang akan datang.(*)
Jakarta, 19 Desember 2025
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Krisdianto, S.Hut., M.Sc., Ph.D.
SIARAN PERS
Nomor: SP.336/HUMAS/PP/HMS.3/11/2025
Jakarta, 20 November 2025—Gerakan Pramuka Saka Wanabakti menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Tahun 2025 pada 19–20 November 2025 di Ruang Rimbawan 1, Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta. Kegiatan ini dihadiri oleh Majelis Pembimbing (Mabi) Saka Wanabakti Tingkat Nasional, Pimpinan Saka Wanabakti, para koordinator bidang dan wilayah, serta unsur Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
Rakernas ini merupakan tindak lanjut dari Pelantikan Pengurus Mabi dan Pimpinan Saka Wanabakti Masa Bakti 2025–2029 yang dilaksanakan pada 3 Oktober 2025. Forum ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat kelembagaan, menyelaraskan kebijakan, serta merumuskan program prioritas pembinaan generasi muda kehutanan di seluruh Indonesia.
Pembukaan Rakernas dilakukan oleh Staf Ahli Menteri Bidang Revitalisasi Industri Kehutanan, Novia Widyaningtyas, S.Hut., M.Sc., mewakili Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan selaku Ketua Pinsaka Wanabakti Nasional. Dalam arahannya, disampaikan bahwa Saka Wanabakti memiliki peran strategis dalam penguatan karakter, kompetensi, dan kepemimpinan generasi muda kehutanan, serta perlu didukung melalui sinergi kelembagaan Pinsaka, Mabisaka, eselon I teknis, dan UPT.
“Saka Wanabakti berada pada simpul penting antara Gerakan Pramuka dan pembinaan SDM kehutanan. Empat krida Saka Wanabakti—Tata Wana, Guna Wana, Bina Wana, dan Reksa Wana—merupakan modal strategis dalam membangun generasi yang kompeten, berkarakter, dan siap berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim serta pembangunan kehutanan nasional,” ujarnya.
Selain itu juga ditekankan pentingnya sinergi kelembagaan antara Pinsaka, Mabisaka, unit eselon I teknis, dan UPT agar pembinaan generasi muda selaras dengan komitmen nasional, termasuk Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, penguatan konservasi, rehabilitasi hutan, dan agenda ekonomi hijau dalam Asta Cita Presiden 2024–2029.
Rangkaian Rakernas meliputi arahan kebijakan Gerakan Pramuka oleh Sekretaris Jenderal Kwarnas, paparan prioritas kerja sembilan koordinator bidang, laporan rapat kerja regional enam koordinator wilayah, serta diskusi komisi yang membahas tiga tema utama: penguatan kelembagaan, peningkatan SDM, serta program dan kurikulum Saka Wanabakti.
Menutup kegiatan, Sekretaris Umum Pinsaka Pramuka Saka Wanabakti, Luckmi Purwandari, ST, M.Si, menyampaikan bahwa tindak lanjut Rakernas meliputi penyusunan pedoman dan modul Saka Wanabakti, pembentukan Pinsaka Daerah dan pamong, serta persiapan peringatan Hari Jadi Saka Wanabakti pada 19 Desember mendatang. Beliau berharap Saka Wanabakti menjadi “rumah besar” pembinaan generasi kehutanan yang modern, inklusif, inspiratif, dan berdampak nyata bagi pelestarian hutan Indonesia.
Jakarta, 21 November 2025
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Krisdianto, S.Hut., M.Sc., Ph.D.
SIARAN PERS
Nomor: SP.229/HUMAS/PPIP/HMS.3/10/2025
Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Kementerian Kehutanan, menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Akselerasi Pembinaan Generasi Pelestari Hutan dan Sosialisasi Platform Pramuda Lestari” di Ruang Rapat Balai P2SDM Wilayah VI, Makassar, (7/10).
Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kolaborasi antar Unit Pelaksana Teknis (UPT) di wilayah Sulawesi Selatan dalam pembinaan generasi muda di bidang kehutanan. Melalui forum diskusi ini, Pusgenri mengajak para kepala balai dan lembaga terkait untuk menyinergikan program dan berbagi praktik baik yang telah dilakukan dalam membina generasi muda pelestari hutan.
Kepala Pusgenri, Luckmi Purwandari menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat gerakan nasional generasi pelestari hutan melalui pendekatan kolaboratif lintas unit kerja.
“Pembinaan generasi muda kehutanan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kita perlu membangun jejaring dan berbagi strategi agar semangat pelestarian hutan tumbuh kuat di seluruh wilayah,” ujar Luckmi.
FGD ini diikuti oleh pimpinan dari berbagai UPT kehutanan di Sulawesi Selatan, antara lain Balai Besar KSDA Sulsel, Balai Pengelolaan DAS Jeneberang Saddang, Balai PSKL Gowa, Balai Taman Nasional Bantimurung dan Taka Bonerate, serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan.
Peserta FGD melakukan pemaparan data kegiatan pembinaan generasi muda, jejaring komunitas yang telah terbangun, hingga tantangan dan rekomendasi pengembangan. Data ini menjadi bahan penting dalam penyusunan peta potensi dan kebutuhan pembinaan generasi muda kehutanan berbasis wilayah.
Luckmi menambahkan melalui kegiatan ini, Pusgenri juga memperkenalkan Platform Pramuda Lestari, wadah digital yang dirancang untuk menghubungkan berbagai kegiatan, komunitas, dan inovasi generasi muda kehutanan di seluruh Indonesia. Platform ini diharapkan menjadi media kolaborasi, publikasi, dan penguatan aksi nyata pelestarian hutan di kalangan pemuda.
“Kita ingin generasi muda kehutanan punya ruang untuk mengekspresikan ide dan aksi nyatanya, sekaligus saling belajar dan terhubung dalam satu ekosistem digital yang positif,” kata Luckmi.
Dengan terselenggaranya FGD ini, diharapkan seluruh UPT dapat lebih terarah dalam merancang program pembinaan generasi muda kehutanan serta berkontribusi aktif dalam mewujudkan FOLU Net Sink 2030 melalui gerakan generasi pelestari hutan.
Jakarta, Kemenhut, 9 Oktober 2025
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Krisdianto, S.Hut., M.Sc., Ph.D.
Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) bersama Balai P2SDM Wilayah IV mengajak siswa SMK Kehutanan Negeri (SMKKN) Kadipaten dalam praktik produksi minyak kayu putih melalui program Forest Venture Class ke-4, Sabtu (27/9).
Kegiatan yang diikuti 53 siswa ini merupakan bagian dari Forest Move Club, sebuah program ekstrakurikuler berbasis kehutanan yang dirancang untuk membekali generasi muda dengan keterampilan praktis, pengetahuan pengelolaan hasil hutan bukan kayu, serta wawasan kewirausahaan berkelanjutan.
Pada kesempatan ini, siswa diajak untuk mempraktikkan proses minyak kayu putih, mulai dari pemanenan daun hingga proses penyulingan dengan metode distilasi uap. Kegiatan ini memberikan pemahaman kepada siswa mengenai bagaimana hasil hutan bukan kayu dapat dikelola secara berkelanjutan sekaligus membuka peluang usaha di bidang kewirausahaan kehutanan.
“Rangkaian kegiatan dimulai dari panen, pembersihan, pencacahan, hingga distilasi uap untuk menghasilkan minyak atsiri murni,” jelas fasilitator kegiatan, Asep Masturin.
Proses pembelajaran dilakukan secara langsung, dimulai dari pemanenan daun kayu putih di KPH Cibenda, kemudian dilanjutkan dengan tahap penyulingan di Kampus Balai P2SDM Wilayah IV Kadipaten.
Dalam praktik tersebut, siswa juga diajarkan keterampilan teknis, seperti menjaga suhu penyulingan, mengenali karakteristik minyak kayu putih, hingga teknik penyimpanan agar kualitas tetap terjaga. Lebih dari sekadar praktik ilmiah, kegiatan ini juga menanamkan nilai kewirausahaan, mengingat minyak kayu putih berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk kesehatan maupun aromaterapi.
“Program ini bukan hanya teori, melainkan praktik langsung yang menjadi bekal kemandirian dan wirausaha siswa,” tambah Asep.
Kadipaten, Kemenhut, 27 September 2025
Sumber:
BP2SDM Kemenhut
Penanggung Jawab Berita:
Kepala Biro Hubungan Masyrakat Dan Kerja Sama Luar Negeri,
Krisdianto, S.Hut., M.Sc., Ph.D.
Bestari Rimba: Forest Explorer dan Citizen Science untuk Generasi Muda
SIARAN PERS
Nomor: SP.215/HUMAS/PP/HMS.3/9/2025
Sebanyak 81 (delapan puluh satu) siswa/i SMA/SMK dan mahasiswa dari berbagai sekolah serta perguruan tinggi di Majalengka mengikuti kegiatan Belajar Lestari dari Rimbawan atau Bestari Rimba dengan tema "Forest Explorer – Citizen Science untuk Generasi Muda" di KHDTK Sawala Mandapa, Majalengka, Jawa Barat (24/09/2025). Kegiatan ini digagas oleh Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) yang bekerja sama dengan Balai P2SDM Wilayah IV Kadipaten.
Kepala Pusgenri, Luckmi Purwandari menyampaikan bahwa melalui kegiatan ini, generasi muda tidak hanya diperkenalkan pada nilai penting hutan, tetapi juga dilibatkan langsung dalam proses citizen science atau ilmu pengetahuan partisipatif. Mereka diajak menjadi masyarakat peneliti dengan mengamati, mencatat, dan melaporkan kondisi hutan secara sederhana.
“Melalui pendekatan citizen science, adik-adik tidak hanya diajak untuk mencintai alam, tetapi juga diberikan kesempatan berharga untuk berperan sebagai peneliti hutan muda. Inilah modal utama dalam melahirkan para forest guardian atau penjaga hutan yang berdedikasi di masa depan,” ujar Luckmi Purwandari.
Dalam sesi edukasi bertema Citizen Science: Peran Generasi Muda dalam Menjaga Hutan dan Mendukung FOLU Net Sink 2030, Kepala Seksi Wilayah II Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, Halu Oleo menegaskan bahwa partisipasi masyarakat dalam ilmu pengetahuan bukanlah hal baru, namun kini semakin penting untuk menjawab tantangan zaman.
“Citizen science memberi ruang bagi siapa saja untuk terlibat dalam pengamatan flora, fauna, kualitas lingkungan, hingga ekologi hutan di sekitar mereka. Dari pengamatan sederhana inilah lahir data yang berharga untuk kebijakan pelestarian alam,” ujarnya.
Usai sesi edukasi, peserta dibagi ke dalam 7 (tujuh) kelompok untuk berkeliling ke empat pos tematik Forest Explorer dengan pendekatan learning by doing. Pada pos 1 Biodiversity Treasure Hunt, peserta diajak mengenal dan mencatat temuan keragaman flora dan fauna di KHDTK Sawala Mandapa. Pada pos 2 Eco-Services in Action, peserta melakukan simulasi peran hutan dalam siklus air, jasa lingkungan, serta kaitannya dengan hutan sebagai carbon sink. Pada pos 3 Forest Healers, peserta melakukan praktik pembibitan, mempelajari perbedaan rehabilitasi dan restorasi hutan, serta peran generasi muda dalam pemulihan hutan. Pada pos terakhir Citizen Science Challenge – peserta diajak mengenali jenis pohon dengan identifikasi morfologi.
Bestari Rimba tidak hanya menjadi ruang belajar interaktif, tetapi juga wadah menumbuhkan jiwa generasi muda sebagai pelestari hutan. Dengan pengalaman langsung di lapangan, wawasan dari para rimbawan, serta semangat citizen science, para peserta diharapkan dapat membawa pulang inspirasi dan mengubahnya menjadi aksi nyata di lingkungan masing-masing. Kegiatan ini menunjukkan bahwa melestarikan hutan bukanlah tanggung jawab segelintir orang, melainkan gerakan bersama yang dimulai dari langkah kecil anak-anak muda hari ini.(*)
Kadipaten, Kemenhut, 24 September 2025
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Krisdianto, S.Hut., M.Sc., Ph.D.
Dukung Pengembangan SDM Kehutanan Siap Kerja, Kementerian Kehutanan Luncurkan “Forest Move Club”
SIARAN PERS
Nomor: SP. 189/HUMAS/PP/HMS.3/9/2025
Kementerian Kehutanan melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) meluncurkan pilot project ekstrakurikuler “Forest Move Club” di SMK Kehutanan Negeri (SMKKN) Kadipaten, Rabu (3/9/2025). Kegiatan ini diikuti oleh 106 siswa kelas XI SMKKN Kadipaten yang terbagi ke dalam 2 (dua) pilihan ekstrakurikuler: Morphosis Class (Bina Cinta Alam) dengan fokus konservasi hutan dan sumber daya air, serta Venture Class (Kewirausahaan Kreatif Kehutanan) dengan fokus pada inovasi usaha berbasis hasil hutan bukan kayu, seperti produksi minyak atsiri dan silase pakan ternak.
Forest Move Club dirancang oleh Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) sebagai wadah pembinaan generasi muda rimbawan yang unggul, peduli lingkungan, serta siap berkarya di sektor kehutanan. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya dibekali pengetahuan konservasi dan keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan kepemimpinan, kerja sama tim, literasi digital, serta kewirausahaan hijau.
Program ini selaras dengan komitmen Indonesia mencapai Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030, di mana sektor kehutanan diharapkan mampu menyerap lebih banyak emisi karbon daripada yang dilepaskan. Forest Move Club berada dalam kerangka RBC (Reduction Based on Contribution) 2 dan 3, yang menekankan kontribusi nyata kegiatan generasi muda dalam mendukung penurunan emisi dan pengelolaan hutan lestari
.
Kepala Pusgenri, Luckmi Purwandari, dalam arahannya menyampaikan bahwa program ini bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, melainkan strategi besar membangun ekosistem pembinaan generasi muda kehutanan. “FOLU Net Sink 2030 adalah komitmen Indonesia untuk memastikan hutan menyerap lebih banyak emisi dibandingkan yang dilepaskan. Sekolah menjadi ujung tombak, karena transformasi besar hanya mungkin terjadi bila generasi muda kita diberdayakan sejak dini,” ujarnya.
Sebagai pondasi awal, siswa mendapatkan materi motivasi dari Dani Wahyu Munggoro dengan tema “Menemukan Kekuatan Diri.” Materi ini dimaksudkan untuk membangkitkan kesadaran peserta mengenai potensi dan peran mereka sebagai kader pelestari hutan, sebelum terjun langsung ke dalam aksi konservasi dan wirausaha hijau.
Melalui Forest Move Club, setiap peserta akan menyusun dan melaksanakan rencana aksi nyata di lapangan, mulai dari pembuatan sekat bakar hijau, konservasi mata air, produksi minyak atsiri, hingga model usaha silvopasture. Hasil rencana aksi ini akan dibukukan dalam “Forest Move Club: Rencana Aksi Generasi Muda Pelestari Hutan.” Dengan dukungan Pusgenri, Balai P2SDM Wilayah IV, serta guru SMKKN Kadipaten, diharapkan Forest Move Club dapat menjadi model pembelajaran inovatif yang menghubungkan konservasi, pendidikan vokasi, dan kewirausahaan kehutanan.
“Forest Move Club adalah tempat transformasi, dari sekadar penonton menjadi penggerak, dari penghafal menjadi pencipta aksi. Anak-anak kita bukan hanya lulusan SMK biasa, tetapi calon pemimpin yang siap kerja, siap berwirausaha, dan siap menjaga hutan untuk masa depan,” tegas Luckmi.
Program ini akan berlangsung dari September hingga Desember 2025, dengan kombinasi pembelajaran teori, praktik lapang di KHDTK Sawala Mandapa, serta pendampingan rencana aksi. Program ini diharapkan menjadi model pengembangan ekstrakurikuler inovatif yang dapat direplikasi di SMK Kehutanan lainnya serta dapat melahirkan generasi muda kehutanan yang berdaya saing, adaptif, dan menjadi bagian penting dari pencapaian Indonesia FOLU Net Sink 2030.
Jakarta, Kemenhut, 4 September 2025
Untuk Informasi Lebih Lanjut:
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan,
Luckmi Purwandari
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Krisdianto
Artikel
Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan
🏢Gd. Manggala Wanabakti Blok VII / Lt.8 Jl. Garot Subroto Senayan, Jakarta Pusat 10270
☎ (021) – 5730131