Biografi Abah Kyai Untung Maulana, S.Pd.I.
Abah Untung Maulana atau biasa dipanggil dengan Abah Untung adalah kyai tawadlu’, sabar, dan karismatik. Beliau merupakan anak ke-4 dari 6 bersaudara dari pasangan Mbah Rohmat dan Mbah Siti Karwati. Bapak beliau pernah menjabat sebagai Pengurus Ranting NU desa Cilibur di saat beliau masih kanak-kanak. Beliau dilahirkan di Cilibur pada 4 Desember 1973. Sejak kecil, dalam asuhan kedua orang tuanya, beliau dididik tentang ilmu agama, ilmu kehidupan, dan berbagai amalan.
Abah mengenyam pendidikan formal dan juga non-formal. Dimulai dari duduk di bangku SD N Cilibur 02 (1980-1986), MTs Mimbarul Huda di Dk. Menggala Ds. Langkap (1986-1989), dan MA Muhammadiyah Plompong (1989-1990). Beliau hanya satu tahun di bangku MA, karena pada saat itu untuk pulang-pergi ke sekolah masih dengan jalan kaki (belum ada kendaraan umum), beliau berjalan +/- 10 km (perjalanan pulang pergi) dan kekurangan biaya, sebab kedua orang tua beliau juga masih membiayai kedua adik beliau yang juga masih sekolah. Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya di pesantren Miftahul Ulum (Rawalo-Banyumas) di bawah asuhan Kyai M. Slamet Rifa'i (1990-1995). Setelah itu, beliau sempat merantau beberapa bulan dan melanjutkan pendidikan agamanya ke pesantren Mambaul Huda (Kaliabu, Salaman, Magelang). Setelah keluar dari pesantren, tak lama setelah itu beliau pada tahun 2001 melangsungkan pernikahan dengan Ustadzah Nur Khayatun (salah seorang guru di pesantren Mambaul Hisan, Mirit, Kebumen). Hingga sekarang telah dikaruniai 1 putra dan 2 putri, yaitu :
Fasikhatun Munawaroh, S.Ag., Alh.
Teguh Fatih Nugroho
Anggraini Hafidza Maulida
Pada tahun 2009, beliau mengikuti program penyetaraan D2 di Ma’had Aly Al-Hikmah dan akhirnya beliau dapat kuliah S1 di STIT Brebes (2009-2011). Pada tahun 2015-2017 berguru pada KH. Shodiq Al-Hafidz Al-Maghfurlah asal Desa Benda, Sirampog yang menetap di Desa Laren, Bumiayu. Amalan rutin yang beliau amalkan adalah Rotib Al-'Aththos, Rotib Al-Haddad, Manaqib Syaikh Abdul Qodir Al-Jaylani, dan tentunya berbagai macam sholawat dan wirid. Dalam berbagai kesempatan beliau berceramah, acapkali beliau membawakan tema pentingnya bersholawat, fadilah bersholawat, dan keajaiban-keajaiban sholawat.
Hingga kini, rutinitas beliau adalah mengajar para santrinya dan rukyah Syar'iyyah (sering kali dibantu oleh garwa beliau, Ibu Nyai Nur Khayatun dan para santrinya.) Motto hidup beliau adalah teruslah belajar, lakukan apapun dengan teliti dan semangat, berpikirlah cepat dan juga akurat, dan ngajilah sampai mati Bi Idznillah.
Dalam memimpin pondok pesantren, Abah melakukan berbagai langkah inovatif dan pengembangan dalam berbagai aspek, sehingga perkembangan pesantren ini tidak lain adalah karena jasa dan perjuangan beliau. Langkah pengembangan yang beliau usung, disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan, sehingga dalam waktu tidak lama jumlah santri pun semakin bertambah banyak. Yang pada awal pendirian hanya 10 santri, kini sudah lebih dari 200 santri (santri mukim, kalong, dan alumni).