Demontrasi Kontekstual Modul 2.1 Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi
Pembelajaran Berdiferensiasi merupakan usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas guna memenuhi kebutuhan belajar individu setiap siswa.
Namun demikian, pembelajaran berdiferensiasi tidaklah harus mengajar dengan 16 metode berbeda untuk 16 siswa. Bukan juga guru harus menambah jumlah soal bagi siswa yang lebih cepat dari yang lain. Bukan juga guru harus mengumpulkan murid yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang kurang. Bukan juga memberikan tugas yang berbeda untuk setiap siswa.
Pembelajaran berdiferensiasi juga dapat diartikan sebagai serangkaian keputusan masuk akal yang dibuat oleh guru yang berorientasi pada kebutuhan murid. Adapun keputusan-keputusan dimaksud, yaitu:
Kurikulum yang mempunyai tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas.
Cara guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya.
Bagaimana guru menciptakan lingkungan belajar yang mengundang siswa untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Manajemen kelas yang efektif
Penilaian yang berkelanjutan.
Pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar siswa dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut.
Aksi Nyata Modul 2.1
Murid melakukan Asesmen diagnostic kognitif dan non kognitif untuk mengetahui bakat minat dan gaya belajar
Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) adalah Pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional.
Capaian Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE)
Menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman agar seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal.
Meningkatkan kompetensi sosial dan emosional, terciptanya lingkungan belajar yang lebih positif, peningkatan sikap positif dan toleransi murid terhadap dirinya, orang lain dan lingkungan sekolah
Menghasilkan murid-murid yang berkarakter, disiplin, santun, jujur, peduli, responsif, proaktif, mendorong anak untuk memiliki rasa ingin tahu tentang ilmu pengetahuan, sosial, budaya, dan humaniora.
Menerapkan PSE dengan kerangka CASEL Collaborative for the Advancement of Social and Emotional Learning). Pembelajaran Sosial Emosional dalam kerangka CASEL ini mencakup 5 komponen yaitu: Kesadaran Diri (Self Awareness), Pengelolaan Diri (Self Management), Kesadaran Sosial (Social Awareness), Kemampuan Berinteraksi Sosial (Relationship Skills), Pengambilan Keputusan Bertanggung Jawab (Responsible Decision-Making).
Aksi Nyata Modul 2.2 Praktik Pembelajaran Sosial Emosional
Demonstrasi Kontekstual Modul 2.3 Praktik Coaching
Coaching merupakan sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi masalah, berorientasi pada hasil, dan sistematis. Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya.
Keterampilan coaching sangat perlu dimiliki oleh seornag guru dalam rangka menuntun murid semua potensi yang dimilikinya untuk mencapai keselamatan dan kebahagian seagai individu dan anggota masyarakat. Dalam prosesnya, murid diberikan kebebasan, tetapi guru bertindak sebagai seorang Pamong yang memberi tuntunan dan memberdayakan semua potensinya agar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.
Aksi Nyata Modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik