NENEK TUA DI HARI RAYA IDUL FITRI
Suasana puasa akhir Ramadhan mulai terasa. Ada hiruk pikuk orang belanja makanan, pakain, dan lain-lain. Aku dan teman sebayaku serta anak-anak kecil bergembira dan bertanya-tanya pada orang tuanya tentang baju baru.
Namun, tak demikian dengan si nenek di kampung Sukaraya. hatinya dihinggapi kesedihan di malam terakhir bulan Ramadhan. Sementara di luar sana kaum Muslimin kumandang takbir dan suara beduk bergemuruh, terdengar meriah bersahut-sahutan, seolah memberitahu kita bahwa Ramadhan telah berakhir dan berganti hari raya Idul Fitri.
Apa gerangan yang menimpa orang tua berkulit keriput ini? Mengapa pada saat menjelang hari kemenangan ini si nenek malah tampak murung. Sakitkah? Ternyata tidak. Dia menceritakan bahwa menjelang Idul Fitri yang tinggal sesaat lagi ia yang hidup sebatang kara tak punya baju baru, jajanan untuk tamu, bahkan beras untuk sarapan esok harinya.
Aku merasa sedih, di hari yang nyaris semua orang bergembira ria ternyata masih ada orang yang kekurangan seperti itu. Lalu aku bergegas pulang dan meminta izin bapak ibuku untuk memberikan zakat fitrah keluargaku kepada si nenek yang sudah tua renta dan hidup sebatang kara tersebut. Selanjutnya, kuantarkan zakat fitrah keluargaku berupa beras sebanyak 10 kilogram karena keluargaku terdiri dari bapak, ibu, aku, dan adik. Sontak, raut wajah nenek berseri. Ia memanjatkan syukur, masih ada orang yang mau membantunya.