Nama Karmel itu erat dengan OCD. Tak terpisahkan bahkan menjadi identitas penentu. Dari nama Karmel ini, kita bisa melihat ada apa di balik nama ini? Karmel yang dimaksud di sini adalah sebuah Gunung di daerah Palestina. Daerah yang subur dan menjadi tempat munculnya sumber air "Carith". Sejarah mengatakan bahwa di Gunung Karmel inilah telah hidup Nabi Agung Elia, Sang Inspirator Karmel. Apa yang diinspirasi Nabi Elia?
Nabi Elia adalah salah satu tokoh yang gigih mempertahankan iman kepada Allah Yang Maha Segala. Motonya yang terkenal, yang dipakai pada semua jenis simbol Karmel adalah: "Aku bekerja segiat-giatnya demi Allah bala tentara".
Hal lain yang menginspirasi juga adalah kesetiaan Nabi Elia dalam soal doa dan keheningan. Dalam keheningan Gunung Karmel, Elia menemukan Allah, seterusnya menjadikan Karmel sebagai tempat doa yang mendalam.
Yang tidak kalah penting juga bahwa, Karmel dari segi arti kata, memiliki makna sebagai "taman". Taman adalah keindahan, tempat yang indah. Keindahan Karmel tentunya berasal dari Allah yang adalah sumber segala keindahan itu sendiri. Dengan demikian, Karmel adalah ajakan bagi kita untuk mencintai alam semesta, tempat Tuhan berjalan-jalan dan berinkarnasi dengan kita manusia yang fana. Salah satu putri Nabi Elia, Santa Teresa Avila, menekankan betapa pentingnya keindahan suatu alam lingkungan. Dalam keindahan alam itu, kita dapat dengan mudah memanjatkan hati batin kepada Sang Pencipta.
Dari perkembangan berabad lamanya, kelompok pertapa di Gunung Karmel, merasa penting untuk berpindah ke Eropa. Setelah sekian lama hidup dan berkembang di Eropa, para pertapa berjubah coklat ini, kemudian direformasi oleh seorang Putri Gereja dan Putri Karmel bernama Teresa de Ahumada, yang kemudian terkenal dengan nama Teresa dari Avila atau juga Teresa dari Yesus.
Santa Teresa dari Avila
Apa yang diperjuangkan Teresa, biarawati pertapa dari kota Avila, Spanyol itu? Yang diperjuangkan adalah kembali kepada doa. Doa yang setia kepada Allah. Hanya pada Allah saja hidup dan kehidupan ini ada. Bagi Teresa, doa adalah suatu hidup bersama dengan Dia yang saya tahu amat mencintai saya. Dari sini, mengalir suatu doktin atau ajaran spiritual rohaniah yang mendalam tentang doa. Doa menurut Teresa adalah doa batin. Teresa tidak menjelaskan doa yang lain. Yang ia ajarkan adalah doa batin, alasan jelas dan padat dan tepat adalah bahwa semua jenis doa adalah pertama-tama menjadi suatu doa batin. Doa yang diucapkan oleh tutur atau kata, harus disertai dengan suatu perhatian dan rasa batiniah. Itu berarti doa menjadi suatu kesadaran dalam pikir, ingatan dan kehendak.
Sebuah nama lain, yang menjadi penasihat rohani dan sahabat doa Santa Teresa adalah Santo Yohanes dari Salib. Dari pribadi San Juan de la Cruz ini, Teresa mendapat banyak masukan untuk menyempurnakan pembangunan rohani dan batinnya. Bagi Yohanes, tidak ada doa tanpa kesunyian dan kelepasan. Kesunyian ini bukan pertama terletak pada hal luar di sekitar kita. Pertama dan paling utama, kesunyian itu, berada di dalam batin hati manusia. Manusia harus bisa melepaskan dan mengosongkan segala sesuatu. Karena itu, San Juan menasihatkan bahwa agar dapat tiba pada puncak Gunung Karmel, agar dapat tiba pada puncak kesempurnaa, segala sesuatu harus dilepas dan dikupas. Istilah yang terkenal adalah: Nada-nada-nada. Kosong dan tak ada sesuatupun selain Allah saja. Solo Dios Basta. Allah saja cukup.
Santo Yohanes dari Salib