JASMERAH....jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ini kata Proklamator Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Memang, sejarah itu penting. Tapi, apa itu sejarah? Mari kita lihat penjelasannya, sebelum kita melihat OCD historitas.
Sejarah adalah suatu rekaman atau catatan atas peristiwa-peristiwa masa lalu. Rekaman atau catatan itu dapat saja digunakan untuk melihat kembali kehidupan seseorang atau sekelompok orang. Bisa saja sejarah itu memiliki kekurangan dan kelebihan, karena memang sejarah ditulis oleh seorang subyek dengan cara pandang dan kontek kehidupannya.
Kata “sejarah” dalam bahasa Latin, “historia”, yang sebenarnya berasal dari kata bahasa Yunani. Pada dasarnya "historia" merupakan akar dari kata “historein” yang berarti “belajar melalui penyelidikan”. Dalam sejarah Yunani dan Romawi, “historia” menunjuk pada pengenalan atau informasi yang didapat melalui investigasi.
Sebagaimana berlaku bagi istilah akademik, “historia” memiliki makna popular dan ilmiah. Secara umum, kata “sejarah” merupakan rekaman pada kejadian-kejadian di masa lampau dan ditegaskan sebagai “segala yang kita tahu tentang semua hal yang pernah dilakukan atau dipikirkan atau diharapkan atau dirasakan oleh manusia (Cf. Ensycl Amer., a.v. History).
Sebenarnya, menjadi hal yang mustahil untuk merekam setiap detil kejadian dari setiap individu. Bahkan dalam zaman modern, ketika seni merekam telah berkembang begitu pesat, tak ada yang dapat disamakan dengan lengkapnya segala tindakan dan kata manusia. Dalam hubungannya dengan waktu lampau, hal yang paling diharapkan adalah menemukan dokumen-dokumen yang menjadi refensi kepada tentang asal keberadaan manusia dan bangsa manusia. Semakin jauh kita melangkah ke belakang, semakin sedikit rekaman, sampai pada tibanya kita pada waktu di mana tak ada seorang individu pun yang berada sebagai bagian dari kelompok atau ras tertentu. Ini yang sering disebut “pra-sejarah” namun kata ini kiranya menyesatkan. Soal pra-sejarah ini dikaji secara khusus oleh studi palaentologi, antropologi dan arkeologi. Namun di zaman kita ini, era terjauh dari keberadaan manusia di atas bumi semakin diperjelas dan yang mencengangkan adalah kesimpulan para ahli, dari alat atau perkakas yang menjadi penemuan maupun penggalian para arkeolog.
Menarik untuk dicatat bahwa salah satu fosil tertua dari spesies manusia, ditemukan di dalam sebuah gua di gunung Karmel. Fosil ini dikatakan memiliki garis hubungan dengan fosil manusia Neanderthal dan Cromagnon. Fosil dari gunung Karmel ini, secara umum dikelompokkan sebagai “Manusia Gunung Karmel” tetapi hal ini tidak mengatakan bahwa ia adalah seorang Karmelit (Ensiklopedia Penggalian di Tanah Suci, a.v. Gua Carmel).
Di sini,tidak dibicarakan tentang manusia-manusia purba atau fosil-fosil. Kita ditempat ini akan membaca dan melihat secara sepintas “sejarah” Karmel. Tetapi juga kita tidak berbicara tentang Karmel secara umum dan luas. Kita di sini, hanya mau berkutat pada Karmel Tak Berkasut (OCD), secara khusus di Indonesia. Seperti yang akan kita lihat, bahan-bahan dari sejarah Karmel OCD ini berasal dari sumber-sumber yang sangat minim. Namun, keminiman sumber tidak bisa menjadi halangan untuk kita berziarah menyusur jalan-jalan sejarah. Alasannya bahwa kita harus belajar mengenal sejarah, apalagi sejarah keberadaan kita. Mengapa demikian? Ada multi alasan untuk itu, yakni:
Dengan pandangan singkat tentang pentingnya sejarah itu, kiranya kita termotivasi untuk melihat sekaligus menggali sejarah Karmel OCD di Indonesia.
Ilustrasi Kemartiran Beato Dionisius dan Beato Redemptus di Tanah Aceh
OCD adalah singkatan dari Ordinis Carmelitarum Discalceatorum. Artinya Ordo Karmel Tak Berkasut. OCD lahir di Spanyol dalam abad ke 16 oleh seorang biarawati terkenal, Santa Teresa dari Avila. OCD muncul di Indonesia pada tahun 1638 di Tanah Rencong - Serambi Mekah – Aceh Darusalam. Dua orang misionaris OCD diutus tahun itu dari Provinsi Navara, Spanyol menuju ke Goa – India dan Aceh. Mereka adalah Pater Dionisius, OCD dan Bruder Redemptus, OCD. Perjalanan kedua misionaris ini merupakan perjalanan yang berbahaya karena menumpang pada kapal ekspedisi dagang Portugis. Di dalam kapal, kedua misionaris OCD ini bertugas sebagai pendamping rohani para penumpang dan awak kapal. Sekalipun demikian, karena mengikuti kapal dagang Portugis, yang dalam arti tertentu membawa slogan ekspansi Eropa, demi “gold, glory and Gospel” (emas, kejayaan dan Injil), membuat keduanya dibebani tanggung jawab komunitas Eropa saat itu.
Kehadiran mereka di Aceh pada awalnya disambut hangat oleh Sultan Aceh, yang pada saat itu berada di bawah kekuasaan Sultan Iskandar Thani. Namun, tak lama kemudian, mereka dicurigai dan dituduh menyebarkan agama Kristiani dan mengkristenkan Aceh. Kekuasaan dan praktek hidup yang sangat memperhatikan ajaran Islam di kesultanan Aceh Darusalam, membuat kehadiran kedua misionaris itu ditolak. Bahkan semua orang yang mengikuti ekspedisi dagang Portugis, berada dalam ancaman serius. Sekalipun berada di bawah ancaman dan tekanan, Pater Dionisius dan Bruder Redemptus, tetap teguh berpegang dalam iman kepada Kristus, sambil tetap memberi ketabahan iman kepada semua peserta armada kapal tersebut. Karena keteguhan dan keberanian mempertahankan iman inilah maka kedua misionaris OCD itu dibunuh. Kemudian, Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1993 menganonisasi kedua martir ini menjadi beato.
Berdoa dan berkarya dengan tulus dan dalam semangat pengorbanan, itulah yang diteladankan oleh kedua tokoh iman Beato Dionisius dan Redemptus. Keduanya berasal dari dinas militer Portugis sebelum mereka memutuskan untuk menjadi pelayan Tuhan. Pilihan untuk menjadi iman dan menjadi bruder merupakan jawaban mereka atas suara Tuhan yang mengundang mereka untuk melaksanakan kehendak-Nya.
Benih yang jatuh di Tanah Rencong itu, tidak mati dan melenyap dengan lenyapnya jasad kedua martir Indonesia itu. Bahkan tunas iman kemartiran kedua saudara OCD itu membekas lama di Tanah Aceh, menunggu waktu untuk bertumbuh dan berkembang. Sekali pohon iman itu bertumbuh, ia akan terus berkembang dan bercabang sampai menghasilkan buah yang melimpah. “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi kalau ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk kehidupan kekal” (Yoh 2: 24-25). Jarak antara tahun 1638 dan 1982 bukanlah masalah bagi Tuhan. Bagi Tuhan, satu hari sama dengan seribu tahun. Karena itu, tidak menjadi persoalan, benih kemartiran itu lama dipendam di Tanah Rencong. Pelahan namun pasti, benih iman dan panggilan itu mulai bertumbuh dan berkembang. (bersambung...).