Assalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh...
Salam hangat kami haturkan.
Salam literasi.
Setelah 3 tahun kehadiran fisik, ijinkan kami hadir secara virtual.
Majority masih berisi tentang narasi. Narasi tokoh-tokoh penting dalam sejarah dakwah Islam di Nusantara, mulai abad para wali, hingga kini.
Kami mulai dari yang paling terkini atau 'al mu'asirun', hingga 'al mutaakhirun, terlama, para ulama abad 15. Beliau adalah Kiyai Haji Maemon Zubair lalu Mbah KH. Sahal Mahfudz, KH. Idahm Cholid, Gus Dur, KH. Ahmad Shiddiq, KH. Hamid Abdullah, Mbah Ma'shoem, MBah Sambu, hingga Mbah Sunan Bonang.
Selain tentang narasi, kami juga ber"himmah" besar, mengoleksi karya, 'masterpiece' buku, atau manuskrip (jika telah berusia 50th tentu saja), seluruh tokoh yang kami narasikan dalam di dalam Museum. Dan tentu kami siap menerima kontribusi banyak pihak untuk ini.
Tak kalah penting, barang istimewa, benda 'nyunik', memiliki khasiah atau 'berapal', yang pernah dimiliki tokoh-tokoh tersebut.
(Monggo yang bisa membantu, kami menyiapkan buku khusus untuk mencatat jasa para kontributor).
Tentu saja untuk disimpan sebagai koleksi museum.
Koleksi yang akan menjaga memori kolektif kita.
Memori kolektif keislaman Indonesia.
MEMORI KOLEKTIF ISLAM AHLUSSUNNAH WALJAMAAH.
Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh..
(28 Oktober 1928- 6 Agustus 2019)
Sang ulama perekat bangsa yang lahir di Karangmangu Sarang, Rembang. Beliau adalah sosok yang berilmu mendalam, sederhana, bersahaja dan gigih dalam mengkampanyekan Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 (sering beliau singkat dengan istilah PBNU).
Sejak kecil, ia ditempa ilmu agama di pesantren Sarang, lalu ke Pesantren Lirboyo Kediri. Ketika bermukim di Makkah, ia mengaji antara lain kepada Sayyid Alawi al-Maliky, sayyid Amin al-Quthbi, Syekh Yasin al-Fadani. Setiba dari Makkah tahun 1952, ia melanjutkan ngangsu kawruh kepada sejumlah kiai diantaranya: Kiai Baidlowi dan Kiai Ma'shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa Rembang, Kiai Wahab Chasbullah Jombang, Kiai Muslih Mranggen, Kiai Abdullah Abbas Buntet, Syekh Abul Fadhol Senori.
Pada tahun 1965, Mbah Moen mendirikan Pesantren Al-Anwar dan aktif di berbagai gerakan keagamaan, kemasyarakatan dan kebangsaan. Beliau sosok ulama yang berpandangan luas, berdedikasi tinggi dengan mencurahkan segala waktu, tenaga, pikiran, dan jiwa raganya untuk membimbing masyarakat dan bangsa. Saat meruncingnya kontestasi Pilpres 2019, beliau berperan penting mengayomi pihak-pihak yang berseteru. Selain pernah menjabat sebagai Rois Syuriyah PWNU Jawa Tengah, Ketua Jam'iyyah Thoriqoh Mu'tabaroh NU, anggota DPRD Rembang dan anggota MPR RI, terakhir, beliau menjabat sebagai Mustasyar PBNU dan Ketua Majlis Syariah DPP PPP.
Selain sukses mencetak banyak kader ulama, beliau juga mewariskan sejumlah karya diantaranya ; Nushushul Akhyar, Tarajim Masyayikh Al-Ma'ahid Ad-Diniah bi Sarang A-Qudama', Al-Ulama' Al-Mujaddidun, Maslakut Tanassuk al Makki, Taqrirat Manzhumah Jauharut Tauhid, Taqrirat Manzhumah Khoridatul Bahiyyah, Taqrirat Manzhumah Badul Amali, Taujihatul Muslimin, Tsunami, Risalah Shoghiroh, Manaqib Sayyid Hamzah Syatho. Beliau wafat dalam usia 90 saat menunaikan ibadah haji dan dimakamkan di pemakaman Ma'la di Makkah.
Sumber :
Ulum, Amirul, Mbah Moen, Kiai Perekat Bangsa, Jakarta; Penerbit Republika, 2020. https://www.kompas.com/stori/read/2022/07/01/130000379/biografi-maimun-zubair-atau-mbah-moen?page=all
(17 Desember 1937 - 24 Januari 2014)
Sosok ulama fiqh kontemporer Indonesia yang disegani karena kehati-hatiannya dan kedalaman ilmunya. Sangat gemar membaca dan memiliki koleksi kitab/buku 2000 lebih. Pada tahun 2003, ia mendapatkan gelar Doktor Kehormatan (Doktor Honoris Causa) dalam bidang pengembangan ilmu fiqih dan masyarakat dari Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta.
Lahir di Kajen, setelah menamatkan belajar agama di pesantren Kajen, ia memperluas keilmuannya di Pare Kediri, Sarang Rembang dan di Mekkah. Ia memimpin pesantren Maslahul Huda Kajen pada 1963 dan mulai saat itu sudah dikenal sebagai pendobrak pemikian tradisional di kalangan NU. Ia mejadi pelopor gerakan kemandirian umat melalui pendidikan, ekonomi dan kesehatan. Beliau juga aktif dan tepilih sebagai Rais Aam Syuriah PBNU dari tahun 1999-2009, lalu menjadi ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Kiai Sahal wafat pada usia 76 tahun dengan meninggalkan karya tulis antara lain ; At-Tsamarah al-Hajiniyah (fiqih), Al-Bayanul Mulama’ An-Alfadzil Luma’ (usul fiqh), Faydlul Hija ala Nayl al-Roja (fiqh), Anwarul Bashair (fiqh), Nuansa Fiqh Sosial (Yogyakarta: LKiS, 1994), dll.
Sumber :
Asmani, Jamal Makruf, Tasawuf Sosial KH. MA. Sahal Mahfudz, Jakarta; Alek Media Komputindo, 2019.
Bashori, Ahmad, Fikih Nusantara, Dimensi Keilmuan dan Pengembangannya, Jakarta; Prenada Media, 2021.
(27 Agustus 1921 - 10 Juli 2010)
Seorang ulama politisi yang berlatar-belakang santri dalam tugas kenegaraan yang lengkap. Beliau menjabat Ketua Umum PBNU terlama sejak 1956-1984. Kiprahnya membuktikan bahwa keberadaan ulama tak terpisahkan dari perjalanan politik di republik ini.
Lahir di Setui Kalimantan Selatan, semasa mudanya menempuh pendidikan di Pondok Modern Gontor Ponorogo. Gelar Doctor Honoris Causa diperolehnya dari Universitas Al-Azhar Cairo tahun 1957. Pada usia relatif muda Idham Chalid sudah mencapai kematangan dalam leadership (kepemimpinan). Sejarah membuka jalannya untuk mengemban peran kenegaraan di masa Orde Lama dan Orde Baru. Ia adalah politisi ulung dan negarawan yang bertahan di segala cuaca.
Semenjak masa revolusi kemerdekaan, Ia telah menjadi anggota Dewan Daerah Banjar dan Amuntai (1949). Sewaktu perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan, ia ikut andil dalam gerilya di daerahnya. Setelah penyerahan kedaulatan, diangkat menjadi anggota DPR-RIS tahun 1950. Lalu berturut-turut menjadi anggota Parlemen RI tahun 1950-1955, anggota DPR-RI hasil Pemilu 1955, dan anggota Konstituante (1956 - 1959) yang memiliki tugas membuat undang-undang dasar pengganti UUD Sementara 1950. Di era demokrasi parlementer dan demokrasi terpimpin, Ia beberapa kali menjabat Wakil Perdana Menteri RI yaitu di Kabinet Ali-Roem-Idham (1956-1957), Kabinet Djuanda (1957-1959) dan Kabinet Dwikora (1966). Selain itu menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan Wakil Ketua MPRS (1962-1966). Dalam episode akhir Orde Lama, ia menjabat Menteri Koordinator pada Kabinet Kerja dan Kabinet Dwikora.
Setelah Orde Baru berkuasa, Idham Chalid diangkat menjadi Menteri Negara Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Kabinet Pembangunan I (1968-1973) dan Menteri Sosial ad interim (1970 - 1971). Setelah Pemilu 1971, ia terpilih menjadi Ketua DPR/MPR-RI periode 1971-1977. Selanjutnya menjabat Ketua DPA-RI periode 1978-1983, dan anggota Tim P7 (Penasihat Presiden Tentang Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dengan ketuanya Dr. H. Roeslan Abdulgani. Dalam organisasi keulamaan Idham Chalid duduk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat mulai tahun 1985.
Di samping sebagai politisi ulung, Idham Chalid adalah seorang penggerak pendidikan umat dengan watak low profile-nya. Sekitar tahun 1959 ia telah mendirikan Perguruan Darul Maarif di Cipete, Jakarta Selatan. K.H.Dr.Idham Chalid menghembuskan napas terakhirnya pada usia 88 tahun. Pada tanggal 7 November 2011, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya yang besar terhadap negara dan bangsa.
Sumber :
Muhajir, Ahmad, Idham Chalid, Guru Politik Orang NU, Yogyakarta; Pustaka Pesantren, 2007.
Yusuf, Slamet Effendi, dkk. Dinamika KAum Santri; Menelusuri Jejak dan Pergolakan Internal NU, Jakarta; Rajawali, 1983.
(7 September 1940 - 30 Desember 2009)
Abdurrahman Wahid adalah kiai, guru bangsa, reformis, cendekiawan, budayawan, dan pemimpin politik nasional yang menggantikan BJ Habibie sebagai Presiden RI setelah dipilih MPR hasil Pemilu 1999. Ia menjabat Presiden RI dari 20 Oktober 1999 hingga Sidang Istimewa MPR 2001.
Lahir dengan nama Abdurrahman ad-Dakhil atau “Sang Penakluk”, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. Ia adalah putra pertama dari enam bersaudara, dari keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya, KH. Hasyim Asyari, adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), demikian pula kakek dari pihak ibu, KH Bisri Syamsuri.
Sebagai kiai, ia mendirikan pesantren Ciganjur Jagakarsa Jakarta dan motor penggerak pembaharuan NU melalui gerakan khittah NU 1926, sehingga mengantarkannya terpilih menjadi ketua umum Tanfidziyah PBNU 3 periode berturut-turut (1984-1999). Sebagai guru bangsa, Gus Dur berjasa besar menjadi perekat bangsa dengan terus berkampanye tentang pentingnya nilai-nilai kemanusiaan dan politik anti diskriminasi terhadap kelompok minoritas. Ia dijuluki sebagai bapak ‘pluralisme’ bangsa. Sebagai reformis, jasanya pada gerakan demokrasi modern di Indonesia sangat penting. Saat proses transisi demokrasi dari era orde baru menuju era reformasi, ia muncul sebagai tokoh kunci sehingga mengantarkannya terpilih menjadi Presiden pertama di era reformasi. Sebagai cendekiawan, gagasan keislamannya selalu hangat menjadi bahan diskusi kalangan cendekiawan muslim kontemporer Indonesia. Gus Dur memperkenalkan konsep Islam yang ‘membumi’, yakni Islam Indonesia yang membedakan dirinya dengan Islam di kawasan Arab, dengan lebih menyesuaikan diri dengan budaya Nusantara. Sebagai budayawan, Gus Dur pernah ditunjuk menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1982-1985.
Gus Dur wafat pada tahun 2009 di RSCM Jakarta akibat komplikasi penyakit yang dideritanya. Berbagai gelar akademis dan penghargaan bidang kemanusiaan ia terima baik dari dalam negeri maupun dunia internasional. Beliau meninggalkan jasa besar bagi generasi berikutnya untuk terus konsisten pada nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki.
sumber :
Barton, Greg, Biografi Gus Dur, The Authorized Biography of Abdurahman Wahid, Jakarta, Penerbit Gramedia, 2002.
Maswan, Laila, F. Aida, Gus Dur, Manusia Multidimensi, Jakarta ; Deepublish, 2020.
Penggagas pemikiran Khittoh NU dan pencetus ‘trilogi ukhuwah’ yang sangat melegenda dalam pemikiran Islam kontemporer di Indonesia. Lahir di Jember di Jember putra bungsu dari KH. M. Shiddiq dengan Nyai Maryam ini sejak muda sudah aktif berkiprah di NU, dimulai dari pengurus Cabang, ketua Pengurus Wilayah Jawa Timur, hingga akhirnya terpilih menjadi Rais Aam PBNU dalam Muktamar Ke-27 NU pada tahun 1984. Ia ditunjuk bersama KH Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum tanfidziyah PBNU.
Gagasan Khittoh NU lahir dari risalah beliau yang berjudul ‘khittah nahdliyyah’. Khittah NU bertujuan mengembalikan NU pada rel perjuangan awal organisasi ini didirikan. Khittah 1926 NU dirumuskan sebagai landasan berfikir, bersikap, dan bertindak warga NU yang harus terwujud dalam kehidupan pribadi maupun organisasi serta dalam setiap penentuan kebijakan NU. Selain penggagas khittoh NU, Kiai Ahmad Shiddiq juga pencetus pemikiran ‘trilogi ukhuwah’.
Trilogi itu berisi ‘ukhuwah islamiyah’ (persaudaraan umat Islam), ‘ukhuwah wathaniyah’ (persaudaraan sesama warga negara), dan ‘ukhuwah insaniyah’ (persaudaraan sesama manusia).
Dengan konsep ini beliau bermaksud merekatkan sekaligus menata hubungan antar manusia dalam perspektif agama dan negara.
Sumber :
Shiddiq, Ahmad, KH. Pedoman berfikir Nahdlatul Ulama, Jember; FOSSNU, 1969.
https://www.nu.or.id/tokoh/profil-kh-achmad-siddiq-pencetus-trilogi-ukhuwah-rJK61.
(1897- 4 Agustus1990)
Pahlawan Nasional KHR As'ad Syamsul Arifin bukan hanya seorang ulama kharismatik, melainkan juga termasuk penyair dengan karya seni kitab syair berbahasa madura yang ditulis dengan huruf Arab. Lahir pada 1897 di Makkah dan wafat pada 4 Agustus 1990 di Situbondo pada usia 93 tahun.
Kharisma keulamaannya muncul sebab kiprahnya yang lengkap. Disamping tekun menjadi pengasuh pesantren (PP. Salafiyah Asembagus Sukorejo Situbondo), beliau juga seorang pejuang kemerdekaan yang gigih. Ia memimpin pelucutan pasukan Jepang di Jember (september 1945), mengirim pasukan sabilillah di Surabaya (november 1945), dan bergerilya pada masa revolusi fisik tahun 1945-1949. DI NU, Kiai As’ad menjadi pengantar tongkat dan tasbih Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH. Hasyim Asyari sebagai bentuk Restu Syaikhona Kholil atas pendirian ormas terbesar di Indonesia itu. Saat NU menjadi partai politik, beliau memperluas pengabdian menuju politik kenegaraan yang sebelumnya hanya fokus di politik kebangsaan dan kerakyatan. Bahkan pada 1957-1959, Kiai As’ad menjadi juru kampanye Partai NU dan dipercaya mengemban amanat sebagai penasihat pribadi wakil perdana menteri kala itu, KH Idham Chalid.
sumber :
Syamsul A. Hasan (2003). Kharisma Kiai As'ad di Mata Umat. PT LKiS Pelangi Aksara.
https://www.laduni.id/post/read/45646/biografi-kh-r-asad-syamsul-arifin#Karomah