a. Kerajaan Allah Sudah Dekat
Yesus mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, bahkan sudah datang, terutama dalam diri Yesus. Ketika Yesus berkeliling Palestina untuk mewartakan kabar baik, sebenarnya Kerajaan Allah mulai tampak di tengah-tengah umat-Nya (Lk 10:23-24). Pewartaan Kerajaan Allah yang sudah dekat itu terungkap dalam perumpamaan tentang Pohon Ara (Mrk 13:28-32). Dekatnya Kerajaan Allah membawa nada ancaman dalam perumpamaan tentang orang yang menghadap hakim (Lk 12:57-58) untuk menuntut kembali pinjaman dari orang yang berhutang kepadanya. Maksud Yesus adalah: Kita sekalian adalah orang yang berhutang (berdosa), maka harus membereskan perkara itu (bertobat) supaya jangan terlambat, penghakiman terakhir sudah di ambang pintu. Berdekatan dengan perumpamaan tentang pohon ara adalah perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (Lk 16:1-8). Perumpamaan ini antara lain mau mengatakan bahwa orang harus cerdik, Kerajaan Allah sudah di ambang pintu untuk mengadakan pertanggungjawaban. Dekatnya Kerajaan Allah berarti juga dekatnya penghakiman Allah. Perumpamaan pohon ara yang tidak berbuah (Lk 13:6-9) mau menggambarkan bahwa Allah itu sesungguhnya sabar, tetapi jika pada waktunya orang tidak menghasilkan buah pertobatan (Lk 3:8-9), maka penghakiman akan mendatangi orang itu.
Penghakiman Allah akan dating secara tiba-tiba dan tidak disangka-sangka (Mt 24:50). Hal ini diilustrasikan dalam perumpamaan pencuri yang dating pada waktu malam di saat yang tidak diketahui (Mt 24:43-44). Kedatangan Kerajaan Allah dan penghakiman yang tidak tersangka-sangka itu terungkap dalam perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh (Mt 24:1-13)
b. Kerajaaan Allah Berarti Allah Mulai Memerintah
Kerajaan Allah berarti Allah yang memerintah sebagai raja. Allah yang memerintah dilukiskan oleh Yesus sebagai Bapa. Allah itu sungguh-sungguh Bapa yang baik hati dan suka mengampuni. Dalam perumpamaan domba yang hilang (Lk 15:3-7), Yesus menggambarkan Allah yang suka mengampuni. Dalam perumpamaan orang-orang upahan di kebun anggur (Mt 20:1-5), Allah digambarkan sebagai “Baapa keluarga” yang baik hati terhadap orang-orang yang tidak berjasa. Orang yang dimaksud adalah “pemungut cukai, pelacur, dan orang berdosa” yang bertobat dan atas dasar kebaikan Allah menerima pemerintahan-Nya.
Dalam perumpamaan anak yang hilang atau Bapa yang mengasihi anak yang hilang (Lk 15:11-32) mau menunjukkan belas kasih dan kasih Allah terhadap orang-orang berdosa dan sukacita-Nya karena mereka bertobat. Perumpamaan ini juga sekaligus berisi kritik terhadap orang Farisi (yang dilambangkan anak yang sulung) yang membanggakan jasanya, tetapi tidak mengerti sikap hati Bapa. Ketiga perumpamaan dalam Lk 15:1-32 (domba yang hilang, dirham yang hilang, dan anak yang hilang) mau menekankan sukacita Allah yang menyambut orang berdosa yang bertobat ke dalam Kerajaan-Nya.
c. Kerajaaan allah menuntut sikap pasrah (iman) manusia kepada allah
Allah meraja dengan kasih. Oleh sebab itu, manusia dituntut sikap pasrah, dan sikap iman kepada Allah. Allah menjadi harapan, sandaran, dan andalan bagi manusia. Manusia tidak boleh mengandalkan hal-hal lain, seperti harta, kekuasaan, bahkan dirinya sendiri.
Yesus menentang orang-orang Farisi karena mereka selalu mengandalkan jasa-jasa dan kekuatan diri mereka. Yesus memuji orang-orang miskin dan menderita sebagai yang “berbahagia”, karena dalam kemiskinannya itu mereka hanya mengandalkan Allah dan mempercayakan diri pada Allah. Yesus tentu saja tidak mendukung kemiskinan, bahkan Ia memperjuangkan kesejahteraan lahir batin bagi umat. Yesus mengecam ketidakadilan yang dilakukan oleh para petinggi pemerintahan dan agama. Yesus tidak menyapa berbahagia kepada orang-orang yang saleh dan taat pada Taurat seperti kaum Farisi, sebab mereka mengandalkan dirinya sendiri. Yesus menyapa orang-orang miskin dan menderita, sebab mereka hanya mengandalkan Allah. Baca perumpamaan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai yang berdoa di Bait Allah (Lk 18:9-14)
d. Kerajaan Allah suatu karunia
Kerajaan Allah adalah suatu karunia dari Allah, bukan hanya jasa manusia. Dengan kata lain, pemerintahan Allah tidak ditegakkan atau diwujudkan hanya oleh daya upaya manusia. Kerajaan Allah sebagai karunia Allah ini diilustrasikan dalam perumpamaan “benih yang tumbuh” (Mrk 4:26-29), “ragi” (Mt 13:33), “biji sesawi” (Mt 13:31-32), dan “penabur” (Mrk 4:1-9).
Titik perbandingan dalam perumpamaan-perumpamaan tersebut terletak pada keajaiban bahwa “benih” itu tumbuh, menjadi pohon besar, dan menghasilkan buah berlimpah, walaupun banyak rintangan. Demikianlah juga tentang Kerajaan Allah, biarpun banyak rintangannya (penabur), Kerajaan Allah dengan kekuatannya sendiri (benih dan ragi) akan diwujudkan dan menghasilkan buah berlimpah.
Kerajaan Allah sebagai karunia Allah harus diperjuangkan dan dikembangkan oleh manusia sebagai nilai yang paling tinggi. Karena itu, manusia yang telah memperolehnya patut bergembira dan bersedia memperjuangkannya dan mengembangkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini diilustrasikan dalam perumpamaan tentang “harta yang terpendam dan mutiara yang berharga”, (Mt13:44-46). Fokus perumpamaan ini terletak dalam ayat 44 yaitu kegembiraan menemukan “harta terpendam”. Dengan uang dan usaha tidak mengenal lelah, akhirnya harta itu ditemukan sehingga mendatangkan kegembiraan luar biasa bagi yang empunya, “Harta terpendam” ini menggambarkan sesuatu yang sangat bernilai, yakni Kerajaan Allah. Orangt dengan gembira hati mengorbankan segala sesuatu demi Kerajaan Allah.
1. Perbuatan-perbuatan Yesus dalam rangka memperjuangkan Kerajaan Allah
a. Yesus mengadakan mujizat-mujizat
Yesus mewartakan Kerajaan Allah tidak hanya dengan sabda-sabda-Nya, tetapi juga melalui mukjizat-mukjizat. Mukjizat yang dimaksudkan adalah kejadian atau perbuatan luar biasa yang bagi orang percaya menangkapnya sebagai pernyataan kekuasaan Allah Penyelamat. Dengan mukjizat itu, Allah menyatakan kekuasaan penyelamatan-Nya.
Mukjizat adalah hanya sebagai bagi orang yang percaya, yaitu tanda kemurahan hati Tuhan (Yesus), sedangkan bagi yang tidak percaya adalah suatu pertanyaan.
Mukjizat-mukjizat Yesus itu mau menunjukkan:
1) Yesus menghubungkan mukjizat-mukjizat-Nya dengan pemberitaan tentang Kerajaan Allah. Di luar itu, Yesus tidak pernah membuat mukjizat. Itulah sebabnya, Yesus menolak membuat tanda/mukjizat di hadapan pejabat atau orang banyak untuk melegitimasikan diri-Nya sebagai yang berasal dari Allah (Mt 16:1; Lk 11:16-29)
2) Dasar dan motif mengadakan mukjizat adalah pemberitaan tentang Kerajaan Allah. Pemberitaan tentang Kerajaan Allah hanya ditujukan kepada orang miskin dan tertindas. Karena itu, mukjizat-mukjizat Yesus justru tertuju kepada orang yang malang, sakit, dan dibawah kuasa kejahatan. Mukjizat-mukjizat itu menyatakan bahwa Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus dan yang membebaskan orang dari kuasa jahat, benar-benar bagi mereka.
3) Mukjizat-mukjizat Yesus mempunyai arti mesianis. Artinya, mukjizat-mukjizat Yesus mau menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias yang dinanti-nantikan. Mukjizat-mukjizat yang dikerjakan Yesus merupakan tanda dari Kerajaan Allah yang sudah dating. Melalui penyembuhan orang sakit dam pengusiran roh-roh jahat menjadi nyata bahwa zaman Mesias sudah dimulai. Hal inijuga menjadi jelas ketika Yohanes bertanya apakah Yesus adalah Mesias yang dinantikan. Yesus member jawaban dengan berkata: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang bisu mendengar, orang mati dibangkitkan, orang kusta menjadi tahir dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik”. (Mt 11:4-5)
4) Mukjizat-mukjizat Yesus menyatakan solidaritas Allah dengan manusia yang miskin dan menderita serta kerasukan roh jahat. Allah menyatakan diri setia kawan dengan orang yang sakit dan kerasukan setan. Dengan demikian, mukjizat Yesus juga menjadi tanda bahwa Yesus dating untuk menampakkan kebaikan hatiAllah, supaya yang menderita tidak menderita, supaya yang di bawah kuasa setan dibebaskan, dan yang sakit disembuhkan.
a. Yesus bergaul dengan semua orang (tanda cintanya yang universal)
Yesus dekat dengan semua orang, maka Ia juga sangat terbuka terhadap semua orang. Ia bergaul dengan semua orang. Ia tidak mengotak-ngotakan dan membuat kelas-kelas di antara manusia. Yesus tidak pernah hanya dekat dengan sekelompok orang dan menyingkirkan kelompok yang lainnya. Yesus akrab dengan semua orang, para rohaniwan (Yoh 7:42-52) dan penguasa, bahkan penjajah (Mrk 7:1-10) yang beritikad baik. Yesus pun akrab dengan para pegawai pajak yang korup (Lk 19:1-10), dengan wanita tuna susila (Lk 7:36-50) dan para penderita penyakit berbahaya yang dikucilkan. Pergaulan Yesus dengan orang-orang yang berdosa dan najis sering dipandang oleh kaum Farisi amat tidak sesuai dengan adat sopan santun dan peraturan agama yang berlaku pada saat itu.
b. Yesus membebaskan orang-orang dari beban legalisme
Yesus sering dikecam olehlawan-lawannya sebagai orang yang suka berpesta pora, suka makan dan minum, tidak berpuasa, dan tidak menghiraukan banyak ketentuan hukum Taurat lainnya.
Yesus memaklumkan bahwa Allah itu Pembebas. Allah ingin memungkinkan manusia mengembangkan diri secara lebih utuh dan penuh. Segala hukum, peraturan, dan perintah harus diabdikan kepada tujuan memerdekakan manusia. Maksud terdalam setiap hukum adalah membebaskan (atau menghindarkan) manusia dari segala sesuatu yang dapat menghalangi manusia berbuat baik. Begitu pula, tujuan hukum Taurat. Sikap Yesus terhadap hukum Taurat dapat diringkaskan dengan mengatakan bahwa Yesus selalu memandang hukum Taurat dalam terang hukum kasih. Yesus menolak hukum Taurat yang sudah dimanipulasi dan ditafsirkan secara keliru.
c. Yesus memanggil pengikut-pengikutnya
Untuk mewartakan Kerajaan Allah, Yesus memanggil dan mengutus murid-murid-Nya. Mereka dituntut memiliki keterlibatan yang radikal.
Orang-orang yang dipanggil Yesus harus:
1. Segera meninggalkan segala-galanya
2. Belajar dan hidup dekat dengan Yesus
3. Siap diutus
4. Siap menderita
2. Nilai –nilai duniawi dan nilai-nilai Kerajaan Allah
a. Uang, Harta dan Kerajaan Allah
1) Uang, harta, dan kekayaan pasti mempunyai nilai, maka kita harus beusaha untuk memilikinya. Namun, kita yang harus menguasai harta, bukan harta yang menguasai kita. Uang, harta, dan kekayaan tidak boleh dimutlakan, sehingga menghalangi kita untuk mencapai nilai-nilai yang lebihluhur, yakni Kerajaan Allah. Jika kita hanya terobsesi dan bernafsu untuk mengutamakan kekayaan, maka kita sudah mendewakan harta.
2) Nafsu (ambisi) untuk mengumpulkan uang dan kekayaan agaknya bertentangan dengan usaha mencari Kerajaan Allah. Betapa sulitnya orang kaya masuk dalam Kerajaan Allah, seperti halnya seekor unta masuk kedalam lubang jarum (bdk. Mrk 10:25). Maksudnya, Yesus mendorong agar tidak terbelenggu uang/harta dan kekayaan.
3) Yesus mendorong agar orang kaya memiliki semangat solidaritas terhadap orang miskin dan menderita dan suka membantu mereka dengan kekayaannya.Yang dituntut oleh Yesus bukan hanya sekedar derma, melainkan usaha nyata dari orang kaya untuk membebaskan orang dari kemiskinan dan penderitaan,
b. Kekuasaan dan Kerajaan Allah
Kekuasaan itu sangat bernilai. Namun, orang tidak boleh memutlakkannya sehinga usaha kita membangun Kerajaan Allah terhalang. Ada dua cara yang sangat berbeda dalam mengerti dan melaksanakan kekuasaan. Yang satu adalag penguasaan yang lain adalah pelayanan. Kekuasaan dalam Kerajaan Allah tidak mementingkan diri sendiri dan kelompoknya.
Kebanyakan pemimpin Yahudi (iman-iman kepala,tua-tua,ahli kitab, dan orang farisi) adalah penindas. Kekuasaan sering membuat mereka menguasai dan menindas orang lain (terlebih yang lemah) dengan memanipulasi hokum Taurat.
Yesus tidak menentang hokum Taurat sebagai hokum. Tetapi, Yesus menentang cara orang menggunakan hokum dan sikap mereka terhadap hokum. Para ahli kitab dan orang-orang farisi telah menjadikan hokum sebagai beban, padahal seharusnya merupakan pelayanan (bdk. Mat 23:4; Mrk 2:27). Yesus juga menolak setiap hokum dan penafsiran yang digunakan untuk menindasorang. Menurut Yesus, hokum harus berciri pelayanan, belas kasih, dan cinta. Dalam Kerajaan Allah, kekuasaan, wewenang, dan hukum melulu fungsional
c. Kehormatan/gengsi dan Kerajaan Allah
Kehormatan atau gengsi adalah nilai yang sangat dipertahankan orang. Gengsi dan kedudukan sering dianggap lebih penting daripada segala sesuatu. Orang akan memilih bunuh diri atau berkelahi sampai mati daripada kehilangan gengsi atau hara dirinya. Kedudukan dan Gengsi/harga diri sering didasarkan pada keturunan, kekayaan, kekuasaan, pendidikan, dan keutamaan. Akibatnya adanya gengsi dan kedudukan inilah masyarakat dapat terpecah-pecah di dalam kelompok-kelompok. Ada kelompok yang memiliki status social tinggi dan ada kelompok yang memiliki status social rendah. Sebenarnya, siapa saja yang begitu lekat pada gengsi dan harga diri tidak sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah yang dicanangkan oleh Yesus. Yesus mengatakan: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga(Allah)? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi anak kecil ini, kamu tidak akan masuk dalam Kerajaan Surga” (Mat 18;1-4). Anak adalah perumpamaan mengenai “kerendahan” sebagai lawan dari kebesaraan, status, gengsi, dan harga diri.
Ini tidak berarti hanya orang-orang dalam kelas tertentu yang akanditerima dalam Kerajaan Allah. Setiap orang dapat masuk ke dalamnya jika ia mau berubah dan menjadi seperti anak kecil (Mt 18:3), menjadikannya kecil seperti anak-anak kecil (Mt 18:4). Kerajaan yang diwartakan dan yang dikehendaki oleh Yesus adalah suatumasyarakat yang tidak membeda-bedakan manusia dalam status lebih rendah atau lebih tinggi. Setiap orang akan dicintai dan dihormati, bukan karena pendidikan, kekayaan, asal usul, kekuasaan, status, keutamaan, atau keberhasilan-keberhasilan lain, tetapi karena ia adalah pribadi yang diciptakan Allah sebagai citra-Nya.
d. Solidaritas dan Kerajaan Allah
Perbedaan pokok kerajaan dunia dan Kerajaan Allah bukan karena keduanya mempunyai bentuk solidaritas yang berbeda. Kerajaan dunia sering dilandaskan pada solidaritas kelompok yang eksklusif (suku, agama, ras, keluarga, dsb) dan demi kepentingan sendiri. Sedangkan Kerajaan Allah dilandasi solidaritas yang mencangkup semua umat manusia, “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesame manusia dan dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” Mt 5:43-44). Dalam kutipan ini, Yesus memperluas pengertian “saudara”. Saudara tidak hanya teman,tetapi juga mencangkup musuh:”Kasihanilah musuhmu, berbuat baiklah kepada orang yang membenci kamu, mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu, berdoalah bagi orang yang mencaci kamu”. (Lk 6:27-28). “Dan jika kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka” (Lk 6:32). Solidaritas kelompok (mengasihi orang yang mengasihi kamu) bukanlah solidaritas menurut Yesus.
SENGSARA DAN WAFAT YESUS
1. Latar belakang Yesus dijatuhi hukuman mati
a. Yesus ditangkap pada saat perayaan Paskah Yahudi, mereka menuju Yerusalem untuk merayakan Paskah.
b. Yesus disambut sebagai raja memasuki kota Yerusalem menimbulkan kecemburuan sosial bagi masyarakat Yahudi. Mereka berusaha menangkap Yesus.
c. Munculnya mesias-mesias palsu yang mengkacaukan faham mesianisme yang dinobuatkan oleh nabi Yesaya.
d. Para petinggi agama Yahudi yang merasa dibahayakan oleh Yesus yang ingin membersihkan Bait Allah
e. Yesus mengampuni orang berdoa, berkarya pada hari sabat yang dianggap menggojat Allah
2. Kisah sengsara dan kematian Yesus menurut Lukas. 22-23 dengan menonton film Yesus menurut Injil Lukas
a. Penangkapan Yesus di Taman Getsemani
b. Yesus diadili oleh Pengadilan Agama
c. Yesus diadili oleh Pengadilan Negeri / Pilatus
d. Yesus dibawa ke Herodes
e. Yesus dikembalikan ke Pilatus untuk diadili
f. Yesus memanggul salib dibantu oleh Simon dari Kirene
g. Yesus wafat dan dikuburkan
3. Makna kisah sengsara dan wafat Yesus
a. Sengsara dan wafat Yesus merupakan konsekwensi dari pewartaan-Nya tentang Kerajaan Allah.
b. Wafat Yesus sebagai tanda ketaatan dan kesetiaan-Nya kepada Allah Bapa
c. Kemaatian Yesus adalah tanda solidaritas-Nya dengan manusia.
d. Kematian Yesus untuk menebus dan menyelamatkan umat manusia.
4. Tanggapan dan reaksi orang atas sengsara dan wafat Yesus
a. Kasihan kepada Yesus seperti dialami oleh Maria, para rasul yang mengikuti Yesus sampai di kaki salib Yesus; putri-putri Yerusalem yang menangisi Yesus dalam perjalanan salib; Veronika yang mengusap wajah Yesus.
b. Kejam terhadap Yesus seperti dialami oleh para iman dan ahli taurat yang menjatuhkan hukuman mati pada Yesus; para algojo yang kejam menyiksa Yesus, mencambuk, menyesah, memukul, mengolok-olok Yesus.
c. Bertobat seperti yang dialami oleh Yudas Iskariot, Petrus, kepala pasukan dan para iman setelah melihat wafat Yesus yang luar biasa.
5. Tindakan-tindakan pengorbanan demi kebahagiaan orang lain
a. Para pahlawan yang mengorbankan diri, mempersembahkan jiwa dan raganya demii nusa dan bangsa.
b. Orang tua yang membanting tulang, mati-matian mendidik, membesarkan anak-anaknya.
Kebangkitan Dan Kenaikan Yesus Ke Surga
1. Makna Makam Kosong
Injil sebenarnya tidak menceritakan peristiwa kebangkitan Yesus. Tetapi hanya menceritakan kubur yang kosong dan penampakan-penampakan. Dalam iman kristiani makam kosong/kubur kosong sama sekali tidak berkata apa-apa tentang bagaimana dank arena apa menjadi kosong. Jadi kita harus berkesimpulan bahwa makam/kubur kosong bukanlah bukti kebangkitan Yesus. Dalam arti ini bisa ditemukan dalam perikop Injil Markus 16:8 yang mengatakan :
“Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun juga karena takut. Dengan singkat mereka sampaikan semua pesan itu kepada Petrus dan teman-temannya. Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-murid-Nya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu”.
Dari apa yang kita pelajari tentang makam/kubur kosong dapat disimpulkan bahwa apa yang hendak diwartakan oleh makam kosong adalah soal kebangkitan Kristus sebagai misteri penyelamatan. Makam kosong juga dapat diartikan “jangan mencari Dia (Kristus) yang hidup diantara orang mati”. Makam/kubur itu terbuka berarti duka cita dan kegelapan maut sudah diganti oleh suka cita dan terang kebangkitan.
2. Makna Penampakan Yesus
Arti penampakan Yesus selama 40 hari adalah :
· Pertama: Yesus memperkenalkan para murid dan seluruh GerejaNya dengan suatu cara kehadiran yang baru. Untuk tujuan lain lain , penampakan selama 40 hari merupakan suatu peralihan
· Kedua: dengan menampakkan diri kepada para murid. Yesus menunjukkan bahwa Ia selalu hadir juga kalau mereka tidak melihatNya melalui :
- sabdaNya
- tanda
- Roh KudusNya
- Jabatan kegembalaan Petrus dan kuasa apostolic untuk mengampuni dosa
3. Makna Kebangkitan bagi iman Kristen
1) Yesus sungguh telah bangkit
Mengenai keyakinan kita tentang kebangkitan Yesus Kristus dalam 1 Korintus 15:3-8 dikatakan :
“Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,
bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.
Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul.Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya”.
Dari perikope ini hendak mengemukakan suatu bukti historis yang meyakinkan. Adapun orang-orang pertama yang disebut Paulus adalah pertama-tama Petrus, kemudian 12 rasul , Yakobus kemudian semua rasul dan yang paling akhir adalah Paulus sendiri.
2) Makna kebangkitan Yesus bagi iman Kristen
Ø Kebangkitan Yesus mengesahkan dan melegitimasi apa yang telah dilakukan atau di ajarkanNya.
Ø Dengan kebangkitan Yesus, terpenuhilah janji-janji dalam perjanjian lama ( Luk. 24:26-27) dan janji Yesus sendiri selama hidupNya di dunia (Mat. 28:6)
Ø Kebangkitan Yesus menegaskankan tentang ke-Allahan Yesus
Ø Rahasia mempunyai 2 sisi yaitu : Dengan kematianNya, Yesus membebaskan kita dari belenggu dosa dan dengan kebangkitanNya pula Yesus membuka pintu masuk menuju kehidupan yang baru.
Ø Dan akhirnya kebangkitan Yesus adalah dasar utama iman kita akan kebangkitan yang akan dating.
3) Makna kenaikan Yesus ke surga
Dari sisi Teologi,kebangkitan Yesus dan kenaikan Yesus ke surga mau mengungkapkan kebenaran ini yang sama, yaitu bahwa Yesus telah dipermuliakan oleh Bapa sesudah Ia melaksanakan tugasNya di dunia ini.
Maka dapat juga dikatakan mengenai kebangkitan Yesus :
Ø Kenaikan Kristus ke surge menggambarkan langkah yang masih definitive dari kodrat manusia Yesus ke dalam kemuliaan Allah di surge
Ø Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja mendahului kita masuk ke dalam kerajaan Allah Bapa
Ø Karena Yesus sudah masuk ke dalam tempat yang Kudus di surga untuk selamanya maka misi pokok Yesus adalah : mewartakan dan memberikan kesaksian tentang Kerajaan Allah