1. Peranan tokoh idola bagi kaum remaja
Setiap orang pada umumnya memiliki tokoh idiola. Orang mencoba meniru kehidupan tokoh idolanya. Bahkan pakaiannya, dandanannya, tingkah lakunya, sikapnya dan sebgainya senantiasa ditiru. Orang ingin menjadi seperti sang tokoh. Kita memang membutuhkan tokoh idola untuk dapat kita jadikan panutan dalam kehidupan kita. Yesus menjadi idola remaja, menjadi panutan hidup kita dan kita mendengarkan ajarannya, mengagumi kepribadiannya dan meneladan tingkah lakunya.
a. Sikap dan ciri kepribadian Yesus sebagai sahabat sejati dan tokoh idola.
a. Yesus menyebut kamu ”sahabat” tertulis dalam Injil Yohanes 15:15
b. Yesus menuntut para murid untuk percaya
c. Yesus mempercayakan tugas-tugas penting kepada Petrus, walaupun Petrus telah menyangkal-Nya.
d. Yesus menuntut cinta pada sahabat-sahabatnya
e. Yesus dekat dengan sesama
f. Yesus sangat terbuka terhadap siapapun yang datang kepada-Nya
g. Yesus berani membela kebenaran dan keadilan secara konsekwen
h. Yesus adalah orang yang sungguh beriman
2. Yesus menerima semua orang terutama mereka yang tersingkir.
Pada zaman Yesus, para pemimpin agama Yahudi menganggap orang miskin, sakit dan berdosa, anak-anak dan kaum perempuan merupakan kelompok masyarakat kelas dua, oleh karena itu mereka tidak pernah diperhitungkan hak-haknya, baik dalam tatanan kemasyarakatan maupun keagamaan.
Berbeda dengan para pemimpin agama Yahudi yang menganggap kelompok orang-orang yang disebut tadi sebagai najis atau kotor; sebaliknya Yesus bergaul dan makan bersama dengan mereka. Yesus tidak memperlakukan orang berdasarkan status sosial atau kedudukan, melainkan berdasarkan kenyataan semua orang itu citra Allah. Kemiskinan membuat seseorang tidak mempunyai orang lain yang dapat diandalkan untuk menolong dan membela mereka, maka mereka hanya dapat mengandalkan Tuhan. Atas dasar ini, Yesus hadir di tengah mereka. Yesus menjadi andalan dan harapan, tempat mereka bergantung.
3. • Yesus berani mengkritik sikap para penguasa
Dalam himpitan para penguasa Romawi yang menjajah bangsanya, banyak pula para pemimpin lokal masyarakat Yahudi pada masa Yesus bertindak korup, menindas dan sewenang-wenang terhadap rakyatnya sendiri, seperti nampak dalam diri Herodes. Atas sikapnya itu, sampaisampai Yesus menyebut Raja Herodes sebagai serigala (lih. Luk 13:32). Banyak pula para penguasa mencari hormat dan gelar, mereka menyebut dirinya pelindung rakyat, padahal tindakannya justru sebaliknya (bdk Luk 22:25) Kenyataan ini memprihatinkan Yesus. Yesus justru memperjuangkan suatu tatanan masyarakat yang adil dan beradab. Menurut Yesus, hal itu hanya akan tercapai bila para penguasa menjalankan kepemimpinannya dengan sikap melayani. Kepada para murid-Nya, Yesus berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. “Tidaklah demikian di antara kamu. Barang siapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia
menjadi hamba untuk semuanya” (Mrk 10:43-44). Kritik pedas juga disampaikan Yesus kepada ahli-ahli Taurat, orangorang Farisi, dan kaum munafik, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kaum munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih yang sebelah luarnya memang tampak bersih, tetapi sebelah dalamnya penuh dengan tulang belulang dan berbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh dengan kemunafikan dan kedurjanaan” (Mat 23:27-28).
Keberanian sikap Yesus tersebut tidak bisa diartikan seolah-olah Yesus anti penguasa. Ia justru mendorong orang-orang untuk tetap melaksanakan kewajiban kepada para penguasa. Tetapi pelaksanaan hak kepada penguasa tersebut jangan sampai melalaikan dan mengalahkan kewajiban pada Allah. “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22:21). Jadi, yang dikritik Yesus bukanlah
kekuasaannya, melainkan cara dan sikap orang dalam menjalankan kekuasaan. Kekuasaan seharusnya semakin menyejahterakan rakyat dan semakin mendekatkan manusia pada Allah.
4. • Yesus mengutamakan kasih dalam menjalankan aturan agama
Bahaya terbesar dalam hidup beragama antara lain, ketika orang hanya menjalankan agama berdasarkan aturan secara membabi buta, atau berdasarkan penafsiran aturan keagamaan menurut kemauan diri sendiri tanpa peduli nilai-nilai kebenaran yang hakiki. Bila itu yang terjadi, maka yang muncul adalah fanatisme sempit yang disertai dengan sikap merasa diri paling benar dan paling baik, sementara yang berbeda itu salah dan perlu dimusuhi dan dimusnahkan. Fanatisme sempit itu sangat kentara pada diri para pemimpin agama Yahudi, terutama orangorang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Sikap Yesus sangat bertolak belakang dengan sikap para pemimpin agama Yahudi. Bagi Yesus aturan keagamaan itu penting sejauh aturan itu membantu manusia untuk mencapai keselamatan seutuh-utuhnya. Yesus sangat menghormati hukum Taurat, terlebih menerapkannya secara benar. “Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan Hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17). Yesus datang untuk menyempurnakan dan menunjukkan kebenaran hakiki dari isi Hukum Taurat. Hal tersebut tampak dalam sikap kristisnya terhadap ajaranjaran dalam Taurat, misalnya soal membunuh (Mat 5:21-22), soal mempersembahkan persembahan (Mat 5:23-24), soal zinah (Mat 5:27- 30), soal perceraian (Mat 5:31-32), soal membalas dendam (Mat 5:38-42), soal kasih kepada musuh (Mat 5:43-48) dan sebagainya.
5. • Yesus adalah pribadi yang beriman
Orang yang beriman bukanlah orang yang mempunyai pengetahuan yang cukup tentang Allah. Orang beriman adalah orang yang percaya akan Allah dan senantiasa membangun relasi dengan-Nya serta yang hidupnya sepenuhnya mau diatur dan dirajai oleh kehendak Allah dalam ketaatan yang penuh, tanpa tedeng aling-aling. Orang beriman adalah orang yang mau melakukan apa saja yang dikehendaki Allah sekalipun seringkali kehendak Allah itu tidak sama dengan kehendak dirinya
sebagai manusia. Pengertian beriman seperti di atas sangat nampak dalam diri Yesus Kristus. Yesus mempunyai relasi yang erat dengan Allah Bapa, dan relasi itu diupayakan antara lain dengan doa dalam setiap saat hidupNya. Ia berdoa saat sedang dibaptis (Luk 3:21), Ia berdoa pagi-pagi benar waktu hari masih gelap (Mrk. 1:35). Ia rehat dari pekerjaan-Nya untuk berdoa (Mrk 6:46, Luk 5:16). Ia berdoa juga pada malam hari (Luk 6:12),Ia berdoa seorang diri saja (Luk 9:18), kadang-kadang ia mengajak para murid menemani-Nya berdoa (Luk 9:28). Ia tidak hanya berdoa untuk diri sendiri, melainkan sering mendoakan murid-Nya dan semua manusia (Yoh.17:20) Beriman berarti menyerahkan seluruh hidup secara tolak dan sadar untuk melakukan kehendak Bapa. Yesus berkata: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-
Nya”. Yoh 4:34.. Ia melupakan keinginan sendiri demi Bapa: “Bapa, kalau boleh jauhkanlah dari pada-Ku penderitaan yang harus Aku alami ini, tetapi jangan menurut kemauanKu, melainkan menurut kemauan Bapa saja” (10k.Luk 22:42). Dan pada akhirnya menyerahkan seluruh jiwa raga kepada Bapa. Pada saat wafat-Nya Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. Luk 23:46
YESUS PUTRA ALLAH DAN JURU SELAMAT
Gelar-gelar Yesus
Dalam kehidupan masyarakat kita, kita juga kerap menjumpai berbagai “gelar” yang diberikan kepada seseorang. Misalnya: Gelar Penegak hukum, bapak pembangunan, guru tealdan, abdi rakyat, pelayan masyarakat, wakil rakyat dan sebagainya. Demikian juga di dalam masyarakat Yahudi (zaman Yesus), banyak nama-nama Gelar yang diberikan kepada seseorang.
Dalam Kitab Suci, khususnya Kitab Suci Perjanjian Baru, Yesus memiliki banyak gelar. Tetapi dalam Diktat ini kita hanya akan membahas gelar Yesus sebagai: “Tuhan”, Anak Allah”, dan “Juru Selamat”.
a. Yesus itu Tuhan.
Gelar Yesus sebagai “Tuhan” dibandingkan dengan gelar-gelar yang lain merupakan gelar yang paling terkenal
1. Gelar “Tuhan” menunjukkan kedudukan dan paranan Yesus sebagai tokoh yang diurapi Allah. (Lk 2:11) yang mewakili mibawa mulia.
2. Gelar “Tuhan” dikaitkan dengan peranan Yesus sebagai Penyelamat manusia. (2 Ptr 1:11). Wiobawa sebagai Tuhan bukan untuk menghnacurkan, melainkan untuk menyelamatkan. Yesus memiliki kuasa untuk menyelamatkan.
3. Gelar “Tuhan” erat sekali hubungannya dengan Tuhan yang akan datang kembali dengan kemuliaan-Nya.
4. Gelar “Tuhan” adalah gelar yang sarat dengan wibawa atau kekuasaan Yesus. Anak manusia adalah Tuhan atas hari Sabat (Mrk 2:28).
5. Gelar “Tuhan” teristimewa adalah seruan doa dan ibadat. Dalam doa, orang Kristen menyapa Yesus sebagai Tuhan, Yesus adalah satu-satunya Junjungan ( 1Kor 8:5).
6. Seruan “Yesus Tuhan” adalah seruan iman. Kepercayaan khas orang Kristen adalah kepercayaan akan Yesus,Kristus, Tuhan (Rm 10:9). Roh Kuduslah yang mengantar orang sampai pada pengakuan bahwa Yesuslah Tuhan (1 Kor 12:3).
b. Yesus Adalah Anak Allah
Makna gelar Yesus sebagai Anak Allah menurut Kitab Suci adalah sebagai berikut:
1. Gelar “Anak Allah” menunjukkan hubungan khas antara Yesus dan Allah. Tidak ada hubungan yang begituerat dan mesra seperti Yesus dan Allah.
2. Gelar “Anak Allah” juga menunjukkan bahwa antara Yesus dan Bapa berbeda. Kendati hubungan erat dan mesra, namun Yesus tidak “pernah “sama dengan Allah Bapa. Allah Bapa berbeda dengan Yesus sang Anak (Yoh 14:28). Anak dan Bapa memiliki peranan yang berbeda.
3. Gelar “Anak Allah” menunjukkan hubungan antara Bapa dan Anak adalah hubungan istimewa dalam segi “ketaatan”. Anak taat sempurna terhadap Allah Bapa-Nya (Yoh 4:34)
4. Gelar “Anak Allah” juga menunjukkan pengetahuan-Nya yang istimewa tentang Allah. Hanya Anaklah yang mengerti Bapa dengan baik (Mt 11:27).
5. Gelar “Anak Allah” juga memperlihatkan “kewibawaan Yesus”. Yesus adalah Anak Allah yang berwibawa.
c. Yesus adalah Juru Selamat
Yesus dating untuk menggapai dambaan manusia yang paling mendalam yaitu keselamatannya sebagai manusia paripurna. Oleh karena itu, Yesus diberi gelar “Juru Selamat” atau “Penyelamat” (Mt 1:21).
1. Yesus dating untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Tidak ada nama lain yang begitu erat dihubungkan dengan keselamatan (Kis 4:12). Siapa yang menyerukan nama-Nya akan selamat (Kis 2:21)
2. Keselamatan yang dibawa Yesus erat hubungannya dengan kasih karunia Allah (Kis 15:11)
3. Keselamatan Kristen dihubungkan dengan hidup dan perjuangan Yesus Kristus. Hidup dan perjuangan Yesus ialah mendekatkan hubungan manusia dan Allah (Rm 5:10)
4. Keselamatan itu berkembang dalam pewartaan (Yak 1:21),. Seperti biji yang ditaburkan,. Sabda keselamatan tumbuh dan membawa buah (Mt 13:1-9)
5. Keselamatan dalam Gereja terlaksana secara sacramental. Baptis, misalnya, adalah tanda iman dan tawaran keselamatan.
Yesus sebagai Juru Selamat datang untuk menolong manusia karena manusia tidak dapat menolong dirinya sendiri di hadirat Allah.
Makna Gelar-Gelar Yesus Bagi Kita
Umat Kristen mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan, Anak Allah, dan Juru Selamat. Apa makna gelar-gelar Yesus tersebut bagi kehidupan kita sebagai umat Kristen?
a. Umat Kristiani mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan.
1. Kita menjadikan Yesus sebagai pimpinan atau junjungan yang mengarahkan hidup kiota. Hidup kita setiap hari ada di dalam pimpinan-Nya.
2. Kita menjadikan kata-kata Yesus sebagai kata terakhir, sebab kata-kata-Nya adalah sabda Tuhan. Kata-kata-Nya adalah ukuran terakhir dan tertinggi.
3. Pengakuan kita terhadap Yesus merupakan pengakuan iman yang merupakan semboyan perjuangan sampai tuntas. Yesus Tuhan dulu dan sekarang. Pengakuan ini adalah suatu sikap penyerahan diri kepada-Nya dengan segala resiko.
b. Umat Kristiani mengakuai bahwa Yesus adalah Anak Allah
Jika kita mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah, maka itu berarti:
1. Yesus merupakan teladan bagikita dalam hal ketaatan kepada kehendak Allah daripada kehendak ketaatan kepada diri sendiri.
2. Yesus adalah pribadi yang menampilkan wibawa dan pesona Ilahi. Orang yang berhadapan dengan Yesus berarti berhadapan dengan wibawa dan pesona Ilahi itu.
3. Yesus dekat dengan Allah yang tersuci dan pantas dihormati. Sebutan ini menumbuhkan rasa devosi dan penyerahan diri.
c. Umat Kristiani mengakui bahwa Yesus adalah Juru Selamat., maka itu berarti:
1. Kita bersedia mengikut-Nya dan bersedia dibaptis sebagai tanda iman akan tawaran keselamatan dari Yesus.
2. Kita menjadikan Yesus penolong untuk sampai kepada Allah, karena kita tidak dapat menolong diri kita sendiri di hadirat Allah.
3. Kita percaya bahwa Yesus telah membebaskan kita dari dosa dan maut; percaya bahwa kita adalah orang-orang yang telah diselamatkan. Untuk menunjukkan diri sebagai orang yang telah diselamatkan, kita hidup sesuai dengan firman-Nya