BAB 3
macam-macam syu’abul (cabang) iman
macam-macam syu’abul (cabang) iman
C. MACAM MACAM SYU'ABUL IMAN :
Terdapat beberapa ahli hadis yang menulis risalah mengenai syu’abul iman atau cabang-cabang iman. Diantara para ahli hadis tersebut adalah:
a.) Imam Baihaqi RA yang menuliskan kitab Syu’bul Iman;
b.) Abu Abdilah Halimi RA dalam kitab Fawaidul Minhaj;
c.) Syeikh Abdul Jalil RA dalam kitab Syu’bul Iman;
d.) Imam Abu Hatim RA dalam kitab Washful Iman wa Syu’buhu
Para ahli hadis ini menjelaskan dan merangkum 77 (tujuh puluh tujuh) cabang keimanan tersebut menjadi 3 (tiga) kategori atau golongan berdasarkan pada hadis Ibnu Majah dan Thabrani RA berikut ini:
الإيمانُ عقدٌ بالقلبِ، وإقرارٌ باللسانِ، وعملٌ بالأركانِ
Artinya: iman adalah tambatan hati, ucapan lisan dan perwujudan perbuatan Dengan kata lain, dimensi dari keimanan itu menyangkut tiga ranah yaitu:
a.) ‘Tashdiqun bil qalbi yaitu meyakini dengan hati
b.) Igrarun bil lisan yaitu diucapkan dengan lisan
c.) ‘Amalun bil arkan yaitu mengamalkannya dengan perbuatan anggota badan.
Dari pengelompokan berdasarkan dimensi keimanan tersebut, maka syu’abul iman di bagi menjadi 3 (tiga) bagian yang meliputi:
a.) Niat, akidah dan hati
b.) Lisan/ ucapan
c.) Seluruh anggota badan
Adapun pembagian 77 (tujuh puluh tujuh) cabang keimanan berdasarkan pengelompokan pengelompokan tersebut adalah sebagai berikut:
1.) Cabang iman yang berkaitan dengan niat, aqidah dan hati.
Pembahasan tentang iman tentu tidak bisa lepas dari pembahasan tentang keyakinan. Orientasi tentang pembahasan iman ini dititikberatkan pada jiwa atau hati, karena pusat dari keyakinan seseorang adalah hati. Orang yang beriman yaitu orang yang didalam hatinya, di setiap ucapannya dan pada segala tindakannya adalah sama, sehingga dapat diartikan bahwa orang yang beriman adalah orang yang jujur, memiliki prinsip, pandangan dan sikap hidup yang teguh.
Dengan demikian, yang dimaksudkan dengan iman yang sejati adalah iman dengan keyakinan penuh yang terpatri didalam hati. Tidak ada perasaan ragu sedikitpun serta akan selalu mempengaruhi orientasi dan arah kehidupan. Sikap hidup dan aktivitas dalam kehidupan. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Swt. dalam QS. Ibrahim/14: 27 berikut ini: َ
ثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ وَيُضِلُّ اللّٰهُ الظّٰلِمِيْنَۗ وَيَفْعَلُ اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُ
Artinya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh. (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalım dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka pengelompokan cabangcabang iman yang termasuk dalam kelompok niat aqidah dan hati terdiri dari 30 (tiga puluh) hal adalah sebagai berikut
1. Iman kepada Allah Swt.
2. Iman kepada malaikat Allah Swt.
3. Iman kepada kitab-kitab Allah Swt.
4. Iman kepada rasul rasul Allah Swt.
5. Iman kepada takdir baik dan takdir buruk Allah Swt
6. Iman kepada hari akhir
7. Iman kepada kebangkitan setelah kematian
8. Iman bahwa manusia akan dikumpulkan di Yaumul ahsvar setelah hari kebangkitan
9. Iman bahwa orang mukmin akan tinggal di surga, dan orang kafir akan tinggal di neraka
10. Mencintai Allah Swt.
11. Mencintai dan membenci karena Allah Swt.
12. Mencintai Rasulullah Saw dan vang memuliakannya
13. Ikhlas, tidak riya dari menjauhi sifat munafiq
14. Bertaubat, menyesal dan jang tidak akan mengulang suatu perbuatan dosa
15. Takut kepada Allah SWT
16. Selalu mengharapkan rahmat Allah Swt
17. Tidak berputus asa darı rahmat Allah Swt.
18. Syukur nikmat
19. Menunaikan amanah
20. Sabar
21. Tawadlu dan menghormati yang lebih tua.
22. Kasih sayang termasuk mencintai anak-anak kecil.
23. Ridla dengan takdir Allah SWT
24. Tawakkal.
25. Meninggalkan sifat takabur dan menyombongkan diri
26. Tidak dengki dan iri hati.
27. Rasa malu.
28. Tidak mudah marah.
29. Tidak menipu,tidak su’udzon dan tidak merencanakan keburukan kepada siapapun.
30. Meninggalkan kecintaan kepada dunia,termasuk cinta harta dan jabatan.
2.) Cabang Iman yang Berkaitan dengan Lisan
Islam mengajarkan kepada setiap muslim untuk menjaga lisan, agar lisan senantiasa dipergunakan untuk sesuatu yang baik dan tidak bertentangan dengan kehendak Allah Swt.
Tentang hal tersebut, Rasulullah Saw. Bersabda: “Lisan orang yang berakal, muncul dari balık hati nuraninya, selungga ketika ia hendak berbicara, terlebih dahulu ia akan kembali ke hati nuraninya. Apabila (pembicaraannya) bermanfaat baginya, maka ia berbicara, dan apabila dapat berbahaya, maka ia menahan dii. Sementara hati orang bodoh terletak pada mulutnya dan ia berbicara apa saja sesuai yang ta kehendaki” (HR. Bukhari-Muslim)
Oleh karena itulah, pada syu’abul iman, berdasarkan pengelompokan para Ahli hadis sebagaimana disebutkan sebelumnya, impla pentası ıman akan termaruvestasikan dalam hal-hal yang konkrit dari ranah igrarun bil lisan yang terdiri dari 7 (tujuh) cabang keimanan sebagai berikut:
a.) Membaca kalimat thayyibah (laa ilaha illa Allah) Cek QS. Ibrahim
b.) Membaca kitab suci al-qur an
c.) Belajar dan menuntut ilmu
d.) Mengajarkan ilmu kepada orang lain
e.) Berdoa
f.) Dzikir kepada Allah Swt. Termasuk istighfar
g.) Menghindari bacaan yang sia-sia
3.) Cabang iman yang berhubungan dengan perbuatan dan anggota badan
Iman adalah sesuatu yang abstrak dan sangat sulit untuk di ukur. Iman bukan saja sekedar terucapnya pengakuan seseorang melalui lisan yang mengatakan bahwa ia beriman, karena bisa saja orang munafik memproklamirkan keimanannya, namun hatinya mengingkari apa yang ia katakan.
Iman juga bukan sebatas pengetahuan tentang makna dan hakikat keimanan itu sendiri. Sebab tidak sedikit orang yang mampu memahami hakikat iman, namun ia mengingkarinya.
Iman bukanlah sekedar amalan yang secara lahiriah menunjukkan kesan dan penampilan seolah-olah seseorang begitu beriman. Sebab orang-orang munafik pun tidak sedikit yang secara penampilan lahiriyah mempertontonkan rajin beribadah dan berbuat baik, sedangkan terdapat pertentangan dan kontradiksi dalam batin mereka, karena apa yang diperbuatnya tidak didasari oleh ketulusan untuk menggapai ridla Allah Swt. Lain di mulut lain pula di hati.
Sebagaimana dijelaskan dalam QS. an-Nisa/4: 142 sebagi berikut.
نَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ ١٤٢
Artinya: Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingın dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.
Sebaliknya, orang yang beriman akan selalu memandang bahwa ketetapan Allah Swt. adalah yang utama. Jika dihadapkan pada persoalan-persoalan riuh dalam kehidupan, tanpa berat hati, berpura-pura dan pamrih untuk mendapatkan kesan baik dihadapan manusia, maka ia akan menentukan pilihan yang mendahulukan ketauhidan didalamnya.
Oleh karena itulah dalam syu'abul iman, para ulama telah memilah sebanyak 40 (empat puluh) cabang dari dimensi perbuatan yang mencerminkan konkritnya keimanan seseorang. Semakin baik kualitas iman seseorang, maka akan semakin baik pula perilaku dan perbuatan mereka dalam kehidupan sehari-harı, begitupun sebaliknya.Dan ke 40 (empat puluh) cabang iman dalam dimensi perbuatan tersebut, antara lain adalah:
1.) Bersuci atau thaharah termasuk didalamnya kesucian badan, pakaian dan tempat tinggal
2.) Menegakkan shalat baik salat fardlu, salat sunah maupun mengqadla salat
3.) Bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim, membayar zakat fitrah dan zakat mal, memuliakan tamu serta membebaskan budak.
4.) Menjalankan puasa wajib dan sunah
5.) Melaksanakan haji bagi yang mampu
6.) Beritikaf didalam masjid. Termasuk diantaranya adalah mencari lailatul qadar Beberapa waktu tertentu
7.) Menyempurnakan dan menunaikan nazar
8.) Menyempurnakan dan menunaikan sumpah
9.) Menyempurnakan dan menunaikan kafarat
10.) Menutup aurat ketika sedang salat maupun ketika tidak salat
11.) Melaksanakan kurban
12.) Mengurus perawatan jenazah
13.) Menunaikan dan membayar hutang
14.) Meluruskan muamalah dan menghindari riba
15.) Melurukan muamalah dan menghindari riba
16.) Menjadi saksi yang adil dan tidak menutupi kebenaran
17.) Menikah untuk menghindarkan diri dari perbuatan keji dan haram
18) Menunaikan hal keluarga, dan sanak kerabat serta hak hamba sahaya
19.) Berbakti dan menunaikan hak orang tua
20.) Mendidik anak-anak dengan pola asuh dan pola didik yang baik
21.) Menjalin silaturahmi
22.) Taat dan patuh kepada orang tua atau yang dituakan aslam agama
23.) Menegakkan pemerintahan yang adil
24.) Mendukung seseorang yang bergerak dalam kebenaran
25.) Menaati hakim (pemerintah) dengan catatan tidak melanggar syariat
26.) Memperbaiki hubungan muamalah dengan sesama
27.) Menolong orang lain dalam kebaikan
28.) Amar ma’ruf nahi munkar
29.) Menegakkan hukum Islam
30) Berjihad mempertahankan wilayah perbatasan 31) Menunaikan amanah termasuk mengeluarkan 1/5 harta rampasan perang
32) Memberi dan membayar hutang
33) Memberikan hak-hak tetangga dan memuliakannya
34) Mencari harta dengan cara yang halal
35) Menyedekahkan harta , termasuk juga menghindari sifat boros dan kikir
36) Memberi dan menjawab salam
37) Mendoakan orang yang bersin
38) Menghindari perbuatan yang merugikan dan menyusahkan orang lain
39) Menghindari permainan dan senda gurau
40) Menyingkirkan benda-benda yang mengganggu di jalan
perhatikan video di bawah ini