A. PENGANTAR BERPIKIR KRITIS
Dalam revolusi industri 4.0, setidaknya ada lima teknologi yang menjadi pilar utama dalam mengembangkan sebuah industn siap digital, yaitu Internet of Things, Big Data, Artificial Intelligence, Cloud Computing, dan Additive Manufacturing. Untuk dapat terlibat dalam revolusi industri 4.0, memiliki kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu kunci untuk sukses. Namun, apa sih berpikir kritis itu?
A. Berpikir Kritis
1. Pengertian Berpikir Kritis
Robert filsuf Amerika yang dianggap sebagai tokoh terkemuka pemikiran kritis, menyimpulkan bahwa berpikir kritis merupakan penalaran mengenai keyakinan dan tindakan yang masuk akal dan berfokus pada memutuskan apa yang dipercayai atau dilakukan. Sementara itu, Michael Scriven, profesor ahli ilmu perilaku dan organisasional yang berasal dari Claremont Graduate University, mengungkapkan bahwa berpikir kritis merupakan proses disiplin intelektual untuk secara aktif dan terampil membuat konsep, menerapkan, menganalisis, menyintesis, dan/atau mengevaluasi informasi.
Sehingga dapat disimpulkan bawah berpikir kritis adalah suatu kemampuan untuk berpikir dengan rasional yang bertujuan untuk menyelesaikan suatu masalah.
2. Manfaat Berpikir Kritis
Melihat Masalah dari Berbagai Perspektif
Bisa Diandalkan
Mandiri dalam Menghadapi Persoalan
Menemukan ide dan Peluang Baru
Berpikir Jarnih dan Rasional
Kemampuan Adaptasi Meningkat
Keterampilan Bahasa dan Presentasi Meningkat
Kreativitas Meningkat
Mengembangkan Diri
3. Cara Berpikir Kritis
Berlatih berpikir kritis memerlukan waktu, kesabaran, konsisten, dan terus berlatih. Langkah-langkah melatih berpikir kritis sebagai berikut.
a. Mengidentifikasi Permasalahan atau Pertanyaan.
Mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi secara baik dan tepat. Jika dapat menganalisis dengan baik dan tepat, makin mudah dalam menemukan solusi dan jawaban.
b. Kumpulkan Data, Pendapat, dan Argumen.
Mencari data beberapa sumber yang menyampaikan hal-hal yang berbeda dan sudut pandang yang berbeda pula.
c. Menganalisis dan Evaluasi Data yang Terkumpul.
Sumber yang digunakan valid dan bisa dipertanggungjawabkan.
d. Mengidentifikasi Data yang Ditemukan dengan Asumsi.
Jika sumber yang digunakan bias. Hal ini akan menyebabkan Anda untuk berpikir dua kali.
e. Menentukan Hal-Hal yang Signifikan.
Hal yang paling penting atau jawaban yang ditemukan sudah cukup dan yang pasti apakah jawaban yang ditemukan relevan dengan masalah yang sedang dihadapi.
f. Membuat Keputusan untuk Mencapai Kesimpulan.
Mengidentifikasi berperapa kesimpulan yang ada dan tentukan yang paling mendukung
g. Menggunakan Buah Pikir.
Setelah sampai pada kesimpulan, dapat menggunakan hasil dari pikiran untuk bisa memecahkan masalah.
4. Karakteristik Perilaku Bernalar Kritis
a. Konseptual
Memecahkan suatu masalah menggunakan konsep yang telah dimilki berdasarkan hasil penilaiannya selama ini.
b. Rasional
Perilaku yang selalu berpikir berdasarkan fakta-fakta.
c. Reflektif
Berpikir dengan mengumpulkan data, kemudian dianalisis berdasarkan teori yang ada.
d. Mandiri Berpikir
Bisa mengambil keputusan sendiri.
e. Berpikir Terbuka
Mau menerima perbedaan, ia tidak menghakimi tanpa fakta yang mendasar.
f. Yakin Mengambil Keputusan
Dengan mengolah informasi secara mendalam berdasarkan fakta-fakta yang didapatkan, mereka dapat yakin dalam mengambil keputusan.
5. Pengambilan Keputusan
Teori pengambilan keputusan merupakan ilmu yang mempelajari tentang cara memilih alternatif yang tepat dan akan dijadikan sebuah keputusan dan berhubungan dengan perilaku seseorang dalam memutuskan sesuatu. Adapun bias-bias dalam pengambilan keputusan, sebagai berikut;
a. Confirmation Bias
Bias konfirmasi (confirmation bias) kerap terjadi saat menginterpretasikan sebuah kejadian untuk mendukung kesimpulan sebelumnya. Dalam banyak kasus, sebaiknya meninjau ulang semua sumber informasi sebelum membuat keputusan yang tepat.
b. Bias Blind Spot
Bias blind spot terjadi ketika seseorang tidak menyadari bahwa mereka memiliki bias atau pandangan yang ambigu.
c. Projection Bias
Projection bias menunjukkan penlaku pemimpin memberikan apresiasi berlebihan pada tim yang sependapat dengannya.
Adapun cara untuk menghindarinya, yaitu:
Identifikasi keputusan yang akan diambil
Mengumpulkan informasi dan data pendukung
Membuat alternatif pilihan
Menimbang informasi yang diperoleh
Tentukan pilihan dari berbagai alternatif yang ada
Menjalankan keputusan efektif
Review dan evaluasi keputusan yang diambil
B. Kajian Kritis Penerapan Informatika di Bidang Pertanian
Informatika dalam bidang pertanian adalah pemanfaatan teknologi dan data untuk mengelola lahan pertanian secara efisien.
1. Pentingnya Penerapan Informatika di Bidang Pertanian
Penerapan teknologi informasi dan komunikasi melalui jaringan, jasa, dan aplikasi di bidang pertanian bertujuan untuk membantu para pelaku sektor pertanian dalam mengambil keputusan dan memanfaatkan sumber daya.
Petani memiliki akses terhadap informasi harga komoditas di pasaran yang akurat dan transparan. Pemahaman yang kuat terhadap dinamika harga komoditas pertanian dapat membantu para petani untuk menentukan harga jual di tingkat produsen secara lebih terukur. Kehadiran teknologi digital dapat meningkatkan pengetahuan teknis petani, memungkinkan perhitungan penggunaan pupuk, bibit, atau input pertanian lain secara efisien.
2. Penggunaan Informatika pada Bidang Pertanian
Beberapa masyarakat telah menggunakan teknologi pertanian berbasis IoT (Internet of Things) yang dapat digunakan untuk meringankan pekerjaan masyarakat. Berikut beberapa contohnya
a. Smart Greenhouse.
Smart greenhouse akan membantu para petani dengan menggunakan sensor lingkungan agar bisa merawat tanaman dengan mudah. Tujuannya agar hasil pertanian bisa menjadi lebih efektif dengan hasil yang maksimal. Selain itu terdapat fitur yang bisa memonitor dan mengatur suhu, kelembaban, perairan.
Smart greenhouse dapat dikendalikan jarak jauh dengan handphone Android, tablet atau laptop. Adanya pengembangan smart greenhouse di lingkungan masyarakat diharapkan dapat memberikan tingkat produktivitas yang optimal dengan dukungan teknologi yang dapat dikendalikan secara otomatis berdasarkan sensor.
b. Agricultural Drone.
UAV atau Unnamed Aerial Vehicle merupakan sebuah drone yang dapat manfaatkan di bidang pertanian yang digunakan untuk memetakan kondisi pertanian. Beberapa hal yang bisa kamu petakan dengan menggunakan alat ini yaitu seperti kondisi tanaman, pelacakan hewan, hingga irigasi. Petani juga dapat memanfaatkan alat ini untuk menyemprotkan pestisida maupun pupuk.
Akan tetapi, penggunaan drone pada pertanian membutuhkan orang yang kompeten. Artinya, jika ingin memanfaatkan alat ini, harus tahu cara mengoperasikannya dan mempelajarinya terlebih dahulu.
c. Pengelolaan Irigasi.
Hadirnya teknologi Internet of Things dapat membantu petani untuk mengontrol pengairan atau irigasi. Dapat memanfaatkan alat tersebut sebagai kegiatan monitoring irigasi. Untuk itu, petani dapat menjaga dan merawat tanaman menjadi lebih optimal.
d. Aplikasi Seluler Pertanian Saat ini banyak seluler yang digunakan.
Untuk pengembangan pertanian. Hadirnya aplikasi tersebut akan menambah wawasan bagi para petani untuk meningkatkan kualitas dan hasil pertanian. Dengan dibuatkannya aplikasi pertanian di indonesia tentu yang demikian tersebut membuat para petani bisa menjual hasil taninya lebih mudah.
3. Kekurangan Informatika di Bidang Pertanian
Di era Revolusi Industri 40, petani dituntut untuk memanfaatkan teknologi digital dalam mengelola usaha tani. Namun, akses terhadap teknologi yang terbatas dan minimnya pengetahuan menyebabkan petani sulit untuk menyesuaikan diri dengan teknologi yang ada. Kendala dalam pengaksesan teknologi tersebut sebagai berikut.
a. Kendala Biaya yang Mahal
b. Kurangnya Kapabilitas Petani untuk Memanfaatkan Teknologi
4. Dampak Informatika di Bidang Pertanian
Perkembangan informatika membuat kegiatan manusia berhubungan dengan teknologi dan serba memberikan kemudahan. Namun, dalam proses perkembangan dan kemajuan informatika di bidang pertanian ternyata memberikan pengaruh serta dampak positif dan negatif. Berikut ini dampak positif dan dampak negatif informatika di bidang pertanian.
a. Dampak Positif Informatika di Bidang Pertanian:
1) Berbagai aplikasi penjualan
2) Mempermudah kerja petani
3) Berbagai riset dilakukan untuk meningkatkan kualitas pertanian
4) Dapat menemukan bibit yang berkualitas
5) Produktivitas hasil pertanian akan meningkat
b. Dampak Negatif Informatika di Bidang Pertanian:
1) Berkurangnya tenaga petani
2) Penggunaan pupuk kimia dan obat-obatan
3) Hilangnya generasi petani
4) Membuat petani mengalami ketergantungan
5) Banyak lahan petani dijual untuk bangun pabrik