Melalui kegiatan mengamati video pembelajaran, materi, contoh soal, latihan dan evaluasi secara mandiri diharapkan peserta didik mampu :
1. Menyatakan pecahan dari suatu gambar dengan tepat
2. Membandingkan bilangan pecahan menggunakan tanda pertidaksamaan dengan tepat
3. Melakukan proses operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan dengan tepat dan benar
4. Melakukan proses operasi perkalian dan pembagian bilangan pecahan dengan tepat dan benar
5. Melakukan proses perhitungan dengan kombinasi empat operasi (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian) pada pecahan dengan benar.
Kata pecahan berasal dari bahasa Latin “fractio” yang berarti memecahkan atau pecahan. Bangsa Mesir pada tahun 1800 SM menuliskan sistem bilangan berbasis 10 dengan hieroglip. Bangsa mesir menulis pecahan dengan menuliskan 1 sebagai pembilang. Gambar mulut ditempatkan di atas bilangan sebagai bagian dari suatu pecahan. Pecahan lain dinyatakan sebagai penjumlahan dari dua pecahan, tetapi tidak diperbolehkan mengulang suatu pecahan.
Sistem bilangan Mesir ini sulit untuk menyatakan pecahan dalam bentuk penjumlahan. Untuk mengatasinya bangsa Mesir menyediakan tabel-tabel untuk mengetahui bentuk penulisannya. Bangsa Romawi kuno menyatakan pecahan sebagai suatu bagian dari keseluruhan dengan menggunakan kata-kata. Mereka menggunakan sebuah satuan berat yang disebut “as”. Salah satunya “as” yang digunakan adalah 12 uncia, sehingga pecahan merupakan seperduabelas.
Bangsa Babylonia juga mengembangkan sistem bilangan pecahan yang tidak mudah dituliskan. Baru pada sekitar 500M bangsa India mengembangkan sistem bilangan yang disebut brahmi, yang memiliki sembilan simbol dan nol. Karena terjadi perdagangan dengan bagsa Arab, maka numerasinya tersebar hingga di Arab pada masa yang sama menyatakan bilangan-bilangan brahmi seperti yang dikenal sekarang.
sumber : https://nrich.maths.org/2515