*BULETIN AN NAMIROH*
๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ
==================
*SARUNG, JUBAH, KOKO, & CELANA*
Dalam beragama, akulturasi budaya sering terjadi di Indonesia. Salah satunya berbentuk pakaian (baju). Redaksi _BULETIN AN NAMIROH_ menemukan empat pakaian hasil akulturasi budaya yg sering dipakai orang Indonesia untuk ibadah, yakni sarung, jubah (Gamis), baju koko, dan celana panjang.
*Sarung*
Yg kita sebut _sarung_ dlm bentuk skrg ini sebenarnya akulturasi budaya Nusantara dan budaya Yaman. Orang kita dahulu sdh memakai _jarit_ (unt pria) dan _kemben_ (perempuan). Kain semacam sarung disebut _Futah_ (Yaman), _Wazaar_ (Oman), _izaar_ (Arab). Ketika Islam masuk di Nusantara (abad 14), para pedagang Timur Tengah dan Gujarat (India) membawa kain-kain tsb ke Nusantara.
Karena konsep Islam, yaitu "tutuplah aurat" maka _jarit_ diperlebar seperti kainnya orang Yaman tsb, dan oleh para ulama kita dikenalkan nama baru, _sarung_.
Kata _Sarung_ bermakna "sesuai syar'i" (sesuai ajaran menutup aurat pria). Org Jawa menyebut "syar'ngan" (org Jawa ngga bs menyebut 'ain, tp, ngain). Lambat laun berubah menjadi _sarung_ (ada kesamaan dg bhs di neg Timur Tengah, yakni _zaar_ dan _sar_, krn jg berasal dr kata _syar'i_)._
Sekarang, kata _sarung_ ini telah diadopsi ke dalam bhs Inggris, yakni _Saroong_. _Sarung_ bnyk dipilih ulama krn dianggap lbh sesuai dg corak hidup masy kita yg bercocok tanam, lbh sederhana, dan praktis.
*Jubah atau Gamis*
Baju _Gamis_ atau biasa disebut _jubah_ berasal dari Semenanjung Arab. Gamis sdh ada di sana jauh sebelum era Islam. Awalnya, hanya kaum bangsawan, pastur, hakim, dan para raja yg memakai gamis. Namun, kemudian menjadi pakaian bagi siapa saja.
Karena sbg baju sehari-hari sebelum Islam, tdklah heran jika Suku Qurays memakai gamis, sebelum Nabi SAW lahir sampai era kenabian hingga kini. Bukan hanya Nabi SAW, tapi, Abu Lahab, Abu Jahal, dan semua orang Arab pakai Gamis.
Saat di Madinah, misalnya, para penjual pakaian di sepanjang jalan menuju Masjid Nabawi, menjajakan jualannya dg berteriak "Jubah Arab... Jubah Arab...". Mereka tdk menjajakan "Baju Islam...baju Islam" atau "Baju syar'i...baju syar'i" (mereka fasih bhs kita krn sebagian besar konsumennya adalah jamaah haji dan umroh dari Indonesia yg jumlahnya bnyk itu).
Ketika Islam masuk di Indonesia, terjadi perpaduan budaya. Jika di Arab identik dg warna putih dan hitam, gamis di Indonesia lebih beraneka warna. Warna putih banyak dipilih krn terasa sejuk di udara panas gurun pasir.
Menurut sejarahwan UI, Tiar Anwar Bachtiar, org Arab memakai gamis sbg pakaian sehari-hari sedangkan di Indonesia lbh khusus unt keagamaan. Pria biasa pakai gamis yg di dalamnya jg pakai celana panjang atau _sirwal_.
Namun skrg, terjadi lagi akulturasi budaya pada fungsi, yakni org Indonesia mulai gunakan gamis atau jubah bukan hanya untuk ibadah, tetapi, mulai meniru org Arab, yakni unt pakaian sehari-hari.
*Baju Koko*
Baju _koko_ berasal dari Cina. Banyak dipakai org Cina saat mereka didatangkan Belanda untuk membangun Batavia. Orang Cina menyebut _tui khim_ (baju tanpa kerah dan bercelana komprang). Karena banyak dipakai oleh _engkoh-engkoh_ (sebutan pria Cina yg lbh tua), maka org Indonesia pun menyebut _koko_. Koko jg berarti kakak.
Sekarang terjadi reduksi fungsi, yakni baju koko lbh banyak dipakai untu keagamaan, seperti sholat. Mgkn krn ini, org Indonesia jg menyebut baju koko sbg _baju takwa_.
*Celana Panjang*
Celana panjang berasal dari Eropa. Di bawah ke Indonesia oleh Belanda, yg disebut _Pantalon_. Sejak era Belanda sampai sekarang, celana panjang banyak dipakai untuk aktivitas sehari-hari, seperti bekerja, di kantor, kuliah, menghadiri hajatan pernikahan, dll.
Sekarang, terjadi akulturasi budaya untuk fungsi, yakni celana juga dipakai untuk sholat. Akulturasi yg lain, yakni penggunaan celana yg berbentuk cingkrang.
*Bukan Pakaian Islam, tapi Budaya*
Semua pakaian di atas adalah produk budaya manusia untuk menjalankan perintah agama: "menutup aurat". Qur'an tdk menyebut nama, jenis, atau bentuk fisik pakaian tertentu. Jadi, baju Syar'i adalah baju yg menutup aurat. Akibat interaksi perdagangan atau penjajahan, budaya-budaya dari berbagai bangsa telah ber-akulturasi (berpadu) satu dg yg lain.
Karena Islam lahir di Arab, yg terjadi adalah akulturasi budaya Arab di Indonesia dianggap sbg syariat Islam. Padahal, Islam dan budaya Arab itu adalah dua hal yg berbeda.
*Perang Budaya dan Identitas*
Saat upaya merebut kemerdekaan, para kyai melarang memakai celana panjang krn celana panjang adalah produk Belanda. Ini bentuk perlawanan sosial budaya thd penjajah. Para kyai pun memakai sarung sbg identitas perlawanan dan kebangsaan. Puncaknya, sarung menjadi salah satu simbol perlawanan saat 10 Nov 1945 di Surabaya.
Di era sekarang, pakaian-pakaian tsb tdk hanya untuk menutupi aurat dalam beribadah, tapi, sdh berkembang menjadi identitas kelompok manusia. Sebenarnya, hal ini hanya identitas budaya kelompok tsb, namun, karena budaya dan agama sulit terpisahkan, maka identitas budaya ini pun ikut berkembang menjadi identitas keagamaan. Ini semua karena perang budaya dan identitas, bukan karena perbedaan syariat agama. Bukan agamanya yg berbeda, tetapi, perbedaan penafsiran dan perbedaan kepentingan pada umatnya. (RK)
Penulis: Rachmat Kriyantono, PhD
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=268489691902585&id=100062246679597
Bacaan:
https://batam.tribunnews.com/2021/04/04/ramadhan-2021-inilah-sejarah-dan-asal-usul-sarung-ternyata-bukan-asli-indonesia?page=all
https://www.republika.co.id/berita/qmtcpq430/asalusul-sarung-baju-koko-dan-gamis
https://www.gamistriniti.com/sejarah-gamis/
https://www.kompasiana.com/isharyanto/552e29586ea8340e128b4570/celana-dari-masa-ke-masa