Di Nagari Manggopoh, Siti dan suaminya Rasyid, merasakan tekanan berat dari penjajah Belanda, terutama karena tuntutan pajak yang semakin menindas rakyat. Siti, dengan semangat dan tekad yang membara, meyakinkan Rasyid untuk tidak lagi tinggal diam dan melawan penjajahan demi mempertahankan harga diri dan masa depan mereka. Keraguan Rasyid pun perlahan menghilang ketika kabar tentang perlawanan di Kamang sampai kepada mereka. Mereka sepakat untuk menggerakkan masyarakat dan merencanakan perlawanan di Rumah Gadang.
Di Rumah Gadang Nagari Manggopoh, para ninik mamak, angku, dan prajurit berkumpul dalam ketegangan untuk membahas langkah-langkah menangani penjajahan Belanda. Siti dan Rasyid dengan semangat membangkitkan jiwa perjuangan para tetua, meski awalnya mereka ragu karena keterbatasan senjata. Namun, semangat Siti yang menggebu akhirnya membuat mereka sepakat untuk bersatu dan melawan penjajah dengan segala cara. Mereka merencanakan strategi di Surau Gadang di tengah hutan, bersumpah untuk tidak mundur sampai tanah mereka merdeka.
Di Surau Gadang, para pejuang berkumpul dalam ketegangan untuk merencanakan penyerangan terhadap benteng penjajah. Siti mengusulkan sebuah taktik yang berani, yaitu menyusup ke dalam benteng dengan menyamakan penjaga lampu-lampu. Meskipun penuh keraguan, para pejuang akhirnya sepakat dan menguatkan tekad mereka dengan doa dan dzikir. Mereka mempersiapkan pertempuran yang akan menentukan nasib nagari mereka.
Di malam yang penuh tekad, Siti berpamitan pada bayinya dan bergabung dengan para pejuang. Dengan semangat yang membara, mereka bersiap menghadapi pertempuran, mengetahui bahwa kemenangan atau kematian adalah satu-satunya jalan. Diiringi pekik takbir dan tarian piring, mereka maju tanpa ragu, membawa harapan untuk masa depan bebas dari penjajahan.
Dengan keberanian luar biasa, Siti dan para pejuang berhasil menyusup ke benteng penjajah. Siti bertarung dengan memerintahkan musuh dalam duel sengit dan berhasil mengalahkannya, sementara para pejuang lainnya menghadapi ketakutan penjajah yang tak siap. Namun, ancaman penjajah yang besar semakin mengharuskan Siti dan para pejuang untuk menghadapi pilihan sulit. Ketika penjajah mengancam akan menghancurkan kampung jika mereka tidak diserahkan, Siti dengan keberanian luar biasa memilih untuk menyerahkan diri demi melindungi rakyatnya. Walaupun Rasyid berusaha mencegahnya, Siti tetap teguh dengan keputusan tersebut, menunjukkan bahwa pengorbanannya bukanlah tanda kekalahan, melainkan simbol perjuangan yang lebih besar.
Email: mahakaryarandai@gmail.com
Instragram: @mahakarya_randai
Tiktok: @mahakarya_randai