sejarah
Masyarakat Probolinggo menilai Tari Kiprah Lengger sebagai tarian yang penuh variasi, lincah, dan ceria sehingga digemari oleh kalangan muda maupun tua. Pemerintah kota pun sering menampilkan tarian ini dalam acara resmi, misalnya saat peringatan Hari Pendidikan Nasional, untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya daerah. Banyak pihak berpendapat bahwa Kiprah Lengger bukan sekadar hiburan, melainkan warisan budaya tak benda yang penting dilestarikan sebagai identitas kota dan kebanggaan masyarakat Probolinggo.
Tari Kiprah Lengger merupakan tarian khas Kota Probolinggo yang berakar dari tradisi Lengger Banyumasan. Tarian ini awalnya muncul di Pasar Mangunharjo sebagai tarian pembuka pertunjukan rakyat dan kemudian berkembang menjadi tarian penyambutan tamu sekaligus ikon budaya daerah. Kata "Lengger" sendiri sering dimaknai sebagai ajakan untuk selalu ingat kepada Tuhan, sedangkan Istilah "Kiprah" menunjukkan gerakan tarinya yang dinamis. Diciptakan oleh Sanggar Bina Tari Bayu Kencana pada tahun 1987 dengan penata tari Priyono, tari ini kemudian ditetapkan sebagai identitas budaya Probolinggo dan ditampilkan dalam berbagai acara resmi maupun tradisional
pola lantai
Membangun fokus dan narasi cerita. Misalnya, saat menceritakan pendekatan tokoh wanita ke pria, pola ini menciptakan rasa kedekatan emosional. Ini juga memudahkan interaksi dengan penonton, di mana penari bisa "menggoda" atau berdialog langsung.
Membangun fokus dan narasi cerita. Misalnya, saat menceritakan pendekatan tokoh wanita ke pria, pola ini menciptakan rasa kedekatan emosional. Ini juga memudahkan interaksi dengan penonton, di mana penari bisa "menggoda" atau berdialog langsung.
Pola Bebas atau Improvisasi:
Deskripsi: Tidak terikat pola tetap; penari bebas bergerak sesuai irama gamelan dan respons penonton, termasuk mendekati tepi panggung atau berputar acak.
Kiprah: Ini adalah ciri khas Lengger sebagai tarian rakyat, yang menekankan spontanitas. Pola ini memperkuat peran sosial tarian, seperti hiburan komunal, dan memungkinkan adaptasi dengan konteks modern (misalnya, festival seni)
Properti tari
Selendang
Mahkota: Dapat dikenakan oleh penari perempuan.
Stagen: Kain yang melilit pinggang penari.
Payung kecil: Dalam varian tertentu, seperti Lengger Punjen, payung kecil digunakan sebagai properti simbolik.
Mahkota: Dapat dikenakan oleh penari perempuan.
Stagen: Kain yang melilit pinggang penari.
Payung kecil: Dalam varian tertentu, seperti Lengger Punjen, payung kecil digunakan sebagai properti simbolik.
Mahkota: Dapat dikenakan oleh penari perempuan.
Stagen: Kain yang melilit pinggang penari.
Payung kecil: Dalam varian tertentu, seperti Lengger Punjen, payung kecil digunakan sebagai properti simbolik.
Mahkota: Dapat dikenakan oleh penari perempuan.
Stagen: Kain yang melilit pinggang penari.
Payung kecil: Dalam varian tertentu, seperti Lengger Punjen, payung kecil digunakan sebagai properti simbolik.
Mahkota: Dapat dikenakan oleh penari perempuan.
Stagen: Kain yang melilit pinggang penari.
Payung kecil: Dalam varian tertentu, seperti Lengger Punjen, payung kecil digunakan sebagai properti simbolik.
Mahkota: Dapat dikenakan oleh penari perempuan.
Stagen: Kain yang melilit pinggang penari.
Payung kecil: Dalam varian tertentu, seperti Lengger Punjen, payung kecil digunakan sebagai properti simbolik.
Mahkota: Dapat dikenakan oleh penari perempuan.
Stagen: Kain yang melilit pinggang penari.
Payung kecil: Dalam varian tertentu, seperti Lengger Punjen, payung kecil digunakan sebagai properti simbolik.
Video