Tau ga kamu orang kalau suku Lampung terbagi menjadi dua golongan, yaitu Lampung Pepadun dan Lampung Saibatin. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Karakteristik dari Suku Lampung adalah sebagai berikut.
Masyarakat ini mendiami daerah pedalaman atau daerah dataran tinggi Lampung. Berdasarkan sejarah perkembangannya, masyarakat Pepadun awalnya berkembang di daerah Abung, Way Kanan, dan Way Seputih (Pubian). Kelompok adat ini memiliki kekhasan dalam hal tatanan masyarakat dan tradisi yang berlangsung dalam masyarakat secara turun-temurun. Nama “Pepadun” berasal dari perangkat adat yang digunakan dalam prosesi Cakak Pepadun.
“Pepadun” adalah bangku atau singgasana kayu yang merupakan simbol status sosial tertentu dalam keluarga. Masyarakatnya cenderung hidup di pedalaman dan meliputi daerah pedalaman seperti Lampung Tengah, Lampung Utara, Way Kanan, dan sebagian Lampung Timur.
Pria
Pengantin pria adat Pepadun menggunakan kopiah emas yang terbuat dari kuningan berbentuk bulat ke atas dengan ujung beruji tajam. Namun, selain untuk pengantin pria, kopiah emas juga biasa dipakai oleh para pria muda ketika menari di balai adat.
Pada bagian dada, pengantin pria menggunakan hiasan berbentuk buah-buah kecil di atas kain yang disebut dengan buah jukum. Aksesoris ini biasa dipakai melingkar dari bahu ke bagian perut sampai belakang.
Kemudian, pengantin pria juga menggunakan gelang burung dari bahan kuningan. Gelang yang menyerupai burung bersayap ini diikatkan ke bagian lengan bawah bahu, di sebelah kiri atau kanan.
Selain itu, dikenakan pula gelang kano yang dikenakan pada lengan atas dan pergelangan tangan. Gelang ini terbuat dari bahan kuningan berukir berbentuk bulat dan besar.
Di bagian pinggang, digunakan bulu serati yang terbuat dari kain beludru yang dilapisi kain merah. Kemudian kain ini dikombinasikan dengan pending, ikat pinggang yang terbuat dari uang ringgitan Belanda bergambar Ratu Wilhelmina.
Wanita
Siger pepadun berbentuk seperti tanduk dan ditatah hiasan bertitik-titik menyerupai bunga. Ada ruji tajam berjumlah sembilan di depan dan belakang. Setiap lekuknya, terdapat hiasan bunga cemara dari kuningan.
Kemudian, pengantin wanita juga menggunakan bebe, sulaman dari kain halus yang berlubang-lubang. Bagian pinggirnya bermotif bunga. Di atas sulamannya terdapat payet warna putih.
Bulan temanggal digunakan menggantung di leher, sehingga tampak menggantung di bawah dada atau di atas kain sesapur. Hiasan dari kuningan ini berbentuk menyerupai tanduk tanpa motif, hanya beratah dasar.
Baju kurungnya berwarna putih, tidak berangkai dan dihiasi uang perak yang digantung berangkai. Ada pula rambai ringgit yang digantung melingkari kain tapis bagian bawah yang dikenakan pengantin wanita.
Selain itu, pengantin wanita juga mengenakan gelang kano dan gelang burung, seperti pengantin pria. Pengantin pria dan wanita juga bisa memegang buah manggus yang berbentuk bulat seperti permainan yang terbuat dari bahan kuningan, mempunyai ornamen dan berantai kecil yang berfungsi sebagai pegangan.
Aksesoris lainnya yang dapat digunakan oleh pengantin wanita adalah kanduk, yaitu sejenis mahkota yang tidak lengkap. Namun selain untuk pengantin, mahkota ini juga biasa dipakai oleh para wanita yang sudah bersuami saat mengiringi pengantin.
“Saibatin” bermakna satu batin atau memiliki satu junjungan. Hal ini sesuai dengan tatanan sosial di dalam Suku Saibatin yang hanya menerapkan satu orang raja adat di setiap generasi kepemimpinan. Budaya Suku Saibatin cenderung bersifat aristokratis, karena kedudukan adat hanya dapat diwariskan melalui garis keturunan. Berbeda dengan Suku Pepadun, Suku Saibatun tidak memiliki upacara tertentu yang dapat mengubah status sosial seseorang di dalam masyarakat.
Masyarakatnya cenderung hidup di pesisir dan memiliki interaksi kuat dengan budaya luar. Masyarakat Saibatin juga menjunjung tinggi tradisi piil pesenggiri (harga diri dan kehormatan). Masyarakat Saibatin terpusat di daerah pesisir, seperti Krui, Pesawaran, Lampung Selatan dan Pesisir Barat
Pria
Pengantin pria adat Saibatin menggunakan tutup kepala yang dikenakan ikat pujuk, baju berlengan panjang berwana putih dengan jas. Biasanya, pada pakaian kebesaran dikenakan salempang yang terdiri dari kain putih atau kuning dari kain limar
Celananya berwarna gelap ditutupi dengan kain tumpal sampai lutut atau bulipat yang diperkuat ikat pinggang buduk. Kerisnya diselipkan di pinggan sebelah kanan agak miring ke kiri.
Wanita
pengantin wanita mengenakan baju yang terbuat dari beludru bermote dengan motif bunga. Baju ini disebut sebagai kawai maju. Asesorisnya terdapat di leher atau lengan seperti kakalah bangkang atau buah jukum.
Pada bagian kepala, pengantin menggunakan mahkota atau siger yang bersiku tujuh dihiasi bunga daun bambu. Sanggul malangnya dihiasi sial kikha, pada bagian atas telinga diselipkan bunga melur dan bunga daun bambu.
Pada bagian lengan, dikenakan gelang kanan dan gelang rui. Bagian bahu kanannya diselempangkan kain cempaka, lalu ditutup oleh kain putih atau kuning dari bahan limar di bahu kiri.
Kain sarungnya adalah kain tumpal yang berhias bintang maju dengan ikat pinggang. Kalungnya dikenakan melingkar dari bahu sampai bagian perut seperti untaian bunga.