1.Asal usul/sejarah dawet
Dawet memiliki asal usul dari tanah Jawa sejak masa lampau, bahkan dipercaya sudah dikenal sejak zaman kerajaan. Minuman ini dibuat dari bahan sederhana yang banyak tersedia, yaitu tepung beras atau tepung hunkwe yang dicetak menjadi butiran cendol, lalu disajikan dengan kuah santan dan larutan gula Jawa. Dahulu, dawet tidak hanya sekedar pelepas dahaga, tetapi juga bagian dari tradisi dan simbol kebersamaan, misalnya sering dihidangkan pada acara hajatan, pasar rakyat, hingga upavara adat. Karena rasanya manis, segar, dan menyejukkan, dawet dengan cepat menyebar ke berbagai daerah Jawa, lalu berkembang menjadi banyak varian lokal. Hingga kini, dawet tetap menjadi ikon minuman tradisional yang digemari masyarakat Indonesia.
2.Adaptasi/varian dawet di Probolinggo
Adaptasi/varian dawet di Probolinggo muncul karena penjual menyesuaikan dengan bahan lokal dan selera konsumen. Selain dawet tradisional (cendol, santan, gula jawa), ada varian seperti:
3. Hasil bumi dari dawet
🌊Hasil bumi pesisir/laut:
kelapa ~ banyak tumbuh di daerah pesisir, digunakan untuk santan.
Garam ~ sedikit digunakan untuk menambah gurih santan.
🌾Hasiil bumi dataran rendah:
beras/tepung beras ~ bahan utama pembuatan cendol (dawet).
Tebu ~ diolah menjadi gula merah/gula jawa sebagai pemanis dawet.
Daun pandan/suji ~ tumbuh subur di dataran rendah, dipakai sebagai pewarna dan pemberi aroma pada cendol
⛰️Hasil bumi dataran tinggi:
Aneka buah tambahan (misalnya alpukat, nangka, durian saat musim) yang kadang dipakai sebagai varasi topping dawet.
1.Asal usul/sejarah getuk
Getuk berasal dari Jawa dan mulai dikenal sejak masa penjajahan Belanda. Pada waktu itu, beras sebagai makanan pokok sangat sulit didapat karena banyak diserahkan kepada penjajah, sehingga rakyat beralih menggunakan singkong yang lebih mudah ditanam. Singkong direbus, ditumbuk halus, lalu dicampur gula merah atau gula pasir dan diberi taburan kelapa parut. Dari sinilah lahir makanan sederhana bernama getuk. Seiring berjalannya waktu, getuk tidak hanya dimakan sebagai pengganti nasi, tetapi juga berkembang menjadi jajanan tradisional yang disukai masyarakat, dengan variasai seperti getuk lindri berwarna-warni atau getuk goreng yang khas di beberapa daerah. Kini, getuk tetap bertahan sebagai kuliner tradisional yang menjadi identitas budaya Jawa.
2.Adaptasi/varian getuk di Probolinggo
Ada beberapa kegiatan inovatif getuk di Probolinggo:
Di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, ada kreasi Getuk Goreng Bromo Merah Putih. Singkong lokal digunakan seperti biasanya, dikukus dan ditumbuk, kemudian adonan dibagi dua untuk diberi pewarna merah dan putih, lalu digoreng. Penyajian dilengkapi siraman gula merah cair. Ide ini bukan versi tradisional lama, melainkan inovasi modern yang memberi tampilan nasionalistik (merah-putih).
3. Hasil bumi dari getuk
🌊Hasil bumi pesisir/laut:
Kelapa ~ banyak tumbuh didaerah pesisir, digunakan untuk taburan parutan kelapa
Garam ~ dari laut, dipakai sedikit untuk menambah rasa gurih pada parutan kelapa.
🌾Hasiil bumi dataran rendah:
Singkong (ubi kayu) ~ bahan utama getuk, mudsh tumbuh di lahan dataran rendah dengan tanah gembur.
Gula merah (dari tebu) ~ tebu banyak dibudidayakan di dataran rendah, jadi bahan pemanis getuk
⛰️Hasil bumi dataran tinggi:
Ubi jalar/ketela ~ kadang jadi variasi pengganti singkong untuk getuk, banyak ditanam didataran tinggi