Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya dan Ahmad dalam Musnad-nya,
“Apabila telah ditetapkan bagi seorang hamba oleh Allah suatu kedudukan (tinggi) yang tidak bisa ia capai dengan amalnya, maka Allah akan mengujinya pada tubuhnya, hartanya, atau anaknya. Lalu Allah memberinya kesabaran atas ujian itu, hingga Dia menyampaikannya pada kedudukan yang telah ditetapkan baginya oleh Allah "
“Apabila telah ditetapkan bagi seorang hamba oleh Allah suatu kedudukan (tinggi) yang tidak bisa ia capai dengan amalnya, maka Allah akan mengujinya pada tubuhnya, hartanya, atau anaknya. Lalu Allah memberinya kesabaran atas ujian itu, hingga Dia menyampaikannya pada kedudukan yang telah ditetapkan baginya oleh Allah.
RIDHO DENGAN TAKDIR ALLAH ADALAH OBAT DARI SEGALA KEGELISAHAN JIWA
Al Imam Ibnul Qayyim -Muhammad bin Abu Bakar, 751H- rahimahullahu ta’ala berkata,
في القلب نار وحسرات لا يطفئها إلا بالرضا بأمره ونهيه وقضائه، ومعانقة الصبر على ذلك إلى وقت لقائه جل جلاله.
“Di dalam hati hamba terdapat gejolak api dan berbagai penyesalan yang tidak dapat dipadamkan kecuali dengan ridho terhadap perintah, larangan dan keputusan Allah ta'ala serta "merangkul" kesabaran terhadap semua itu hingga tiba waktu pertemuannya dengan Allah azza wa jalla.”
BAB TAKDIR
MASUK SURGA ATAU NERAKA
Imam Al-Muzani rahimahullah dalam Syarhus Sunnah.
Imam Al-Muzani rahimahullah berkata,
ثُمَّ خَلَقَ لِلْجَنَّةِ مِنْ ذُرِّيَّتِهِ أَهْلاً فَهُمْ بِأَعْمَالِهَا بِمَشِيْئَتِهِ عَامِلُوْنَ وَبِقُدْرَتِهِ وَبِإِرَادَتِهِ يَنْفُذُوْنَ وَخَلَقَ مِنْ ذُرِّيَّتِهِ لِلنَّارِ أَهْلاً فَخَلَقَ لَهُمْ أَعْيَانًا لاَ يُبْصِرُوْنَ بِهَا وَآذَانًا لاَ يَسْمَعُوْنَ بِهَا وَقُلُوْبًا لاَ يَفْقَهُوْنَ بِهَا فَهُمْ بِذَلِكَ عَنِ الهُدَى مَحْجُوْبُوْنَ وَبِأَعْمَالِ أَهْلِ النَّارِ بِسَابِقِ قَدَرِهِ يَعْمَلُوْنَ
“Kemudian Allah menciptakaan penghuni surga dari keturunan Adam. Orang-orang tersebut adalah para pelaku amalan-amalan mereka sesuai kehendak-Nya. Mereka melaksanakan sesuai dengan kekuasaan dan kehendak-Nya. Dan Allah menciptakan penduduk neraka dari keturunan Adam. Allah ciptakan untuk mereka mata yang tidak digunakan untuk melihat (hal-hal yang diperintahkan), telinga yang tidak digunakan untuk mendengar (perintah Allah), dan hati yang tidak digunakan untuk memahami (firman Allah). Mereka dengan hal itu terhalang dari petunjuk. Mereka mengamalkan perbuatan-perbuatan penduduk neraka sesuai dengan takdir yang mendahului perbuatan tersebut.”
Imam Al-Muzani rahimahullah berkata, “Allah ciptakan untuk mereka mata yang tidak digunakan untuk melihat (hal-hal yang diperintahkan), telinga yang tidak digunakan untuk mendengar (perintah Allah), dan hati yang tidak digunakan untuk memahami (firman Allah). Mereka dengan hal itu terhalang dari petunjuk.” Yang dimaksud adalah seperti dalam firman Allah,
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِۖلَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَاۚأُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179)
Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir rahimahullah diterangkan mengenai kalimat “mereka itu sebagai binatang ternak”, yaitu semangat mereka hanyalah makan dan minum, bahkan mereka lebih sesat. Karena hewan ternak masih bisa melihat apa yang manfaat dan apa yang mudarat, dan mengikuti pemiliknya, sedangkan mereka yang kafir tidaklah demikian. ‘Atha’ rahimahullah berkata, “Hewan ternak masih mengenal Allah, sedangkan orang kafir tidak mengenal-Nya.” Ada pula yang mengatakan bahwa hewan ternak masih taat kepada Allah, sedangkan orang kafir enggan taat.
Dalam ayat lain disebutkan,
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”.” (QS. Al-Mulk: 10)
وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِنْ مَكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ
“Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.” (QS. Al-Ahqaf: 26)
Faedah kajian bulughul Maram
Selasa, 27 Mei 2025
✍️ وعن ابن عمر – رضي الله عنهما- قال: أخذ رسول الله صلى الله عليه و سلم بمنكبي فقال: كن في الدنيا كأنك غريب، أو عابر سبيل وكان ابن عمر – رضي الله عنهما – يقول: إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك. رواه البخاري
Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma beliau berkata: Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhari)
🔷 Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah,
علامة إعراض الله تعالى عن العبد أن يجعل شغله فيما لا يعنيه
“Tanda Allah berpaling dari seorang hamba adalah Allah menjadikannya sibuk dalam aktifitas yang tak berguna.”
🔷 Imam daqiq mengatakan hadist di atas mengumpulkan Banyak kebaikan yaitu jangan terburu dengan dunia
🔷 Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,
ﻣﺎ ﻧﺪﻣﺖ ﻋﻠﻰ ﺷﻲﺀ ﻧﺪﻣﻲ ﻋﻠﻰ ﻳﻮﻡ ﻏﺮﺑﺖ ﴰﺴﻪ ﻧﻘﺺ ﻓﻴﻪ ﺃﺟﻠﻲ ﻭﱂ ﻳﺰﺩ ﻓﻴﻪ ﻋﻤﻠﻲ.
“Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang (usia bertambah), namun amalanku tidak bertambah.”
🔷 Umar bin Khattab Radhiyallahu Ta’ala Anhu berkata :
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوها قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، وَتَأهَّبُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ
“Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal”
🔷 وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ ٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? ( QS Al an'am 32 )
🔷 عن المُسْتَوْرِد بن شَدَّاد رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «ما الدنيا في الآخرة إلا مِثْل ما يجعل أحدكم أُصْبُعَهُ في اليَمِّ، فلينظر بِمَ يَرْجع!». [صحيح] - [رواه مسلم]المزيــد ...
Dari Al-Mustaurid bin Syaddād -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, “Tidaklah dunia dibandingkan akhirat itu melainkan seperti ketika seorang dari kalian mencelupkan telunjuknya ke lautan, maka lihatlah apa yang tersisa (di tangannya)!” [Hadis sahih] - [Diriwayatkan oleh Muslim]
Faedah hadist :
🔷 Jangan meremehkan kebaikan kepada anak
✍️ Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
سبعٌ يجري للعبد أجرهن وهو في قبره بعد موته : من علَّم عِلْماً ، أو أجرى نهراً ، أو حَفَر بئراً ، أو غرس نخلاً أو بنى مسجداً ، أو ورَّث مصحفاً ، أو ترك ولداً يستغفر له بعد موته
“Ada tujuh amalan yang akan mengalir pahalanya bagi seorang hamba, meskipun ia berbaring di lubang kuburan setelah meninggal:
(1) mengajarkan ilmu,
(2) mengalirkan air sungai,
(3) membuat sumur,
(4) menanam kurma,
(5) membangun masjid,
(6) membagikan mushaf Al-Qur’an, atau
(7) meninggalkan anak yang akan memintakan ampun baginya setelah ia meninggal. “ (HR. Al-Bazzar. Dinilai hasan oleh Al-Albani)
✍️ dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ ؟ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَك
Sesungguhnya Allah ‘Azza wa jalla akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga, hamba itu kemudian berkata; ‘Wahai Rabb, dari mana semua ini aku dapatkan? maka Allah berfirman, “Dari istighfar anakmu untukmu” HR. Ahmad
🔷 Jika ingin menyampaikan sesuatu memegang pundak anak
🔷 Perhatian kepada pemuda
🔷 Sebagai Seorang muslim harus bisa menjaga waktu kita
✍️ الوقت كالسيف فإن قطعته وإلا قطعك، ونفسك إن لم تشغلها بالحق وإلا شغلتك بالباطل
“Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.”
🔷 Meninggalkan perkara perkara yang tidak bermanfaat
Kesimpulan :
🔷 Anjuran bersikap Zuhud terhadap dunia,tidak berlebih lebihan dalam urusan dunia dan jangan panjang angan angan
🔷 Hendaknya seseorang tidak menjadikan dunia sebagai tempat tinggalnya
🔷 Seorang muslim memanfaatkan kesempatan kesempatan yang ada sebelum kesempatan itu pergi
🔷 Semangat dalam menjaga waktu
🔷 Hadist di atas bukan menunjukkan kita tidak boleh mencari rizki,tetapi tetapi kita tetap bekerja menjemput rizki
Penulis Al Fakir ✍️ : Abu Zahra Al Jogjawi
Pemateri 💺 : Ustadzuna Hamdan Hambali Hafizhahullahu Ta'ala
Tempat : Omah Limasan Cendana
ISTIDRAJ PADA PENUNTUT ILMU
Istidraj terjadi ketika seorang penuntut ilmu lebih mementingkan kedudukan dan kehormatan yang didapat dari ilmunya daripada penggunaan ilmu untuk kebaikan dan ketaatan kepada Allah.
Jebakan, Bukan Tanda Ridha:
Istidraj adalah ujian atau hukuman yang ditangguhkan, bukan tanda Allah ridha pada orang tersebut.
Contoh Istidraj:
Jika seorang penuntut ilmu merasa senang dengan ilmunya dan mencari pujian, bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka itu bisa menjadi istidraj.
Waspada dan Mengambil Pelajaran:
Kita perlu selalu waspada terhadap istidraj dan tidak terjerumus dalam kesombongan atau keinginan duniawi yang mengabaikan kewajiban agama.
Memperbanyak Dzikir dan Doa:
Untuk terhindar dari istidraj, kita perlu meningkatkan keimanan dengan selalu beribadah dan memperbanyak dzikir kepada Allah.
Menuntut Ilmu dengan Keikhlasan:
Menuntut ilmu haruslah dengan niat yang ikhlas, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengamalkan ilmu untuk kebaikan.
Singkatnya:
Istidraj pada penuntut ilmu terjadi ketika ia menginginkan kedudukan dan kehormatan melalui ilmunya, yang dapat menjadi jebakan atau ujian dari Allah, bukan tanda ridha.
🌎 https://rabithahalawiyah.org/blogs/hakikat-istidraj
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
📲 @IslamAdalahSunnah