Pembagian tauhid Menjadi 3 Apakah Ada Dalilnya?
BAB TAUHID 1
Pembagian tauhid menjadi tiga, apa ada dalilnya?
Sebagian orang menyangka bahwa pembagian tauhid menjadi tiga ini tidak memiliki dalil dari Al-Qur’an dan/atau As-Sunnah, sehingga mereka pun mengingkarinya.
Mereka menyangka bahwa pembagian tauhid menjadi tiga itu mengada-ada sehingga tidak perlu diikuti.
Anggapan dan persangkaan ini keliru dan tidak tepat. Pembagian tauhid menjadi tiga tidaklah semata-mata hanya berdasarkan pendapat atau logika manusia; atau hanya berdasarkan kesepakatan sekelompok orang (ulama) saja. Akan tetapi, kesimpulan bahwa terdapat tiga jenis tauhid itu disimpulkan dari telaah dan kajian terhadap dalil-dalil dari Al-Qur’an, atau dikenal dengan istilah “istiqra’”.
Yang paling mudah adalah ketika kita membaca surat Al-Fatihah. Dalam surat Al-Fatihah, terdapat isyarat tentang tiga jenis tauhid.
Dalam firman Allah Ta’ala,
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Fatihah [1]: 1)
terdapat isyarat tentang tauhid rububiyyah. Karena dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala tetapkan rububiyah-Nya atas seluruh makhluk.
Dalam firman Allah Ta’ala,
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ؛ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di hari pembalasan.” (QS. Al-Fatihah [1]: 2-3)
terdapat isyarat tentang penetapan tauhid asma’ wa shifat. Karena dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala menetapkan untuk diri-Nya dua sifat yang mulia, yaitu sifat ar-rahmah dan al-mulk; dan juga Allah Ta’ala tetapkan untuk diri-Nya nama yang mulia, yaitu “Ar-Rahmaan”; “Ar-Rahiim”; dan “Al-Maalik”.
Sedangkan dalam firman Allah Ta’ala,
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah [1]: 4)
Sumber: https://muslim.or.id/43836-pembagian-tauhid-menjadi-tiga-ide-siapa-bag-1.html
BAB TAUHID 2
Pembagian tauhid menjadi tiga, tidak dikenal di masa salaf?
Sebagian orang yang lain menyangka bahwa pembagian tauhid menjadi tiga tidaklah dikenal pada masa salaf.
Pembagian ini baru dikenal, menurut persangkaan mereka, pada abad ke tujuh atau delapan hijriyah, yaitu hanya dibuat-buat oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta’ala.
Sebagian lagi menyangka bahwa pembagian ini baru dibuat pada abad ke dua belas atau tiga belas hijriyah, oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullahu Ta’ala (wafat tahun 1206 H), yang kemudian diberi label “Wahhabi” oleh pihak-pihak yang membenci dakwah tauhid yang beliau usung. Tidak heran jika sebagian orang menyebut pembagian tauhid menjadi tiga ini sebagai “Trilogi tauhid ala Wahabi” (??).
Klaim atau persangkaan ini tidaklah benar, dan hanyalah muncul dari orang-orang yang kurang mengetahui, kurang mengilmui, kurang membaca dan kurang menelaah kitab-kitab para ulama salaf yang ditulis jauh sebelum masa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah atau Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahumallahu Ta’ala.
Hal ini karena kitab-kitab ulama salaf sebelumnya telah menyebutkan tiga macam tauhid ini, baik menyebutkan secara tegas atau menyebutkan secara isyarat.
Misalnya, Al-Imam Abu Hanifah rahimahullahu Ta’ala (wafat tahun 150 H) berkata,
والله يدعى من أعلى لا من أسفل، لأن الأسفل ليس من وصف الربوبية و الألوهية في شيئ
“Allah Ta’ala diseru sedang Dia berada di atas, bukan di bawah. Karena posisi bawah bukanlah bagian dari sifat rububiyyah dan uluhiyyah sedikit pun.” (Al-Fiqh Al-Absath, hal. 51)
Perkataan beliau, “Allah Ta’ala diseru sedang Dia berada di atas, bukan di bawah” terdapat penetapan sifat al-‘uluw bagi Allah Ta’ala, sehingga termasuk dalam tauhid asma’ wa shifat. Setelah itu, beliau pun tegas menyebutkan tentang rububiyyah dan uluhiyyah Allah Ta’ala.
Imam Abu ‘Abdillah ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Baththah Al-‘Ukbari rahimahullahu Ta’ala (Ibnu Baththah) (wafat tahun 387 H) berkata,
وَذَلِكَ أَنَّ أَصْلَ الْإِيمَانِ بِاللَّهِ الَّذِي يَجِبُ عَلَى الْخَلْقِ اعْتِقَادُهُ فِي إِثْبَاتِ الْإِيمَانِ بِهِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: أَحَدُهَا: أَنْ يَعْتَقِدَ الْعَبْدُ ربآنِيَّتَهُ لِيَكُونَ بِذَلِكَ مُبَايِنًا لِمَذْهَبِ أَهْلِ التَّعْطِيلِ الَّذِينَ لَا يُثْبِتُونَ صَانِعًا. الثَّانِي: أَنْ يَعْتَقِدَ وَحْدَانِيَّتَهُ، لِيَكُونَ مُبَايِنًا بِذَلِكَ مَذَاهِبَ أَهْلِ الشِّرْكِ الَّذِينَ أَقَرُّوا بِالصَّانِعِ وَأَشْرَكُوا مَعَهُ فِي الْعِبَادَةِ غَيْرَهُ. وَالثَّالِثُ: أَنْ يَعْتَقِدَهُ مَوْصُوفًا بِالصِّفَاتِ الَّتِي لَا يَجُوزُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَوْصُوفًا بِهَا مِنَ الْعِلْمِ وَالْقُدْرَةِ وَالْحِكْمَةِ وَسَائِرِ مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ …
“Yang demikian itu karena pokok iman kepada Allah Ta’ala yang wajib diyakini oleh seorang hamba dalam menetapkan keimanan itu ada tiga macam:
Pertama, seorang hamba meyakini rububiyyah Allah Ta’ala, sehingga dengan keyakinan itu dia terbedakan dengan ahlu ta’thil (yaitu, orang-orang atheis) yang tidak menetapkan adanya Sang Pencipta.
Kedua, meyakini keesaan Allah Ta’ala sehingga dengan keyakinan itu dia terbedakan dengan keyakinan orang-orang musyrik yang meyakini adanya pencipta (yaitu Allah Ta’ala, pent.), namun menyekutukan Allah Ta’ala dengan selain Allah Ta’ala dalam beribadah.
Ketiga, meyakini bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat-sifat yang harus dimiliki oleh Allah Ta’ala, yaitu sifat al-‘ilmu, al-qudrah, al-hikmah, dan semua sifat-sifat yang Allah Ta’ala sebutkan sebagai sifat-Nya dalam kitab-Nya … ” (Al-Ibaanah Al-Kubraa, 6: 149)
Perkataan Ibnu Baththah di atas sangat jelas menunjukkan pembagian tauhid menjadi tiga. Dalam pembagian pertama beliau sebutkan tauhid rububiyyah, kemudian tauhid ibadah (tauhid uluhiyyah), dan terahir (ke tiga), beliau sebutkan tentang tauhid asma’ wa shifat.
Kemudian Ibnu Baththah rahimahullahu Ta’ala pun berkata,
وَلِأَنَّا نَجِدُ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ خَاطَبَ عِبَادَهُ بِدُعَائِهِمْ إِلَى اعْتِقَادِ كُلِّ وَاحِدَةٍ فِي هَذِهِ الثَّلَاثِ وَالْإِيمَانِ بِهَا
“Karena sesungguhnya kami mendapati bahwa Allah Ta’ala berbicara kepada hamba-hamba-Nya dengan menyeru mereka untuk meyakini setiap dari tiga jenis tauhid ini serta beriman dengannya.” (Al-Ibaanah Al-Kubraa, 6: 149)
Kalimat di atas jelas menunjukkan bahwa pembagian tauhid menjadi tiga yang beliau sebutkan itu bersumber atau disimpulkan dari kalaamullah (Al-Qur’an).
BAB TAUHID 3
Bukankah yang ditanyakan di alam kubur itu “Man Rabbuka?” (Siapakah Tuhanmu?)
Sebagian pihak bertanya-tanya, mengapa tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah harus dipisahkan, padahal yang ditanyakan di alam kubur nanti adalah “Man Rabbuka?” (Siapakah Tuhanmu?), bukan “Man Ilaahuka?” (Siapakah sesembahanmu?)
Jika pertanyaan kubur seperti itu, artinya dua macam tauhid itu adalah satu kesatuan, tidak perlu dipisahkan.
Jawaban atas argumentasi ini adalah bahwa istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu terkadang disebutkan bersamaan dalam satu rangkaian kalimat. Dalam kondisi semacam ini, rububiyyah dan uluhiyyah memiliki makna yang berbeda satu sama lain. Contohnya adalah firman Allah Ta’ala dalam surat An-Naas,
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ
“Katakanlah, “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sesembahan manusia.” (QS. An-Naas [114]: 1-3)
Dalam kutipan ayat di atas, maka makna “Rabb” adalah raja, yang menciptakan, dan makna rububiyyah lainnya.
Sedangkan makna “ilaah” adalah “al-ma’buud” (sesembahan), satu-satunya yang berhak untuk disembah.
Kondisi yang kedua, terkadang istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu disebutkan sendiri-sendiri, tidak digandeng satu sama lain. Dalam kondisi semacam ini, makna istilah rububiyyah dan uluhiyyah itu mencakup dua-duanya sekaligus.
Contohnya adalah pertanyaan alam kubur yang sedang kita bahas. Makna dari,
من ربك؟
(Siapakah Rabbmu), adalah:
من إلهك وخالقك؟
(Siapakah sesembahanmu dan penciptamu?)
Sehingga kata “Rabb” dalam pertanyaan kubur itu mencakup makna rububiyyah dan uluhiyyah sekaligus.
Contoh lainnya adalah firman Allah Ta’ala,
الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ
“(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, “Tuhan kami hanyalah Allah”.” (QS. Al-Hajj [22]: 40)
قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ
“Katakanlah, “Apakah Aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu.” (QS. Al-An’am [6]: 164)
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka.” (QS. Fushshilat [41]: 30)
“Rabb” dalam ayat-ayat di atas memiliki makna uluhiyyah, karena berdiri sendiri, tidak disebutkan bersamaan dengan kata “ilaah”. [1]
Sejenis dengan ini adalah istilah “iman” dan “Islam”. Jika dua-duanya disebutkan bersamaa, maka “iman” adalah keyakinan dalam hati, sedangkan “Islam” adalah amal anggota badan. Namun jika disebutkan salah satu saja, misalnya hanya disebutkan “iman” saja, maka “iman” tersebut mencakup keyakinan hati dan amal anggota badan sekaligus.
Sumber: https://muslim.or.id/43851-pembagian-tauhid-menjadi-tiga-ide-siapa-bag-3.html
PEMBAGIAN TAUHID MENJADI TIGA
oleh Abu Azmi · 07/06/2021
Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi rahimahullahu berkata: Penelitian di dalam Al-Quran Al-‘Azhim menunjukkan bahwa tauhid itu terbagi menjadi tiga:
Tauhid rububiyah. Allah berfirman:
وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَهُمۡ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ فَأَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”.” (QS. Az-Zukhrûf: 87)
Tauhid ibadah (uluhiyah). Allah berfirman:
وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (sesembahan selain Allah) itu.” (QS. An-Nahl: 36)
Tauhid asma’ dan sifat. Allah berfirman:
لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.” (QS. Asy-Syura: 11) [1]
Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullahu berkata: Pembagian (tauhid menjadi tiga) yang merupakan hasil penelitian para ulama salaf terdahulu ini telah disebutkan oleh Ibnu Mandah (wafat tahun 395 H), Ibnu Jarir Ath-Thabari (wafat tahun 310 H) dan selain keduanya.
Dan hal ini juga diikrarkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Al-Qayyim serta Az-Zabidi dalam Tâju Al-‘Arûs dan guru kami Syaikh Asy-Syinqithi dalam Adhwâ’ Al-Bayân –rahimahumullahu-.
Dan ini adalah penelitian yang sempurna terhadap nash-nash syariat. Dan hal ini sudah dimaklumi oleh setiap pakar ilmu. Sebagaimana dalam penelitian ahli nahwu terhadap ucapan orang arab (ditemukan) bahwa kata itu ada (tiga) ismun (kata benda), fi’lun (kata kerja) dan harfun (huruf/kata yang tidak bisa berdiri sendiri tanpa yang lainnya). Orang arab tidak ada yang menentang dan mencela akan pembagian ini. Demikianlah setiap penelitian (ilmiah). [2]
Diantara ulama salaf yang membagi tauhid menjadi tiga adalah Imam Abu Hanifah (meninggal tahun 150 H) rahimahullahu. Beliau berkata: (Kita) berdoa kepada Allah yang ada di atas bukan di bawah, karena bawah itu tidak layak sama sekali bagi rububiyah ataupun uluhiyah (Nya). [3]
Apakah Imam Abu Hanifah wahabi?!
Demikian pula Imam Ibnu Baththah (meninggal tahun 387 H) rahimahullahu juga berkata: Sesungguhnya pondasi keimanan kepada Allah yang wajib diyakini oleh setiap manusia itu ada tiga:
a. Meyakini akan rububiyah-Nya agar terbedakan dengan kelompok yang mengingkari Sang Pencipta.
b. Meyakini akan keesaan-Nya (dalam ibadah) agar terbedakan dengan kaum musyrikin yang meyakini adanya Sang Pencipta namun menyekutukan-Nya dalam ibadah.
c. Meyakini bahwa Allah tersifati dengan sifat-sifat yang ada pada diri-Nya seperti ilmu, kekuasaan, hikmah dan selainnya yang tercantum di dalam Al-Quran. [4]
https://abdurrahmanthoyyib.com/2021/06/07/pembagian-tauhid-menjadi-tiga-karangan-wahabi/