Pendaftaran Geton Bulan Desember 2023
It is, as It is
Maka tibalah waktunya.
Be gentle, enjoy, dan trust the process adalah kalimat-kalimat yang mulai setia menemani hari-hariku. Dengan kalimat tersebut, berbagai spirit dan intensi yang ingin kuhadirkan, tidak lagi mengarah pada “apa dan bagaimana aku ingin dilihat oleh orang lain”. Aku tidak lagi cemas dengan bagaimana aku harus menyampaikan konten slide a, b, c, dlsb. Aku tidak lagi cemas dengan alur dan struktur yang sudah kubongkar-pasang. Bahkan aku juga bisa menghadirkan diriku, yang ternyata – udah masuk dalam state of “FLOW”. Masya allah, tabarakallah..
Hadir utuh menjadi spirit pertama yang kuhadirkan dalam sesi tersebut. Setelah berpakepuk dengan final touch-touch, kuhadirkan diriku secara utuh, mengembalikan status presence-ku, dan menyiapkan diriku dengan memberi ijin atas setiap pertolongan yang akan hadir nanti. Aku berlepas diri dari rasa-rasa yang bisa membuatku gak nyaman. Kukatakan pada diriku untuk hadir utuh, as it is. Enak sih. Pada saat Aku berlepas diri dari penilaian orang lain, aku jadi jauh lebih nyaman. Dan ketika aku merasa lebih nyaman, aku bisa membangun interaksi yang menyenangkan dengan orang lain.
Maka jadilah sesi yang menyenangkan itu. Buatku sendiri, proses yang menyenangkan itu, hadir hanya jika kita mengijinkan diri kita untuk ikut hadir dalam proses tersebut. Ada banyak cerita yang bisa disampaikan, tapi setiap dari kita punya kuasa untuk memilih cerita seperti apa yang ingin kita hadirkan, dan mana yang ingin kita simpan. Sama halnya dengan, apakah kita mengijinkan diri ini untuk hadir utuh, open kamera, open mike atau sebaliknya. Bagi saya, itulah pilihan. Itulah proses yang perlu kita sadari, agar kita paham bahwa kita punya kendali atas diri kita. So, selama kita nyaman dengan satu pilihan itu, kenapa tidak? Setiap kita nyaman dengan diri kita, maka spirit nyaman itulah yang juga ditangkap dan diterima orang-orang sekitar kita. Dan sebaliknya, saat kita hadir dengan rasa tidak nyaman, dalam bentuk apapun, spirit dan energi itulah yang berkembang di sekitar kita. It is, as it is.
Kami ber-14, berproses dengan cara kami masing-masing. Kami ber-14, mengalami intriguing moment, versi kami masing-masing. Bahkan tanpa harus membuka kamera, spirit dan energi yang sedang dirasakan saat sharing, ikut menggugah energi yang berkembang di sesi tersebut. Saya bahkan tidak begitu kenal dengan latar belakang dari masing-masing peserta, tapi kesediaan teman-teman untuk membuka diri, mengijinkan dirinya untuk hadir secara utuh, menjadi bagian dari magical moment untuk mengenali Seni Memberdayakan Diri, versi diri kita sendiri.
Sejatinya, butuh keberanian untuk kita mau mengijinkan diri ini “hadir utuh” di setiap episode. Beri “jeda” untuk kita bisa melihat perjalanan hidup kita dengan sudut pandang dan perspektif yang lebih luas. Beri ijin untuk kita menerima critical-issue yang pernah hadir dalam kehidupan kita sebagai perjalanan berharga yang membentuk diri kita seperti sekarang. Dan atas itu semua, layaklah jika diri inipun, mendapat ucapan terima kasih.
Dan diakhir sesi, sebuah kebahagiaan yang tiada tara ketika ada banyak cinta dan kasih yang tersemat disetiap kata, sikap dan reaksi. Sekali lagi, aku bersyukur, aku diijinkan Allah untuk bertemu dengan orang-orang baik, yang telah mengijinkan dirinya untuk lembut pada dirinya sendiri. Sebelum, lembut dan bersinar untuk orang lain.
Thanks to the awesome tim: Teh IIP FARIHA, Teh Ciko, kang Asep Sufyan Tsauri..
Juga temen² cintaaaah smuaaa Lita Edia, Dian KP, Lucky Soeriaatmadja, Teh Deasy Widjaja, Gentur Anto Judho.
Dan special Guest: duo N terdaebak: Noer & Nana
Yeayyyy we did it
Alhamdulilaaaah
🍒🎊🍒
me, ig@roelly__