Pada awalnya banten adalah daerah kekuasaan kerajaan padjajaran. Padjajaran mengadakan hubungan dagang dengan portugis dimalaka guna membendung meluasnya kekuasaan demak. Akibatnya, pada tahun 1526 Sultan Tranggono dari demak mengutus paletehan dan Pangeran Carbon (masih mempunyai hubungan darah dengan keluarga Raja Pakuan padjajaran yang beragama islam) untuk merebut banten dan pantai utara jawa barat. Usaha itu berhasil dengan gemilang. Banten,Sunda kela,dan Cirebon jatuh ke tangan paletehan. Sejak itu agama islam berkembang pesat dijawa barat. Banten segera tumbuh menjadi bandar yang penting diselat sunda setelah malaka jatuh ditangan portugis(1511) karena pedagang-pedagang dari Gujarat, India, Timur tengah, Arab, dan sebagainya dan sebagian enggan melabuh ke malaka.
Pada tahun 1522 Jorge d’ Albuquerque, Gubernur Portugis di Malaka, mengirim Henrique menemui Raja Samiam di Sunda untuk mengadakan perjanjian dagang dengannya. Pada tanggal 21 Agustus kesepakatan dagang antara Portugis dan Sunda Kelapa akhirnya disepakati. Dalam perjanjian ini, Kerajaan Sunda berkewajiban membayar 1000 bahar lada setiap tahunnya dan Kerajaan Sunda Padjajaran memberikan sebuah wilayah untuk dijadikan benteng Portugis. Sebagai imbalannya, Portugis akan melindungi Kerajaan Sunda Padjajaran dari serangan Kerajaan Islam yang saat itu telah berkembang di Pulau Jawa bagian tengah. Akhrinya, Portugis diberikan izin untuk mendirikan kantor dagang di Sunda kelapa.
Perjanjian dagang antara Portugis dan Sunda Kelapa tersebut tidak berhasil. Hal ini dikarenakan pada tahun 1925 wilayah Banten berhasil direbut dari kekuasan Sunda Padjajaran oleh pasukan dari Kesultanan Demak, salah satu kerajaan Islam di pulau Jawa. Pasukan ini dipimpin oleh seorang guru besar serta panglima militer yang handal yang berasal dari sebenarnya berasal dari Pasai, yaitu Fatahillah. Beliau diutus langsung oleh Kerajaan Demak yang saat itu diperintah oleh seorang sultan yang bernama Sultan Trenggono. Alasan mengapa Fatahillah diutus untuk menaklukkan Jawa Barat sebenarnya adalah untuk menghalau pengaruh Portugis yang saat itu sudah melakukan perjanjian dagang dengan kerajaan Sunda Padjajaran.
Pada tahun 1526, Sultan Trenggono mengutus Syarif Hidayatullah beserta pasukannya untuk menaklukkan Jawa Barat agar Portugis tidak dapat memasuki wilayah tersebut. Penyerangan yang dilakukan oleh Fatahillah beserta pasukannya berhasil. Wilayah Banten akhirnya jatuh ke tangan Kesultanan Demak. Sebagai orang yang memimpin penaklukan tersebut, Syarif Hidayatullah langsung diberikan wewenang oleh Sultan Trenggono untuk memimpin wilayah Banten.
Pada tahun 1552, Syarif Hidayatullah diharuskan kembali ke Cirebon. Cirebon merupakan wilayah yang dipimpin oleh Syarif Hidayatullah sebelum Banten. Setelah berhasil menaklukkan Banten, Syarif Hidayatullah diperintahkan oleh Sultan Trenggono untuk mengatur wilayah tersebut sehingga wilayah Cirebon diserahkan kepada salah seorang putra dari Syarif Hidayatullah yang bernama Pangeran Pasarean. Namun, putra yang diberikan mandat untuk memimpin wilayah Cirebon tersebut wafat mendahului ayahnya. Alhasil, Syarif Hidayatullah pun hijrah ke Cirebon untuk menggantikan putranya tersebut. Daerah Banten diserahkan kepada putra lainnya yang bernama Hassanudin.
Pada tahun 1546, Sultan Trenggono, Sultan kerajaan Demak gugur dalam penyerangan Kerajaan Demak ke Pasuruan. Hal ini menyebabkan terjadinya kekacauan dalam tubuh Kerajaan Demak sendiri. Negara-negara bagian atau kadipaten berusaha untuk memisahkan diri. Kerajaan Banten yang saat itu dipimpin oleh Hassanudin merupakan salah satu kadipaten yang ikut berusaha melepaskan diri dari kerajaan induknya, Demak. Akhirnya pada tahun 1568, Banten benar-benar terlepas dari kerajaan Demak. Pada tahun tersebut pula, Kerajaan Banten resmi berdiri dengan Maulana Hassanudin sebagai Sultan pertamanya.
Sumber: https://osf.io/k2fjv/download/?format=pdf