Design Thinking
Design Thinking
Kami ingin memahami kebiasaan warga sekolah dalam menggunakan energi listrik, terutama kebiasaan menyalakan lampu, kipas, AC, proyektor, dan alat elektronik lainnya. Kami mencari tahu apakah masih banyak siswa atau guru yang lupa mematikan peralatan listrik ketika ruangan sudah tidak digunakan. Selain itu, kami juga ingin mengetahui pendapat siswa mengenai cara yang mudah dan menarik untuk mengingatkan mereka agar lebih hemat energi. Dari hasil pengamatan tersebut, kami menemukan bahwa diperlukan media pengingat yang sederhana, menarik, dan mudah ditempatkan di berbagai ruangan sekolah.
“Aksi Hemat Energi” merupakan sebuah gerakan untuk meningkatkan kesadaran warga sekolah agar menggunakan energi listrik secara lebih bijak dan efisien. Permasalahan yang ingin kami selesaikan adalah masih adanya penggunaan listrik yang kurang diperlukan, seperti lampu dan kipas yang tetap menyala ketika kelas sedang kosong. Oleh karena itu, kami membuat media edukasi berupa stiker pengingat hemat energi yang ditempatkan di lokasi yang mudah terlihat, seperti dekat saklar lampu, kipas, AC, dan pintu kelas. Selain membuat stiker, kegiatan ini juga dilengkapi dengan sosialisasi dan pengawasan sederhana agar kebiasaan hemat energi dapat diterapkan secara konsisten di lingkungan sekolah.
Ide dari kelompok kami adalah membuat stiker pengingat hemat energi dengan desain yang sederhana, menarik, dan mudah dipahami oleh siswa. Stiker akan menggunakan kalimat singkat seperti “Sudah Matikan Lampu?”, “Kelas Kosong? Matikan Lampunya!”, dan “Gunakan Listrik Secukupnya”. Selain stiker, kami juga membuat poster kecil yang berisi tips menghemat energi di kelas. Kami memilih desain dengan gambar lampu, saklar, dan ikon energi agar pesan lebih mudah dipahami. Stiker dan poster tersebut akan ditempatkan di beberapa titik strategis di sekolah sehingga dapat menjadi pengingat bagi siswa dan guru setiap hari.
ALAT :
Laptop/komputer atau handphone
Aplikasi Canva
Printer
Gunting
Penggaris
Selotip/double tape
BAHAN :
Kertas stiker atau kertas HVS
Tinta printer
Plastik laminasi (jika diperlukan)
Double tape
LANGKAH LANGKAH :
Pertama, kami melakukan pengamatan di beberapa kelas untuk mengetahui kebiasaan penggunaan listrik dan menentukan tempat yang tepat untuk memasang stiker. Setelah itu, kami membuat beberapa desain stiker menggunakan Canva dengan menggunakan kalimat yang singkat dan menarik.
Selanjutnya, kami memilih desain yang paling mudah dibaca dan sesuai dengan lingkungan sekolah. Desain yang sudah selesai kemudian dicetak menggunakan kertas stiker. Jika menggunakan kertas HVS, hasil cetakan dapat dilapisi dengan plastik laminasi agar lebih tahan lama.
Setelah stiker selesai dibuat, kami memotongnya sesuai bentuk yang telah ditentukan. Kemudian, stiker ditempelkan di dekat saklar lampu, kipas, AC, atau pintu kelas. Kami juga membuat poster berisi beberapa cara sederhana untuk menghemat energi, seperti mematikan lampu ketika ruangan cukup terang, mematikan kipas atau AC ketika kelas kosong, dan mencabut alat elektronik yang tidak digunakan.
Setelah media terpasang, kami melakukan sosialisasi singkat kepada siswa mengenai pentingnya menghemat energi. Kami juga mengajak setiap kelas untuk membiasakan diri melakukan pengecekan sebelum meninggalkan ruangan.
Tahap uji coba dilakukan untuk mengetahui apakah stiker dan poster yang kami buat dapat menarik perhatian serta membantu meningkatkan kebiasaan hemat energi di sekolah. Kami meminta beberapa teman dan guru untuk memberikan pendapat mengenai desain, ukuran, warna, serta kalimat yang digunakan. Selain itu, kami mengamati apakah siswa mulai memperhatikan dan mengikuti pengingat yang terdapat pada stiker.
Kami juga melakukan pengawasan sederhana dengan melihat kondisi kelas setelah kegiatan belajar selesai, terutama apakah lampu, kipas, AC, dan alat elektronik lainnya sudah dimatikan ketika tidak digunakan. Dari hasil uji coba dan masukan yang diberikan, desain serta penempatan stiker dapat diperbaiki agar lebih efektif. Dengan adanya kegiatan ini, kami berharap kebiasaan hemat energi dapat diterapkan secara terus-menerus dan menjadi budaya positif di lingkungan sekolah.