Teorema Pythagoras tidak dapat diterapkan disemua segitiga. Teorema ini hanya berlaku untuk segitiga siku-siku yang mana luas persegi pada hipotenusa sama besarnya dengan jumlah luas persegi pada sisi yang lain atau sisi siku-sikunya. Dengan demikian ketiga segitiga siku-siku memiliki hubungan yang saling terikat.
Berikut dalil Teorema Pythagoras :
“Di dalam sebuah segitiga siku-siku diberlakukan kuadrat dari sisi miring sama dengan jumlah kuadrat dari sisi-sisi lainnya.”
Namun terdapat teori lain yaitu kebalikan dar Teorema Phtyagoras yang berfungsi untuk menentukan jenis segitiga bila panjang sisianya sudah diketahui. Maka jenis segitiga tersebut adalah:
Segitiga siku-siku, yang merupakan segitiga degan salah satu sudut siku 90o
Segitiga lancip, yang ketiga sudutnya lancip kurang dari 90o
Segitiga tumpul, yakni segitiga yang sudutnya tumpul atau berukuran lebih dari90o
RumusTeorema Pythagoras
Dilansir dari buku Be Smart Matematika oleh Slamet Riyadi, Teorema Pythagoras dinyatakan bahwa pada setiap segitiga siku-siku berlaku kuadrat sama dengan jumlah kuadrat sisi siku-sikunya. Misalnya terdapat segitiga siku-siku ABC
∠AB = Hipotenusa, ∠AC dan ∠BC adalah sisi siku-siku.
Berdasarkan Teorema Pythagoras maka berlaku:
∠AB2 = AC2 + BC2 atau c2 = b2 + a2
∠AC2 = AB2 - CB2 atau b2 = c2 - a2
∠BC2 = AB2 - AC2 atau a2 = c2 - b2