SMA NEGERI 4 Jakarta
Jl. Batu III No.3 Kel. Gambir Kec. Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta
2026
DISUSUN OLEH: KELOMPOK 2
KETUA : NILAM CANTIKA SUTAMI
ANGGOTA: 1. ERY PRASETYO
2. ARIMBI PRABANADJMITHA
3. MALIK JABBAR ALBASITU
4. JONATHAN ARGADO SULISTYO
5. RANDY KURNIAWAN LIAWINATA
KELAS : XI - F1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas Project Based Learning yang berjudul "Abonin: Inovasi Produk Abon Lele Hasil Budikdamber dan Pengolahan yang Bernilai Jual dan Kreatif" dengan baik. Proposal ini disusun sebagai bagian dari kegiatan Project Based Learning Kelompok 2 kelas XI-F1 SMA Negeri 4 Jakarta.
Dalam proyek ini, kami mengangkat kegiatan budidaya lele dalam ember (Budikdamber) yang kemudian dipadukan dengan pengolahan hasil panen menjadi produk Abon Ikan Lele yang kami beri nama Abonin. Melalui proyek ini, kami berharap dapat memperoleh pengalaman dan pengetahuan mengenai proses budidaya ikan, pengolahan hasil panen, kerja sama kelompok, serta pemanfaatan hasil budidaya menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan berdaya jual.
Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar proposal ini dapat menjadi lebih baik. Kami atas nama Kelompok 2 Project Based Learning kelas XI-F1 memohon maaf atas segala kesalahan maupun kekurangan dalam penyusunan proposal ini.
Semoga proyek dan proposal yang kami susun dapat memberikan manfaat serta menambah wawasan bagi para pembaca, khususnya dalam mengenal metode Budikdamber dan pemanfaatan hasil panen lele menjadi produk olahan yang kreatif dan bernilai ekonomi.
Sekian
Tim Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Berdasarkan penelitian urban farming dalam Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Universitas Brawijaya, keterbatasan lahan di kawasan perkotaan menuntut penerapan inovasi budidaya yang hemat ruang guna mendukung ketahanan pangan dan nilai ekonomi masyarakat. Budidaya ikan merupakan salah satu kegiatan yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan sekaligus menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi. Namun, keterbatasan lahan menjadi salah satu kendala dalam melakukan kegiatan budidaya, terutama di lingkungan perkotaan. Oleh karena itu, diperlukan metode budidaya yang sederhana, efisien, dan dapat diterapkan pada lahan yang terbatas.
Menurut Nursandi (2018) dari Politeknik Negeri Lampung dalam riset pengembangan Budikdamber serta Jurnal Ilmu-Ilmu Perikanan Universitas Gadjah Mada, Budikdamber merupakan solusi akuaponik portabel yang efisien untuk lahan sempit, di mana ikan lele sangat ideal digunakan karena memiliki daya tahan tubuh yang kuat dan laju pertumbuhan cepat. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah Budikdamber (Budidaya Ikan dalam Ember). Budikdamber merupakan metode pemeliharaan ikan menggunakan wadah berupa ember yang dapat dikombinasikan dengan kegiatan budidaya tanaman. Metode ini memanfaatkan ruang secara efisien sehingga dapat menjadi alternatif kegiatan budidaya ikan dalam skala sederhana. Ikan lele menjadi salah satu jenis ikan yang sesuai untuk dikembangkan melalui metode tersebut karena relatif mudah dipelihara dan memiliki nilai konsumsi yang tinggi.
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) menyatakan bahwa diversifikasi pengolahan daging ikan menjadi olahan kering seperti Abon merupakan langkah strategis untuk memperpanjang daya simpan (shelf life), menambah cita rasa, serta meningkatkan nilai tambah (value-added) komoditas perikanan. Namun, kegiatan budidaya tidak hanya dapat berhenti pada tahap pemeliharaan dan pemanenan. Hasil panen juga dapat diolah menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah. Pengolahan ikan menjadi abon merupakan salah satu cara untuk meningkatkan nilai guna hasil panen sekaligus menghasilkan produk abon yang gurih, tahan lama, praktis untuk dikonsumsi, dan memiliki potensi besar untuk dipasarkan.
Menurut Jurnal Pengabdian dan Kewirausahaan Universitas Pendidikan Indonesia, pengolahan daging lele menjadi produk abon lele memiliki keunggulan sebagai produk olahan bernilai gizi tinggi, kaya protein, serta disukai berbagai kalangan masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, Kelompok 2 kelas XI-F1 SMA Negeri 4 Jakarta mengembangkan sebuah proyek dengan nama Abonin. Abonin merupakan produk abon berbahan dasar ikan lele yang diperoleh dari kegiatan Budikdamber. Melalui Abonin, produk olahan abon lele diproduksi secara higienis sehingga menghasilkan tekstur abon yang renyah dan lezat. Proyek ini menggabungkan proses budidaya lele dalam ember dengan pengolahan hasil panen menjadi produk pangan berupa abon lele yang memiliki nilai tambah dan berdaya jual.
Inovasi pembuatan produk abon berbasis ikan lele memiliki peluang pasar yang menjanjikan sebagai olahan kreatif berbasis sumber daya lokal, berdasarkan Jurnal Inovasi dan Bisnis Perikanan Universitas Riau. Oleh karena itu, proyek Abonin diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk inovasi dalam memanfaatkan metode Budikdamber sekaligus mengembangkan hasil panen menjadi produk olahan abon lele yang kreatif, bermanfaat, dan memiliki potensi ekonomi tinggi.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, rumusan masalah dalam proyek ini adalah:
Bagaimana mengolah hasil panen ikan lele dari Budikdamber menjadi produk Abonin yang berkualitas dan inovatif?
Bagaimana mengembangkan Abonin melalui kreativitas dalam cita rasa, kemasan, dan identitas produk agar memiliki daya tarik dan nilai jual?
Bagaimana Abonin dapat menjadi bentuk pemanfaatan hasil Budikdamber yang memberikan nilai tambah secara kreatif dan ekonomis?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan proyek ini yaitu:
Untuk memahami dan mengolah hasil panen ikan lele dari Budikdamber menjadi produk Abonin yang berkualitas dan inovatif.
Untuk mengembangkan Abonin melalui kreativitas dalam cita rasa, kemasan, dan identitas produk agar memiliki daya tarik dan nilai jual.
Untuk menjadikan Abonin menjadi bentuk pemanfaatan hasil Budikdamber yang memberikan nilai tambah secara kreatif dan ekonomis.
1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari pembuatan proyek ini, yaitu:
Memberikan pengalaman kepada siswa dalam menerapkan metode Budikdamber untuk membudidayakan ikan lele.
Menambah pengetahuan mengenai pemanfaatan dan pengolahan hasil panen ikan menjadi produk pangan.
Mendorong siswa untuk berpikir kreatif dalam mengembangkan hasil budidaya menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Melatih kemampuan siswa dalam bekerja sama, membagi tugas, dan menyelesaikan permasalahan selama proses proyek.
Mengenalkan konsep kewirausahaan melalui pembuatan produk Abonin yang memiliki potensi untuk dipasarkan.
Meningkatkan kesadaran mengenai pemanfaatan sumber daya secara efektif sehingga hasil budidaya tidak hanya dikonsumsi sebagai bahan pangan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Menjadi pengalaman bagi siswa dalam memahami proses produksi, mulai dari budidaya bahan baku hingga menghasilkan produk olahan yang siap digunakan atau dipasarkan.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Abonin
Abonin merupakan brand dan nama produk inovasi abon berbahan dasar ikan lele (Clarias sp.) yang dikembangkan oleh Kelompok 2 Kelas XI-F1 SMA Negeri 4 Jakarta. Produk Abonin secara khusus memanfaatkan hasil panen dari kegiatan Budikdamber (Budidaya Ikan dalam Ember) di lingkungan sekolah. Daging lele segar diolah menggunakan formulasi rempah pilihan dan teknik pengeringan yang higienis, sehingga menghasilkan tekstur abon lele yang renyah, gurih, dan berkualitas tinggi. Sebagai sebuah produk olahan, Abonin tidak hanya menjadi representasi pemanfaatan pangan lokal, tetapi juga menjadi bukti nyata hilirisasi produk hasil budidaya mandiri yang siap dipasarkan dengan kemasan bernilai jual.
Abon merupakan salah satu bentuk olahan pangan kering berbasis serat daging atau ikan yang dikombinasikan dengan bumbu rempah-rempah, diolah melalui proses perebusan, penggorengan, hingga pengeringan. Secara umum, abon dikenal sebagai produk pangan yang praktis, memiliki cita rasa gurih yang khas, serta mempunyai daya simpan yang panjang karena kadar airnya yang rendah. Pengolahan ikan menjadi abon tidak hanya mempertahankan kandungan gizi utama seperti protein tinggi dan omega-3, tetapi juga mengubah tekstur daging ikan menjadi lebih awet, tidak amis, dan mudah dikonsumsi oleh semua kalangan.
Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang banyak dikonsumsi masyarakat. Lele memiliki kemampuan beradaptasi terhadap berbagai kondisi lingkungan dan relatif mudah dibudidayakan sehingga banyak digunakan dalam kegiatan budidaya ikan skala rumah tangga maupun komersial.
Dalam kegiatan Budikdamber, pemeliharaan lele membutuhkan perhatian terhadap kualitas air, pemberian pakan yang sesuai, kepadatan ikan, serta kondisi kesehatan ikan. Pemeliharaan yang baik diperlukan agar ikan dapat tumbuh dengan optimal hingga mencapai ukuran yang dapat dipanen.
Budikdamber merupakan singkatan dari Budidaya Ikan dalam Ember, yaitu metode budidaya ikan yang menggunakan ember atau wadah sederhana sebagai tempat pemeliharaan ikan. Metode ini dikembangkan sebagai salah satu alternatif budidaya ikan yang dapat dilakukan pada lahan terbatas.
Budikdamber memiliki beberapa kelebihan, antara lain penggunaan tempat yang relatif sederhana, dapat dilakukan pada area dengan lahan terbatas, serta dapat dimanfaatkan sebagai kegiatan pembelajaran mengenai budidaya dan ketahanan pangan. Dalam pelaksanaannya, keberhasilan budidaya tetap dipengaruhi oleh faktor seperti kualitas air, pemberian pakan, kepadatan ikan, kebersihan wadah, dan pemeliharaan secara rutin.
2.5 Pengolahan Ikan Menjadi Abon
Pada pengolahan abon ikan, daging ikan diolah melalui beberapa tahap seperti pemasakan, pemisahan daging dari bagian yang tidak digunakan, pencampuran dengan bumbu, dan proses pengeringan atau pemasakan hingga menghasilkan tekstur yang sesuai.
Pengolahan menjadi abon dapat memberikan nilai tambah terhadap ikan karena menghasilkan produk yang memiliki karakteristik berbeda dari bahan bakunya. Selain itu, abon dapat menjadi alternatif produk olahan yang praktis untuk dikonsumsi.
Dalam proyek ini, ikan lele hasil Budikdamber dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan Abonin. Dengan demikian, proses proyek mencakup rangkaian kegiatan mulai dari budidaya bahan baku hingga pengolahan hasil panen menjadi produk.
2.6 Nilai Tambah Produk
Nilai tambah merupakan peningkatan nilai suatu bahan setelah mengalami proses pengolahan. Bahan pangan yang awalnya berupa bahan mentah dapat memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi setelah diolah menjadi produk yang memiliki bentuk, rasa, kemasan, dan fungsi yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Dalam proyek Abonin, ikan lele hasil Budikdamber tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan pangan secara langsung, tetapi diolah menjadi abon. Proses tersebut memberikan nilai tambah melalui pengolahan, pemberian cita rasa, pengemasan, dan pengembangan konsep produk.
2.7 Kewirausahaan dan Daya Jual Produk
Suatu produk tidak hanya perlu memiliki manfaat, tetapi juga perlu memiliki daya tarik dan nilai ekonomi apabila akan dipasarkan. Daya jual produk dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kualitas produk, rasa, tampilan, kemasan, harga, serta kemampuan produk dalam memenuhi kebutuhan konsumen.
Melalui Abonin, siswa diperkenalkan pada proses sederhana dalam mengembangkan suatu produk dari bahan baku hingga menjadi produk yang memiliki potensi untuk dijual. Kegiatan ini dapat melatih kemampuan dalam menentukan konsep produk, memperhatikan kualitas, membuat kemasan, serta mempertimbangkan kebutuhan calon konsumen.
2.8 Kreativitas dalam Pengembangan Abonin
Kreativitas merupakan kemampuan untuk menghasilkan ide atau gagasan baru yang dapat diterapkan dalam menciptakan maupun mengembangkan suatu produk. Dalam proyek ini, kreativitas diterapkan melalui pengembangan Abonin sebagai inovasi abon berbahan dasar ikan lele hasil Budikdamber. Kreativitas dapat diwujudkan melalui pemilihan cita rasa, bentuk dan desain kemasan, nama serta identitas produk, hingga cara penyajian dan pemasaran. Penerapan kreativitas tersebut diharapkan membuat Abonin memiliki ciri khas, lebih menarik bagi konsumen, serta meningkatkan nilai tambah dan daya jual produk.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Proyek ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan praktik atau eksperimen sederhana. Metode tersebut digunakan karena kegiatan berfokus pada penerapan metode Budikdamber dalam budidaya ikan lele serta pengolahan hasil panen menjadi produk abon.
Dalam pelaksanaannya, kelompok melakukan pengamatan dan praktik secara langsung terhadap proses budidaya, pemeliharaan, pemanenan, dan pengolahan ikan lele. Hasil dari setiap tahap kemudian digunakan untuk mengevaluasi proses dan mengembangkan produk Abonin.
Sumber data dalam proyek ini terdiri atas data primer dan data sekunder.
Data primer diperoleh melalui pengamatan dan pengalaman langsung selama proses budidaya lele menggunakan metode Budikdamber serta proses pengolahan ikan lele menjadi Abonin.
Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber tertulis seperti buku, jurnal ilmiah, artikel pendidikan, serta sumber terpercaya yang membahas Budikdamber, budidaya ikan lele, pengolahan ikan, dan pengembangan produk pangan.
Proyek ini diharapkan menghasilkan produk Abonin, yaitu abon berbahan dasar ikan lele yang berasal dari kegiatan Budikdamber. Selain menghasilkan produk olahan, proyek ini diharapkan memberikan pengalaman kepada siswa mengenai proses budidaya, pengolahan pangan, kerja sama kelompok, serta pengembangan produk yang memiliki nilai tambah dan potensi daya jual.
3.2 Design
3.3 Timeline
Hari pertama (27/08/26) : Mencari solusi yang efektif untuk menjawab masalah dari sub-tema yang telah ditentukan. Kemudian menentukan ide produk yang akan dibuat sebagai inovasi dalam mengembalikan semangat belajar
pada siswa.
Hari Kedua (28/08/26) : Membuat Design Thinking, Proposal, dan prototipe produk berupa desain.
Hari Ketiga (31/08/26) : Mempresentasikan rancangan awal dan merancang prototype
Hari Keempat (01/09/26) : Mengumpulkan bahan dan alat yang akan digunakan
Hari Kelima (02/09/26) : Melengkapi proposal dan melanjutkan proposal
Bimbingan (07/09/26 - 16/10/26) : Menulis lembar kontrol
Hari Keenam (19/10/26) : Seminar proposal dan melanjutkan prototype sekitar 80%
Hari Ketujuh (20/10/26) : Melanjutkan prototype sekitar 90%
Hari Kedelapan (21/10/26) : Mempersiapkan konsep stand dan melakukan konsultasi kepada guru pembimbing
Hari Kesembilan (22/10/26) : Mempersiapkan produk dan stand serta melengkapi G-Sites
Hari Kesepuluh (23/10/26) : Pameran karya
BAB IV
RANCANGAN PRODUK
4.1 ABONIN (Abon Ikan Lele)
Inovasi ABONIN adalah pengolahan daging ikan lele menjadi produk abon kering siap saji untuk memperpanjang masa simpan, meningkatkan nilai ekonomis, dan menambah variasi pangan bergizi. Ikan lele ini didapatkan dari Budikdamber yang telah dilakukan sebelumnya. Abon ikan lele yang dihasilkan memiliki cita rasa khas, tekstur lembut, serta dikemas dalam kemasan menarik. Bahan-bahan yang digunakan yaitu:
Santan kental: 200 ml (dari 1/2 butir kelapa)
Minyak goreng: Secukupnya (untuk menggoreng/menumis)
Bawang merah: 8 siung
Bawang putih: 5 siung
Ketumbar sangrai: 1 sendok teh
Lengkuas: 2 cm
Jahe: 2 cm
Kunyit: 2 cm (bakar sebentar)
Garam: 1,5 sendok makan (sesuai selera)
Gula merah: 50 gram (sisir halus)
Air asam jawa: 1 sendok makan
Daun jeruk: 4 lembar (buang tulang daunnya)
Serai: 2 batang (memarkan)
4.2 BUDIKDAMBER (Budidaya Ikan Dalam Ember)
Budikdamber merupakan akronim dari Budidaya Ikan dalam Ember. Budikdamber adalah sebuah inovasi berupa teknik budi daya ramah lingkungan. Inovasi ini melakukan budi daya ikan dengan menggunakan sarana ember untuk membudi dayakan ikan dan media air untuk pertumbuhan ikan.
Tidak semua jenis ikan dapat dibudidayakan dengan teknik Budikdamber. Jenis ikan yang tahan oksigen rendah saja yang cocok dibudidayakan dengan metode ini, seperti ikan lele, betok, gurame, dan patin. Untuk budi daya kami, ikan lele akan menjadi pilihan ikan dalam metode budi daya ini. Budikdamber kami akan menggunakan galon air yang akan dibagi dua lalu dijadikan wadah menyerupai ember.
BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Dari hasil proyek Abonin: Inovasi Produk Abon Lele Hasil Budikdamber dan Pengolahan yang Bernilai Jual dan Kreatif, dapat disimpulkan bahwa inovasi budi daya ikan dalam ember serta mengolah produk berupa abon ikan lele menggunakan metode ramah lingkungan yang sederhana dan efektif. Penggabungan konsep Budikdamber (Budidaya Ikan dalam Ember) yang mampu membesarkan ikan lele dengan inovasi Abonin yang memanfaatkan ikan lele menjadi makanan abon siap saji sangat berpeluang untuk memiliki nilai ekonomi sekaligus menanggapi keterbatasan lahan yang dimiliki.
Inovasi Abonin memanfaatkan ikan lele menjadi makanan cepat saji berupa abon yang memiliki cita rasa yang khas, tekstur yang lembut, dan potensi untuk memiliki nilai ekonomis. Budikdamber dapat membantu dalam pengolahan produk tersebut dengan membudidayakan ikan lele menggunakan sarana ember agar tetap bisa dijalankan meskipun dengan keterbatasan lahan.