Kuliner tradisional khas Sunda yang menyajikan berbagai macam sayuran segar dalam kondisi mentah (atatah), seperti kacang panjang, mentimun, tauge, terong gelatik, kol, dan daun kemangi (surawung), dengan siraman saus bumbu kacang tanah yang diulek bersama kencur, cabai, gula merah, dan terasi.
Secara antropologis, hidangan ini merepresentasikan kebiasaan agraris masyarakat Sunda yang memiliki kedekatan erat dengan alam dan kegemaran mengonsumsi lalapan segar. Pola konsumsi sayuran mentah ini menjadi bukti otentik dari tingginya tingkat kesuburan tanah vulkanis di wilayah Jawa Barat pada masa lampau, yang memungkinkan masyarakat memanfaatkan hasil bumi secara langsung tanpa proses pengolahan api yang rumit. karedok mencerminkan filosofi kesederhanaan, keaslian rasa, dan keselarasan dengan ekosistem.
Penganan tradisional legendaris Sunda yang dibuat dari adonan tepung beras, santan kelapa, dan parutan kelapa muda. Keunikan utama kuliner ini terletak pada bertahannya teknik pengolahan kuno, di mana adonan dipanggang di atas cetakan berbentuk cawan dari tanah liat (asapan) dan dibakar menggunakan tungku arang atau kayu bakar tradisional.
Metode pembakaran ini menghasilkan tekstur kue yang berpori lembut di bagian atas serta renyah beraroma asap khas di bagian bawah. Secara historis, surabi asli Sunda disajikan dalam dua varian rasa otentik, yaitu surabi polos dengan kuah kinca (gula merah cair) atau surabi gurih dengan taburan oncom pedas (hasil fermentasi bungkil tahu khas Jawa Barat). Dokumen tata cara pengolahan ini menjadi bukti bertahannya teknologi pangan tradisional di tengah modernisasi kuliner global.
Hidangan makanan berat khas Sunda berupa nasi hangat yang diaduk dan ditumbuk bersama oncom bakar yang telah dibumbui kencur, bawang merah, bawang putih, cabai, dan garam. Kata tutug dalam bahasa Sunda memiliki arti "menumbuk" atau "menghancurkan", yang merujuk pada proses pencampuran sediaan pangan tersebut. Sajian ini secara tradisional dihidangkan dalam pincuk daun pisang bersama laupan ayam goreng, tahu, tempe, lalapan segar, dan sambal goang.
Secara historis, nasi tutug oncom awalnya merupakan simbol ketahanan pangan rakyat jelata di wilayah Tasikmalaya pada masa pasca-kemerdekaan. Pemanfaatan oncom—yang merupakan produk fermentasi bungkil tahu—mencerminkan kecerdasan pangan lokal dalam mengolah keterbatasan bahan baku menjadi sumber protein yang padat gizi dan kaya rasa. Transformasi hidangan ini menjadi kuliner populer di seluruh strata sosial membuktikan adaptasi nilai kebersahajaan yang menjadi identitas dasar gastronomi Sunda.
Penganan tradisional khas Sunda berbentuk balok persegi panjang tebal yang dibuat dari adonan tepung terigu, telur, susu, margarin, dan gula pasir. Keunikan utama penganan legendaris ini terletak pada metode pemanggangannya yang menggunakan cetakan logam khusus, di mana sumber panas arang kayu diletakkan secara simultan di dua sisi: di bawah cetakan dan di atas penutup cetakan arang (panggangan atas-bawah). Teknik ini menghasilkan kematangan kue yang khas dengan tekstur luar yang padat namun memiliki bagian dalam yang lembut.
Lahir di wilayah Garut dan Bandung sejak era kolonial, kue balok awalnya berfungsi sebagai makanan padat kalori yang efisien bagi para pekerja pabrik dan buruh angkut karena sifatnya yang mengenyangkan dan tahan lama. Proses pembuatan yang mempertahankan penggunaan arang kayu tradisional menjadi kunci penjaga aroma khas yang tidak dapat digantikan oleh oven modern. Jajanan ini merekam sejarah perkembangan sub-kultur urban dan adaptasi kuliner masyarakat industri di Jawa Barat.