Kampung Baca Giwangan mengadakan kegiatan belajar bersama salah satu komunitas Yogyakarta. Komunitas ini dikenal dengan sebutan GCK (Generasi Cerdas Keuangan) Yogyakarta. Dalam kegiatan ini anak-anak diajak untuk membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan. Selain itu anak-anak diajarkan untuk menejemen keuangan, mana uang untuk konsumsi, sedekah dan menabung. . Kegiatan ini dihadiri 30 anak dan pendamping. Kegiatan berlangsung dari jam 09.00- 11.00 WIB. Harapan dari kegiatan ini anak-anak akan lebih sadar pentingnya mengatur pola keuangan sejak dini.
Sejak awal saat deklarasi Kampung Baca Cakrawala Giwangan sudah bermitra dengan GPAN (Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara) dalam mengadakan kegiatan literasi yang ada di Giwangan.
InsyaAllah kegiatan kedepan sudah kami rencanakan dengan mitra kami ini untuk mewujudkan Kampung Baca Cakrawala dengan kegiatan yang positif dan kreatif.
Pesan MBk Najwa Shihab Untuk pejuang Penggiat Literasi "Terpujilah mereka yang gigih sebarkan bahan bacaan kepada mereka yang haus ilmu pengetahuan. Merekalah yang menyodorkan jendela dunia agar anak-anak bangsa dapat berpikir seluas cakrawala".
Dalam meningkatkan pelayanan di Kampung Baca Giwangan. Dinas perpustakaan kota menggerakkan armada layanan puspita untuk memberikan edukasi mengenai literasi Layanan puspita di lakukan 2x setiap bulan. Tempat di Serambi Masjid Al Azhar. Setiap hari Jumat Bada Asar
Begitu pula layanan Monika yang selalu menemani anak-anak di Kampung Giwangan. Layanan ini juga menyediakan internet yang bisa di akses anak-anak. Layanan Monika ini betempat di RW 01. Setiap selasa Malam 2x setiap bulan.
Dalam menarik anak-anak untuk kegiatan positif biasaya ada strategi khusus bagi mereka. Kami bekerjasama dengan tim Rumah baca RM Suryowinoto untuk berkolaborasi serta meminjam maskot miliknya untuk kegiatan bersama.
Hal ini upaya kami agar anak-anak biar datang dan bisa berfoto dan bermain dengannya. Nama maskor rumah baca ini adalah akira.
Sebuah untaian kata yang indah dan syarat akan makna.
" Ilmu adalah cahaya, Maka jadikan pena Dan buku sebagai pedang dalam pembelajaran"
maknanya ilmu sebagai cahaya disini sebagai simbol energi positif yang memberikan perubahan di masyarakat. Masyarakat bisa memaksimalkan adanya kampung baca ini sebagai salah satu ikhtiar membuka cakarawala atau wawasan agar selalu bermanfaat untuk sekitar.
Dunia digital sudah tidak dipungkiri. Mau tidak mau teknologi semakin canggih. Tapi di sisi lain kearifan lokal berupa permainan tradisional juga dikenalkan kepada masyarakat. Kampung baca Cakrawala juga berkomitmen untuk melestarikan permainan tradisional. Untuk itu kami akan menajalin komunikasi dengan komunitas dolanan anak jogja yang bergerak di dunia permainan tradisional.
Program 1 hari 1 Cerita ini merupakan program Ramadhan tahun ini di Kampung Baca Giwangan. Program ini kami jalankan dengan mitra kami yaitu anak-anak panti. Karena baru keadaan seperti ini kami belum bisa mengumpulkan warga. Harapan program ini adalah anak-anak akan menambah wawasan melalui cerita yang menarik dan kaya akan hikmah.
Agenda setiap bulan dari kampung baca kami adalah adanya program monitoring dari Dinas Perpustakaan dan kerasipan. Monitoring ini sangat bermanfaat bagi teman-teman pengelola kampung baca di wilayah. Kami di dampingi pendamping yang ramah dan baik hati. Manfaat dari monitoring sangat banyak salah satunya permasalahan yang dihadapi masing-masing kaca akan ada solusi.
Slogan Kelurahan Giwangan adalah Peduli adalah Solusi. sering disingkat PAS. Bukan hanya slogan semata melainkan ada usaha nyata dalam mewujudkannya. Hal ini kami rasakan sebagai salah satu pengurus Kampung Baca Cakrawala Giwangan di salah satu kampung di wilayah Kelurahan Giwangan.
Program sambang wilayah bertujuan membangun kedekatan antara pemangku kebijakan di wilayah kelurahan dengan pelaksana kegiatan di wilayah RT ataupun RW.
Kami sangat senang dapat berjumpa dengan pak Lurah dan pengurus kampung, pengurus RW dan RT. Masukan dari pemangku kebijakan sangat memabantu kami dalam membuat kegiatan yang bermanfaat.
Sinar Giwangan adalah nama relawan mengajar yang ada di tempat kami. Relawan mengajar ini dibentuk dalam menghadapi Pandemi Covid 19 ini untuk mendampingi kegiatan atau belajar di wilayah. Relawan mengajar tidak bekerja sendirian melainkan adanya kolaborasi dari berbagai pihak.
Pihak yang mendukung kegiatan relawan mengajar antara lain Kampung Baca Cakrawala Giwangan, Kampung Ramah Anak, Jam Belajar masyarakat (JBM Aktif RW 01), Taman Baca RM Suryowinoto, PAUD dan mahasiswa KKN mandiri di wilayah masing-masing. Dalam mengadakan kegiatan relawan ini di bagi sesuai RT masing-masing agar memudahkan dalam pengkondisian anak.
Hari Minggu tanggal 28 Juni 2020, relawan mengajar mengadakan kegiatan dengan tema kebersihan. Kegiatan yang dilakukan ini mengambil tema kebersihan yang lebih fokusnya adalah cara cuci tangan dengan baik.
Harapannya kegiatan ini anak-anak dapat menjaga kebersihan dengan cara cuci tangan yang baik dan dapat diamalkan dalam keseharian.
Kegiatan relawan mengajar akan diadakan setiap minggu dengan tema yang berbeda-beda. Agar dalam masa seperti ini anak-anak juga mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
Giwangan. Kampung baca tidak hanya identik dengan kegiatan membaca buku. Kegiatan kampung baca ada juga untuk meningkatkan minat bakat anak. Untuk mengisi kegiatan anak kegiatan bulan Juli diisi dengan kegiatan membuat donat. Kegiatan diselenggarakan pada hari sabtu pukul 09.00 sampai 12.00. Anak-anak sangat antusias dan senang. Karena masih dalam masa Covid. Anak-anak tetap memakai masker dan mengikuti PHBS.
Giwangan. Hari ini terasa berbeda dengan hari-hari biasanya. Hari ini ada tamu dari Forum anak Kota Yogyakarta. Kegiatan ini bersinergi bersama antara kampung baca cakrawala dan kampung Ramah anak Rw 01. Dalam kegiatan ini mas Ferian salah satu fasilitator memberikan pesan untuk anak-anak menjaga PHBS dengan baik misalnya cuci tangan dengan baik dan benar. Materi yang disampaikan sangat menarik sehingga tidak terasa waktu 1 jam setengah terasa singkat. Lebih menarik lagi karena ada doorprise yang disediakan. Anak-anak dilatih aktif dan belajar menjawab pertanyaan yang di berikan.
Alhamdulillah sudah di terima dengan baik dan ramah di sini. Terima kasih @jbradiojogja sudah memberi kesempatan kepada kami untuk menyampaikan program dan kegiatan di masing-masing 7 kampung baca di kota Yogyakarta.
Giwangan. Masih dalam nuansa kemerdekaan dan mengingat sejarah. Kami Relawan Mengajar "Sinar Giwangan", Rumah Baca dan TIM JBM RW 01 mengadakan kegiatan untuk mengenalkan Pahlawan kepada anak-anak. Kita beri judul Jendral Sudirman Super Hero Indonesia. Kami mengambil judul seperti itu karena anak-anak menganggap super hero yang ada dan yang dikenal yang ada di TV saja. Misal Ultramen, Power Ranger dll. Padahal para pahlawan itu juga super Hero yang nyata. Sehingga kami ingin mengenalkan pahlawan-pahlawan tersebut kepada anak-anak melalui cerita.
Kami mengundang Dhek Asira dan Alikka yang bercerita di depan anak-anak. Kebetulan dhek Asira dan Alikka suka dengan dunia cerita dan suka menyanyi lhoo. Kegiatan di mulai dari jam 16.00, sebelum anak-anak masuk aula. Anak-anak mengikuti protokol kesehatan yang telah di sampaikan. Memakai masker, cuci tangan, dan di chek suhu tubuh. Dhek asira dan dhek Allika bercerita kurang lebih 15 menit dan di lanjutkan Menyanyi.
Sebelum pulang anak-anak menempelkan impian mereka di pohon Cita-cita. Setelah itu Dhek asira dan allika bersama Generasi Cerdas Keuangan memberikan Celengan agar anak-anak suka menabung sebagai doorprise karena telah mengikuti kegiatan yang positif.
Giwangan, Program Kampung Baca Giwangan salah satunya Literasi Terapan yang diprogramkan setiap minggu. Kegiatan ini terlaksana kerja sama dari dinas perpustakaan dan dinas pendidikan Kota Yogyakarta.
Kegiatan minggu ini membuat Bunga dari kain perca. Kegiatan ini sangat di minati masyarakat khususnya ibu-ibu. Manfaat kegiatan ini sangat banyak, Bunga dari kain perca yang dibuat bisa menjadi kerajinan untuk menghias kantor atau rumah. Harapan ibu-ibu yang mengikuti kegiatan, terus diadakan semacam kegiatan seperti ini.
Literasi terapan yang dilakukan lainnya pada bulan September dengan tema Tanaman di Perkotaan. Pemateri dari Mbk Hawa dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta.
Kegiatan di laksanakan pada Hari Jumat sore. Alhamdulillah antusia peserta sangat banyak. Tetapi karena masih masa pandemi kami membatasi peserta kegiatan maximal 10 orang. Materi yang disampiakan sangat menarik. Sebelum kegiatan diakhri foto bersama, peserta diajak bapak sudar melihat tanaman yang ada di pinggir embung dan usaha jamur yang telah dirintisnya.
Setelah melihat tanaman dan jamur, peserta melihat kondisi embung yang akan di jadikan lokasi taman pintar 2 sekaligus foto bersama.
Literasi terapan merupakan salah satu program dari kampung baca. Dalam pelaksanaan kegiatan di dampingi dari dinas perpustakaan dan dinas pendidikan kota Yogyakarta.
Materi yang disampaikan saat pertemuan kemarin mengenai kreasi hantaran. Kegiatan ini bertempat di RW 04 Giwangan
Alhamdulillah kegiatan berjalan dengan lancar dan ibu-ibu juga senang karena mendapatkan ilmu dan pengalaman dalam kegiatan.
Literasi terapan bulan Desember dilaksanakan dari hari senin s.d jumat tanggal 14-18 Desember 2020. Dengan berbagai materi yang menarik yang telah disiapkan pengurus perpustakaan Kota Yogyakarta.Kegiatan ini dilakukan secara daring melihat situasi wilayah yang belum memungkinkan. Kegiatan ini juga baru tahap ujicoba yang dilakukan dinas Perpustakaan. Kegiatan ini dilakukan dalam waktu 5 hari secara berurutan. Adapun waktunya jam 12.30 s.d 15.00 WIB. Pengurus Kaca dan Dinas mengevaluasi kegiatan secara daring ini. Ada beberapa kendala kegiatan antara lain jaringan dan kesibukan ibu-ibu untuk mengikuti kegiatan.
Namun demikian kegiatan ini berjalan dengan lancar walapun belum maximal dikarenakan kendala jaringan. Alhamdulillah TIm kaca Giwangan bisa mengikuti semua kegiatan yang dilakukan walapun dengan peserta yang terbatas dan gantian.
Giwangan. Silaturahim tim kaca Giwangan dan Pendamping JBM 2021 Kelurahan Giwangan kepada Lurah Baru. Hal ini dilakukan sebagai sarana memperkuat program yang sudah ada untuk dikembangkan lebih baik lagi. Selain itu kami bersinergi bersama dengan pemangku kebijakan wilayah dalam bidang pendidikan di Kelurahan Giwangan. Jam Belajar Masyarakat dan Kampung Baca merupakan bagian program yang kami sampaikan kepada beliau. Dari kegiatan dan permasalahan yang kami temui dilapangan.
Bu Lurah Giwangan sangat antusias dalam menyambut kegiatan yang kami paparkan. Semoga kedepan bisa berkolaborasi demi giwangan yang lebih baik.
Giwangan. Perencanaan sangat penting dalam perubahan Kampung. Apa saja yang menjadi program bisa diusulkan lewat pra musrenbang. Perencanaan dari tingkat RT dan RW yang dibicarakan dan diakomodir di tingkat Kampung. Tim Kampung Baca Giwangan tahun ini sudah mulai diikutkan dalam kegiatan ini. Kegiatan kaca ternyata mendapat perhatian dari pengurus kampung. SEmoga kedepan lebih baik
Giwangan. Untuk mengisi kegiatan anak-anak dikala pandemi kami mengadakan kegiatan mewarnai gerabah di Rumah baca yang ada di RW 01. Kegiatan ini kami selenggarakan untuk mengisi kejenuhan anak-anak. Alhamdulillah kegiatan berjalan lancar walaupun kegiatannya pesertanya kita batasi
Giwangan. Identitas komunitas biasaya ditandai dengan berbagai cara. Pada tahun 2021 ini kami mengawali untuk membuat Kaos Lapangan. Kaos ini bisa digunakan untuk kegiatan Kampung baca.
Giwangan. Agenda silaturahim ke kelurahan di agendakan Tim Kaca Giwangan awal bulan ini. Upaya ini dilakukan untuk mengenal dengan pegawai kelurahan yang baru. Kami memberikan 1 kalender kaca yang berisi kegiatan kaca tahun 2020. Semoga silaturahim terjaga dan membawa dampak yang positif untuk kemajuan kampung.
Giwangan. Literasi terapan pada bulan Februari sudah di mulai lagi. Kegiatan pada tahun 2021 memfokuskan hanya 3 kegiatan utama. Kegiatan antara lain Memasak, Membatik dan Pertanian.
Kegiatan Memasak bulan ini ditempat Bu wiwik. Sebagai Pemateri adalah Mas Angga. Pengalaman Pemateri tidak diragukan lagi.
Peserta yang kita undang adalah perwakila ibu-ibu tiap RW .
Umbulharjo - Pandemi virus Covid-19 yang terjadi di Indonesia sangat berdampak terhadap semua lini kehidupan, tak terkecuali pendidikan ditanah air. Sektor pendidikan merupakan salah satu yang terkena dampak pandemi Covid-19 dimana ini memaksa kita untuk melakukan kebiasaan baru atau yang biasa kita sebut dengan “New Normal” dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Kebiasaan baru itu berhubungan dengan kebijakan pemerintah terkait petunjuk pelaksanaan maupun petunjuk teknis sistem pendidikan di Indonesia.
Salah satu kebijakan itu adalah proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), yang dilakasanakan secara Luring (luar jaringan) maupun Daring (dalam jaringan). Akibatnya pembelajaran yang biasanya dilakukan tatap muka disekolah, akhirnya beralih ke rumah msing-masing, hal tersebut dilakukan agar semua warga sekolah baik guru, tenaga kependidikan, siswa, maupun masyarakat sekitar dapat terhindar dari ancaman covid-19.
Secara formal pembelajaran jarak jauh tercantum dalam Surat Edaran Kemendikbud No. 4 Tahun 2020 tentang pedoman penyelenggaraan belajar dari rumah dalam masa darurat penyebaran covid-19. Isi dari surat tersebut yaitu mengenai proses pelaksanaan pembelajaran yang biasanya dilaksanakan disekolah, kemudian beralih di rumah masing-masing siswa yang biasa dikenal istilah BDR (Belajar dari rumah) proses ini dilakuakan melalui metode daring yaitu proses pembelajaran yang menggunakan model interaktif berbasis internet seperti WhatsApp Group, Google meet, Google Classroom, Zoom, Quizzis yang pembelajarannya dipandu oleh guru.
Namun dalam perjalanannya, pembelajaran secara daring ini menimbulkan berbagai permasalahan seperti kurangnya konsentrasi siswa, pengadaan gawai dan kuota internet, maupun ketidak optimalan guru dalam memenuhi jam belajar. Terlepas dari permasalahan itu ada fakta menarik lainnya yang kita cermati bersama, yaitu ketercanduan anak terhadap gawai dan internet, Sehingga perlu adanya peran keluarga dalam mendampingi anak-anak belajar.
“Banyak Orang tua merasa bingung bagaimana harus mendampingi anak-anak dalam belajar, sebagian pun mengeluh karena anak jadi semakin kecanduan terhadap gawai dan internet, karena hal itu kami selaku penggiat JBM dan TBM bekerjasama dengan Disdikpora Kota Yogyakarta dan Kelurahan Giwangan perlu mengadakan Edukasi” papar Fajar Nur Rohmad ketua dan penggiat JBM TBM Giwangan, kami mengadakan dalam sarasehan bertajuk “Pengoptimalan Peran Literasi Keluarga di Era pandemi Covid-19” Giwangan Yogyakarta pada tanggal 19 Maret 2021.
“Edukasi semacam ini perlu kita apresiasi karena ini sangat bermanfaat baik bagi anak dan orang tua, kedepan kita harus memetakan dan menyamakan persepsi terkait program JBM dan Literasi, agar kegiatan semacam ini bisa berkelanjutan dan lebih optimal” hal tersebut di sampaikan oleh Sekretaris Lurah Giwangan Bapak Sugiyanto saat ditemui di tempat acara Kantor Kelurahan Giwangan.
Kita tahu bahwa gawai dan internet itu ibarat dua sisi mata pisau, disatu sisi memudahkan anak dalam melaksanakan pembelajaran disisi lain jusru menimbulkan ketercanduan anak terhadap gawai dan internet, maka dibutuhkan peran keluarga dalam memberikan pendampingan secara terus menerus terhadap anak dengan membekali keterampilan bagi anak mulai dari memaksimalkan fungsi teknologi dengan baik dan membangun karakter yang baik hingga menumbuhkan kecakapan literasi dasar.
Bapak Cahyana selaku Pemateri acara sarasehan edukasi dari Disdikpora kota Yogyakarta mengatakan, Teknologi bukan untuk dihindari melainkan perlu adaya edukasi, bagaimana orang tua bisa memanfaatkannya agar anak menjadi gemar membaca, dengan tetap membantu anak untuk mencintai buku-buku fisik dan membantu untuk mendapatkan buku sesuai dengan tema yang mereka inginkan.
Masa pandemi covid-19 ini menjadi waktu yang tepat bagi keluarga untuk membiasakan anak untuk gemar membaca dan mempraktikan 6 literasi dasar di rumah, yaitu literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, digital, serta literasi budaya dan kewargaan.
Pewarta : Faqih Utsman
(Media dan Informasi TBM Suryowinoto Giwangan)
Assalamualaikum Wr Wb
Salam sejahtera untuk kita semua.
Warga Kampung Giwangan
Kami dari Tim JBM, TBM dan Kampung baca Giwangan🥳🥳 menggundang Bapak, Ibu dan terutama adek-adek kampung Giwangan untuk berpartisipasi mengikuti kegiatan "Gebyar Literasi" , kami akan mengadakan berbagai perlombaan diantaranya :
1. Lomba Read Aload (Membaca Nyaring)
2. Lomba Video Pendek pencegahan covid 19
3. Lomba Menyanyikan lagu daerah
4. Lomba Membaca puisi
5. Lomba Mewarnai dan Menggambar
ketentuan perlombaan bisa dibaca diposter ya..
Dan semua Lomba ini diadakan Online kok 😊😊
Bagi yang berminat mengikuti harap mendaftar dengan format berikut :
Nama Lengkap - RW dan RT
Kirim ke Nomer berikut sesuai urutan lomba diatas ya👆👆:
1. 0821-1163-3722 (Nur) Lomba Read Aloud
2. 0821-7572-8083 (Tika) Lomba Video Pendek
3. 0878-3891-6161 (Yunus) Lomba lagu daerah
4. 0838-1673-7379 (Desi) Lomba Baca Puisi
5. 0821-5525-4926 (Fanji) Lomba Mewarnai dan Menggambar
Contohnya ya bagi yang ingin mengikuti Lomba Membaca Puisi bisa mendaftar dengan: Sasa_RW 01 dan RT 01 kirim ke 0838-1673-7379 (Desi)
Ada Rewardnya juga untuk Juara I, II,dan III🥇 🥈🥉
Jadi tunggu apa lagi yukk ikut lombanya dan menangkan juara nya👍
Ditunggu partisipasnya adek-adek dan Warga Kampung Giwangan.
#GebyarLiterasi
#KampungBacaGiwangan
PENGARUH PJJ PADA SISWA DAN GURU
Ari Susilowati
Sepanjang tahun 2020-2021. Kita mengalami suatu masa dimana kita dipaksa untuk melakukan kegiatan dengan jarak jauh. Tidak menutup kemungkinan belajarpun juga mengalami hal tersebut. Sesuai dengan anjuran pemerintah. Kita senantiasa melaksanakan protokol kesehatan demi menjaga kesehatan. Tak lupa dari itu dunia pendidikan juga menerapkan anjuran pemerintah yaitu melaksanakan pembelajaran jarak jauh yang masih kita laksankan sesuai keputusan yang dibuat oleh dinas Pendidikan dan Kementrian Agama bahwasanya Sekolah belum bisa melaksankana pembelajaran secara tatap muka sampai dengan waktu yang tidak bisa ditentukan.
Melihat adanya keputusan Pemerintah yang mengahruskan pembelajaran dilaksankan jarak jauh maka hal ini berimbas kepada kualitas peserta didik apabila diukur pada penguasaan materi yang dipelajari.
Dari fakta diatas dapat dsimpulkan bahwa fenomena yang terjadi disepanjang tahun 2020-2021 sangat berpengaruh pada siswa dan guru. Dari segi siswa jelas terlihat bagaimana para siswa menerima pembelajaran secara daring yang pasti akan berbeda dengan pembelajaran biasa. Banyak faktor yang mempengaruhi ketidakmaksimalan pembelajaran semisal dari segi media sarana prasarana dan lain sebagainya. Dari segi guru banyak sekali kendala yang terjadi sarana. Selain itu banyaknya waktu untuk membuat tugas maka dari itu kita sebagai guru haruslah mengatasi apapun yang sedang terjadi sebagai bukti keprofesionalan seorang guru
Grebek sinau merupakan program Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta, seperti namanya bahwa program ini adalah kegiatan untuk “menggerebek” datang secara tiba-tiba ketempat di wilayah kota Yogyakarta yang dijadikan tempat untuk “sinau” atau melakukan kegiatan pembelajaran di masyarakat. Salah satunya adalah Kampung Baca Giwangan Yogyakarta yang “mendadak” kedatangan tamu dari tim Grebek sinau Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta.
Kampung Baca adalah bagian dari Pendidikan Masyarakat yang merupakan sinergi dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota. Kampung baca Giwangan merupakan salah satu dari sekian banyak kampung baca di wilayah kota yogyakarta, tentu dari semuanya itu memiliki potensi dan ciri khas masing-masing, termasuk kampung baca giwangan yang kegiatanya berfokus pada pembelajaran anak dan pengembangan potensi diri. Pengelola membuat program dengan berbagai macam kelas seperti Kelas Sains, Kelas Keterampilan, Kelas Teknologi serta kelas Cerita dan Bahasa.
“walapun memang terkesan sederhana tetapi kegiatan ini sangat berdampak, untuk anak-anak pada khususnya dan untuk masyarakat pada umumnya, “BERGERAK BERDAMPAK” itu Tagline kami” pungkas Fajar selaku Kordinator Kampung baca Giwangan Yogyakarta.
Pada hari Jumat (11/02/2022) Tim grebek sinau Dinas pendidikan Pemuda dan Olahraga kota Yogyakarta mendatangi kampung baca giwangan di kelurahan Giwangan Kemantren Umbulharjo Yogyakarta untuk melakukan “grebek” terkait dengan kegiatan “sinau” di Masyarakat, melihat langsung kegiatan yang selama ini menjadi kegiatan rutin di kampung baca giwangan. Pada saat di Grebek oleh tim Grebek Sinau Disdikpora, terlihat anak-anak sedang melakukan percobaan energi listrik dari bahan baku kentang dan jeruk, anak-anak yang lainnya ada yang sedang menggambar, melukis serta membuat kerajian dari bahan akrilik, membuat suasana kampung menjadi riuh gembira penuh dengan pembelajaran, ditambah lagi “grebek” ini dipimpin langsung oleh pak Heru Poerwadi yang merupakan Wakil Walikota Yogyakarta sekaligus host dalam acara ini membuat kegiatan semakin menarik.
Wakil walikota Yogyakarta Drs. Heru Poerwadi, MA mengakui bahwa kampung baca giwangan merupakan kampung yang kreatif serta inspiratif dalam berkegiatan di masyarakat. “Kegiatan-kegiatan semacam ini perlu kita budayakan dan kita lestarikan, harapannya kedepan dikampung-kampung lain di wilayah kota yogyakarta bisa melakukan kegiatan sesuai potensi yang ada di masyrakat”. Kata Pak Heru saat ditemui dalam acara “Grebek Sinau” di Kampung Baca Giwangan.
Pewarta : Faqih Utsman
(Tim Media dan Informasi Kampung Baca Giwangan)
METAMORFOSA #1
(PAMERAN SENI PKBM AL ISLAM GIWANGAN)
Bentuk kreativitas dalam mengekspresikan dan mengaprsiasikan sebuah karya sebagai manifestasi cipta, rasa, karsa merupakan seni, melalui seni segala element menjadi indah tak terkecuali lingkup ruang dalam berkarya. Manusia memiliki kemampuan dalam membuat sebuah seni dan berbagai bidang di dalamnya.
Bazar sebagai salah satu tempat wadah dalam menampung dan mengembang berbagai macam karya seni dan kreativitas juga keterampilan bidang usaha lain sebagainya.
Event tersebut diselenggarakan oleh salah satu institusi kependidikan non formal dalam pengembangan bakat minat terhadap karya kepada masyarakat berserta kontribusinya dengan bermitra dengan institusi perangkat desa, badan usaha swasta serta pengembang untuk mempromosikan pengenalan pendidikan non formal serta pengajaran di dalamnya.
PKBM AL ISLAM GIWANGAN mengadakan kegiatan Bazar selama tiga hari mulai tanggal 26-28 Mei 2022, adapun dalam Bazar tersebut memaparkan dan menyajikan terkait bidang seni: kerajinan, keterampilan, dan usaha mandiri secara individu maupun sekolah.
Dalam pada bidang seni kerajinan objek yang disajikan berupa karya kreativitas anak berupa: batik, pemanfaat barang bekas, pembuatan seni bahan plastik, pembuatan cetak sablon, kantong tas kain, lampu hias, serta seni lukis yang berkontribusi dengan para pendidik.
Sehubungan dengan hal tersebut, dari segi keterampilan para siswa menyajikan beberapa seni tari, seni musik islam, karya sastra puisi kontemporer dan musikalisasi puisi. Kegiatan Bazar tersebut didukung penuh dan dihadiri oleh perangkat desa dari RT, RW dan Kelurahan serta masyarakat disambut dengan positif dan penuh antusias dalam pengadaanya.
Adapun tujuan kegiatan tersebut sebagai media dalam berkarya dan mempromosikan serta pengenalan PKBM AL ISLAM sebagai pendidikan non formal di tengah masyarakat pada umumnya dan komuitas komunitas tertentu pada khususnya. Sebagai unsur-unsur dalam kesuksesan kegiatan tersebut melibatkan struktur dan infrastrukstur PKBM AL ISLAM GIWANGAN beserta masyarakat sekitarnya dalam mencapai tujuan bersama.
Peningkatan mutu Sumber Daya Manusia dan segala element bidang sebagai salah satu langkah peningkatan selanjutnya untuk membawa kegiatan-kegiatan dan pengenalan pendidikan non formal ke ranah lebih luas serta bentuk kemajuan tingkat kreativitas, kepedulian sosial dan prestasi dunia pendidikan, kewirausahaan juga kesenian.
Kontributor : Muhammad Ari Kunto W (Media dan Informasi PKBM)
ASAL USUL KAMPUNG GIWANGAN
Asal mula kampung giwangan tidak terlepas dari peristiwa perseteruan antara Panembahan Senopati dengan Ki Ageng Mangir. Panembahan Senopati yang memiliki nama asli Danang Sutawijaya merupakan pendiri sekaligus raja pertama Kerjaan Mataram Islam. Ia adalah putra dari Ki Ageng Pemanahan yang merupakan keturunan Brawijaya. Ayahnya juga menjadi juga salah satu orang kepercayaan Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir, pendiri Kerajaan Pajang.
Awal peran Danang Sutawijaya diketahui ketika ia dan ayahnya membantu Jaka Tingkir untuk menumpas Arya Penangsang, raja Kesultanan Demak. Atas keberhasilannya dalam menewaskan Arya Penangsang maka mereka diberikan hadiah oleh Jaka Tingkir berupa Alas Mentaok. Ki Ageng Pemanahan membangun tanah tersebut menjadi sebuah kadipaten di bawah Kerajaan Pajang. Pada 1575, Ki Ageng Pemanahan wafat dan posisinya digantikan oleh anaknya, Danang Sutawijaya Adipati Mataram dengan gelar Senopati Ing Ngalaga, yang artinya panglima di medan perang.
Setelah Ki Ageng Pemanahan wafat, ada utusan dari Pajang yang datang ke Mataram untuk meminta kesetiaan Senopati. Namun, saat itu Senopati telah mempersiapkan diri untuk melepaskan diri dari Kerajaan Pajang. Sempat terjadi pertempuran antara Mataram dan Kerajaan Pajang hingga membuat Sultan Hadiwijaya terpaksa mundur. Sepulang dari perang, Sultan Hadiwijaya sakit dan akhirnya wafat pada 1582. Sepeninggalan Sultan Hadiwijaya, terjadi perebutan kekuasaan di Kerajaan Pajang. Upaya Senopati untuk memerdekakan Mataram pun semakin mudah. Akhirnya pada 1586, Senopati resmi mengangkat dirinya sebagai raja pertama Kerajaan Mataram Islam dengan gelar Panembahan Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama. Gelar tersebut memiliki arti bahwa raja berkuasa atas pemerintahan dan keagamaan.
Selama berkuasa, Panembahan Senopati mulai memperluas daerah kekuasaan Kerajaan Mataram Islam ke wilayah di sekitarnya. Upaya untuk melakukan penaklukkan wilayah terus berlanjut hingga ke daerah pesisir utara dan Jawa Timur. Akan tetapi, tidak semua willayah langsung mau tunduk pada kekuasaannya. Salah satu wilayah tersebut yaitu Kampung Mangiran yang terletak di dekat sungai Progo, Bantul. Pada saat itu, orang yang berkuasa di Desa Mangiran adalah Ki Ageng Mangir Wanabaya. Wanabaya tidak mau tunduk pada Panembahan Senopati karena menurutnya leluhrnya lebih dahulu berada di situ sebelum Kerajaan Mataram Islam berdiri. Alasan lainnya yaitu Wanabaya juga merupakan keturunan Raja Brawijaya. Selain itu, Wanabaya merasa sakti karena memiliki senjata berupa tombak yang dikenal dengan sebutan Baru Klinthing yaitu tombak yang berasal dari lidah seekor ular naga raksasa yang bernama Baru Klinthing.
Pada awalnya, Panembahan Senopati bermaksud untuk melakukan perlawanan terhadap Ki Ageng Mangir. Akan tetapi, Ki Juru Mertani, penasihat kerajaan, tidak setuju apabila Ki Ageng Mangir dihadapi dengan perang, sebab akan membawa banyak korban. Nasihat dari Ki Juru Mertani dipertimbangkan oleh Panembahan Senopati. Akhirnya diambil jalan untuk menghadapi Ki Ageng Mangir dengan cara tipu daya secara halus.
Panembahan Senopati kemudian memanggil puterinya, yaitu putri Pembayun. Panembahan Senopati merencanakan untuk menakhlukkan Ki Ageng mangir melalui puterinya. Pembayun diutus untuk menyamar sebagai ledhek, yaitu wanita cantik yang menari dengan berpakaian adat Jawa, diiringi oleh gending-gending Jawa. Ledhek biasanya ngamen, berkeliling dari kampung ke kampung.
Pada suatu hari, sampailah mereka di Desa Mangir, tempat Ki Ageng Mangir berkuasa. Melihat ada ledhek yang sangat cantik jelita, Ki Ageng Mangir pun tertarik untuk menikmatinya. Akhirnya, Ki Ageng Mangir jatuh cinta dan meminta Pembayun menjadi isterinya. Pembayun pun sangat senang, karena misinya untuk menarik Ki Ageng Mangir telah berhasil.
Dalam perjalanan pernikahannya, Puteri Pembayun diketahui hamil. Mendengar kehamilan isterinya, Ki Ageng Mangir bahagia sekali, karena sebentar lagi ia akan mempunyai keturunan dari seorang isteri yang sangat dicintainya. Namun, Pembayun masih merasa ada ganjalan, karena selama ini ia menyimpan sesuatu dari suaminya. Akhirnya Pembayun memberanikan diri berterus terang kepada Ki Ageng Mangir mengenai siapa dirinya. Mendengar pengakuan Pembayun, Ki Ageng Mangir sangat marah, karena ia merasah telah ditipu oleh istrinya sendiri. Tanpa sepengtahuannya, ia telah menjadi menantu musuh bebuyutannya, yaitu Panembahan Senopati. Namun, Pembayun tetap dengan sabar tetap mencoba meredam rasa dendam Ki Ageng Mangir terhadap ayahnya. Pembayun meyakinkan Ki Ageng Mangir bahwa ia benar-benar mencintai suaminya. Pembayun dengan sabar membujuk Ki Ageng Mangir agar mau menghadap mertuanya, Panembahan Senopati. Akhirnya usaha Pembayun membujuk Ki Ageng Mangir berhasil. Demi cintanya kepada sang isteri serta bayi yang sedang dikandung Pembayun, Ki Ageng Mangir bersedia untuk menghadap Panembahan Senopati ke Mataram.
Dalam perjalanannya ke Mataram untuk menghadap sang mertua, Ki Ageng Mangir bersama dengan pasukannya sempat berhenti sebentar untuk melepaskan lelah. Mereka beristirahat di kampung yang terletak di depan pintu gerbang keraton. Pada zaman Kerajaan Mataram Islam dahulu, pintu gerbang keraton terletak di pertigaan Giwangan. Untuk tapak tilas, pintu tersebut dibangun kembali di sebelah minimarket dekat lampu merah Giwangan. Pada saat istirahat di wilayah tersebut, Ki Ageng Mangir memiliki perasaan bahwa hatinya giwang yang berarti bimbang. Oleh karena itu, kampung itu disebut dengan nama Giwangan. Apabila melihat kamus, maka giwang mempunyai arti kilau berlian pada suweng (anting-anting). Selain itu, giwang juga memiliki makna kandang kuda, yang mana dapat ditarik benang merahnya yaitu jika Ki Ageng Mangir dan pasukannya sedang beristirahat maka kuda-kudanya diparkirkan.
Giwangan yang dimaksud di sini adalah kampung giwangan bukan kelurahan. Giwangan mempunyai batas utara yaitu lapangan STM sedangkan batas selatannya adalah tegal turi. Pada batas utara di dekat lapangan STM terdapat satu rumah yang dahulu orang-orang menyebutnya sebagai ngangkruk. Ngangkruk merupakan tempat untuk menongkrong pada zaman itu. Kalau di Jawa Timur dikenal dengan nama cakruk atau cakrukan. Rumah tersebut mempunyai halaman yang luas. Sementara itu, jalanan di Giwangan masih kecil. Mayoritas kendaraan yang melalui jalanan itu hanya gerobak. Ketika tiba di ngangkruk, para pengemudi gerobak berhenti untuk istirahat makan dan melepaskan sapinya dari gerobak untuk dimasukkan ke halaman rumah yang luas tadi. Pemilik rumah tersebut juga menyediakan pakan sapi. Adapun pada batas selatannya yaitu tegal turi hanya terdapat beberapa rumah saja, pemakaman, dan kebun.
Pada awalnya, Kampung Giwangan hanya terdiri dari 1 Rukun Kampung (RK). Setelah itu, berkembang menjadi 1 RW. Kemudian bertambah menjadi 2 RT yaitu Giwangan Utara dan Giwangan Selatan. Akhitnya, sampai dengan saat ini Kampung Giwangan berkembang menjadi 4 RW dan 13 RT bahkan sudah menjadi nama kelurahan.
PASAR TONDHORAHARJO
Faradilla Gheanissa Salsabilla
Kampung Giwangan merupakan salah satu kawasan yang produktif dalam mengembangkan perekonomian masyarakat di sekitarnya. Salah satu pusat kegiatan perekonomian masyarakat kampung giwangan adalah pasar.
Pasar secara harfiah memiliki arti tempat bertemunya antara penjual dan pembeli dalam rangka jual beli barang atau tukar menukar barang. Pasar adalah pranata penting dalam kehidupan masyarakat terutama dalam kegiatan ekonomi. Pasar merupakan pusat dan ciri pokok dari jalinan tukar menukar yang menyatakan seluruh kehidupan ekonomi.
Berdasarkan jenisnya pasar dapat dibedakan menjadi 2 bentuk yaitu pasar tradisional dan pasar modern. Pasar tradisional adalah pasar yang dalam proses transaksi jual beli barang masih dipengaruhi oleh tawar menawar. Salah satu pasar tradisional yang terdapat di Kampung Giwangan adalah Pasar Tondhoraharjo.
Adapun nama Tondhorahajo sendiri merupakan pemberian dari Pak camat Kecamatan Umbulharjo yang pada waktu itu dijabat oleh Pak Bambang S. Makna dari Tondho adalah pasar. Sedangkan Raharjo mengandung arti hal-hal yang baik.
Bermula pada tahun 1978 sudah banyak pedagang yang berjualan di trotoar sepanjang Jalan Pramuka namun para pedagang tersebut belum terkelola dengan baik lantaran setelah para pedagang selesai berjualan, mereka tidak membersihkan tempat yang sebelumnya digunakan untuk menjual barang dagangannya. Hal tersebut menyebabkan tumpukan sampah dan membuat trotoar Jalan Pramuka menjadi kumuh.
Melihat kondisi tersebut, terdapat tokoh masyarakat yaitu Pak Sudjono, yang pada waktu itu menjabat sebagai ketua Rukun Kampung Giwangan dan Ibu Sugiyanti, istri beliau, serta ibu-ibu warga Kampung Giwangan yang memiliki gagasan untuk menariki uang kepada para pedagang. Uang tersebut akan digunakan untuk membayar petugas kebersihan, yang pada saat itu dikerjakan oleh Pak Sumadi, yang bertugas membersihkan sampah-sampah para pedagang yang telah selesai berdagang. Dari situ, semakin banyak pedagang yang datang berjualan di trotoar Jalan Pramuka dan sebagian besar dari mereka bukan penduduk asli Kampung Giwangan melainkan pendatang.
Pada tahun 1982, Pak Sudjono diangkat menjadi ketua lurah Kelurahan Giwangan. Setelah itu, terdapat mandat dari Tim Penggerak PKK Kota Yogyakarta bahwa para pedagang yang ada di sepanjang trotoar Jalan Pramuka harus dibersihkan. Instruksi tersebut disampaikan dengan pertimbangan keselamatan lantaran para pedagang yang berjualan menghadap ke timur sedangkan para pembeli menghadap ke barat dan harus menungging ketika akan membeli barang dagangan yang terletak di bawah. Hal itu dapat mengakibatkan pembeli terjatuh sebab pantat mereka bisa tersenggol atau tertabrak. Setelah mengetahui perintah tersebut, para pedagang bingung harus berpindah tempat dimana. Akhirnya, Pak Sudjono dan Ibu Sugiyanti berembuk dengan Pak Prapto, tangan kanan Pak Sudjono, mengenai lokasi yang dapat dijadikan tempat beralih untuk para pedagang bekerja. Kemudian mereka juga berbincang-bincang dengan Pak Camat Kecamatan Giwangan. Hasil dari diskusi dengan kecamatan yaitu membuat brosur sederhana yang berisi pemberitahuan bahwa pasar akan pindah masuk di halaman Pak Lasmanu yang kemudian dibagikan kepada para pembeli.
Dengan berjalannya waktu, akhirnya tiba di hari kepindahan. Para ibu-ibu sudah ramai mempersiapkan tempat sejak terbit fajar hingga menjelang terbit matahari. Di sisi timur digunakan bagi para pedagang dari Kecamatan Kotagede sedangkan di sisi lainnya digunakan oleh pedagang dari Kecamatan Umbulharjo dan lainnya. Proses perpindahan ini dibantu dan dijaga oleh berbagai lapisan masyarakat.
Pada awal berdiri, kondisi pasar ini masih sangat sederhana. Hanya dengan menggunakan tenda biru yang ditarik dan di tali sana sini yang penting dapat memayungi para pedagang dan pembeli dari terik matahari, apabila hujan maka akan terkena hujan, dan tidak ada penerangan. Pada tiga bulan pertama, pasar di lokasi baru masih sepi karena banyak yang belum mengetahui jika pasarnya pindah masuk ke dalam gang.
Selanjutnya pada tahun 1992, bersamaan dengan pemilu, warga Kampung Giwangan mendapat hadiah berupa seorang bayi laki-laki dalam kantong plastik yang diletakkan begitu saja di pagar rumah warga. Mereka memutuskan mengurus bayi tersebut dengan mengkafani dan membelikan peti kecil lalu dikebumikan. Pak Sudjono memberikan nama Temon kepada bayi malang itu. Peristiwa tersebut menjadi kenangan bagi mereka karena dengan adanya Temon mereka dapat memindahkan pasar tersebut dan tetap berdiri hingga sekarang. Bu Sugiyanti merasa bahwa ini hadiah karena merawat Temon.
Berlanjut ke tahun 1993, setahun setelah pasar berpindah ke lokasi yang baru, ada beberapa pedagang yang tidak melanjutkan berjualan. Kemudian pada tahun 1995, Pak Sudjono dan Bu Sugiyanti meminta izin kepada Pak Sarjono, ayah Pak Sadjono, untuk memindahkan para pedagang yang berada di selatan (lokasi pasar yang baru) ke barat (lokasi pasar saat ini). Pak Sarjono memberikan izin dengan dalih bahwa menurut beliau orang-orang yang memberinya makan pada saat gerilya dulu adalah orang-orang seperti itu (pedagang) dan beliau berharap semoga orang-orang yang berjualan di pasar itu dapat membelikan anaknya sepeda dan menyekolahkan anaknya.
Pada saat itu bagian barat pendopo masih berupa sebidang tanah yang ditanami pepohonan. Para warga pun melaksanakan kerja bakti untuk membersihkan kebun tersebut. Setelah bersih, para pedagang diangkut ke lokasi baru yang berada di barat pendopo atau lokasi pasar saat ini. Di lokasi pasar yang baru, pedagang tidak dikenakan patokan harga sewa. Perjanjiannya hanya berkaitan dengan sampah saja.
Pada awal operasional pasar yang terletak di barat pendopo terdapat 5 orang yang mempunyai tugas mengelola pasar. Mereka bertugas menariki uang kepada para pedagang tetapi setiap pedagang tarikannya tidak sama tergantung luas tempat dan jenis barang yang dijual. Mereka setiap hari mencatat pendapatan yang diperoleh dalam satu hari selama satu bulan dalam buku catatan. Setelah diperoleh total pendapatan selama satu bulan lalu dihitung untuk mengetahui berapa uang yang harus dibayarkan untuk iuran sampah, iuran dinas sampah, dan iuran petugas sampah. Administrasi tersebut masih dilakukan secara manual.
Membangun pasar tondhorahrjo bukanlah suatu hal yang mudah. Terdapat hal-hal yang dahulu tidak terpikirkan atau di luar perkiraan. Pada waktu itu yang terpenting adalah ketersediaan air dan kamar mandi. Dengan tidak memikirkan hal yang lainnya maka timbul permasalahan yaitu berkaitan dengan sampah. Permasalahan sampah merupakan persoalan yang krusial bagi pasar. Perkara tersebut menjadi semakin kritis ketika Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Piyungan ditutup. Alhasil pengelola pasar harus membuat lubang yang cukup besar yang mampu menampung sampah pasar selama 4-5 hari, dimana dalam pengerjaannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Pasar Tondhoraharjo pernah kedatangan beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Mereka bermaksud untuk menarik para pedagang di Pasar Tondhorarjo untuk bergabung di Pasar Giwangan. Bu Sugiyanti selaku pengelola pasar mempersilakan mereka untuk bertanya sendiri kepada para pedagang apakah berkenan atau tidak dan memberi peringatan untuk jangan sampai mematikan rejeki para pedagang. Jawaban yang didapat para anggota DPR adalah ketidakbersediaan para pedagang untuk pindah. Akhirnya para pedagang tetap berjualan di Pasar Tondhoraharjo yang bertahan hingga saat ini.
Dengan adanya Pasar Tondhoraharjo yang berada di tengah Kampung Giwangan membuat masyarakat terutama ibu-ibu merasa senang karena letaknya yang strategis tidak terlalu jauh dari rumah. Selain itu, anggota masyarakat yang turut merasakan manfaat dari keberadaan pasar tersebut adalah para pedagang karena dapat bekerja untuk mencari nafkah bagi keluarganya.
Salam dan Bahagia,
Halo Ibu-Ibu Bank Sampah Kampung Giwangan!👋🏻
Kami dari Kaca Giwangan akan mengadakan kegiatan literasi terapan#28 yang akan dilaksanakan pada :
Hari, Tanggal :
Senin, 13 Februari 2023
Waktu :
15.45 - selesai
Lokasi :
Rumah Bapak RW 04 ( Bapak Tri Mei)
Acara: literasi Terapan dengan tema "Membuat Sabun dari Jelantah"
Biaya Kegiatan 10.000 ( Sudah ada diskon dari kaca Giwangan)
Narahubung :
Mbk windy (081-229-263-760)
NB : Setiap Bank Sampah tiap RW 5 orang
SOSIALISASI UPAYA PENCEGAHAN DAN PENYALAHGUNAAN NAPZA PADA REMAJA
(Puspita Sari)
Kemajuan teknologi dan globalisasi informasi bangsa memberikan kemudahan dalam mengakses berita yang menjadi perbincangan masyarakat. Salah satunya berita mengenai banyaknya remaja yang terlibat kasus penggunaan obat-obatan terlarang dan berbahaya (narkoba) baik di media televisi maupun media sosial yang sangat memprihatinkan bagi orang tua maupun guru karena sebagian besar dari mereka yang terlibat adalah para pelajar SMA, SMP bahkan SD. Penggunaan narkoba tentunya memberikan dampak negatif bagi para remaja itu sendiri.
Mengingat pentingnya pencegahan penyalahgunaan narkoba dan juga membentengi remaja dari pengaruh negatif narkoba maka mahasiswa KKN UST Padepokan 37 di kelurahan Giwangan RT 02/RW 01 di Kota Yogyakarta membuat program kerja untuk mengadakan Sosialisasi Upaya Pencegahan dan Penyalahgunaan Napza pada Remaja. Kegiatan ini merupakan program kerja kelompok dari mahasiswa KKN.
Kegiatan sosialisasi ini dilaksankan secara offline bersama siswa SMP Al-Islam di Gedung Aula PKBM Al-Islam. Tujuannya yakni memberikan edukasi kepada siswa mengenai bahaya dari Napza itu sendiri dan juga mewujudkan generasi yang cemerlang dan produktif demi kemajuan bangsa Indonesia kedepannya serta mencapai Bonus demografi. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 23 Januari 2023.
Semoga kegiatan yang kami laksankan ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan kepada remaja agar terhindar dari Napza dan menjadi generasi penerus bangsa yang membawa perubahan lebih baik bagi Indonesia di masa yang akan datang.
SOSIALISASI BAHAYA BULLYING
Bayu Jati Ramadan
Perkembangan teknologi dalam peradaban dunia khususnya dunia pendidikan membawa dampak dari berbagai aspek, salah satunya aspek perilaku siswa. Penyimpangan perilaku menjadi salah satu aspek dari dampak kemajuan zaman. Perilaku bullying merupakan salah satu contoh dari perbuatan menyimpang dan membahayakan. Budaya bullying sering kita jumpai di sekolah dengan objek pelaku senioritas oleh seseorang dan sekelompok orang yang memiliki kuasa, tidak bertanggung jawab dan terud terjadi secara berulang- ulang dengan dan merasa kesenangan saat melakukan tindakannya.
Bullying menjadi kasus permasalahan yang berbahaya dan mengganggu dunia pendidikan di pada tingkat level usia di seluruh dunia dan perlu mendapat perhatian khusus dari pendidik maupun orang tua. Korban bullying bukan dari kaum yang lebih kuasa ataupun sama kekuatannya dengan si pembully akan tetapi yang menjadi objek sasaran dari korban bullying tersebut terjadi pada anak yang memiliki kekurangankekurangan dari anggota tubuh yang dijadikan bahan cemooh dan cacian dari pembencinya. Salah satu faktor lain yang menyebabkan bullying adalah faktor kesenjangan kekuatan yang dimunculkan dari aspek fisik, akses media sosial yang mengandung informasi yang memalukan, faktor popularitas yang dimiliki, dan keinginan untuk menyakiti orang lain. Terlebih pada usia sekolah dasar yang rentan akan tersinggung dan kesalahpahaman diantara teman sebayanya
Ketakutan, mengalami kecemasan, mengurung diri, takut bergaul, takut dengan keramaian, cenderung diam, dan menggigil merupakan beberapa dampak dari bahaya yang disebabkan bullying. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh perilaku bullying lebih besar baik secara fisik maupun psikis, perilaku bullying yang merupakan perilaku negatif tentu saja membahayakan para korbannya.
Oleh karena bahayanya dampak bullying bagi anak maka penulis melakukan program kerja KKN yaitu tentang sosialisasi bahaya bulliying. Sasaran dari sosialisasi ini adalah anak-anak kelas 4 MI Al Islam Giwangan. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 17 Januari 2023 dilaksanakan secara langsung dengan menjelaskan paparan kepada siswa dan dibantu dengan video agar anak-anak lebih tertarik. Dalam kegiatan ini, anak-anak diberikan materi yang berupa penjelasan tentang apa itu bullying, siap yang rentan menerima atau melakukan bullying, apa dampak dari perilaku bullying, mengapa banyak kasus bullying tidak melaporkan, dan bagaiamana cara mencegah supaya tidak banyak terjadi kasus bullying. Di akhir pemberian materi, anak-anak diberikan beberapa pertanyaan untuk memastikan bahwa materi yang disampaikan bisa diterima oleh anak-anak
Semoga kegiatan yang ini dapat memberikan manfaat bagi siswa kelas 4 MI Al Islam Giwangan dan agar praktik bullying tidak terjadi di kalangan siswa. Dengan terwujudnya tersebut maka pembelajaran akan lebih kondusif dan bisa berjalan dengan lancar.
KESERUAN MAHASISWA KKN-KK PADEPOKAN 37 UST SEBAGAI RELAWAN MENGAJAR DI MI-AL ISLAM GIWANGAN
By Indri Rahmawati Putri
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Kelas Karyawan Padepokan 37 Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa (UST) pada hari minggu (29-01-2023) telah melaksanakan kegiatan relawan mengajar di Mi Al-Islam, Giwangan. Kegiatan relawan mengajar merupakan salah satu dari program kerja kelompok (Proker Kelompok) mahasiswa KKN- Kelas Karyawan khususnya padepokan 37 di Kalurahan Giwangan, kegiatan ini berkolaborasi dengan Kampung Baca Giwangan(Kaca Giwangan) yang ikut serta mendampingi dan serta membantu dalam jalannya proses kegiatan tersebut.
Anak-anak yang berada di Kalurahan Giwangan terlihat sangat senang dan berantusias dalam mengikuti kegiatan Relawan Mengajar yang didampingi oleh para Mahasiswa KKN karena mereka mendapatkan ilmu baru yang diajarkan secara tidak langsung dengan menggunakan metode belajar sambil bermain yang diaplikasikan setiap kegiatannya, seperti di dalam kegiatan ini dibagi menjadi 3 bagian, bagian meja yang pertama bertugas sebagai pelopor menebak para pahlawan, sedangkan bagian meja yang kedua sebagai pelopor merangkai kata masakan dan minuman khas Yogyakarta menggunakan media kertas dan bagian meja yang ketiga sebagai pelopor lagu kebangsaan.
Kemudian, setiap anak dibagi menjadi beberapa kelompok dengan metode berhitung. Setelah itu anak-anak diarahkan untuk mengisi setiap bagian meja yang kosong secara berurutan, setelah semua kelompok sudah selesai bergantian, para mahasiswa kkn melakukan penghitungan skor pada setiap kelompok untuk mentukan juara umum 1,2, 3, kelompok yang tidak bisa memenangkan perlombaan tetap akan mendapatkan hadiah berupa snack. Kegiatan ini berlangsung sekitar 2 jam , yang mana dimulai pada pukul 07.30 dan selesai pada pukul 09.30 dengan aman, lancar dan kondusif, Harapannya semoga kegiatan yang diselenggarakan ini dapat memberikan manfaat serta motivasi bagi anak-anak yang berada di Kalurahan Giwangan.
SOSIALISASI PENTINGNYA PARENTING BAGI PERTUMBUHAN ANAK
Oleh Novita Tri Alfagni
Pertumbuhan dan perkembangan anak harus dijaga dan diperhatikaan dengan baik. Dua hal ini merupakan indikatot yang sangat penting untuk megukur status Kesehatan anak, yang berpengaruh paada kualitas hidup anak dimasa yang akan datang. Dalam membentuk tumbuh kembang anak, pola pengasuhan sangatlah perlu diperhatikan dengan merangsang secaraa kognitif, dan memberikan keamanan bagi anak. Sementara itu, keterampilan yang diperoleh anak tergantung pada kualitas interaksi dengan orangtuanya. Tetapi, realitanya masih sangat banyak pola asuh yang belum tepat sehingga berdampak cukup serius pada perkembangan dan Kesehatan mental anak.
Dengan pola asuh yang salah orangtua memberikan dampak yang besar pada masa depan anaknyaa. Dampak yang mungkin akan dialami anak saat tumbuh menjadi remaja yaitu seperi pergaulan bebas, narkoba dan lainnya. Ditambah dengan gangguan psikologi seperti mempunyai sifat yang sangat egois, gangguan emosi, gangguan kognitif, dan Tindakan kekerasan. Pentingnya parenting, menurut Diana Baumeind (1967) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa perbedaan gaya asuh yang diberikan kepada anak pra sekolah akan menyebabkan perbedaan perilaku dan sifat anak-anak. Jika anak diasuh dengan control, menekankan komunikasi dua arah dan dorongan orangtua menjadikan anak mandiri tetapi tetap memberikan Batasan, maka anak akan tubuh dengan memiliki rasa tanggung jawab dan cenderung tidak kasar.
Oleh karena itu mahasiswa KKN UST Padepokan 37 di RT 02/ RW 02 Kelurahan Giwangan di Kota Yogyakarta membuat program kerja untuk mengadakan sosialisasi pentingnya parenting bagi petumbuhan anak.kegiatan ini merupakan program kerja kelompok dari mahasiswa KKN. Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan secara offline bersama ibu-ibu PKK RW 01 Giwangan di Aula milik salah satu warga. Tujuan dari sosialisasi ini yakni Agar para Masyarakat lebih mengetahui cara mendidik anak dengan baik dan benar.
Semoga kegiatan yang kami laksanakan ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan kepada oraangtua agar menambah ketrampilan orangtua dala menerapkan pola asuh guna perkembangan anak-anak mereka sehingga dapat menciptakan generasi yang sehat.
PENGUATAN JBM DAN LITERASI KELUARGA
Hari sabtu, 26 Agustus 2023 Korwil JBM UH mendaptkan program dari kementren mengenai workshop yang menjadi usulan di musrebang tahun 2022 yang lalu. Kegiatan dilaksanakan di bokoe Theoterapy di wilayah Kelurahan Muja Muju. Workshop ini dimulai dari jam 10.00 s.d 13.00. Sasaran program ini adalah pendamping JBM, pengelola TBM dan Kampung Baca yang ada di kemantren Umbulharjo. Harapannya mempunyai visi misi yang sama untuk berkegiatan positif di wilayah dengan kemasan yang di buat menyesuaikan kebutuhan dan kemampuan wilayah.
Kegiatan seperti ini harapannya rutin diadakan agar saling sharing antar penggiat literasi dalam membuat kegiatan. Selain itu kegiatan seperti ini menambah siltaurahim dan wawasan informasi baru. Pada kesempatan ini korwil JBM umbulharjo di bantu KKN Unisa yang ada di kemantren Umbulharjo.
Pada workshop pagi hari ini membawakan tema penguatan JBM dan Literasi keluarga yang di sampaiakn tiga narsumber yaitu pak cahyana selaku ketua JBM Kota Yogyakarta, ibu Dwi Churnia Handayani S.Sos, TBM Saung Pasinaon dan mas billy Phanega, Pengelola sekoalah Syakila dan bokoe Theoterapy. Moderator kegiatan di pandu korwil JBM Fajar Nur R.
Narasumber yang pertama Kak Cahyana membahas tentang penting pendamping di wilayah mengenai Pokja wilayah, ide kreatif dan laporan JBM yang telah di buat. Harapan nya kegiatan JBM ini sebagai icon Kota Yogyakrta selaku kota Pendidikan. Bisa di lamjutkan dan dilestarikan tentunya dengan berkolaborasi dengan Lembaga atau komunitas yang ada diwilayah.
Narasumber kedua oleh ibu Dwi Churnia Handayani S.Sos mengenai peran keluarga sangat penting demi terwujudnya kenyamanan. Kenyamanan di bentuk dengan adanya komunikasi yang di bangun dikeluarga. Beliau menyampaikan 2 hal, pertama need assessment ketika mau mengadakan kegiatan di wilayah dan berapapun jumlah peserta yang ikut kegiatan tetap di jalankan. Jangan Putus asa Ketika peserta yang datang hanya sedikit.
Narasumber ketiga oleh billy Phanega, Pengelola sekolah Syakila dan bokoe Theoterapy menyampaikan berikan ruang kepada anak-anak untuk berkarya. Jangan Batasi dengan aturan-aturan yang dibuat orang dewasa. Tugas kita hanya mengarahkan kegiatan positif kepada anak-anak.
Semoga manfaat untuk semua. Bergerak dan berdampak untuk kegiatan postif yang lebih baik
MAGNET POSITIF DARI HELICOPTER
Apapun yang dapat di perbuat oleh seseorang itu hendaknya dapat manfaat bagi diri sendiri bermanfaat bagi bangsanya dan bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya.
(Ki Hajar Dewantara)
Pernyataaan Ki Hajar Dewantara di atas merupakan pernyataan yang penuh akan makna. Ruh dari pernyataan diatas adalah semangat dalam kebermanfaatan. Teringat kembali akan cerita yang disampaikan guru kami saat itu.
“Di suatu daerah ada rumah yang unik yang didalamnya banyak kaca. Suatu hari ada seekor kucing yang masuk rumah unik tersebut. Pada waktu itu perasaan kucing baru bahagia karena dikasih makanan yang enak oleh majikkanya. Si kucing sangat senang karena kedatangannya ke rumah itu disambut banyak kucing yang bahagia juga. Sebenarnya yang di dalam rumah itu kucing itu sendiri karena banyak kaca seolah-olah banyak kucing disana. Saat kucing melambaikan tangan, kucing yang lain juga sama melambaikan tangan. Pada waktu itu kucing yang senang tadi mengabarkan kabar bahagia ke kucing lainya bahwa disana ada banyak kucing yang menyambutanya dengan baik. Akhirnya kucing yang lain mencoba masuk rumah unik itu. Dan ternyata apa yang disampaikan kucing yang pertama tadi tidak terbukti. Si Kucing dengan perasaan kesal di sambut kucing yang seolah-olah kesal denganya padahal sebenarnya dia sendiri yang ada di dalam rumah itu. Saat si kucing marah ribuan kucingpun ikut marah dengannya. Akhirnya kucing keluar dari rumah itu dengan perasaan kesal.”
Kami ingin mencoba memadukan cerita dari guru kami dengan pernyatan Ki Hajar. Rumah unik itu terbuat dari kaca di bagian dalamnya. Sehingga apabila ada orang atau hewan yang masuk ke rumah tersebut akan terjadi pantulan. Seolah-olah orang lain ada di dalam rumah tersebut. Semakin banyak kaca semakin banyak pula pantulannya. Cerita diatas menggambarkan bahwa ketka kita datang dengan baik dan ramah di dalam rumah itu akan disambut dengan baik dan ramah. Sebaliknya ketika kita melakuakan hal yang buruk semisal wajah marah kaca tersebut akan memantulkannya. Maka dari itu kita hendaknya melakukan hal yang positif yang akan menjadi magnet bagi yang lainnya. Gerakan literasi ini merupakan salah satu cara ikhtiar kita agar bisa manfaat dengan orang lain dan menjadi magnet positif di sekeliling kita.
Gerakan literasi merupakan gerakan semua kalangan baik pemerintah ataupun pihak swasta yang lain. Adapun yang dilakukan pemerintah adalah usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanah dari undang-undang. Selain itu gerakan ini sebagai cara untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan masyarakat. Gerakan literasi bisa dilakukan berbagai aspek bisa dimulai dari keluarga, masyarakat dan sekolah. Semua mempunyai peran masing-masing dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang literat. Salam literasi, salam yang di gunakan para penggiat literasi sebagai jargon. Yang bertujuan untuk menyemangati diri dan para penggiat yang lain. Geliat literasi juga akhir-akhir ini semakin banyak. Forum ekonomi dunia tahun 2015 menyampaikan bahwa bangsa Indonesia mampu mengembangankan budaya literasi sebagai syarat kecakapan hidup abad-21 melalui pendidikan integrasi mulai dari keluarga, sekolah dan masyarakat. Kecakapan hidup abad-21 mengenai literasi dasar ada 6 yang dipelajari yaitu literasi baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, budaya dan kewargaan.
Helicopter Magnet positif
Helicopter merupakan salah satu TBM yang ada di Kabupaten Bantul yang memilki keunikan dengan inklusi sosialnya. TBM ini konsen terhadap masalah inklusi sosial sejak tahun 2017. Pada waktu itu kebetulan Mbk Tri juga termasuk pengurus paguyuban “Pinilih”. Sebuah perkumpulan keluarga penyandang disabilitas di sedayu. Sehingga kegiatan ini di kolaborasikan antara 2 komunitas tersebut. Menurut data yang masuk ada sekitar 500 orang disabilitas di kecamatan Sedayu. Yang di kerjakan mbak Tri dan tim adalah gerakan edukasi dan kepedulian bahwa semua orang mempunyai hak yang sama dalam menjalani hidup terutama mereka yang tergolong disabilitas. Membangun cara pandang dan perubahan yang baru untuk mereka yang membutuhkan.
Sebelum lanjut ke pemabahasan lain kita akan mencari tahu tentang TBM Helicopter. TBM helicpter beralamat di dusun Gubuk RT 50 Argosari Sedayu Bantul. Taman Bacaan Masyarakat Helicopter Go Book Maos merupakan salah satu komunitas baca yang memfokuskan diri pada pelayanan dan pendidikan masyarakat khususnya anak-anak. Seiring berjalannnya waktu TBM ini berorientasi pada layanan inklusi untuk warga masyarakat disabilitas Sedayu. TBM Helicopter Gobook Maos berupaya untuk menciptakan ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri dan dapat memanfaatkan lingkungan di sekitarnya sebagai media belajar. TBM ini menggunakan nama helicopter mempunyai makna dan harapan baik pada nama tersebut. Seperti Helicopter yang nyata mempunyai harapan dapat terbang ke lokasi mana pun, dan mendarat di mana pun. Harapan yang lain layanan TBM bisa menjangkau ke khalayak yang luas baik masyarakat disabilitas maupun non disabilitas. Pengunjung di TBM Helicopter diharapkan tercerahkan dan bias melihat persoalan kehidupan dan memecahkannyasecara menyeluruh. Visi dari TBM ini terciptanya komunitas pembelajar yang cerdas, kreatif, inovatif, dan inklusif. Salah satu poin inklusiflah yang membawa warna atau ciri khas dari TBM helicopter ini. Belum semua TBM di Indonesia bisa memberikan layanan seperti layanan yang di selenggarakan TBM ini. Dan ciri khas inilah yang menajadi salah satu poin TBM menjadi tempat Magang pada tahun 2020 ini.
Magang yang Unik
Magang Literasi tahun ini berbeda dengan magang tahun-tahun sebelumnya. Magang tahun ini dilakukan serentak di 10 lokasi dari tanggal 13 Oktober – 26 Oktober 2020. Tempat magang adalah pilihan dari kemendikbud dengan berbagai alasan yang menyertainya keunikan, layanan dan prestasi. Peserta diambil dari lembaga yang bergerak di isu inklusi. Sesuai informasi yang masuk kegiatan magang dilakukan dengan daring/ via online. Biasanya kegiatan magang atau residensi yang dilakukan offline karena saat pandemi magang dibuat sisitem online. Peserta saling menyapa via grup dan aplikasi zoom.Kalau tahun-tahun sebelumnya dengan istilah residensi. Pemerintah sejak tahun 2015-2020 terdapat program peningkatan budaya baca masyarakat dengan program magang sudah 1020 orang peserta yang mengikuti. Magang Penggiat literasi di Indonesia di selenggarakan oleh Kemendikbud di 10 titik lokasi. Salah satu titik itu adalah TBM Helicopter Kecamatan Sedayu Kabupaten Bantul. Tujuan diadakan magang ini adalah meningkatkan kapasitas serta sikap kerelawanan para calon penggiat literasi melalui koordiansi, kolaborasi, diskusi, dan pelatihan. Sesuai informasi ada 200 orang yang mengikuti kegiatan magang tahun ini dari berbagai daerah yang menyelnggarakan. Setiap daerah menseleksi 20 orang peserta magang. Adanya 200 orang relawan atau penggiat literasi yang tersebar yang berkomitmen untuk mendukung Gerakan literasi nasional dan membangun literasi masyarakat di wilayah masing-masing. Pemerintah mempunyai mimpi yang besar harus di dukung dengan upaya daerah masing-masing.
Kegiatan di buka pada tanggal 13 Oktober 2020 yang diikuti 200 peserta terpilih. Pembukaan disampaikan Bapak Samto dan dilanjutkan materi yang pertama oleh Bapak Cecep Suryana. Beliau menyampaikan tentang tantangan dan program keaksaraan dan budaya baca di Indonesia. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara bersama-sama, baik pemerintah, swasta dan penggiat literasi mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas tersebut.
Praktik Baik TBM Helicopter
Menjadi alasan Kemendikbud menunjuk TBM Helicopter sebagai tempat magang Penggiat literasi Indonesia tahun 2020 sebagai tempat pelaksana kegiatan. Alasannya adalah TBM ini mempunyai ciri khas yang dilakukannya dam praktik-praktik baik yang dilakukannya yaitu salah satunya inklusi sosial. Inklusi sosial dipahami sebagai proses dimana uapaya yang dilakukan untuk memastikan kesempatan yang sama bagi semua, apapun latar belakang sehingga mereka dapat mencapai potensi penuh dalam hidup. Prestasi yang terbaru yang di dapatkan TBM helicopter pernah meraih penghargaan sebagai TBM Kreatif-rekreatif pada tahun 2019. Penghargaan didapatkan karena TBM mengelola program layanan yang edukatif, kreatif, serta inovatif sehingga memberikan dampak positif dan memberikan inspirasi bagi banyak orang. Sejak pengumumuan 20 calon peserta magang diterima, pihak panitia dan tim TBM mempersiapkan kegiatan dengan sebaiknya. Informasi yang disampaikan panitia tentang adanya pertemuan perdana sebagai ajang berkenalan satu dengan yang lain. Pemerintah hadir untuk melakukan kebijakan melalui UU sebagai bentuk kepedulian pemerintah kepada penyandang disabilitas agar mendapatkan hak yang sama agar tidak terjadi diskriminasi sosial. Dalam kegiatan magang beberapa praktik baik dilakukan TBM helicopter dan paguyuban Pinilih dalam memuliakan masyarakat disabilitas dengan memberikan edukasi, seni dan kegiatan positif lainnya. Jiwa kerelawanan di TBM helicopter yang sudah tidak di ragukan lagi, misal saat ibu Tintin Kartikasari dan Rahayu memberikan latihan tari atau pemberdayaan keluarga disabilitas. Pada saat zoom kami melihat mereka berdua meneteskan air mata sambil mengusap air matanya ketika menyampaikan kisah-kisah anak-anak yang luar biasa. Apalagi saat anak-anak bisa pentas di depan orang banyak untuk menghibur dan memberikan manfaat orang banyak melalui pemberdayaan keluarga. Dengan banyak kegiatan atau praktik baik yang dilakukan di TBM ini akan menghapus stigma negatif kaum disabilitas di masayarakat. Bahwa mereka juga bisa dan kita tidak boleh memandang mereka sebelah mata.
Simbol Juga Bagian Numerasi
Di era abad 21 ada tiga hal yang harus dimiliki penggiat literasi. Kecakapan mengenai literasi dasar, kompetensi dan nilai karakter. Di harapkan TBM bisa membuat program yang di lakukan 6 literasi dasar yang saling beririsan dan saling menguatkan. Dalam kesempatan ini kami mendapatkan tugas mengenai literasi numerasi yang dilakukan di TBM helicopter. Literasi numerasi yang masing belum familiar di kegiatan kami. Pengetahuan kami bertambah ketika narasumber menyampaikan praktik baik dan informasi materi di grup. Literasi numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan berbagai macam dan simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai konteks kehidupan sehari hari. Adapun pengertian yang lain menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk (grafik, tabel, bagan dll) lalu menggunakan hasil analisis tersebut untuk memprediksi dan mengambil keputusan. Numerasi ini bisa bersifat kontekstual yang ada di kehidupan sehari-hari. Dalam penyampaian materi 6 literasi dasar yang disampaikan Bu Heni bahwa literasi saling keterkaitan satu dengan yang lainnya. Satu kegiatan bisa menerapkan berbagai literasi dasar yang saling menguatkan. Kami masih ingat contoh gambar yang di berikan bu heni saat presentasi. Pada waktu itu mas cahyo dan mbk arum melakukan kegiatan membacakan cerita. Saat itu mbk arum melakukan cerita dengan bahasa isyarat angka dan huruf. Kami mengamati aktivitas literasi apa saja yang ada di gambar tersebut. Ternyata ada beberapa aktivitas literasi yang di jumpai. Misal mas cahyo dan mbk arum mempraktikkan kegiatan membaca adalah bagian dari literasi baca tulis. Sedangkan saat mbk arum mempraktikkan bahasa isyarat dengan simbol angka dan huruf adalah praktik literasi numerasi. Jadi kegiatan yang kita lakukan sehari-hari terdiri dari beberapa literasi dasar yang saling menguatkan.
Dalam magang tersebut ada sesi khusus kita mempelajari literasi numerasi yang di lakukan di TBM Helicopter yaitu materi bahasa isyarat dan membaca huruf braile. Kegiatan ini adalah kegiatan yang sangat menyenagkan terbukti dari peserta sangat antusis mengikuti pemaparan materi ini. Karena peserta diajak belajar bersama bahasa isyarat dari huruf A sampai Z dan mempraktikan langsung untuk berkenalan. Selain materi bahasa isyarat dari mbk arum dan mas cahyo ada juga materi membaca huru braile.
Selama perjalan hidup penulis sebanryanya sering dihadapkan dengan kasus-kasus disabiltas. Penulis mencoba mengingat dan menuliskan kembali disini. Saat masih kuliah di UIN sunan Kalijaga kami juga berinteraksi dengan saudara-saudara yang tuna netra. Saat itu kampus UIN di kenal dengan kampus inklusi. Kami masih mengingat saudara seperjuangan dan akhirnya wisuda bareng, mas fidi namanya. Kabar terbaru mas fidi sudah diangkat PNS di Provinsi Aceh. Masih banyak lagi teman-teman kampus yang disabilitas dan tergabung dalam PLD UIN (Pusat Layanan Difabel). Kami banyak belajar dari teman-teman ini, semangat yang luar biasa dan pantang menyerah yang bisa kami contoh sampai sekarang. Contoh lain yang penulis temui adalah anak didik saat mengajar di salah satu sekolah Negeri di Bantul. Sekolah tersebut juga dikenal dengan sekolah Inklusi. Ada beberapa peserta didik inklusi ada yang tuna netra dan tuna rungu. Awal-awal saat mengajar kami masih adaptasi dan kadang masih bingung mau menggunakan metode apa. Seiring berjalanannya waktu kami ingin mencoba mengenali mereka lebih jauh dengan bertanya aktivitas mereka di rumah dan masyarakat. Hal ini sangat efektif dalam membangun komunikasi. Merekapun sangat antusias dalam memberikan respon, dan merasa diperhatikan, ternyata dengan keterbatasan yang dimiliki mereka juga mempuanyai semangat dan daya juang yang tinggi. Mereka sangat aktif di dalam kelas dan kegiatan di sekolah. Alhmadulillah kami terbantu saat ada guru pendamping yang membersamai mereka. Sampai saat ini setelah luluspun mereka masih komunikasi dengan kami di media sosial. Mereka anak-anak yang luar biasa.
Kisah-Kisah Inspiratif
TBM Helicopter memberiakan citra positif dengan layanan yang telah diprogramkan baik disabilitas maupun non disabilitas. Terbukti dari berbagai sambutan yang di berikan baik dari Kementrian, dinas, kecamatan sangat mengapresiasi kegiatan yang ada di TBM helicopter ini. Bahwa banyak keluarga yang terbantu dengan ada layanan di TBM dan paguyuban pinilih ini. Yang awal mula mereka jarang di perhatikan dan masih dianggap sebelah mata dengan ada aktivitas positif ini mereka dapat memaksimalkan hak dasar yang dimilikinya. Hak dasar itu meliputi hak mendapatakan perlindungan, hak partisipasi, hak hidup dan hak tumbuh kembang. Kisah inspiratif yang di hadirkan dalam kegiatan magang sangat banyak dari relawan maupun keluarga disabilitas. Berikut adalah orang-orang yang menginspirasi kita semua dengan berbagai aktivitasnya. Cahyo, Arum, Basuki, Sarjianto, Mulyono, Waljio, dan Wahyu Slamet adalah sosok inspiratif yang dikenalkan TBM helicopter kepada kami. Kami bangga kepada mas, mbk dan bapak-bapak sekalian dan masih banyak lagi orang-orang inspiratif di luar sana yang memberikan pelajaran kepada kami semua. Keterbatasan bukan menjadi halangan orang urtuk berkarnya. Teruslah berjuang karena harapan itu masih ada. (MasFa)
KISAH INSPIRATIF
IBU NUR HANDAYANI MENJEMPUT PELUANG SERBUK JAHE MERAH
Istiara Widaningrum
Berbisnis merupakan peluang usaha yang dapat dilakukan oleh semua kalangan dan usia, termasuk ibu rumah tangga. Hal ini dibuktikan oleh Nur Handayani atau disapa Ibu Nur, seorang ibu rumah tangga asal Kota Yogyakarta tepatnya di Kampung Giwangan.
Di sela-sela kesibukan nya sebagai ibu rumah tangga dan bekerja, beliau memilih untuk memulai usaha minuman tradisional yakni Serbuk Jahe Merah yang diberi nama “Josten”.
Berawal dari keikutsertaannya dalam komunitas UKM (Usaha Kecil Menengah) kelurahan Giwangan membawa beliau bertemu dengan salah satu dosen UPN bernama Ibu Pur Budi, narasumber pelatihan membuat produk Serbuk Jahe Merah instan. Selanjutnya terbentuklah kelompok yang terdiri dari Ibu Nur dan beberapa orang lainnya. Namun, sayang sekali kelompok ini hanya bertahan 3 bulan.
Bubarnya kelompok tidak membuat beliau menyerah, dengan tekat yang kuat usaha Serbuk Jahe Merah tetap dipertahankan. “Saya tetap ingin mempoduksi ini supaya untuk bisa membantu pendapatan suami dan mencukupi kebutuhan tambahan sehari-hari” jelasnya kepada tim Kaca (Kampung Baca) Giwangan, Minggu (24/7/2022). Hal lain yang melatarbelakangi ibu Nur tetap mempertahankan usaha Serbuk Jahe Merah ini karena khasiat yang terkandung didalamnya, seperti menghangatkan badan, mencegah masuk angin, radang sendi, kanker, dan masih banyak lagi.
Ibu Nur menuturkan, bisnisnya sudah berjalan sekitar 3 tahun. Beliau mendirikan bisnis ini sejak Februari 2019.
Dalam tahap pengembangan usaha produk tersebut, banyak tantangan yang dihadapi. Mulai dari pencarian bahan baku produk yang baik dan terjangkau, pengkondisian lokasi produksi, dan pengurusan pengajuan sertifikasi makanan dan ijin usaha. Selain itu pembagian waktu sebagai profesi ibu rumah tangga juga menjadi tantangan tersendiri baginya, karena usaha ini beliau jalani dengan sang suami.
Ibu Nur mengatakan, serbuk Jahe Merah ini sudah dipasarkan secara online melalui media social, seperti Whatsapp, Facebook, hingga Instagram. Selain dipasarkan via online, beliau juga dengan giat memasarkan secara offline kepada kerabat dan rekan hingga mengikuti berbagai pameran produk minuman. Usahanya mengikuti berbagai pameran bagai gayung bersambut, kini permintaan produk tidak hanya dari dalam kota bahkan hingga antar pulau.
Produk Serbuk Jahe Merah ini awalnya dijual dengan bentuk kemasan sachet seharga Rp 10 ribu isi 5 bungkus. Lalu, ibu Nur berinovasi menggunakan kemasan toples kecil maupun besar. Usia tidak menghalangi kreativitasnya, hingga saat ini beliau masih haus akan kreatifitas inovasi kemasan produk tersebut.
Menurut ibu asal kampung Giwangan ini, salah satu kunci suksesnya ialah selalu berpikir bahwa semua orang bisa menjadi sasaran konsumen. Peluang ada dimana saja dan tidak datang dua kali. Berkat ketekunan nya produk Serbuk Jahe Merah dapat dijumpai di etalase beberapa toko, koperasi, sampai di level swalayan.
UMKM dengan Brand Jos Tenan ini kini sudah memiliki omzet rata-rata senilai Rp 1,5 juta Per bulan. Permintaan melonjak drastis sejak awal pandemis hingga kini. “Apalagi saat corona kemarin, kan ini sangat bermanfaat untuk menjaga imun ya. Alhamdulillah banyak pesanan untuk ini..”, ujar Ibu Nur kepada tim Kaca (Kampung Baca) Giwangan, Minggu (24/7/2022.
Berkat usaha yang beliau jalankan ini, beliau dapat membantu menambah pemasukan keluarga hingga bisa membiayai sang anak hingga bangku kuliah.
Ibu Nur juga tidak segan untuk berbagi pengalaman dan ilmu yang beliau miliki kepada orang lain. Bahkan, beliau berharap kisahnya ini dapat meninspirasi orang lain khususnya para pemuda dan ibu rumah tangga.