KOIN GOBOG
Oleh : Annisa FazaKoin gobog di Nusantara pertama kali di kenal pada masa Majapahit, koin gobog hasil produksi era Majapahit berupa koin gobog wayang. Koin gobsog wayang mirip dengan koin kepeng Cina, yaitu berbentuk bulat dengan lubang di tengahnya. Tetapi, koin kepeng Cina dan koin gobog mempunyai perbedaan. Koin kepeng Cina, pada salah satu sisi mata uangnya terdapat huruf kanji, huruf yang tercetak tersebut menunjukkan masa dinasti pembuatan koin tersebut. Sedangkan, koin gobog wayang pada kedua sisi mata uangnya terdapat tokoh-tokoh dalam dunia perwayangan.
Setelah masa Majapahit, koin-koin gobog wayang masih tetap di produksi dengan memiliki ciri khas masing-masing yang berkaitan dengan kebudayaan dan kehidupan masyarakat umum pada masa itu. Kemudian, pada masa menyebarnya ajaran islam, mulai diproduksi koin gobog wayang perunggu dengan tulisan. Selanjutnya, koin gobog wayang yang terbuat dari kuningan dan tembaga dikenal pada abad ke-18 dan koin gobog wayang yang paling muda dengan gambar semar pada abad ke-19.
Koin gobog yang dikenal sebagai uang, koin tersebut tidak memliki nominal dan koin gobog wayang nyatanya lebih condong ke arah budaya serta religi masyarakat kala itu. Menurut seorang ahli numismatis, koin gobog berfungsi sebagai pelangkap dalam syarat atau sesaji upacara, koin tersebut dilambangkan sebagai logam juga sebagai uang.
Salah satu wilayah di Indonesia yang masih menggunakan koin gobog sebagai alat tukar resmi hingga tahun 1960 adalah Bali. Sampai saat ini, uang gobog tersebut masih bisa didapatkan dengan mudah di Bali karena setiap keluarga tradisional di Bali pasti memiliki sedikitnya satu ikat atau satak yang berisi kurang lebih 200 buah. Selain itu, koin ini juga berfungsi sebagai sarana pelengkap upacara budaya. Sampai sekarang, di daerah Jawa Tengah sendiri koin gobog diyakini sebagai amulet atau jimat untuk menolak bala, biasanya dipasang di wuwungan, tiang utama pada atap rumah, atau ditanam di bawah Soko Guru rumah joglo.
Dalam buku terpopuler karya Sir Thomas Stamford Raffles, The History of Java (1817), ia adalah orang yang pertama menulis tentang koin gobog wayang. Kemudian, muncul pendapat-pendapat baru dari para ilmuwan tentang koin gobog wayang tersebut. Menurut Prof. H. C. Millies, koin gobog wayang tidak termasuk masuk sebagai uang atau alat tukar menukar melainkan sebagai jimat dan merupakan tiruan dari koin-koin kepeng Cina. Menurutnya, koin gobog wayang tersebut diroduksi kira-kira pada abad ke-16, karena ia menarik kesimpulan bahwa cerita wayang dimulai setelah islam dikenal di Jawa. Selain itu, ia juga berpendapat bahwa tipe koin gobog wayang yang bergambar lelaki dan perempuan di bawah pohon merupakan jenis koin tertua.
Selanjutnya, setelah pendapat Millies pada tahun 1871, pendapat terbaru muncul dari Joe Cribb tahun 1999 setelah 128 tahun berlalu. Cribb berpendapat dalam bukunya yang berjudul Magic Coins of Java, Bali and the Malay Peninsula, koin gobog wayang merupakan sebuah benda yang bentuk dan desainnya berunsur magis. Ia juga mengklasifikasikan koin gobog wayang tersebut dengan beberapa klasifikasi, misal, koin dengan gambar laki-laki dan perempuan yang berada di bawah pohon merupakan gambaran cerita tentang Panji Semirang.
Sumber: