Modul 1 : Berpikir divergen dan konvergen
Kreativitas adalah proses berpindah-pindah dari berpikir divergen dan konvergen. Ada saat yang tepat untuk berpikir divergen, ada juga saat yang tepat untuk berpikir konvergen. Contoh praktik berpikir divergen: brainstorming. Contoh praktik berpikir konvergen: seleksi gagasan. Jika tahap berpikir divergen diganggu konvergen (dan sebaliknya) proses kreativitas terhambat. Oleh karena itu, supaya ide dapat betul-betul bermanfaat, baik kemampuan berpikir divergen maupun konvergen sangat perlu untuk dikembangkan.
Berpikir Divergen: Kemampuan untuk memunculkan beragam alternatif pemecahan masalah. Contohnya adalah memikirkan berbagai manfaat dari kertas bekas, seperti untuk bungkus makanan, mainan, atau didaur ulang.
Berpikir Konvergen: Proses memunculkan satu atau sedikit solusi yang paling tepat untuk suatu masalah. Contohnya adalah mencari satu persamaan antara waktu dan rambut, yaitu keduanya bisa panjang atau pendek.
Kreativitas yang efektif membutuhkan keseimbangan antara keduanya.
Berpikir Divergen digunakan untuk menghasilkan ide-ide kreatif yang banyak dan unik. Semakin tinggi kemampuan divergen, semakin kreatif solusinya.
Berpikir Konvergen kemudian digunakan untuk menganalisis dan mengevaluasi ide-ide tersebut menggunakan logika guna memilih solusi yang paling efektif. Tanpa kemampuan konvergen, ide yang banyak (divergen) tidak akan menghasilkan solusi nyata.
Ada waktu yang tepat: Penting untuk memisahkan fase divergen dan konvergen. Jika fase divergen diganggu oleh pemikiran konvergen (kritik/evaluasi), ide-ide baru mungkin akan tersensor dan gagal muncul.
Fase Divergen: Fokus pada kelancaran, orisinalitas, fleksibilitas, dan elaborasi. Ide harus mengalir tanpa rasa takut akan batasan atau penilaian buruk.
Fase Konvergen: Fokus pada pemilihan ide terbaik menggunakan kriteria tertentu, seperti efisiensi waktu atau kemudahan pelaksanaan.
Saat sedang mengumpulkan ide (fase divergen), percayalah bahwa semua ada waktunya. Jangan takut mengeluarkan ide yang tampak "buruk" atau aneh karena penilaian dan perbaikan ide akan dilakukan pada fase konvergen nanti.
Modul 2 : Pertanyaan Refleksi
Dalam menerima informasi, peserta didik perlu menghayati informasi yang diterima. Pertanyaan refleksi membantu peserta didik untuk berpikir kritis dan menyampaikan pemahamannya secara konkret. Ada 4 pertanyaan refleksi yang akan membantu peserta didik menghayati informasi:
Pertanyaan 1: Apa yang baru saja saya pelajari?
Pertanyaan 2: Apa yang saya sudah mengerti?
Pertanyaan 3: Apa yang saya belum mengerti?
Pertanyaan 4: Bagaimana supaya saya mengerti?
Referensi:
Respati, Adi. 2019. Guru Jago Self-Regulated Learning. Kelas Masa Kini.
Video berjudul "Berpikir Kritis dan Menyelesaikan Masalah Eps 1 (4 pertanyaan refleksi)" dari saluran Microlearning Guru Belajar - Kemdikbud menjelaskan tentang penggunaan empat pertanyaan refleksi rutin untuk mengasah kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Berikut adalah ringkasan materi dari video tersebut:
Sebelum menerapkan praktik ini, pendidik perlu mengingat tiga prinsip utama:
Bimbingan: Peserta didik harus dibimbing agar berani berbicara terlebih dahulu.
Rutin dan Bertahap: Kegiatan ini harus dijadikan rutinitas. Awalnya guru mendampingi, namun targetnya adalah agar peserta didik mampu melakukannya secara mandiri.
Metode Fleksibel: Refleksi dapat dilakukan secara lisan (diskusi) maupun tertulis (seperti peta pikiran atau sketchnote).
Terdapat empat pertanyaan utama yang diajukan kepada peserta didik untuk menghayati informasi yang diterima:
Pertanyaan 1: Apa yang saya pelajari sekarang?
Peserta didik diminta merangkum topik dalam 1-2 kalimat.
Guru mengamati apakah mereka menggunakan istilah kunci dan apakah pernyataan tersebut merangkum topik secara utuh.
Pertanyaan 2: Apa yang saya sudah mengerti?
Peserta didik menyebutkan potongan-potongan informasi yang telah mereka pahami.
Guru dapat menilai kedalaman pemahaman peserta didik berdasarkan Taksonomi Bloom (mengingat hingga menciptakan).
Pertanyaan 3: Apa yang saya belum mengerti?
Ini adalah kunci berpikir kritis. Peserta didik belajar mengartikulasikan hal yang belum mereka pahami secara spesifik.
Pertanyaan 4: Bagaimana supaya saya mengerti?
Mendorong peserta didik menyadari kesenjangan (gap) pengetahuan dan membuat rencana konkret untuk memperbaikinya.
Strategi yang disarankan meliputi bertanya pada teman/guru, mencari narasumber, atau mencari informasi di internet.
Melalui empat pertanyaan ini, peserta didik diharapkan tidak hanya sekadar menerima informasi, tetapi juga mampu mengolah dan menyelesaikannya secara kritis.
Modul 3 : Langkah-langkah Penyelesaian Masalah
Ada 5 langkah menyelesaikan masalah:
Langkah 1: Merumuskan masalah
Langkah 2: Mengagas alternatif solusi
Langkah 3: Menimbang alternatif solusi
Langkah 4: Mengimplementasi solusi
Langkah 5: Mengevaluasi solusi
Berpikir Reflektif/Refleksi Diri
Berikut adalah poin-poin utama dari materi video tersebut:
Berpikir Reflektif sebagai Kompetensi: Refleksi bukan sekadar merenung, melainkan sebuah keterampilan berpikir yang perlu dilatih secara konsisten oleh pendidik.
Tujuan Refleksi: Membantu pendidik mengevaluasi praktik pengajaran mereka secara kritis untuk memahami apa yang sudah berjalan baik dan apa yang perlu diperbaiki.
Definisi: Metakognisi adalah tindakan menyadari dan mengatur proses berpikir sendiri.
Peran dalam Refleksi: Dengan metakognisi, seorang pendidik dapat memantau apakah strategi pengajaran yang digunakan sudah efektif bagi murid atau perlu diubah.
Ada tiga sikap mental utama yang harus dimiliki pendidik agar refleksi menjadi bermakna:
Open-mindedness (Berpikiran Terbuka): Bersedia menerima masukan dari berbagai sudut pandang dan mengakui kekurangan diri.
Whole-heartedness (Sepenuh Hati): Melakukan refleksi dengan kesadaran penuh demi kemajuan murid, bukan sekadar menggugurkan kewajiban administratif.
Responsibility (Tanggung Jawab): Memahami bahwa setiap tindakan guru di kelas memiliki dampak jangka panjang bagi perkembangan peserta didik.
Langkah-langkah sistematis dalam melakukan refleksi, yaitu:
Deskripsi: Apa yang terjadi?
Perasaan: Apa yang saya rasakan saat itu?
Evaluasi: Apa yang baik dan buruk dari pengalaman tersebut?
Analisis: Mengapa hal itu terjadi?
Kesimpulan: Apa lagi yang bisa saya lakukan jika hal serupa terjadi kembali?
Rencana Tindak Lanjut: Apa langkah konkret yang akan saya ambil selanjutnya?
Pendidik yang rajin berefleksi akan tumbuh menjadi pembelajar mandiri yang mampu meregulasi dirinya sendiri untuk terus berkembang secara profesional.
5 Disiplin Berpikir Kritis terhadap Informasi
Ada 5 disiplin kritis dari kerangka Digital Citizenship oleh Common Sense
Mengapa kerangka digital citizenship? Karena internet adalah kawasan wajib berpikir kritis.
Disiplin 1: Pelan-pelan dan berefleksi
Disiplin 2: Terbuka terhadap sudut pandang lain
Disiplin 3: Cari fakta dan bukti pendukung
Disiplin 4: Antisipasi berbagai dampak
Disiplin 5: Bertanggung jawab terhadap keputusan
Disiplin ini berlaku ketika menerima informasi apapun: offline maupun online.
5 Disiplin Berpikir Kritis terhadap Informasi
Ada 5 disiplin kritis dari kerangka Digital Citizenship oleh Common Sense
Mengapa kerangka digital citizenship? Karena internet adalah kawasan wajib berpikir kritis.
Disiplin 1: Pelan-pelan dan berefleksi
Disiplin 2: Terbuka terhadap sudut pandang lain
Disiplin 3: Cari fakta dan bukti pendukung
Disiplin 4: Antisipasi berbagai dampak
Disiplin 5: Bertanggung jawab terhadap keputusan
Disiplin ini berlaku ketika menerima informasi apapun: offline maupun online.
Berpikir reflektif bukan sekadar merenung, melainkan sebuah keterampilan kognitif yang melibatkan analisis mendalam terhadap pengalaman untuk mendapatkan pemahaman baru.
Proses ini menuntut pendidik untuk melihat kembali tindakan mereka, mempertanyakan asumsi, dan mengevaluasi dampak pengajaran terhadap murid.
Meningkatkan Kualitas Pengajaran: Guru dapat mengenali metode mana yang efektif dan mana yang perlu diperbaiki.
Penyelesaian Masalah: Membantu guru keluar dari masalah yang berulang dengan menemukan akar penyebabnya melalui sudut pandang yang lebih jernih.
Menjadi Pembelajar Mandiri: Mendukung pengembangan diri yang berkelanjutan (Self-Regulated Learning) agar guru tidak hanya bergantung pada instruksi luar, tetapi mampu mengarahkan pertumbuhan profesionalnya sendiri.
Tiga hal yang perlu dilakukan secara konsisten:
Berdialog dengan Diri: Mengajukan pertanyaan reflektif kepada diri sendiri mengenai peristiwa yang dialami.
Jujur dan Terbuka: Mengakui kelemahan, perasaan, atau kesalahan tanpa sikap defensif.
Dokumentasi: Mencatat atau mendokumentasikan proses refleksi (seperti dalam jurnal) agar perkembangan dapat dipantau dari waktu ke waktu.
Evaluasi seringkali hanya berfokus pada hasil akhir (berhasil atau gagal).
Refleksi lebih berfokus pada proses dan makna, yaitu memahami mengapa sesuatu terjadi dan bagaimana hal tersebut dapat memengaruhi tindakan di masa depan.
Ringkasan ini merupakan bagian dari modul yang bertujuan membantu bapak dan ibu guru untuk senantiasa bertumbuh dan menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna bagi peserta didik.
Metakognisi: Berpikir tentang Berpikir
Tidak setiap masalah/tantangan bisa diselesaikan dengan strategi yang sama. Masalah/tantangan bervariasi tingkat kesulitan dan jenisnya. Kita sebagai pengajar atau peserta didik perlu tahu apakah strategi yang digunakan akan efektif atau tidak. Ini menuntut kita untuk berpikir: apa yang kurang dari cara berpikir saya (metakognisi). Metakoginisi artinya proses merencanakan, memonitor, dan mengases pemahaman seseorang tentang proses berpikirnya. Jika terlatih, kita sebagai pengajar atau pun peserta didik akan siap untuk menghadapi situasi yang baru.