"TENTANG KITA DAN KARYA SANTRI UMMUL QURO "
BY : IVANA
"Pohon beringin tersepoi rapi
Rantingnya tersusun rapi alami
Indah walau perlahan kan terpijak
Tumbuh terpijak itu biasa
Nnti Bangkit lagi Kokoh lagi
Mungkin ada saatnya seseorang menyerah
Tercaci maki oleh makhluk yang sombong
Gunung masih menjulang di mata
Sawah masih membentang luas
Peluang setia menanti
Sedang diri masih berkeluh kesah
Padahal mereka berdarah nanah
cuek oleh kata menyerah
Tetap mendaki walau pelita tlah sirna
Tetap menyelam walau lautan menghantui
Masa Muda tak boleh nganggur
KEJAR,TANCAP. DAN MENANG "
BY :RAJWAATIQAH
JALAN PULANG
" Aku selalu bingung dengan kata "PULANG",
Arah ke Sang Ibu atau ke Sang Ayah
bagaimana bila aku buta akan jalan pulang,
akankah ada yang mencariku sampai
ujung lembah "
BY : HANIFAH
Tidak ada yang tuli di dunia ini
Kita mendengarnya
Tangis mereka setiap detiknya
Ke mana kita?
Kita tidur di atas kasur yang nyaman.
Semua orang bisu di dunia ini
Tidak ada yang berteriak
Sekeras mereka berteriak
“Al-Quds!!! Al-Quds!!!” tuntut mereka tiada henti
Ke mana kita?
Kita diam tanpa berkata
Walau kita mendengarnya.
Semua manusia sudah mati
Harga diri mereka tidak ada lagi
Mereka malah berkontribusi ikut jadi manusia keji
Mereka enggan bersuara
Beranggapan mereka hanya menjalani hari
Padahal mereka mendengarnya
Dan kita pasti mendengarnya.
-Tertanda Harsa Aghniy
#SAVEPALESTINE
CERITA PENDEK ( SHORT STORY )
Albiru by:Agaavygara
Gadis itu masih setia berdiri di sini, menatap nanar jingga raksasa yang kian perlahan mulai tertelan oleh samudera di ujung sana. Gadis mungil itu melangkah perlahan, tanpa ragu membiarkan laut biru menyentuh lembut kedua kakinya. “Sampai sekarang aku masih menunggu bun, berapa lama kata ‘sebentar’ yang bunda maksud dalam surat hari itu.”
Gadis itu tersenyum tipis, menutup matanya perlahan, membiarkan semilir angin membelai lembut raganya. Raga yang sampai hari ini tak pernah berhenti merindu sebuah belaian dari sosok yang kerap ia sebut dalam do’anya dengan kata ‘bunda’.
☆☆☆☆☆
“Ibu hari ini aku pulang ya.”
“Kamu udah nggak sibuk nduk?”
“Gak kok bu, lagipula aku juga udah kangen banget sama adek adek.”
“Ah iya, mereka juga udah pada kangen sama kamu, dari kemaren nanyain kamu terus.”
“Karena udah lama aku gak pulang itu bu.”
“Apalagi amira itu, bawell banget. Padahal ibu udah bilang kalau kamu nya lagi sibuk kuliah.”
“Haha, gapapa bu, hari ini aku kesana ya.”
“Yowes kalau ndak sibuk, ibu tunggu.”
“Ibu mau aku bawain apa?”
“Ibu mau dibawain anak ibu yang namanya Birru kesini dengan selamat.”
“Haha sip sip ibuuuu, anak ibu yang namanya Birru akan pulang dengan hati hati."
Namanya Albirru, sepotong kata yang berarti kebaikan dalam bahasa arab. Sebuah nama indah yang diselipkan doa oleh sang bunda agar putrinya selalu bisa menebar kebaikan di dunia yang fana ini. Gadis itu bersandar di jendela, menikmati pemandangan dari atas kereta yang kini di tumpanginya.
Kereta cepat yang akan membawanya pulang meninggalkan hiruk pikuk kota metropolitan tempatnya menimba ilmu tiga tahun terakhir. Tatapannya sejenak beralih menatap arloji hitam yang melingkar manis di tangan kirinya. Masih ada sekitar 30 menit lagi untuk sampai ditujuan, pikirnya.
Hingga tak terasa kapan, tapi perlahan mata itu mulai memberat, berusaha menutup untuk mengajak Birru berkelana ke alam bawah sadarnya. Sungguh, rasanya badannya sangat letih hari ini, ia belum sempat beristirahat dari kemarin malam, karena banyaknya tugas kuliah yang harus ia selesaikan sebelum menyukseskan acara ‘pulang’ nya hari ini. Tapi sebelum mata itu sempat menutup dengan sempurna, sebuah suara mengintrupsi pendengarannya.
Birru menoleh, netranya mendapati seorang wanita paruh baya yang berdiri tak jauh darinya. Seorang wanita yang ia yakini berusia 40-an yang kini tampak kesusahan mengumpulkan beberapa barang bawaannya yang terjatuh. Seluruh kursi sudah terisi penuh, membuat wanita itu harus berdiri dan menjinjing barang bawaannya selama perjalanan. Birru menghela nafas rendah, saat kedua netranya menyisir seluruh penumpang yang tampak acuh seolah tak peduli akan itu, tak ada satupun yang bersedia mengulurkan tangan untukmembantu atau membiarkan wanita itu untuk duduk. Begitulah manusia, pikirnya. Bersikap acuh tanpa berpikir bahwa mereka juga makhluk sosial yang ada kalanya juga membutuhkan uluran tangan orang lain.
Akhirnya Birru memilih berdiri, mengabaikan semua rasa letih yang menggerogoti tubuhnya. Ia meninggalkan beberapa bingkisan di kursinya sebelum melangkah mendekati wanita paruh baya itu. Tangannya terulur membantu mengemasi berberapa barang milik wanita itu yang terjatuh di lantai kereta.
“Ini bu barangnya." Birru tersenyum ramah, membantu mengangkat barang wanita itu
“Ah, terima kasih nak.” Wanita itu mengangguk sopan, berterima kasih atas bantuan yang Birru berikan.
“Ibu turun di stasiun mana?” Birru inisiatif bertanya.
“Saya turun di stasiun Tegalluar nak.” Wanita itu menyeka peluhnya sebentar sebelum menjawab pertanyaan Birru.
“Ah itu masih lumayan jauh bu, ibu nanti capek kalau harus berdiri terus selama perjalanan.” Iya, stasiun yang dituju oleh wanita ini, sama dengan stasiun tujuan Birru. Stasiun itu masih cukup jauh, memakan waktu sekitar setengah jam lagi untuk sampai.
“Iya, tak apa nak. Lagian sudah ga ada kursi kosong lagi untuk saya duduk." Jelas wanita itu dengan tersenyum lamat.
“Ah kebetulan stasiun tempat saya berhenti sudah tidak jauh lagi, mari bu duduk di kursi tempat saya saja.” Birru berbohong, tapi tak apa. Hal itu dilakukannya agar wanita ini mau untuk duduk di kursinya tanpa harus merasa segan karena Birru harus berdiri karena itu.
“Eh tidak usah nak, saya berdiri saja.” Sesuai dengan dugaannya, wanita itu menolak tawarannya. “Gapapa bu, mari saya bantu.” Birru meraih beberapa barang bawaan wanita itu untuk ia bawa ke arah kursi tempatnya duduk tadi.
Setelah berjalan beberapa langkah ia berhenti, tangannya beralih memindahkan berberapa bingkisan miliknya yang sempat ia tinggalkan tadi. Setelahnya, ia mempersilahkan wanita itu untuk duduk. Walaupun sempat mendapat penolakan lagi, pada akhirnya Birru berhasil membujuk wanita itu agar mau duduk di kursinya. Wanita itu tersenyum, mengucapkan terima kasih berkali-kali yang hanya dibalas dengan anggukan ramah oleh Birru.
“Sekali lagi terima kasih ya nak, kamu baik sekali. Kalau saya boleh tau nama kamu siapa?” Ini entah kalimat ‘terima kasih’ yang ke berapa kalinya yang Birru dengar dari bibir wanita itu. Wanita itu kini menoleh menatap biru yang berdiri di sampingnya.
“Tak apa bu, sudah kewajiban untuk saling membantu. Nama saya Albirru, biasa dipanggil Birru bu.” Birru tersenyum, menjawab ramah pertanyaan wanita itu.
Wanita itu tertegun sejenak, mendengar penuturan Birru. Ia mendongak, menatap lamat wajah Birru yang berada di sampingnya ini. “Nama yang bagus, itu berarti kebaikan bukan?” Wanita itu bertanya, yang dijawab sebuah anggukan oleh Birru. “Kamu menyandang nama yang pas, benar benar mewujudkan doa dan makna yang diberikan oleh orang tuamu.” Puji wanita itu.
Birru tersenyum simpul, mengangguk. Pikirannya melalang buana memutar masa lalu. Ia kembali teringat akan surat yang pernah ia baca pada hari itu. Sebuah kertas usang berisikan tulisan tangan yang dirajut menjadi sebuah doa dan harapan dari seorang wanita yang telah melahirkannya.
‘Bunda, apa Birru benar benar telah mewujudkan harapan bunda?' Batinnya.
Setelahnya, perjalanan mereka hanya diisi oleh keheningan, karena wanita paruh baya itu mulai menutup mata menuju alam bawah sadarnya. Birru tersenyum simpul melihat wajah kelelahan itu tertidur pulas. Birru baru membangunkannya ketika mereka telah sampai di stasiun tujuan. Dan Birru pamit lebih dulu, bahkan saat wanita itu belum menyadari bahwa Birru turun di stasiun yang sama dengannya.
☆☆☆☆☆
Birru berdiri menatap bangunan tua di hadapannya, sebuah bangunan tua yang memiliki banyak cerita. Tempat dimana ia dibesarkan oleh seorang wanita yang kerap ia panggil dengan sebutan ‘ibu’. Seorang pengurus panti yang menemukannya di dalam sebuah box bayi yang sengaja ditinggalkan di teras panti asuhan ini.
Matanya memanas mengingat kejadian dimana pertama kali ibu menceritakan tentang hal itu. Tentang dirinya yang malang, yang harus ditinggalkan dengan sehelai baju dan sepucuk surat oleh seorang wanita yang kerap ia sebut sebagai ‘bunda’.
Birru mulai melangkah memasuki area panti, langit yang sudah gelap kini dihiasi oleh bintang bintang dan bulan yang mulai menampakkan diri mereka. Bersinar mengiringi langkah Birru menuju rumah yang bisa ia jadilkan tempat ‘pulang’ sesungguhnya. Ia mengetuk berberapa kali pintu bangunan itu, ia memanggil ibu berberapa kali. Ia berujar sedikit keras agar penghuni di dalam dapat mendengar suaranya. Tak berselang lama, Ibu muncul dibalik pintu. Birru segera menyalami wanita itu dan berpelukan berusaha menyalurkan rindu satu sama lain.
Ibu mengajak Birru masuk dan bertemu penghuni panti lainnya. Anak-Anak yang berada di dalam segera berhamburan menghampiri Birru ketika menyadari esksistensi Birru disana. Inilah makna pulang yang Birru maksud. Semua rasa letihnya terasa lenyap ketika bertemu para penghuni panti yang menerima kehadirannya sebagai bagian dari keluarga mereka dengan sangat baik.
☆☆☆☆☆
Hari ini Birru telah menghabiskan waktunya sepanjang hari untuk bermain bersama anak-anak panti. Jatah liburnya tidak panjang, lusa ia harus kembali ke hiruk pikuk nya kota metropolitan, tempat dimana ia menuntut ilmu. Tak berselang lama terdengar sebuah ketukan pintu dari arah depan. Birru hendak berdiri, tapi gerakannya terhenti ketika suara ibu mengintrupsi.
“Sudah kamu disini aja nduk, biar ibu yang buka. Itu mereka masih mau main sama kamu. Masih kangen berat itu.” Hal itu karena Ibu melihat wajah anak anak panti yang tampaknya tak rela untuk berpisah dengan Birru barang sedetik pun. Akhirnya Ibu berdiri meninggalkan Birru untuk lanjut bermain bersama anak panti lainnya. Ibu melangkah ke ruang depan untuk melihat siapa yang bertamu sore ini.
Birru mengangguk meng-iyakan ucapan ibu. Ia melanjutkan kegiatan bermain, bercerita, dan sesi kejar-kejarannya bersama anak anak panti. Ia tertawa lepas bersama mereka. Tak jarang ada yang bertengkar perihal berebut mainan, tapi Birru selalu siap sedia melerai dan menasehati mereka. Birru kerap kali menasehati mereka bahwa kita ini manusia, makhluk sosial yang akan saling bergantung sama lain. Birru juga tak jarang mengajarkan mereka untuk saling berbagi antar sesama, karena baik Birru, ibu, dan penghuni panti lainnya adalah keluarga.
☆☆☆☆☆
Ibu berbincang cukup lama dengan tamu di depan sana. Tak urung membuat Birru penasaran akan siapa tamunya. Mungkin donatur baru, pikirnya. Benda bulat dengan jarum yang terus berputar di ujung sana telah menunjukkan pukul 19.05 WIB, Birru mengintruksi anak panti untuk membersihkan diri dari efek aksi hujan bedak tadi, dan ia juga akan bersih bersih sebelum menuju dapur panti untuk membantu para pengurus panti menyiapkan makan malam.
Tapi langkahnya terhenti ketika ia mendengar panggilann ibu dari depan. Dari pendengarannya ibu berteriak kencang memanggil namanya beberapa kali, membuat Birru cemas. Birru segera berlari ke ruang depan, bahkan ia mengabaikan wajah dan bajunya yang penuh dengan noda putih. Ia khawatir terjadi sesuatu yang buruk disana. Ia khawatir ibu terluka.
“Ibu kenapa?!” dengan tampang urak urakan dan nafas yang bahkan belum sempat ia atur, Birru segera mendekati Ibu yang berdiri dengan tangan bergetar disana. Bahkan ia mengabaikan eksistensi sosok lain yang juga berada di ruangan itu. Fokusnya, hanya berpusat pada ibu. Ia meraih kedua tangan ibu yang masih bergetar itu untuk ia bawa dalam genggamannya.
“Albirru.”
Birru tersentak ketika sebuah suara memasuki indra pendengarannya, memanggil namanya lembut. Sebuah suara yang mungkin pernah ia dengar tapi Birru lupa entah dimana. Birru berbalik, kedua netranya mendapati sosok wanita paruh baya yang sempat ia jumpai di kereta tempo hari.
“Loh Ibu??? Bukannya ibu orang yang saya temui kemarin di kereta??" Biru bertanya. Dahi gadis itu mengernyit heran saat menyadari bagaimana wanita itu menatapnya dalam. Menatap Birru dengan sebuah tatapan yang tak jauh berbeda dengan tatapan yang selalu ibu tujukan padanya. Bedanya pada 2 netra coklat yang serupa dengan miliknya itu, seperti terselip sebuah penyesalan yang teramat dalam.
Belum selesai dengan keheranannya, Birru kembali dikejutkan dengan sebuah pelukan hangat yang ia terima dari wanita itu. Tubuhnya kaku, ia tidak tau harus memberikan respon seperti apa. Wanita itu merengkuh tubuhnya erat, seakan akan takut bahwa Birru akan hilang dari hadapannya. Wanita itu menggumamkan kata ‘maaf’ berkali kali. Ada perasaan asing yang timbul, yang Birru sendiri tidak tau apa.
“Albirru Darshana, maafkan bunda nak.” Kali ini Birru benar benar membatu mendengar kalimat yang keluar dari bibir wanita itu. “Maafkan bunda, yang butuh waktu sangat lama untuk kembali berani mendekap tubuh ini, nak. Maafkan bunda.”
Birru menoleh menangkap sosok ibu disampingnya, dengan mata berkaca-kaca Birru menatap ibu meminta sebuah penjelasan atas semua ini. Hingga sorot matanya mendapati ibu mengangguk pelan dengan berlinang air mata di ujung sana. Setelahnya, tubuh Birru bergetar hebat.
“Bunda?” Dengan tangan bergetar Birru membalas pelukan wanita itu. Mencoba mencari kehangatan yang selama 20 tahun ini belum pernah ia temukan.
“Birru maafkan bunda, nak. Dan terima kasih sudah mewujudkan harapan dan doa yang sudah bunda rajutkan dalam namamu. Terima kasih, birru. Terima kasih, putriku.”
Hari itu, tepat disaat gelap menghampiri, Albirru, gadis itu kembali menemukan cahayanya.
Dirimu amat dikara.
Dikara bagaikan bagaskara.
Puwana buana mengguncang amerta.
Agar dirimu menghancurkan enigma buana
selaska nahas yang kau dapati.
Namun amerta mu tetap kokoh dan tak pernah roboh.
Wahai abisatya.......
Percayalah......
Kirana buana akan palawa
pada amerta yang dikara.
CR: PINTEREST
Tangis bahagia dimulai
Tetes demi tetes membasahi sebagian pipinya
Meihat putri pertamanya lahir di pangkuanya
Rasa sakit yang ia baru lalui
Seakan - akan hilang dalam sekejap mata.
Rasa rindu yang telah lama
Ia tahan - tahan
Sekarang, terbayar oleh suara tangisan.
PAYAKUMBUH
10 AGUSTUS 2024
TERTANDA RALYNI
CR : PINTEREST
HAII...
Kamu gak mau balik ?
Bahkan kau pergi begitu jauh
Beraninya kau pergi bermain ke tempat amat yang jauh.
Ini terlalu jauh untuk ku gapai kembali.....
Kembalilah !
Pengecut ini masih membutuhkan penerimaan maaf darimu !
Pengecut ini masih menunggumu sampai detik ini, disini... di tempat ini.....
Kemarin kita bertengkar hebat kan?
sedangkan aku belum sempat menyatakan beribu kata maaf untuk mu
Rasa bersalah ini selalu saja menghantuiku
Tolong hidup lebih lama lagi......
Sepertinya kemarin kau sudah menemukan sosok penggantiku .
Terkadang aku sampai bertanya " DIA SIAPA ? "
Aku terus menerus merasa tersaingi oleh dirinya
Entah itu dari sifatnya yang sangat amat dekat dengan dirimu atau raut wajah nya yang selalu murung ketika melihat diriku .
Apakah dia membenciku ??
Atau dia hanya sekedar tidak suka melihat diriku ketika berada tepat dihadapanya ??
Jujur... aku hanya sedikit kecewa
Dan lebih sadar diri lagi
Karena sepertinya kau lebih memilih dia daripada aku..
Aku yang menemanimu, mengapa engkau malah memilih dia ??
Dan untuk sekarang ini
Takdir telah mendahului mu...
Ternyata benar ! tuhan tuhan lebih memilihmu untuk pergi duluan.
Tuhan sangat sayang kepadamu.
Kembalilah.... kau bermain begitu jauh
Aku ingin kita menjadi seperti dulu lagi.
Sekarang aku hanya bisa memandang batu nisanmu saja.
Tidak dengan parasmu yang indah itu lagi...
Kami disini sangat menyayangimu
Tapi sejatinya...
Tuhan lebih sayang dengan orang baik
Kau anak yang baik !!
Bahkan orang - orang disekitar menjadi kehilangan sosok yang sangat dirindukan
Alias dirimu.....
Aku berharap semua suasana itu kembali lagi seperti dulu
Dan aku sangat berharap itu semua tersusun kembali dengan rapi.
Tapi apakah mungkin itu semua akan terjadi ??
Aku bersama orang pilihanmu ini sedang mencoba untuk mengikhlaskanmu
Dari kami, SAHABATMU...
by:Aurel zonalexa
CR : PINTEREST
Dia hanyalah sebuah angka
Tapi sangat berharga
Merangkai sebuah cerita di sela-selanya
Hingga ketika saat itu tiba
Memisahkan kita ke tempat yang berbeda
Andai kata waktu bisa diputar
Mungkin kita tidak se-asing ini.
Oleh: Hasna Kamila Ruhiy
(9.6 Madinah)
(Multazam)
Kalian hidup dengan tenang
Tanpa gangguan suara bom
Kalian dapat merasakan makan hingga kenyang
Tanpa harus memikirkan keluarga kalian
Kami merasa terancam setiap waktu
Kami tak tau beberapa waktu kedepan akan tetap hidup
Kehilangan anggota keluarga satu persatu
Hingga menjadi sebatang kara
Tak banyak di antara kalian
menyumbang rezeki yang allah berikan kepada kalian
Kami tak memaksa itu
Tetapi tolong berhenti menyumbang kepaa mereka
Kalian acuhkan kami
Kalian anggap kami tak ada
Kalian anggap kami bagai angin yang berlalu
Apakah ini yang di namakan saudara sesama muslim ?
Mungkinkah......
Kami akan terbebas dari ikatan mereka
Kami tak akan terdengar suara itu lagi
Akan terukir senyum indah di wajah kami
By : Nabiilah safiiqah " multazam"
CR : Pinterest
DOR.. dor.. dor
Habis tombak peluru
Di balik ribuan bambu
Banjir oleh darah
Basah dengan air mata
Kolonialisme, imperealisme
Di injaknya tenah kita
Di renggutnya bumi kita
Bagaimana kita??
Kita mati, berlutut pada kemiskinan
Tumpah darah, Tumpah air mata
Ribuan pahlawan tak pernah pulang
Ribuan hama terus hilang
Mati oleh tembakan
Dor.. Dor... Dor...
by : Harsa aghniy
CR : Pinterest
Ke rumah gadang bersama lala
jangan lupa mengajak sila
cintailah tanah air kita
Dengan mencintai produk indonesia
Mambali buku tampek si johan
Pulange basobok karin
Marilah kito manganang jaso pahlawan
Jo baraja rajin - rajin
Balek kampong bersame - same
kampong nye kat malaysie
Telampau banyak keberagaman indonesie
Jom lah kite menghargai sesama kite
Sore - sore di gigit kucing liar
Malam - malam ketiban papan
Rajin - rajinlah belajar
agar berguna di masa depan
Pergi ke toko bangunan membeli keramik
tiba - tiba bertemu si hanif
manfaatkan tekhnologi dengan baik
biar dapat hal positif
pergi ke gudang mengambil tali
ternyata talinya tebagi 2
kita boleh saling mencintai
tapi ingat al - isra ayat 32
Syifa talita naila
Seshania maharani putri
Hijjaz dirmytory
Kau biarkan kehidupan senantiasa ada
Meski bernafas di dalam gelapnya laut
Kau biarkan tanah...
Melahirkan indahnya bunga
Kau biarkan angin datang
Membawa rintik hujan
Nafas yang tetap berhembus
Meski di kelilingi gurun tak berpohon
Di gerus tangis dan penyesalan
Begitu hausnya aku tuhan......
Pada hala yang membuatku lupa
Bahkan untuk bersujud
Begitu fana, hingga terlena
Duhai pemilik jiwa yang tak berdaya ini
Sungguh.....
benar sesal ini
Sungguh tak ingin aku tersesat di jalan ini
Ribuan pertolongan kau datangkan
Setiap waktu.....
Raiblah sebuah lupa bagi mu
Sekalipun aku lupa menyebut nama mu
demikianlah makhluk lemah ini....
Begitu angkuh...
Yang kerap kali meminta
Tatkala di hidupkan kembali...
Aku hidup dengan sungai - sungai berair susu
Tanpa siksa sebuah bara api
Seolah aku lebih suci dari iblis
Yang tak mau bersujud
Pada sang adam......
Bagaimana aku.....
Yang angkuh bersujud padamu.....
Sang pemilik takdir
sang pemilik takdir....
Walau hanya untuk daun tua
Yang jatuh oleh angin
Yang berkelana....
Payakumbuh, 11 agustus 2024
by: NAYE
CR: PINTEREST
Tepat di jalan Pegangsaan
Orasi itu terdengar
Usai, masa kelam itu
Ratusan tahun sudah
Tunduk pada kolonialisme.
Orasi itu menggema
Tepat, Tujuh belas Agustus
Sebuah bukti Patriotisme
"Proklamasi"
Sebuah Orasi
Yang awalnya penuh kontroversi
Berujung pada Rengasdengklok
Hingga bergema di langit itu
Langit Pegangsaan.
"Merdeka"
Oleh:Harsa Aghniy
Cr. Pinterest
Hari ini bangsa bersuka cita
Merah putih bendera naik ke tiangnya
Jutaan sejarah seakan terngiang di benaknya
Lantunan lagu indonesia raya menggema hebddxat
Perjuangan di kala itu terbayarkan sudah
Kini kemerdekaan di rayakan tuk kesekian kalinya
Para pemuda aktif dalam berbagai perlombaan
Kalah maupun menang tak usah peduli
Kemerdekaan laksana tumbuhan yang terawat
Yang bersih dan lebat tanpa ada hama
Kokoh batangnya sehingga tak terbawa badai
Bibit - bibit kemerdekaan tumbuh dimana - mana
Melahirkan para pejuang bangsa yang hebat
Tumbuh kokoh tuk menjaga tanah air
Dunia seakan memberi kata selamat
Raut bahagia merana dimana - mana
Syukur terpanjatkan kepada yang maha kuasa
Air mata haru mengalir penuh tenang
Tanah air bersorak penuh meriah
Maka nikmat tuhanmu yang manakah kamu dustakan ?
BY : IVANA " sevilla"
Cr. Pinterest
v BY: HARSA AGHNIY
Ku Panjatkan Litani untuk Rembulan
Melakolis itu berperang hebat dipikiranku
Buana ku hancur dan hirap
Sepertinya kau telah abadi
Kau berlari laridi cakrawala
Sedangkan aku terkurung di jenggala
Aku tau,bahwa bentala itu fana
Selalu ku panjatkan litani untukmu rembulan
Sedangkan kau tersenyum pada keabadian
Dekaplah aku wahai reujana
Bersenang senanglah enkau wahai insan kesayanganku
Berlari larilah pada bumantaranya
Biarkan aku hanyut dengan nestapa
Oleh:Dinda Adreana Al-Sakhy
Asrama Hijjaz