Passion is something that makes us human.
I will rather die than leave what made me human.
“How privileged you are, to be passionately
clinging to what you love;
the forfeit of hope has not destroyed you.
Maestoso, doloroso:
This is the light of autumn; it has turned on us.
Surely it is a privilege to approach the end
still believing in something.”
— Louise Glück
Seribu satu kegiatan di saat umur baru saja genap tujuh tahun. Ikuti berbagai kursus non-akademik dan akademik agar punya banyak kegiatan setelah pulang sekolah.
Di mulai dari usia tujuh tahun, kursus pertama yang didaftarkan adalah kursus renang yang akhirnya menjadi salah satu obsesi di kala umur masih bisa dihitung oleh jari tangan. Kursus renang berlanjut dengan kursus piano, kursus mandarin, kelas sempoa, dan berakhir dengan kursus bela diri. Ikuti banyak kejuaran renang dan pernah miliki mimpi untuk jadi atlet nasional. Pada tahun ke delapan dalam karir sebagai atlet renang, Jian Angkasa memutuskan untuk hentikan semua kompetisi olahraga air dan lebih berfokus pada seni lukis.
Beranjak dewasa, energi meluap-luap berakhir menyusut-surut.
Kegiatan menipis. Tak lagi ikut kursus ini, ikut kursus itu, ikut kelas ini, dan ikut kelas itu. Saat usia beranjak dewasa, satu hal yang menjadi pilar utama kehidupan; melukis apa yang dilihat, melukis apa yang terlihat di dalam alam bawah sadar, melukis apa yang dirasa, ikut kelas tembikar, ikut kelas melukis, ikut pameran lukis yang tersedia di kota kelahiran, ikut daftarkan lukisan pribadi dalam kompetisi lokal pun global. Tak lupa untuk kembali melihat air yang pernah menjadi obsesi saat masih belia. Prinsipnya, harus selalu terhubung dengan alam, dan kata kedua orang tua, itu hanya akal-akalan untuk bisa menetap di alam liar untuk kabur sejenak dari perkuliahan yang ternyata tetap menyesakkan. Saat beranjak dewasa, Jian Angkasa memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di salah satu universitas di Bandung, Indonesia. Menempuh pendidikan dengan jurusan seni rupa dan berfokus dalam seni lukis.
Setelah lulus, menyandang gelar S.Sn, dilanjutkan dengan membangun studio lukis di kota kelahiran; Surabaya.
Sempat berhemat mati-matian; tempat tinggal sementara di bawah kata layak, makan sehari sekali, berhenti lakukan kencan-kencan tak masuk akal yang berujung berpisah dengan kekasih dan seorang yang penting di dalam hidup. Pada akhirnya, berhasil mengumpulkan uang untuk punya studio lukis sendiri. Hasil dari mengambil banyak komisi saat masih menyandang status mahasiswa serta hasil dari banyak uang pendampingan saat mendapatkan gelar juara atas beberapa lukisan yang dikirimkan dalam kompetisi-kompetisi yang diadakan. Studio lukis milik sendiri digunakan untuk bersemedi, lakukan komisi-komisi yang diinginkan, mengajar bocah-bocah cilik yang ingin belajar melukis atau sekedar dititipkan untuk punya kegiatan berarti selain tinggal dan diam di rumah masing-masing.
Saat usia genap dua puluh empat tahun, melanjutkan pendidikan magister di salah satu negara Eropa; Italia.
Tinggalkan studio lukis yang telah berjalan selama kurang lebih tiga tahun karena kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di negara yang terkenal akan seni Renaissance. Mendapatkan beasiswa dan sokongan penuh untuk melanjutkan pendidikan, maka diambil kesempatan yang tak akan datang dua kali. Dilakukan semata-mata untuk menikmati masa muda, menikmati seni yang diagung-agungkan banyak orang, menikmati penderitaan yang datang atas dasar cinta akan seni. Lakukan banyak hal pertama di negara yang terlalu jauh untuk dijangkau; mewarnai rambut dengan warna terang penuh silau, mencoba melukis dengan air mata, dan menyumpah serapahi makhluk-makhluk rasis yang lebih sering diagungkan karena punya kulit putih dan mata berwarna biru atau hijau.
Saat ini, setelah selesai dan kembali ke Indonesia, hidupnya benar-benar kembali seperti semula.
Hanya berfokus pada studio lukis, ikuti banyak pameran, mengajar di salah satu sekolah swasta, kadang dipanggil untuk mengisi seminar di beberapa kampus swasta dan negeri, dan banyak kegiatan lain yang mengharuskan pulang-pergi dari satu kota ke kota lainnya. Jika memang dibutuhkan, ketuk saja pintu studio lukisnya. Akan dapat dipastikan, sehari-hari, Jian Angkasa selalu ada di sana untuk melamun, melukis, atau mengajar bocah-bocah cilik bagaimana caranya menikmati garis-garis yang ditorehkan jari sendiri.